Mata kita mungkin saja digelapkan oleh gemerlap dunia, keindahan syahwat, atau hiburan nafsu. Tapi persoalannya, kita masih punya iman. Nurani kita amat mengetahui kecenderungan nafsu yang mulai merambati jiwa kita. Naluri jahat bisa saja membungkus dosa dan maksiat dengan jubah kebenaran, menutupi kekeliruan dan kesalahan dengan selimut syariat yang Maha Bijaksana. Tapi fitrah dan nurani yang sehat, yang masih berisi iman, selalu saja mengetahui tipu daya itu. Hanya persoalannya, kita mengabaikannya atau tidak.
Design Thinking, Business Model, dan Market Validation.
Workshop Yogyakarta 2B akan dilaksanakan pada:
Waktu:
Sabtu & Minggu, 1 & 2 Oktober 2016
09.00 - 18.00 WIB
Tempat:
Sale Stock Indonesia Office
Jalan Kyai Mojo No.27-29, Tegalrejo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55244
Setelah mengikuti Ignition 1000 Startup Digital ada beberapa catatan. Meskipun tidak semua yang saya tulis di sini berasal dari acara Ignition tersebut. Acara dibuka dengan beberapa sambutan. Kemudian dijelaskan kembali tentang program 1000 Startup ini. Kemudian baru masuk materi Startup Journey yang diikuti dengan 3 diskusi.
Yang saya garis bawahi pada acara ini tentang Startup adalah “Why”. Mengapa membuat Startup? Dengan pertanyaan tersebut, dan dengan jawaban yang benar serta eksekusi yang tepat akan mewujudkan Startup yang bagus. Mungkin tema ini diangkat pada sesi ke 2 atau diskusi pertama, yaitu jangan semata-mata berbisnis namun menciptakan solusi. Pada sesi lainnya hal tersebut juga tetap dibahas dan menjadi perbincangan yang menarik.
Dimulai dengan VP Go-Jek yang kata-katanya membuat bulu kuduk merinding. Dengan satu Startup Go-Jek saja bisa menghidupi puluhan ribu orang, apalagi dengan 1000 Startup. Sedikit naif mungkin, tapi tidak ada kesalahan dalam pernyataan tersebut. Kemudian KitaBisa yang berhasil mendanai beberapa masalah. Begitu pula dengan Kakatu yang menceritakan masa lalunya sampai akhirnya dia menciptakan aplikasi yang bermanfaat untuk perkembangan anak.
Semua tadi dimulai dari ide, meskipun bisa disimpulkan ide itu murah sebenarnya. Yang penting adalah eksekusi. Seperti kata salah satu pemateri, ide adalah hipotesis yang perlu dibuktikan. Pembuktiannya dengan eksekusi, apakah gagal atau berhasil. Dan dalam ide sebenarnya tidak harus benar-benar berbeda dengan yang sudah ada. Malah jika tidak ada yang mengerjakan ide tersebut bisa jadi ide tersebut cacat.
Untuk melakukan eksekusi diperlukan suatu tim. Tim ini yang nantinya akan bersama-sama membangun Startup. Tim yang tidak solid akan mengganggu ekosistem di dalam Startup. Untuk itu diperlukan tim yang memiliki visi yang sama, sebagaimana dikatakan founder Dyecode. Bubarnya tim merupakan salah satu kegagalan dalam Startup. Kegagalan lain seperti kurangnya manajemen yang baik.
Kegagalan inilah yang mungkin menghantui founder Startup. Apakah berani maju atau tidak. Tentunya harus berani mengambil risiko dan bekerja keras. KitaBisa yang pernah gagal, kemudian menjadi KitaBisa jilid 2, foundernya sampai mau mengambil ilmu dari founder salah satu Crowdfunding yang sudah sukses di Australia. Yang jelas semuanya harus dicoba kemudian dievaluasi dan diperbaiki.
Kembali ke pertanyaan di atas, mengapa mendirikan Startup? Mungkin ada beberapa yang memiliki keinginan membuat Startup hanya untuk mendapat pendanaan dari VC. Namun hal itu bagi founder Startup sebenarnya adalah jebakan. Sedangkan bagi saya menjadi founder Startup adalah keren. Bukan karena terlihat mentereng tapi karena bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Saya sendiri masih belum paham cara yang benar membangun Startup. Mungkin untuk tahap sampai produksi bisa tercapai, tapi setelah itu? Apakah benar-benar bermanfaat atau tidak. Baik bermanfaat bagi orang lain maupun diri sendiri.
Latihan Pengucapan Huruf Arab - Tadribat fi Makharijil Hurufi wa Shifatihi
Pengucapan huruf hijaiyah ada aturannya. Istilahnya sih, Makharijul Huruf. Mungkin maksudnya tempat keluarnya huruf-huruf tersebut diucapkan dengan cara bagaimana.
Dalam belajar makhraj, biasanya dimudahkan dengan belajar menyanyikan huruf-huruf arab dengan pola tertentu. Contohnya seperti di gambar. Mulai dari hamzah (ء) sampai ya (ي).
Kebetulan teman saya ingin membuat sebuah buku saku berisi pola-pola aksara arab tersebut untuk pendamping belajar membaca Al Quran. Saya buatkan seperti contoh di gambar. Fiturnya diberi warna beda untuk kalimat dengan nada rendah, datar dan tinggi.
Versi PDF bisa didownload di sini : bit.ly/kuswandanu-makhraj
Versi JPG saya buat dengan konversi dari PDF dengan PDF to JPG Converter download di sini : bit.ly/kuswandanu-makhraj-jpg
Semoga bermanfaat, kalau butuh file mentahnya saya buat dalam bentuk Ms. Word, silakan PM.
Sekitar pertengahan 2010, saya mulai menyadari ada yang aneh dengan kulit saya. Sering saya mengalami gatal-gatal seperti biduran. Sebelumnya saya kira adalah alergi dingin karena saat kejadian biasanya waktu di dalam ruangan ber-AC. Tapi kemudian saya dapati sumbernya adalah tekanan/goresan dan tidak mesti kedinginan. Contohnya saat tangan di meja dan menekan pinggirannya, di tangan muncul suatu garis tonjolan pada bagian tangan yang menekan meja, merah dan sedikit gatal. Juga saat menggores tangan dengan kuku, perlahan membengkak dan memerah sesuai tempat goresan.
Dermatographic Urticaria, dalam bahasa Indonesia disebut Dermografisme.
Begitulah istilahnya, dan juga merupakan kata kunci untuk mencari informasi lebih tentangnya.
Merupakan penyakit alergi terhadap goresan, mengakibatkan bengkak gatal-gatal berwarna seperti biduran.
Seperti saya jelaskan di atas, apalagi kalau tambah digaruk maka area bengkak bisa semakin besar.
Pengidap dermografisme biasanya juga memiliki alergi lain.
Sampai saat ini tidak ada, atau belum menyadari,
Sebab : Tekanan pada kulit pada derajat tertentu. Sensitifnya sel mast yang berada di lapisan kulit sehingga mudah pecah. Pecahan sel ini mengeluarkan zat yang merupakan mediator radang, yaitu histamin. Histamin akan menimbulkan sejumlah reaksi setempat yang mengakibatkan kulit pada area yang terkena menjadi bengkak, kemerahan, panas dan gatal.
Itu penjelasan dari Bu Dokter sang empunya blog.
Gejala ini biasanya terjadi dalam 2 sampai 3 menit dan urtikaria/biduran yang terjadi akan bertahan selama 30 sampai 60 menit dan setelah itu tidak menimbulkan bekas apa-apa.
Masalah waktu kelihatannya tidak menentu atau saya yang kuarng memperhatikan.
Untuk pengobatan katanya belum ada, jadi jangan sampai tergores saja. Tapi nanti mungkin bisa ditelusuri lagi lebih dalam. Sedikit keterangn tambahan dan contoh dermografisme bisa dilihat di halaman Wikipedia, saya tidak mau memasukkan gambar-gambar 'lucu' itu di sini.
Mungkin kelihatan sedikit ngeri, tapi ini hanya kelihatannya saja. Tidak se-mengerikan itu bagi yang mengalaminya. Semoga bisa disembuhkan, karena ada teman juga yang katanya dulu pernah mengalami hal serupa dan sekarang sudah tidak.
Q : What's your advice for developers who want to get involved?
A : Start small. It doesn't even have to be Linux - there's a lot of open source projects that need help, and you want to learn how to get involved. And once you *do* realize that user-mode programmers are wusses, and you want to get involved with kernel programming, don't try to revolutionize some core kernel code - try to find some really small nagging concern, and fix that one thing. Maybe a driver for hardware that you have access to that doesn't work as well as it should, things like that. It takes a while to learn the ropes, and it really helps if people can see that you've done other things before you start sending more involved patches. But the most important thing is "have good taste." It's hard to describe, but it's something I personally look for. People who do things the "RightWay(tm)" - and I'm not meaning that you should follow
all the rules we have come up with over the years (although you should do that, too) - but I'm talking about that elusive quality of writing code that makes obvious sense and does the right thing without lots of special cases or complexity, but also without being unnecessarily abstract and general-purpose. "Do one thing, and do it well."
30 Linux Kernel Developers in 30 Weeks: Linus Torvalds | Linux.com
The Four Freedom of Free Software
.: The freedom to run the program, for any purpose (freedom 0).
.: The freedom to study how the program works, and change it so it does your computing as you wish (freedom 1). Access to the source code is a precondition for this.
.: The freedom to redistribute copies so you can help your neighbor (freedom 2).
.: The freedom to distribute copies of your modified versions to others (freedom 3). By doing this you can give the whole community a chance to benefit from your changes. Access to the source code is a precondition for this.
What is free software? - GNU Project - Free Software Foundation (FSF)