Setahun Lagi
Pagi sayang, kemeja putih yang kamu pakai semalam aku pinjam ya.
Maaf. Aku tahu kamu pasti marah, karena ini kemeja favoritmu. Tapi aku tidak punya alasan untuk takut karena amarahmu akan bias jauh dariku. Aku suka bahannya, ditambah baumu masih kental menempel. Banyak bercak kuning yang sepertinya perlu di laundry, tapi kalau konsekuensinya adalah aroma pakaian alih-alih bau tubuhmu, aku tidak masalah pada noda alkohol.
Pagi ini sayang, tidak bisa tidak spesial. Bukan, bukan karena hari ini KRL resmi menetapkan tarif progresif berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati. Juga bukan karena telur orak-arik kesukaanmu sudah kubuatkan tertutup serbet di atas meja bersama kecap dan lada. Oh ya, mesin kopi juga sudah kubersihkan. Tak lupa ritual membuat takaran dan menyeduh kopi tetap menjadi milikmu seorang.
Tapi pagi bukan hanya melulu tentang ritual sayang. Ada jaringan dan sel-sel dalam tubuh yang diperbaharui, distribusi hormon yang berselancar bebas hambatan. Otak pun merespon, ditengarai gegap gempita hasrat diri.
Tolong jangan bingung sayang. Aku berusaha menjelaskan, meski bukan pakar kata-kata mutiara. Oh, Ingatkah kata-kata mutiara pertamamu sayang? Kau sibuk berkutat merapikan sound system, sementara aku melayang tinggi merayakan penampilan spektakuler yang baru saja berakhir dengan anak-anak. Bisa kulihat dewa-dewa turun dari langit sekedar melempar bunga dan serba-serbi kekaguman telah sedemikian berkembangnya hasil ciptaannya.
“Si dungu tidak pernah salah. Perspektif orang yang lebih tahu yang mengkerdilkan. Jadi maaf. Tidak maksud.”, jika botol yang kupegang waktu itu bukan botol berisi sampanye mahal hadiah dari produser baruku, demi Tuhan isi kepalamu pasti sudah tidak bisa dikerdilkan lagi sekarang.
Kontradiktif. Aku tidak bosan-bosannya berterima kasih kepada rasa cintaku pada sampanye untuk tidak melakukannya. Logikamu terlalu menarikku kearah berlawanan. Aku kira pola pikir tidak punya medan magnet, karena ia tidak hinggap melainkan terbang mencari akal sehatnya masing-masing. Lalu kau menjeratku pada angan gadis akan altar dan pangeran berkuda putih. Pada popok-popok pesing yang menunggu giliran dicuci, pada biaya masuk TK yang setara harga sewa apartemen, pada dunia remaja di era setelah digital yang membuat tawa berevolusi jadi was-was. Tapi semua itu bukan hanya tentang dirimu, sayang.
Jagad raya tidak punya batasan, lalu haruskah aku? Ini bukan soal ketidakseimbangan hormon di pagi hari. Percayalah, aku sudah berusaha menahannya. Lalu mimpi itu datang dalam bentuk dentuman pelan. Makin lama makin besar diiringi ritme makian dan sajak kelakuan. Aku bermetafora, berembun dalam prosa. Bangun-bangun aku kembali ke duniaku. Tapi bukan duniaku. Mimpiku lebih terasa. Tapi pembelaan macam apa sebagai dalih kenyataan akan mimpiku saat si aku hanyalah bayang-bayang?
Kita hidup di jaman serba berlomba dalam berlari. Sangat cepat. Terlalu cepat. Putar balik hanya untuk yang terhambat. Kau tahu? Dan aku butuh dunia tempat gaungku tak henti bergema. Sorak-sorai dan tepuk tangan memompa darahku ke otak begitu dasyat. Tapi aku perlu meledak. Syair dan melodi bukan hasil pengakaran rumus aljabar, sayang. Mereka butuh rasa baru dan gejolak yang hampir mustahil diprediksi. Dirimu, hanya sedikit terlalu pasti. Tapi ini bukan tentang dirimu.
Masih ingat sayang dengan scarf bintang-bintang yang kita curi dari pemilik EO sialan karena seenaknya memotong waktu tampil band terbaik sepanjang segala masa di gig pertama kita? Ya sayang, scarf itu masih kusimpan. Aku tidak bisa menyangkal kekuatan spiritual yang berdesir dari tiap serat jahitannya. Seperti ibadah, terselip aroma bernuansa doa dan sembah segala puja-puji mazmur menyambutku naik ke atas mimbar. Ya sayang, aku masih melakukannya. Sialnya, aku tidak cukup naïf untuk tidak mengakui bahwa di saat aku berdoa, aku berdoa bersamamu. Aku kalungkan scarf itu di leherku , membayangkan apa yang belakangan paling menguasai pikiranku (masih selalu tentang dirimu), membesar-besarkan perasaan itu sampai bergelora euforia dramatis di tubuhku. Aku hanyut dalam ombak besar. Menunggu tiupan sangkakala, sambutan pasrah panasnya panggung neraka. Aku terlalu mencintai gempitanya sayang. Sama seperti aku mencintaimu. Tapi ini bukan tentang dirimu.
Aku tahu kau tidak akan terlarut dalam kesedihan dan kebingungan tak berkesudahan. Hanya saja, aku tidak bisa hidup tanpa panggungku, sayang. Disanalah oksigenku tercipta. Sebelum logikamu menjadi tanggung jawabku, sayang, biarlah pola pikirku tetap pada akal sehatnya yang tidak terlalu sehat. Ini semua tentang aku, sayang. Tidak pernah secuil pun tentang dirimu.
Teman perang akal sehatmu,
Joana.
PS : Kau bisa menemuiku di London satu tahun lagi, 1 Juni 2014. Belum pasti aku akan bermain dimana. Tapi demi Tuhan, aku akan menaklukannya. Kita bisa “berdoa” bersama lagi.












