Mengurai Kegundahan Hati dan Kerumitan Pikiran
Setiap orang membutuhkan cara untuk meluapkan kegundahan hati dan kerumitan pikiran. Kebanyakan orang melakukannya dengan cara bercerita kepada orang lain. Curhat begitu istilahnya.
Ketika bercerita tak jarang tanpa sadar kita menaruh ekspektasi untuk bisa dimengerti, untuk dibela, untuk dihibur hingga kita bisa merasa lebih lega. Tidak heran banyak orang yang seolah berlomba-lomba bercerita saat dia bahagia, saat dia sedih, saat dia marah, saat dia kecewa hanya untuk bisa didengarkan, dimengerti dan divalidasi emosinya. Mungkin terutama bagi kebanyakan wanita seperti aku. Tak sedikit juga yang berakhir pada oversharing.
Aku juga melakukan hal serupa. Bercerita kepada teman atau orang yang kita percaya menjadi salah satu caraku meluapkan kegundahan hati dan kerumitan pikiran. Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa ini semua sia-sia.
Ekspektasi diriku atas respon orang yang aku ajak bercerita sering tidak sesuai harapan. Beberapa kali kudapati bukan mendapatkan perhatian tapi malah diabaikan. Respon dingin seolah masalahku bukanlah hal besar. Bukan mendapatkan pembelaan tapi malah penghakiman. Bukan merasa lega malah menambah kerumitan pikiran dengan munculnya asumsi dan pertanyaan di kepala. Kok aku malah di-judging-in? Emang aku ya yang salah? Kenapa dia acuh padahal aku selalu berusaha mendengarkan kalau dia bercerita? Dan sebagainya.
Apakah salah mereka yang mendengarkan?
Bukan, menurutku yang salah adalah ekspektasi ku atas respon pendengar. Semakin menginjak usia dewasa semakin banyak rasanya kerumitan-kerumitan yang mampir ke kehidupan kita. Bukan hanya kita yang rumit, orang lain pun memiliki kerumitanya masing-masing. Maka dari itu tidaklah heran banyak orang ingin didengarkan namun sedikit yang mau untuk mendengarkan.
Kenapa?
Karena mereka terlalu lelah untuk mengurai isi kepala mereka dan tak punya energi lagi untuk sekedar menyapa kerumitan orang lain.
Karena mereka tidak memiliki ruang lagi untuk berempati karena mereka terlalu sibuk menata ruang emosi diri sendiri.
Maka benar jika tidaklah seharusnya menggantungkan harap kepada manusia.
Akhirnya, kembali menulis adalah caraku untuk healing. Menuangkan segala kegundahan hati dan kerumitan pikiran dalam tulisan juga membantuku menghabiskan jatah 20.000 kata per hari ku sebagai seorang wanita. Setidaknya aku tahu bahwa menulis tidaklah perlu berharap respon. Bisa menjadi manfaat bagi yang membaca itu adalah bonus.
Selain menulis, bercerita kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup juga menjadi cara jitu. Sama halnya dengan menulis, bercerita kepada Allah tidak perlu berharap respon (langsung). Bedanya aku yakin bahwa Allah mendengarkan bahkan mengerti.
Dia tidak akan mengabaikan, melainkan menenangkan.
Dia tidak akan meninggalkan melainkan memberikan yang terbaik.
|Selepas Subuh|











