The Time is Yours! Pandemi, Bisa Apa?
BEM, Pengabdi – Selamat datang di waktu paruh bulan kemerdekaan, sobat seperjuangan! Di tengah perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam rangka penurunan angka penularan Covid-19, artikel ini ditulis dengan tujuan dapat menjadi penyegar dan membuka cakrawala sobat sekalian dari rumah atau jenis hunian sobat yang lain. Tidak lain dan tidak bukan ini menyoal seberapa kenal kita dengan sosok pemuda yang saat ini bisa dibilang jadi status yang menempel pada kita sebagai mahasiswa. Benar tidaknya dan seberapa jauh artikel ini akan mengajak sobat berselancar, simak ulasannya berikut ini!
Dari dalam negeri, kita bisa lihat definisi pemuda dalam satu konstitusi yang mengatur tentang Kepemudaan, Undang-Undang RI Nomor 40 Tahun 2009. Pemuda yang diakui di dalamnya adalah warga negara Indonesia yang berusia 16-30 tahun. Usia ini dianggap sebagai usia tepat pemuda karena merupakan bagian dari periode penting pertumbuhan dan perkembangan si empunya usia.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) secara definitif mengelompokkan golongan ‘anak muda’ menjadi pemuda dan remaja. Remaja adalah mereka yang berusia 10-19 tahun, sedangkan pemuda didefinisikan sebagai individu dengan rentang usia 15-24 tahun. Dalam dokumen World Youth Report yang pernah dikeluarkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tahun 2018 terakhir kali, pemuda memiliki definisi yang sama seperti disebut oleh WHO.
Nah, sampai di sini sobat sudah bisa menjawab ‘kan, bahwa usia kita sebagai mahasiswa tepat pula masuk sebagai bagian dari pemuda?
Iya, dari undang-undang tadi udahan.
Tepat! Selanjutnya kita masuk ke topik kenapa kita juga tarik WHO hanya untuk mendefinisikan siapa itu pemuda.
Selain menjadi bulan kemerdekaan RI, di bulan Agustus tercatat terdapat satu hari yang agaknya kurang pas kalau kita tinggalkan. Yaitu hari pemuda Internasional. Merupakan satu hari penting khusus untuk pemuda dengan skala yang tidak kecil. PBB membranding hari ini dengan sebutan International Youth Day (IYD). Hari ini tepatnya jatuh pada setiap tanggal 12 Agustus.
Berdasarkan catatan sejarahnya, pertama kali IYD ditetapkan oleh PBB pada tahun 1998 dan disahkan di tahun berikutnya. Kesepakatan ini didasari adanya kesadaran bahwa menarik perhatian tentang isu kepemudaan merupakan satu hal yang penting. Secara implisit, IYD juga dimaksudkan agar dapat menarik perhatian tambahan untuk isu kebudayaan dan hukum seputar pemuda itu sendiri. Karenanya, pada tahun 2000 untuk pertama kalinya Hari Pemuda Internasional ini dirayakan.
Setiap tahunnya, IYD biasa diperingati dengan pagelaran seperti konser, lokakarya, pameran budaya, serta ragam konferensi. Yang menunjukkan perbedaan paling mencolok tiap tahunnya adalah slogan atau tema yang menjadi sorotan. Misalnya, pada tahun 2014 IYD mengusung tema Youth and Mental Health. Di tahun berikutnya, tema yang diangkat Youth and Civic Engagement. Dan yang terakhir kali, tahun 2020 lalu, slogan Youth Engagement for Global Action mewarnai IYD 2020.
Tujuan dari dibuatnya slogan-slogan sedemikian rupa adalah meningkatkan partisipasi aktif pemuda di setiap tahunnya. Termasuk tema IYD 2020, secara khusus tema ini dipilih sebagai upaya untuk menyoroti cara-cara keterlibatan kawula muda di tingkat global untuk memperkaya kelembagaan formal secara signifikan. Apalagi, di tengah krisis pandemi Covid-19. Tantangan yang besar memerlukan tindakan kolaboratif dari segala lini, utamanya dari muda-mudi di seluruh penjuru negeri.
Nah, mungkin memang ada dorongan agar ada keterlibatan substansial pemuda dalam prinsip politik formal segera. Akan tetapi, sobat tidak perlu gusar merasa terlalu berat untuk mengambil porsi itu. Hanya perlu kita ingat bersama, peranan kita sebagai mahasiswa setidaknya dapat disebutkan sejumlah lima, bukan?
Yaitu sebagai agent of change, social control, moral force, guardian of value, dan iron stock.
Kita sebut saja semua merasakan hal yang sama, sama-sama sering menemui pola hidup masyarakat yang belum begitu baik beradaptasi dengan pola hidup baru (new normal). Sebagai pemuda berpendidikan (mahasiswa, re), kita memegang peranan kunci dalam menggerakkan adanya perubahan. Lebih spesifik, dikejar pula mahasiswa ini untuk berperan dalam kontrol perubahan sosial. Dua dari lima peran yang diamanahkan pada pundak mahasiswa ini saja, sudah jelas menunjukkan bahwa seharusnya kita ambil peran meski di tengah pandemi.
Tahun kedua pandemi ini, menjadi perayaan kedua IYD di tengah pandemi. Tahun ini, perayaan IYD mari kita warnai dengan keteladanan. Keteladanan yang baik ini dapat dimulai dengan menerapkan protokol kesehatan sebagaimana dianjurkan. Pola hidup yang baru itu, akan melekat seiring dengan pembiasaan kepada masyarakat.
Jadi, tidak ada kata tidak dapat berkontribusi secara global lagi, ya?
Sedikit demi sedikit, tahun demi tahun, kontribusi pemuda selalu dinanti. Tema IYD turut akan silih berganti selaras dengan agenda 2030 yang dicanangkan PBB dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Tahun ini, IYD 2021 mengangkat slogan Transforming Food System: Youth Innovation for Human and Planetary Health. Masih akan terus berkaitan dengan 17 tujuan dan 169 target PBB sebagai rencana aksi global.
PBB juga bertahap, kita sebagai individu pun demikian. Jadi, sudah tau mau apa selanjutnya?
Selamat Hari Pemuda Internasional!