Ketika Usia 40 Menjadi Panggilan Pulang
Empat puluh bukan sekadar angka yang lewat di kalender.
Ia sering menjadi batas sunyi: seseorang mulai menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan jujur tentang arah pulangnya.
Bukan untuk meratapi masa lalu tanpa harapan.
Bukan pula untuk membanggakan apa yang sudah terkumpul.
Melainkan untuk menata kembali sisa umur agar tidak habis dalam kelalaian yang sama.
Di dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan doa seorang hamba ketika sampai pada umur empat puluh tahun:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Wahai Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. Perbaikilah untukku keturunanku. Sungguh, aku bertaubat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)
Yang pertama diminta bukan tambahan dunia, bukan panjang angan, bukan pengakuan manusia.
Yang diminta adalah kemampuan untuk bersyukur.
“Berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu.”
Sebab syukur pun membutuhkan pertolongan Allah.
Sehat bisa berubah menjadi kelalaian jika tidak dibimbing.
Rezeki bisa membuat hati jauh jika tidak ditundukkan.
Kesempatan bisa berlalu begitu saja jika tidak dipakai untuk ketaatan.
Maka seorang hamba memohon agar nikmat yang telah diterimanya tidak menjadi saksi atas kelalaiannya, tetapi menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Pemberinya.
Doa itu juga menyebut kedua orang tua.
Di usia yang semakin matang, semestinya cara memandang orang tua juga semakin berubah.
Dahulu mungkin banyak pengorbanan mereka yang terasa biasa.
Nasihat mereka dianggap mengganggu.
Diam mereka tidak dipahami.
Lelah mereka tidak terlihat.
Namun setelah hidup memberi amanah dan beban, seseorang mulai mengerti: banyak cinta orang tua hadir dalam bentuk yang tidak selalu pandai mereka ucapkan.
Karena itu syukur seorang hamba tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Ia mengingat nikmat Allah atas dirinya, dan nikmat Allah yang mengalir melalui kedua orang tuanya.
Lalu doa itu naik kepada perkara yang lebih berat:
“Dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.”
Ini permintaan yang sangat halus.
Bukan sekadar banyak bergerak.
Bukan sekadar sibuk dalam kebaikan yang terlihat.
Tetapi amal yang benar-benar diridhai Allah.
Amal yang mengikuti kebenaran.
Amal yang tidak dirusak oleh ingin dipuji, ingin dianggap, atau merasa sudah cukup baik.
Di usia berapa pun kesadaran itu datang, pertanyaannya tetap sama:
apakah sisa hidup ini sedang menuju ridha Allah?
Setelah itu, doa ini memandang jauh ke depan:
“Perbaikilah untukku keturunanku.”
Seorang mukmin tidak hanya memikirkan kenyamanan rumahnya hari ini.
Ia juga gelisah tentang arah iman keluarganya.
Ia tahu, warisan yang paling mahal bukan sekadar harta, bangunan, atau nama baik.
Yang paling ditakutkan adalah ketika generasi setelahnya memiliki banyak fasilitas, tetapi kehilangan jalan pulang kepada Allah.
Maka ia memohon perbaikan.
Dan pada ujung doa itu ada pengakuan yang paling menenangkan:
“Sungguh, aku bertaubat kepada-Mu.”
Seolah umur yang bertambah sedang mengajarkan satu kalimat besar: pulanglah sebelum dipulangkan.
Pulang dari kebiasaan menunda.
Pulang dari dosa yang terlalu lama dipelihara.
Pulang dari hidup yang tampak sibuk, tetapi miskin persiapan untuk akhirat.
Empat puluh adalah pengingat yang jelas.
Namun panggilan pulang tidak selalu menunggu angka itu.
Siapa pun yang hatinya mulai sadar, sesungguhnya sedang diberi kesempatan untuk kembali.
Yang terpenting bukan berapa lama seseorang hidup.
Yang lebih mendesak adalah dalam keadaan apa ia menghadap Allah.
Ya Allah, tuntun kami untuk mensyukuri nikmat-Mu.
Jadikan sisa umur kami dipenuhi amal saleh yang Engkau ridhai.
Perbaikilah keluarga dan keturunan kami.
Terimalah taubat kami, dan wafatkan kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu.