Ditakut-takuti pikiran sendiri.
Mampus. Apa coba artinya?
Bukan tanpa alasan saya menyertakan GIF dari ending film 500 Days of Summer di awal tulisan. Dan dialog yang diucapkan dengan subtitle bahasa (mungkin) Spanyol itu adalah yang ingin saya bicarakan.
You know what sucks? Realising everything you believe in is complete and utter bullshit.
Kala pertama kali menonton film tentang Summer yang diperankan oleh Zooey Deschanel ini, saya didampingi oleh tiga orang sahabat saya. Semoga persahabatan ini tidak sebelah tangan dan utter bullshit. Sebab saat itu saya sedang patah hati, akan sesuatu yang sejatinya tidak terjadi. Namun menginfeksi.
Menonton 500 Days of Summer, saya merasa begitu klop dengan jalan ceritanya yang ‘cinta-cintaan banget’. Saya merasa karakter yang diperankan oleh Joseph Gordon-Levit -- yang kini saya sudah lupa nama tokohnya -- itu saya banget.
Saat itu saya merasa semua yang saya percayai ternyata cuma suatu bullshit. Dan mungkin itu cuma khayalan pikiran saya. Saya ditipu oleh gelombang neuron di balik kepala saya sendiri.
Meskipun hati siapa tahu, namun gelombang neuron berkata bahwasanya saya telah dicampakkan. Dibuang ke tengah-tengah kota yang tak pernah saya impikan untuk tinggal disana dari sangkar burung bianglala yang berhenti di puncak putaran tertinggi. Meninggalkan pria dan wanita ciuman di atas sana.
Saat menulis ini lagi-lagi neuron yang menjelma gelombang otak tengah mempercundang saya. Barusan ia mengajak saya berandai-andai akan punya anak. Dan sebagaimana syarat biologisnya, punya anak mesti ena ena terlebih dahulu. Dan nafsu adalah bala tentara yang otak kerap kerahkan. Memporakporandakan bangunan iman yang tiada kuat lagi.
Begitu sering saya ditakut-takuti oleh pikiran sendiri. Seperti berhala hidup yang aku cinta pernah transkripkan dalam statusnya. Aku pun juga, ditakut-takuti oleh pikiran sendiri.
Segala ketidaksiapan ini menakutkanku. Hari semakin mendekati akhirnya, dan aku belum menggenggam apa-apa. Sedangkan aku mesti pergi ketika tenggat waktu tiba nanti. Ke tanah yang aku belum tahu siapa penyangganya. Sedang di tempat ini pun aku selalu kembali, untuk menuntaskan nafsu. Dan kau jauh dari genggaman tanganku.
Pikiran ini menakutkanku.
Bahkan pikiran yang saya percayai, tiada lain daripada complete and utter bullshit.
Selamat tinggal ketenangan. Sampai jumpa di seberang muara kantuk ini. Jabat erat nanti ya saat kembali aku bukakan mata, esok pagi!
Ya Tuhan aku hanya butuhkan pelukan. Dan ciuman. Atau bolehlah, kau luangkan waktu. Temani aku menonton 500 Days of Summer untuk kedua kalinya. Menyaksikan aku padamu, direka ulang Hollywood. Aku patah hati tiap kali kau tersenyum bukan karenaku.