Menjalani Takdir
Makin dewasa, makin kerasa kalau ternyata beriman pada rukun iman yang ke-6 itu ternyata nggak gampang sama sekali dalam praktik kehidupan. Apalagi setelah kita bertemu dengan realitas pasca selesai dari dunia perkuliahan, harus menghadapi dunia dewasa, pekerjaan, mencari uang, mengumpulkan tabungan, pernikahan, mikir beli rumah, biaya pendidikan, dan berbagai macam takdir yang kita temui di masa dewasa.
Perasaan yang naik turun, polemik kehidupan bermasyarakat, politik, ekonomi, macem-macem. Pikiran kita riuh sekali setiap hari, bahkan kita mempertanyakan mengapa ditakdirkan jadi WNI.
Sekarang, menuju usia 40 yang masih 5.5 tahun lagi. Badai krisis di usia pertengahan 30 ini ternyata mengantarkanku pada hal yang selama ini kupertanyakan, takdir. Kini mulai bisa membaca dengan lebih jelas, mengapa takdirku bertemu dengan berbagai macam orang kemarin, mengalami kejadian yang tak menyenangkan, mengalami kegagalan dalam berbagai urusan baik itu bisnis - percintaan - pertemanan, dan semuanya bermuara pada apa yang sedang kujalani sekarang.
Muara yang aku tahu, ini bukan ujungnya. Bisa jadi perjalanan ini sebenarnya baru dimulai, yang kemarin itu baru mukadimah saja. Baru hidangan pembuka. Menu utamanya justru di samudera luas kehidupan yang akan kutemui setelah ini. Sebuah tugas dan peran yang aku tahu, di sinilah tempatku akan mengabdi, menimba pahala, mengoptimalkan potensi diri.
Sesuatu yang bisa menjadi bekal nanti di kehidupan berikutnya. ******* Pernah nggak kamu merasa nggak berguna, merasa nggak bisa apa-apa, nggak punya keahlian yang menonjol. Kamu merasa kalah dari siapapun, merasa tidak berada di level yang sama dengan teman-temanmu yang lain. Lantas, kamu ditempa dengan berbagai macam masalah, berbagai macam kejadian yang akhirnya mengantarkanmu pada kesadaraan saat ini.
Dunia yang kamu jalani saat ini memang tidak bergelimang harta, tidak banyak sorot kamera. Tapi di sinilah kamu merasa tenang, merasa punya tujuan, dan kamu bisa menjadi dirimu yang paling kamu senangi.
Serta tak ketinggalan, kamu merasa yakin bahwa dari sini, kamu bisa memupuk bekal kehidupan akhirat.
******* Takdir yang kita jalani, tidak semuanya tentang menjadi kaya raya dan terkenal. Berada di tempat-tempat yang gagah gemerlap. Bisa jadi takdir kita berada di tempat-tempat jauh yang bahkan orang tidak pernah bisa mengetahuinya tanpa melihat peta. Bisa jadi, takdir kita berada di kehidupan orang yang cukup, tidak berlebih-lebihan. Bisa jadi takdir kita justru menemani keluarga yang sedang sakit-sakitan. Atau bahkan, kita yang justru sakit-sakitan dan harus merelakan hal-hal menyenangkan di dunia ini. Beriman pada takdir di umur dewasa ini, masihkan terasa berat untukmu? Apa yang sedang berkecamuk di pikiranmu atas takdir yang sedang kamu jalani, meski kamu tahu ini belum sampai ke ujung jalannya? (c)kurniawangunadi












