Banyak yang pandai menasihati, tapi tak banyak yang mampu menyentuh hati.
©Quraners

bliss lane
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always
One Nice Bug Per Day

roma★

Andulka

tannertan36
Fai_Ryy
ojovivo
Game of Thrones Daily
cherry valley forever

Discoholic 🪩
No title available

@theartofmadeline
🩵 avery cochrane 🩵
Lint Roller? I Barely Know Her
Doug Jones
EXPECTATIONS
h
almost home
seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Vietnam
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Türkiye
seen from Bangladesh
seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from Pakistan

seen from United States
seen from Philippines

seen from Ecuador
seen from Indonesia
seen from Italy
seen from Bangladesh
seen from Pakistan

seen from Thailand
@kelincipercobaan
Banyak yang pandai menasihati, tapi tak banyak yang mampu menyentuh hati.
©Quraners
“Kita pernah jatuh cinta di waktu yang sama; namun kita tidak pernah bisa bersama.”
— Sesederhana itu. (via mbeeer)
“Lantas, apa yang harus dirayakan dari kebahagiaan yang tanpa kau di dalamnya?”
— (via mbeeer)
Teruntuk kamu rumahku
terima kasih telah hadir dalam mimpiku malam ini meski tak ada perbincangan
dan hanya saling berpandangan.
Kamu tetaplah rumahku sejauh apapun aku pergi kamulah tempat pemberhentian terakhir yang akan aku singgahi
Terima kasih, sekali lagi terima kasih mohon maaf saat ini aku belum bisa kembali ke rumah.
Tetaplah menjadi cantik dengan caramu tetaplah menjadi indah dengan shalihah
Salam hangat dariku untukmu rumahku
“Denganmu, aku belajar untuk menghargai kehadiran seseorang. Tanpamu, aku belajar untuk mencintai kesendirianku.”
—
Thanks for the lesson. // A.W.
Bandung, 3 Oktober 2018.
(via surat-pendek)
Nabi Adam as: The Story of Repentance
Kata pepatah, guru terbaik adalah pengalaman. Sayangnya, kita sering lupa bahwa nggak hanya dari pengalaman pribadi namun kita juga bisa belajar dari pengalaman hidup orang lain. Misalnya belajar lewat obrolan dengan teman, biografi, sejarah, dan dari sumber terbaik yaitu pengalaman para nabi yang dikisahkan dalam al-Quran. Banyak sekali kisah para nabi dan orang-orang shalih disana. Kita bisa mulai dari yang pertama, kakeknya umat manusia, Nabi Adam as.
Ada dua pelajaran yang membekas setelah kelas oleh Ustadzah ‘Alimatunnisa yang kuikuti selesai. Pertama, dari banyak nikmat halal yang Allah beri, manusia tetap ingin mencoba sesuatu yang haram. Padahal sangat jelas kalau hal-hal yang haram lebih sedikit jumlahnya.
Ujian bagi Nabi Adam as saat itu hanya berasal dari satu buah pohon. Bayangkan saja, diantara banyak nikmat yang ada di surga (surga loh, ya ampun), yang ngga boleh hanya satu. Kalau kita bercermin pada kehidupan hari ini, kondisinya masih sama. Diantara banyak jenis minuman: jus buah-buahan, teh, kopi, dsb yang haram hanya khamr. Diantara banyak hewan yang Allah sediakan di laut dan di darat, hanya beberapa yang haram (babi, bertaring, hidup di dua alam, dsb). Tapi, masih aja ada yang iseng coba-coba. Pun diantara banyak teman yang bisa kita ajak mengobrol, partner yang bisa kolaborasi bareng, masih aja pengen, cari-cari alasan, atau coba-coba hubungan yang ngga bener.
Kita sering beralasan nggak bisa memilih. Padahal kita menjadi lebih istimewa dari para malaikat karena punya pilihan.
Pelajaran kedua adalah, ketika menggoda manusia, iblis hanya berbisik. blis nggak memetikkan buah untuk nabi Adam as lalu tiba-tiba menaruh buah tersebut di depan matanya. Iblis nggak kampanye, Iblis nggak memerintah dengan teriakan, Iblis juga nggak memaksa dengan mencelakai kita. Iblis hanya berbisik. Iblis tuh sabar. Dia mengikuti kita kemana pun, dan awas banget begitu kita lupa sama Allah. Konsistensi iblis membujuk manusia luar biasa. Cara marketingnya, memasarkan sesuatu yang salah hingga terasa benar untuk kita, patut dikasih jempol.
Iblis hanya berbisik. Sedangkan kita terlalu lemah hingga mudah sekali tergoda hanya dengan bisikannya. Padahal “It’s only a matter of having courage and making effort to stay in the right path” kata Garcia dan Mirrales dalam bukunya Ikigai. Terkadang, bertahan bukan hanya diam dan menonton segala hal terus berjalan. Justru sebaliknya, bertahan berarti bergerak. Kita baru sadar kalau kita kuat jika sudah berhasil menapaki langkah selanjutnya. Kita akan bisa paham kalau Allah selalu menguatkan, tepat saat kita memutuskan bergerak untuk menghadapi ujian berikutnya.
Semoga, kita termasuk orang-orang yang tabah dan nggak berhenti berusaha.
Februari 2020
Nikmat yang kerap tak terlihat
“Orangtua adalah pintu surga paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orangtua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orangtua kalian.” (HR. Tirmidzi)
Prof. Dr Sholeh Al-Ayid pernah berkata dalam bukunya, “Sesungguhnya do’a ibu tidak akan pernah meleset. Ibuku -semoga Allah merahmatinya- selalu ridha terhadap anak-anaknya dan mencintai mereka. Ibuku selalu berdo’a memohon kebaikan untuk anak-anaknya di setiap waktu. Berdo’a dengan hati yang bersih tanpa ada dendam dan kebencian.
Karena itu, saya melihat segala kemudahan dalam segala urusanku adalah hasil dari do’a beliau secara nyata dan tidak ada keraguan sedikitpun. Berapa banyak pintu kebaikan terbuka untukku dengan tidak disangka-sangka, dan berapa banyak tipu daya orang-orang yang iri dan dengki menjadi runtuh karena karunia Allah disebabkan do’a ibuku yang dikabulkan-Nya.”
Do’a Ibu, yang bahkan seringkali kita lupakan. Do’a yang tidak pernah ia dengungkan dengan keras, do’a yang tidak pernah ia tampakkan, tidak pernah ia ceritakan kepada anak-anaknya. Meski begitu, dalam tiap helaan nafasnya, harapan-harapan baik senantiasa hidup dalam do’anya.
Dan hampir-hampir dalam setiap isaknya adalah kita.
Adakah seseorang yang lebih mencintai kita selain ibu kita? Adakah yang rela memberikan denyut nadi dan kesempatan hidupnya, jika itu bukan ibu kita?
Ibu, dan Bapak. Mereka adalah dua orang yang tidak akan pernah bisa digantikan meskipun mereka akan, dan atau telah meninggalkan dunia. Merekalah arti ketulusan, merekalah yang telah memandangmu sebagai kekurangan yang menyempurnakan.
Seberapapun usia kita, dimata mereka; kita tetaplah seorang anak kecil yang selalu dicintainya, dan tidak pernah berubah. Dan tidak pernah kurang.
Ibu dan Bapak kita, adalah peran terbesar atas karunia Allah yang kini melekat dan mengelilingi prestasi kita. Merekalah, yang dalam kecewanya, sedihnya, hancurnya, selalu melangitkan cinta untuk anak-anaknya.
“Sungguh beruntung seorang anak yang dapat melihat kedua orangtuanya pagi dan petang,” Prof. Dr. Shalih Al-Ayid kembali menorehkan kalimat indahnya yang begitu menyayat hati, bagaikan pedang yang mencambuk diri untuk sadar,
“…Sungguh beruntung seorang anak yang masih memiliki kedua orangtua atau salah satunya,
Sungguh beruntung seorang anak yang dibutuhkan oleh kedua orangtua atau salah satunya.
Sungguh beruntung seorang anak yang mendapatkan taufik Allah untuk berbakti kepada orangtuanya.” pungkas beliau.
—aviliaarmiani —
Selalu, tidak ada satu ‘hari ibu’ untukku. Karena setiap hari, bagiku adalah hari ibu; hari dimana aku selalu ingin mendo’akannya. Selalu.. selalu..
Ibu, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kemuliaan di dunia, dan di akhirat nanti♡
—aviliaarmiani—
Tidak ada perayaan, tidak ada ucapan "selamat ulang tahun " atas pengulangan tanggal kelahiranmu.
Bukankah seharusnya bersedih? Bukankah umurmu semakin berkurang? Lantas untuk apa kata "selamat"?
seharusnya bersedih bukan bersenang - senang karena belum mampu menjadi ciptaan yang di inginkan tuhannya
Bersedihlah jangan pernah menyombongkan diri terhadap Tuhan, kita hanya segumpal tanah yang dititipi nyawa.
Tetaplah rendah hati
Tetaplah cantik dengan menjadi shalihah
Tetaplah bersyukur atas apa yang telah diberkan-Nya kepadamu.
Berusahalah menjadi seperti panutan wanita wanita shalihah lainnya, Berusahalah menjadi seperti bunda Khadijah.
Semoga panjang umur dan di berikan kesehatan
16 Desember 2019
Kupandangi Qur'anku, kukatakan padanya,
"Pertemukan aku dengan seseorang yang mencintaimu, juga mencintaiku karenamu..."
©Quraners
Terima kasih meski hanya sebentar dan hanya lewat media, aku percaya kamu masih menerima aku apa adanya.
Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih.
Semoga kita saling diberi kesehatan dan semoga kita dipersatukan.
Aamiin......
“Serasa ada yang tidak adil. Aku seperti selalu jatuh cinta padamu berkali-kali, tapi kau tetap tak peduli sama sekali.”
— (via mbeeer)
Kabarmu, Tenangku
Ada lebih dari sebuah kalimat selamat tidur yang ingin aku berikan untukmu.
Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan langsung padamu, dengan segala apa-apa dalam keterbatasan dan kekuranganku.
Ada banyak hayalan yang aku harap bisa menjadi kenyataan suatu saat.
Dengan tak sabarnya aku menantikan pelukan dan dekapanmu, aku mencoba sadar, melatih sabar, dan terbiasa dengan semua rasa sukar. Aku bahkan tak meminta sesuatu yang lebih, jika hanya sekedar kabar saja sudah mampu mengubah suasana hatiku.
Adalah sebenar-benarnya tenang saat aku dapat mendengar keluhan tentang hari-hari lelahmu. Aku mencoba memberikan selapang-lapangnya dadaku untuk menerima pelukanmu, sebelum akhirnya kenyataan menampar semua hayalan itu.
Kita sebatas surat yang hanya saling terkirim lalu terbaca, tak mampu saling balas, tak lebih dari sekedar kata-kata, tak ada temu yang nyata.
Selayaknya laki-laki biasa, aku berusaha menjadi yang berbeda, dengan segala kata-kata yang mungkin membuatmu bosan membaca, dengan segala kerumitan yang mungkin membuatmu semakin enggan bertahan, aku memiliki harap yang lebih pada semesta, agar masing-masing kita, tetap saling menjaga dan tak saling melupa.
Jika mereka menyukai senyumanmu, aku akan mencoba menyukai tangisanmu. Jika mereka memuja kecantikanmu, aku akan menyukai segala kekuranganmu. Jika mereka mengagumi sebagian dari kebaikanmu, aku mencoba menerima semua dari sifat keras kepalamu.
Jika mereka mendatangimu hanya dengan membawa segala rasa penasaran, aku menemuimu dengan perasaan ingin bertahan dan tak sudi meninggalkan.
Aku ingin, dan mau menerima semua hal yang bahkan tak kamu suka dari dirimu sendiri. Aku akan berusaha menjadi sebagian dari kepingan perasaan-perasaanmu yang pernah hilang.
Aku tau, luka itu belum sepenuhnya kering, akupun tak memintamu untuk menutupinya dariku, tak usah malu, tak usah ragu, biarlah aku, yang menjadi penyembuh lukamu.
@badutcerdas — Na, 31 Agustus, 2019
Hai.
Sudah lama sekali ya sejak terakhir kali kita saling bertukar kabar. Masihkah kamu mengingatku? Ataukah kamu sudah berhasil melupakanku?
Masihkah kamu simpan semua fotoku dan puisi yang pernah aku berikan padamu? Atau sudah kamu buang semua kenangan tentang diriku, kita?
Pernahkah sesekali kamu membicarakanku dengan teman-temanmu? Atau kamu simpan rapat-rapat semua kenangan yang terkait denganku seakan aku adalah rahasia yang paling memalukan dalam hidupmu?
Apakah kamu menganggapku sebagai pelajaran yang tidak ingin kamu ulang ataukah masih ada harapan di dirimu untuk bertemu denganku sekali lagi?
Kalau aku boleh jujur, aku masih memikirkanmu sampai sekarang. Mungkin kamu akan berpikir kalau aku adalah orang yang sangat menyedihkan. Orang waras mana yang masih merindukan seseorang yang sudah jelas-jelas tidak membalas perasaannya? Barangkali benar, kalau aku sudah kehilangan akal sehatku.
Aku harap kamu baik-baik saja di sana, aku harap kamu benar-benar bahagia dalam hidupmu.
Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?
Kamu dulu memang pernah mengatakan bahwa kamu belum bisa membalas perasaanku.
Apakah sekarang…
kamu sudah bisa membalasnya?
Andira W.
Jakarta, 4 Januari 2019.
“Malam ini, lagi-lagi kamu bercerita tentang dia. Dari nada bicaramu, aku bisa menilai bila dia sangat berarti untukmu. Namun, aku tidak sampai hati untuk menanyakan apakah dia masih memiliki hatimu. Karena aku takut jawabannya adalah “iya”.”
—
Andira W.
Bandung, 18 Maret 2019.
(via surat-pendek)
“Lucunya adalah, setelah sekian tahun berlalu, kau masih bisa menjadi alasanku untuk menulis.”
— (via mbeeer)
“Nanti, suatu saat, entah itu kapan. Kamu akan tahu dengan sendirinya, bahwa sajak-sajak dan aksara yang aku ciptakan selalu saja melibatkan namamu di dalamnya.”
— Luka Kita / Romy Dinasty (via lukakita)
Jika hari ini kita bertemu dan esok aku bertamu, maka maukah kamu…
Lanjutin di reblog-anmu :D