Kemewahan
Kelapangan hati untuk menerima nasihat, kesadaran diri bahwa diri merasa kurang dan bersedia untuk belajar, adanya orang-orang yang mau mengajari kita karena kita bisa menjadi murid, alih-alih pendebat. Kesediaan diri untuk diingatkan. Kemauan diri untuk mengubah keadaan, alih-alih menyalahkan keadaan dan orang lain. Kemampuan untuk mengambil keputusan sekaligus keberanian untuk menjalani risikonya.
Hal-hal yang kini jarang dimiliki. Ketika setiap dari kita mungkin sedang berlomba untuk berbicara dan ingin didengarkan. Ketika setiap kita ingin dilihat, tapi tidak dengan hati. Hati tetap buta, hanya mata yang tertipu daya.
Tak semua orang menyadari pentingnya belajar. Pentingnya berinvestasi, Pentingnya memiliki circle yang luas dan positif. Pentingnya untuk bergerak. Pentingnya untuk belajar parenting, sekaligus ilmu pernikahan sebelum menikah. Pentingnya tahu seluk beluk transaksi. Dan ilmu kehidupan lainnya.
Tak semua orang menyadari dan bisa memahami hidup ini hanya sementara, kita tak membawa harta yang kita kumpulkan saat mati, tapi utang harta meski serupiah itu akan dibawa mati kalau kita tak melunasinya. Kita tidak akan membawa gelar dan jabatan, hanya membawa amalan.
Tak semua orang bisa memahami bahwa belajar menjadi orang tua itu tidak mudah. Kalau hanya menjadi orang tua, semua orang mungkin bisa. Anak-anak itu ketika dilahirkan takkan dibiarkan begitu saja, mereka butuh orang tua yang memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi orang tua yang baik.
Semua hal itu seolah menjadi sebuah hal mewah yang kalau kita menemukannya pada diri seseorang, maka ia layak kita jadikan teman.
©kurniawangunadi









