Si Peredam Ego
Ketika aku dihadapkan dengan teman bercerita dan berbagi solusi, aku cenderung tidak akan berkisah apalagi berkeluh kesah lagi di media-media sosial yang lebih banyak rumitnya saat ini.
Jadi begini, aku kembali menjadi si penurut yang dengan sangat mudah mendengarkan nasihatnya; orang yang tiba-tiba saja kuyakini bahwa sarannya begitu menenangkan (selain saran dari Ibuku). Bukan aku tidak punya keputusan sendiri dan mudah terbawa arus. Lebih dalam dari itu, aku justru mengatakan bahwa ini adalah murni keputusanku. Keputusanku untuk mendengar sarannya yang melegakan itu.
Jauh sebelum ini, ada satu orang yang bersamanya aku bahkan bisa menjadi si penurut ulung sebab prinsipku adalah "Jika orang itu kuyakini baik, aku akan menurutinya, apapun sarannya, sebab ada kelegaan setelahnya, dan aku penuh memercayainya.." Setelah tidak lagi bersamanya, sulit, sulit sekali bagiku untuk menjadi si penurut. Aku lebih banyak menentang dan menuruti keputusanku sendiri. Oh ya, sebelumnya mari samakan persepsi bahwa menjadi penurut bukan berarti tidak punya prinsip dan tidak mampu menentukan sikap. Bagiku menjadi penurut bukan berarti aku harus menyerahkan keputusan kepada orang lain, tetapi menjadi si pendengar saran yang baik dan karena saran-saran yang baik dari orang dengan sepak terjang kebaikan yang baik di mataku, aku memutuskan untuk menurut.
Membuka diskusi dengan seseorang yang baru kukenal kurang lebih 7 bulan ini tentang masa depan membuatku memiliki banyak kacamata untuk memutuskan perkara-perkara dilematis. Aku tipikal orang yang penuh dengan susunan rencana dalam hidup. Kalau tidak begini, ya begitu. Bulan sekian, aku akan demikian. Seterusnya. Apalagi di usia yang orang-orang katakan dewasa ini, aku pribadi tidak ada hari tanpa kecamuk pikiran dan kekhawatiran tentang mulusnya menuju masa depan. Iya, aku tau bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebab semuanya sudah digariskan, garis yang terbentuk juga mungkin tidak lurus, tapi kita pasti akan sampai pada tujuan dengan garis-garisan tersebut.
Untuk menjadi penurut, aku telah sadar betul tentang konsekuensinya. Aku perlu merelakan ego, menghabiskannya untuk mendengar apa kata orang, yang bukan sembarang orang. Akhir-akhir ini aku banyak berusaha menghabiskan ego, menekan segala kesempatan yang datang sebab ada rencana lain yang perlu aku fokuskan. Dengannya, selain menjadi si penurut, aku banyak mengingat bahwa kesempatan akan selalu datang, sebab doa dan kesiapan sudah di tangan. Lagi, dengan banyak pertimbangan aku merasa tidak salah untuk menjadi -yang menurutinya- dan membuat keputusan setelah rangkaian diskusi panjang.
Lewat tulisan ini, aku sampaikan, setelah sekian lama menghabiskan ego, aku menemui orang yang mampu meredam egoku dan menuruti sarannya. Aku merasa tidak salah dan tidak merasa "tidak merdeka". Aku justru semerdeka ini sebab keyakinan pada kebaikan tumbuh bersama dengan setiap keputusan yang aku diskusikan dengannya. Kalau dia merasa ini berlebihan, tak apalah, biar aku saja yang menanggung.









