#justravel [Jejak-jejak yang Dikembalikan]
Tidak benar-benar terencana untuk akhirnya bersama bapak dan adik jalan-jalan ke kompleks Candi Prambanan. Kompleks candi ini tidak hanya melingkupi Candi Prambanan saja, tapi juga Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu. Karena masih di masa pandemi jadi tidak diperbolehkan masuk ke dalam candi, pun pengunjung yang datang juga tidak terlalu banyak jadi foto yang diambil nggak bocor-bocor. Sembari mengambil foto sembari mengagumi betapa cantik dan beragamnya warna-warna batu candi yang disusun acak tersebut. Masih banyak sekali batu yang belum tersusun. Menurut miniatur yang diperlihatkan di museum di sana, diperkirakan ada banyak candi yang tersusun rapi mengelilingi kompleks utama Candi Prambanan. Kalau umumnya orang-orang hanya ke Candi Prambanan-nya saja, kami kemarin juga menyempatkan ke Candi Sewu yang letaknya sedikit di belakang area kompleks keseluruhan, sekaligus Candi Lumbung dan Candi Bubrah yang berada di antaranya. Sampai sesudah kami selesai mengunjungi Candi Sewu, barulah kami tahu kalau kami bisa menaiki golf cart untuk sampai ke sana karena memang jaraknya cukup jauh untuk berjalan kaki. Namun, lelah kami terbayar begitu sampai di kompleks Candi Sewu. Entah karena sudah terlalu sering melihat Candi Prambanan atau memang bisa dibilang aura mistis dan sakral lebih terasa di kompleks Candi Sewu ini. Mungkin karena hanya ada kami bertiga di sana, 'tersesat’ di antara beberapa buah candi yang tingginya kira-kira lebih dari tingga hingga lima kali tinggi manusia umumnya. Ya, mungkin juga karena jumlah candi yang terbangun/dibangun ulang lebih banyak serta jaraknya yang lebih rapat dibanding kompleks utama Candi Prambanan. Semoga suatu saat nanti pandemi berakhir dan orang-orang bisa menelusuri keseluruhan isi kompleks Candi Prambanan. Jejak-jejak peradaban ini terlalu sayang untuk dilewatkan.


















