Kau membaca untuk menemukan jejakku, aku menulis untuk tidak kehilanganmu.

seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from China
seen from China

seen from South Africa
seen from United Kingdom

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from Türkiye

seen from Australia
seen from Philippines

seen from United States

seen from India
seen from Australia
seen from United States
seen from Argentina
seen from United States
seen from Canada
seen from Sri Lanka
Kau membaca untuk menemukan jejakku, aku menulis untuk tidak kehilanganmu.
Ada sebuah pertanyaan simpel namun lebih cocok ditanyakan via teks atau chat. Pertanyaannya seperti begini nih.
Dari semua huruf, mana yang bukan huruf?
jujur..
aku tidak pernah mengerti mengapa kata adalah segalanya. maksudnya, bukan sekedar huruf, bukan sekedar tulisan. tapi kata itu senjata. senjata yang bisa meneteskan air mata, atau membuat orang bahagia. aku juga tidak percaya kalau ada kata yang tidak sengaja terucap. apa itu? berarti bohong? ‘tidak sengaja terucap hanya berarti penyesalan karena salah bicara. aku pikir, tidak ada kata yang tidak dimaksud. dan saat ini, aku sedang tersakiti karena kata. lagi-lagi oleh dia yang sebenarnya paling kusayang.
“Ketawa dan Kecewa itu bedanya hanya dua huruf, hati-hati.”
— cerminusang
Mereka menilai aku seseorang yang menyedihkan, karena seringkali merangkai sajak patah hati dan puisi tersakiti. Sebagian lagi, menganggap aku sosok yang lemah. Karena selalu bersembunyi dibalik aksara.
Tak apa. Untukku, menulis adalah seni melegakan hati. Dan aku, bisa menjadi siapapun dalam tulisanku, termasuk kamu.
Sebelas, Dua Puluh Tiga.
Dua kata. Lalu tiga kata. Dan untuk kalimat pada bagian yang ini terdiri atas sebelas kata. Jangan berhitung; nanti engkau terkurung. Hanyalah huruf dan tanda baca yang biasa kita temukan di mana-mana. Engkau liar, kuumpamakan layaknya suara. Sebab tubuhmu ialah lengking bising dering nyaring hening yang mendengarkanku kini. Bertahanlah sejenak, sedang kubangun satu perpuskataan di dalam dirimu biar bisa aku berkubang, dan menceritakan ini: Ayah bersarang di dahan ibu dan terlahir aku dini tatkala minggu. Bulan berkelompok, bulan dewa perang. Ibuku bukit, ibuku pohon tinggi. Ibuku pohon tebang ibuku lembar kertas terbang tak kutangisi tapi kutulisi. Aku Nakku, beribu dan berayah. Ayahku padang, Ayahku ilalang rendah. Ayahku ilalang rebah Ayahku lebah madu hitam tak kucicipi tapi kutulisi. Ibu bilang, segala huruf dikutuk. Huruf-huruf yang membatu dan bisu tiada geming tapi Ayah tak setuju. Menurut Ayah, segala huruf diketuk. Seumpama pintu kayu yang menerima segala datang; huruf-huruf ialah kabar ialah orang-orang. Ayahku tukang kayu, Ibuku tenang benang. Aku bertanya pada Ibu apakah Ayah pandai merayu dan Ibu menjawab, tak pandai, Ayahku seorang pemalu. Kata Ayah, kelak huruf-huruf diketuk. Sidik-sidik sepasang jemari beradu ketik di atas papan nyala berdaya listrik. Orang-orang mengetik, jari-jari menjentik lentik. Menuliskan apapun untuk siapapun pada kapanpun seperti aku yang menuliskan kau, atau kau, yang menuliskan aku. Pada maya linimasa segala huruf burung-burung terbang bebas dan kau aku, menyangkarkan kepak, huruf-huruf kicau penghias. Kukatakan ini, teramat aku membayangimu. Namun kau ialah jabal namun aku ialah bahar yang tak berlahar. Aku Nakku, samudera kepalang biru. Sedangkau ancala rimbun, berkepundan abu. Kita berhitung, kemarikan sepasang jemarimu. Huruf bukanlah angka bukanlah jumlah yang dicari ditambah dibagi dikali diselisihi, angka mati, huruf-huruf isyarat pasti. Dua kata. Lalu tiga kata. Dan untuk kalimat pada bagian yang ini terdiri atas sebelas kata. Pi, angka-angka, berbagai tanda baca. Kata Ibu, kelak kata-kata diperhitungkan. Maka kutuliskan apa-apa nan terdiri atas tiga ratus empat belas kata. Ayahku lebah Ibuku pohon tinggi. Aku Nakku. Bercita menjadi lucu. Karena kata Ibu kelahiranku ke dunia membuat Ibu menangis menjerit. Seperti Ibu, akupun ikut menangis. Namun tak pernah Ibuku bercita-cita menjadi lucu tak akan pernah. Ayahku juga, yang pemalu itu. Tiada mungkin memiliki cita tuk menjadi lucu dan tak akan mungkin. Apa lucu. Lucu itu engkau. Karenanya berlama-lamalah denganku di dunia nyata biar bisa aku belajar mempelajarimu. Engkau perpuskataan. Aku rak-rak buku. Jalanan raya ialah lalu-lalang yang kita perbincangkan kita perdebatkan kita tertawakan. Mengetikkan kita, dan menjadi buku. Maka ialah engkau Ibu buku-buku yang akan mendongengkan beragam kisah lucu menggebu. Kelak kanak-kanak, bersekolah di kakimu. Mereka mengutipmu, lugu ragu baku. Dan kucing-kucing juga bersekolah di kakimu namun kucing-kucing hitam kucing-kucing putih. Papan tulis, retak kapur tergeletak, yang memperbincangkan seorang puan perpuskataan yang menyurati aksara dan menerjermahkan angka-angka. Kucing-kucing kayu, membiarkan engkau melaju. Maka berjalanlah engkau ke segala sisi biar kautelusuri negeri beragam merapi. Gunung-gunung tinggi, engkau mendekat langit. Ceritakan padanya suatu kisah tentang rendah pesisir yang merindukan lautan dalam. Ikan-ikan menyelam, kaki-kaki yang telanjang. Pandangi langit simaklah langit menangis sebab kota-kota telah menerima ketibaan hujan. Lalu pulanglah, ketuk pintu perpuskataanmu. Bunyinya kayu, karya seorang pemalu. Gantung tepikan basah tudung yang kaupakai dan berjalan engkau mendekati api. Kertas-kertas kubakar, helai rambutmu kering. Aku Nakku. Beribu dan berayah nan bercita menjadi lucu kini telah menduduki pangkumu, dan menatapi keningmu. Garisan kerut, tak lekaskah aku. Terlalu ricuh rute di dalam kepalaku tak lelahkah engkau segala tuju. Kukatakan berkali-kali, tertuliskan dini hari--Ayahku lebah, Ibuku pohon tinggi, dan ialah engkau setenang benang setegar kayu, janganlah layu. Aku rak-rak buku, mencita-citakan cerita cinta nan lucu pun pendendang berbagai lugu bujuk rayu, sedang engkau, puan perpuskataan sayu. Langit terisak, kota kita hujan. Luap setiap sungai mengalirkan segala cerita menuju laut dan air-air masin. Aku Nakku. Bercita menjadi lucu. Orang-orang menuliskan puisi kopi, orang-orang menuliskan segala kopi yang mereka beli mereka nikmati mereka habisi. Tapi Ayah tidak, Ayah meminum kopi tanpa puisi. Ayah tak menuliskan apa-apa. Pahitnya tak menjadi syair, pekatnya tak berbait-bait. Yang kopi perbuat hanyalah membuat Ayah nyala terjaga; semalam suntuk menggergaji kayu, jadi papan-papan dan papan-papan jadi pintu kandang ayam. Kopi tak membuat Ayah jadi perayu, Ayah tetap setia dan pemalu. Ragu-ragu Aku bertanya pada Ibu, adakah Ayah pernah bersajak, Ibu tak tahu Ibuku jawab: tak pernah. Aku bertanya bagaimana bisa aku menjadi ada sedangkan Ayah tak pandai merayu, Ibuku jawab: Ibuku tak menjawab. Ibuku terlanjur terbang dan jadi kertas-kertas. Orang-orang juga menuliskan puisi senja, orang-orang menuliskan segala senja yang mereka tatap mereka nikmati mereka ratapi. Tapi Ibu tidak, Ibu menatap senja tanpa puisi. Ibu tak menuliskan apa-apa. Jingganya tak menjadi syair, redupnya tak berbait-bait. Yang senja perbuat hanyalah membuat Ibu diam menanti; sempurna gelap menunggu ayah. Langit mendung, kala segala tergenang orang-orang menuliskan puisi hujan tapi ayah tidak, ayah berteduh tanpa puisi. Ayah tak menuliskan apa-apa. Kenangnya tak menjadi syair, lebatnya tak berbait-bait. Aku Nakku, beribu dan berayah. Duduk mengulum gula-gula di tanah lapang. Taman ria, dan mencoreti kata-kata. Representasi konkret, atau sekadar ketikan acak abstrak tanpa makna, menggambar kata-kata. Fiksi yang dianggap nyata. Mereka menerka segala reka karang ketiadaan dan menjadikannya ada dan mengada-ada ialah satu buku pertama yang hendak kutaruh di engkau perpuskataanku. Ibuku di tempat tinggi, menanti ayah pulang dan membawa lemari. Menyimpan segala di dalam ruang berbahan kayu. Jendela-jendela yang banyak, buku-buku yang bertumpuk, lipat-lipatan alas sujud, derit lantai kayu yang terpijak, anak tangga batu yang kami titi satu satu, dua, tiga, kata-kata berhitung dan menjumlahi dirinya sendiri, menjadi suara dan suara bertemu nada, menjadi irama. Suara laut, ombak kapal pelaut. Buih kata-kata samudra mengkalimat. Ibuku cemara laut sedang ayah camar di laut. Hanya karena diriku merasakannya, bukanlah berarti itu ada.
Kitab-ı Siyah Kalem Gülfem Pamuk
Everest Yayınları’nın “ilk roman ödülü”nü alan Gülfem Pamuk, “Kitab-ı Siyah Kalem” adlı romanla, gizemini yüzyıllardır koruyan nakkaş Mehmed Siyah Kalem’in izini sürüyor. Mehmet Siyah Kalem'in hayatı üzerinden sizi içinde hurufilerin, dervişlerin ve aşıkların olduğu, ince ince dokunmuş bir öyküye davet ediyor.
Mehmed Siyah Kalem ile 2004 yılında, Kazım Taşkent Galerisi’nde açılan “Ben Mehmed Siyah Kalem, İnsanlar ve Cinlerin Ustası” sergisinde tanıştığını; bazen bir minyatürü dakikalarca seyrederek, bazen geri dönüp aklında kalan bir deseni tekrar tekrar inceleyerek galeride dolaşıp durduğunu anlatan Pamuk’un da dediği gibi, romanda “‘Kim bu Siyah Kalem’ sorusu bir gölge misali bütün roman boyunca hikâyelerin peşi sıra geliyor ve bir nevi aynadaki yansımaların izini sürüyoruz.”
“Bu kitap temiz bir oluktan akan suya benzer. İstediğini zenginleştirir, istediğini yoksullaştırır. Derslerde harflerin ve harekelerin âlemdeki mertebelerinden bahsederken işte bu kitabı esas aldım. Unutma, harfler bir hakikat ve bir sestirler. Gözlerini iyice yum ve o sesi dinle. Harflerin sana söyledikleri gerçektir.” (sy 98)
Memahami Kode Pada Ban Mobil: Panduan Lengkap Untuk Pemilik Kendaraan
lampungkita.id – Ban mobil adalah salah satu komponen terpenting dalam kendaraan Anda. Selain sebagai penghubung antara mobil dan jalan, ban juga memengaruhi kenyamanan, keselamatan, dan performa berkendara. Namun, tahukah Anda bahwa setiap ban mobil memiliki kode khusus yang memberikan informasi penting tentang spesifikasinya? Memahami kode pada ban mobil dapat membantu Anda memilih ban yang…