A little encouragement from a bee to start your week off with positive energy! 🐝💕
Chibird store | Positive Pin Club | Webtoon
No title available
Not today Justin
YOU ARE THE REASON
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Cosmic Funnies

Janaina Medeiros

Discoholic 🪩
Misplaced Lens Cap
ojovivo

祝日 / Permanent Vacation
occasionally subtle
Sade Olutola

JVL
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

★

Andulka

izzy's playlists!
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

#extradirty
Cosimo Galluzzi

seen from Azerbaijan

seen from Azerbaijan
seen from Azerbaijan
seen from Mexico

seen from Azerbaijan
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from United States
@lianaaf
A little encouragement from a bee to start your week off with positive energy! 🐝💕
Chibird store | Positive Pin Club | Webtoon
A little encouragement from a bee to start your week off with positive energy! 🐝💕
Chibird store | Positive Pin Club | Webtoon
Tumbuh Tanpa Sadar
Mungkin kamu memiliki pilihan untuk menyerah, tapi kamu tidak memilihnya. Apakah kamu sudah sadar bertapa kuat dan hebatnya dirimu? Tetap memilih untuk terus menjalani meski dengan keyakinan yang tipis, dengan perasaan yang tak menentu, dan ketidakpastian yang pasti.
Hatimu yang selama ini terlalu lembut, telah belajar untuk kuat. Tidak lagi mudah terluka karena hal-hal yang tak seberapa. Lebih mudah untuk dikendalikan karena kamu telah beranjak dengan pengetahuan.
Pengetahuan tentang hakikat hidup, hakikat bahagia, dan hal-hal lain yang lebih prioritas daripada menebak-nebak rasa dan pikiran orang lain. Kamu telah tumbuh, meski tak menyadarinya.
Memang belum waktunya berbuah manis, tapi kamu telah kuat menahan terpaan angin yang kencang. Apakah kamu masih tidak menyadarinya? (c)kurniawangunadi
Tulisan : Berawal dari Pikiran
Usahamu untuk mengubah hidupmu berangkat dari pikiranmu. Karena semua cara pandangmu terhadap dunia ini ada di sana. Caramu melihat masalah pun ada di sana.
Keberanian yang kamu kira berasal dari persiapan, bisa jadi berangkat dari anggapanmu bahwa masalah itu bukanlah masalah. Tantangan besar itu, kamu tidak tahu jika itu sebesar itu.
Ketakutan yang ada di dalam pikiranmu, sebagian besar tidak nyata. Sehingga tidak perlu kamu hadapi. Karena, kamu tahu bahwa masalah itu tidak ada. Hanya mengada-ngada.
Kamu tahu, bahwa pikiranmu adalah hal yang harus kamu kendalikan. Karena liarnya membawamu pada ketakutan dan keberanian yang amat tipis jaraknya. Pada masa depan dan masa lalu, yang bagaimanapun kamu mau mengendalikannya, kamu sadar bahwa kamu hanya bisa mengendalikan dirimu di hari ini.
Esok saat kamu bertemu seseorang. Periksa dengan cermat isi pikirannya, karena di sanalah nanti kamu akan menetap lama. Apakah kamu mau tinggal di sana? (c)kurniawangunadi
Pada akhirnya, yang namanya "berteman" itu akan cocok-cocokan.
Entah kita tereliminasi atau 'mengeliminasikan' diri. Begitu pun kita memilah—memilih ingin menemani dan ditemani siapa.
Diusia yang sudah mau mendekati angka 30 ini, rasanya mulai baik² aja dengan adanya seleksi alam (sosial) seperti ini 😅
Mungkin ada sekelompok orang yang merasa kita tidak cocok untuk mereka, maupun kita sendiri merasakan kita tidak cocok dengan mereka.
*saya familiar banget sama perasaan ini waktu zaman kuliah dulu :')
Mungkin karena gap usia atau gap pengalaman. Bisa dibilang saya termasuk paling tua usianya di angkatan. Ini karena saya pindah kampus saat seharusnya saya ditingkat 3 kuliah di kampus yang lama.
Ketika semester 1 dan 2 orang² masih euforia jadi mahasiswa baru, saya ngga relate. Masa² itu sudah lewat, sekarang fokusnya sudah berubah. Prioritasku tidak lagi sama. Saat itu juga saya sedang aktif²nya di masjid Salman ITB.
Belajar bare minimum aja gapapa, yang penting secara nilai aman dan bagus.
Tujuanku bukan ke akademik, bukan jadi mahasiswa berprestasi. Cukup serap ilmu sebaik mungkin, bangun relasi yg kuat dengan dosen, dan belajar manajemen waktu dengan berbagai tugas & tanggungjawab yg diamanahkan.
Dengan determinasiku yg demikian, jadinya saya fokus dan punya tujuan yg jelas.
Uniknya ketika saya tidak terlalu fokus ke akademik, nilai²ku saat itu malah aman banget, IPK juga diatas 3,5 😅
Namun sayangnya hal itu memiliki efek samping untuk relasi saya dengan teman² sekelas.
Saya pernah mendapat sedikit bocoran dari seseorang, katanya beberapa orang membicarakan saya di kelas.
Mereka berkata bahwa saya orang yg sulit didekati. Dipandangan mereka, saya orang yg sibuk. Beres kelas, langsung pergi. Hilang dari peredaran kampus. Susah ditemui secara tidak sengaja di dalam kampus.
Selain itu, ada yang berkata bahwa, "Sulit ya kalau mau ngalahin teh Ayu di kelas tuh, terlalu pinter dianya. Kalau dia udah berpendapat, agak susah didebatnya."
Ini cukup lucu sih hehe 😅
Karena menurutku wajar banget kalau misal ternyata di kelas saya 'kelihatan' lebih cakap. Ini karena saya sudah pernah kuliah sebelumnya, sudah tahu ritme belajar di perguruan tinggi itu seperti apa.
Intinya, karena saya lebih tua dan berpengalaman. Untuk sebagian hal mungkin saya unggul.
Tapi saya yakin, banyak hal dibagian-bagian lainnya yg justru saya lemah dan mereka unggul.
Terbukti sih, ketika ada materi yang mengenai microteaching, pembuatan alat belajar dlsb mereka jago banget!
Jujur saya ngga seluwes mereka saat praktik mengajar, cari materi, bikin² sesuatu yg kreatif. Memang bukan keahlianku 😅
Namun perbedaan dan gap² itu semakin lama semakin membuat saya merasa tetap jadi 'outsider'. Sekeras apapun saya coba untuk nge-blend, i just can't.
Obrolannya berbeda.
Saya tidak paham perskincare-an, per kpop-an, dan topik² yg bukan 'aku banget'.
Disini saya baru sadar bahwa memang berteman dan membentuk 'komunitas' itu perlu punya kesamaan (related), at least satu aja.
Dan saya kesulitan untuk menemukan kesamaan² itu yg membuat saya merasa 'diterima' dikelompok.
Untuk sekadar berkomunikasi dan berteman casual, yes itu terjadi. Namun tidak bisa disangkal kalau selama menjalani 4 tahun kuliah di kampus kedua itu saya merasa lonely.
Sempat sedih cukup lama, saya konsultasikan hal itu dengan dosen konseling di kampus. Untuk dapat petunjuk, penguatan + motivasi lagi dalam menjalani kehidupan di kampus kedua.
Tidak mudah buatku memulai semuanya dari awal lagi.
Semakin lama saya semakin belajar untuk menerima kondisi itu. Bahwa tidak apa² jika harus sendirian, merasa sedih itu wajar, berteman sewajarnya saja. Jangan biarkan hal itu mengganggu fokus & tujuan.
Buat boundary secara sehat, izinkan diri untuk lebih tegar mengandalkan diri sendiri. Berhentilah jadi people pleaser. Tetap jadi diri sendiri dengan versi terbaiknya.
Jika memang kita percaya diri, itu akan meradiasikan sinyalnya pada orang yg serupa dengan kita.
Mudah²an kita dipertemukan dengan orang yg sefrekuensi ya ^^- ♡
Tangerang, 10 Juni 2025 | 22.42 WIB
Overthinking
Hai apa kabar? kemarin saya tidak berhasil menyelesaikan 5 tulisan ramadan, hanya mentok sampai tanggal 25 ramadan. Kalau mau nyari excuse, jelas ada. Cuma saya akhirnya menyadari memang pada saat itu, khususnya di akhir ramadan, skala prioritasnya bergeser. Dengan segala dar-der-dornya kehidupan. Mulai dari berita terkait keadaan di Palestina, IHSG, nilai tukar rupiah yang ambruk, kondisi ekonomi saat ini, PHK banyak banget, dan bahkan satu bisnis saya akhirnya gulung tikar di bulan ini dengan konsekuensi nyata adalah karyawan saya juga ikut kehilangan pekerjaan, totalnya hampir 15 orang. Itu nyesek banget, ada karyawan yang bahkan bareng kita sejak awal-awal buka usaha :( Saya bayangin, kalau teman-teman di sini punya usaha mikro terus punya karyawan 1-2 orang, saat itu itu udah bener-bener membantu sekali. Terlebih jika cashflow nya memungkinkan untuk menggaji mereka dengan baik sesuai kesepakatan bersama.
Belum lagi berita soal maraknya judi online/pinjol, itu ternyata tidak hanya berita tapi juga dialami oleh orang-orang yang kukenal. Belum lagi, teman-teman di sini yang mungkin saat ini sedang mencari pekerjaan di tengah kondisi saat ini dan galau banget karena belum dapet-dapet, mulailah berpikir untuk melatih skillset yang bisa dijual sendiri.
Deg-deg-an juga buat kita yang saat ini jadi orang tua yang punya anak masih kecil-kecil. Keadaan saat ini, memang tidak sepenuhnya sama, tapi mungkin ini yang dirasakan dulu sama bapak/ibuku di tahun 1997-1998 dan saat itu umurku masih 7 tahunan yang nggak ngerti apa-apa. Bapak ibuku bisa melewati fase krisis moneter di kala itu, sekarang anak-anakku juga nggak ngerti apa-apa soal keadaan sosial ekonomi politik di negeri ini, tapi kecemasan sebagai orang tua rasanya luar biasa.
Dan saat ini, kesadaran saya mengantarkan pada satu hal bahwa sebagai orang tua, tugas nggak gampang ini lebih mengerucut, mempersiapkan generasi anak-anak saya buat jadi pendobrak. Mereka akan menjadi anak-anak yang tangguh dan memperjuangkan hal-hal baik di masa yang akan datang.
Jika kita di sini, yang menjadi orang tua, memiliki privilise buat ngasih akses buat anak-anak kita yang sebaik-baiknya. Maka upayakan!!! Jangan jadikan gawai sebagai penenang mereka, jangan menyerahkan anak-anak di asuh oleh tontonan tidak mendidik di tiktok dkk. Revolusi di masa yang akan datang, bisa jadi dimulai dari bagaimana kita menjadi orang tua. Bertanggungjawablah sebagai orang tua. Dunia ini seperti akan menemui masa berakhirnya, karena tanda-tandanya semakin terlihat nyata. Hal itu pun menimbulkan keresahan tersendiri, tapi sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa urusan-urusan yang kita resahkan tentang dunia seperti nunggu jodoh, harta dunia, dan segala macamnya. Jangan sampai menguasai dan melemahkan diri kita. Karena ancaman yang akan muncul di masa yang akan datang, membutuhkan diri kita yang kuat dan tegas. Punya kemampuan decision making, critical thinking, analitycal thinking, lateral thinking, creative thinking, problem solving, dan berbagai macam hal lain yang harus kita asah dari sekarang. Jangan menyerahkan diri kita kepada sifat bermalas-malasan dan mengkonsumsi konten sampah di media sosial. Kehidupan memberikan kita kesempatan saat ini untuk membuat diri kita menjadi sebaik-baiknya.
Dan kesempatan itu adalah saat ini. Bukan kemarin, bukan nanti.
Allah sudah memberi kemudahan. Kenapa kamu justru tidak mau dimudahkan oleh-Nya?
Pada akhirnya semua manusia akan menyesal, yang melalukan kebaikan akan menyesal kenapa tidak melakukan kebaikan lebih banyak, yang tidak melakukan kebaikan, tentu lebih menyesal lagi.
Bukan, semoga kita bukan orang yang kedua ini 🍂
Acapkali kita dibuat kecewa ketika orang lain tidak memperlakukan diri kita seperti yang kita harapkan. Tanpa disadari mungkin kita terlanjur memasang standar tertentu —bagaimana kita ingin diperlakukan. Baik kata-kata atau respon dari seseorang. —Red.
Barangkali yang memasang pagar dan batas itu diri sendiri. Kenapa menyalahkan orang lain? Barangkali kamu yang menarik diri dari segala hal yang dulu bersamamu. Lalu kenapa kau yang mempertanyakan sendiri? Tak perlu menerka mengapa orang lain begitu padamu, jika sebetulnya perlakuan itu dari dirimu sendiri. Kadang kala, perlu kiranya kita intropeksi diri sendiri dan menerobos batas yang sudah dibangun. Jika itu membuatmu kesepian. Robohkanlah pagar, batas dan standarmu itu -- tentang bagaimana kau ingin diperlakukan. Dan berbaik sangkalah. Maka kau temukan dunia yang kau impikan.
"sebut Allah banyak-banyak"
daripada mengingat hal yang mengkhawatirkanmu, lebih baik mengingat Allah
daripada memikirkan hal yang belum pasti, lebih baik mengingat Allah
daripada merisaukan hal yang tidak jelas, lebih baik mengingat Allah
karena dengan mengingat Allah, kita berharap Allah akan melihat hambamu yang lemah dan sering lalai ini.
Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.
Percaya Pada Pola
Kalau teliti mengamati sesuatu, maka kita bisa menemukan pola. Pola di kejadian, pola di keadaan, pola di karakter seseorang, pola di perilaku orang, dan beragam pola lainnya dalam hidup. Kejelian melihat pola ini perlu dibarengi dengan kesiapan untuk menerima kenyataan, kenyataan bahwa memang demikian.
Kalau kamu sedang dekat dengan seseorang dan berencana untuk menikah dengannya, maka perhatikan polanya. Pola berpikir, pola perilaku, pola interaksi, dan beragam pola lainnya yang menurutmu penting dan fundamental. Karena ia telah hidup dengan pola itu seumur hidupnya selama ini, tidak mungkin akan berubah dalam sehari semalam hanya karena menikah denganmu. Apalagi, jika kamu bercita-cita untuk mengubahnya. Mungkin kamu perlu berpikir ulang untuk itu. Kalau kamu bertemu dengan orang yang berlaku buruk dalam nilai-nilai yang kamu yakini, seperti suka bergunjing, berkata kasar, menoleransi suap, menolerasi hal-hal lain yang jelas-jelas tidak sesuai dengan keyakinanmu. Apalagi jika kemudian ia terlibat masalah atas perilakunya dengan orang yang lain, tidak sedang terjadi denganmu bukan berarti tidak akan pernah terjadi kepadamu. Lihatlah polanya seperti apa, suatu hari mungkin kamu yang akan mengalami konflik dengannya. Jadi, jauh-jauh sejak awal.
Kalau kamu lagi terpuruk karena hal-hal berat yang sedang kamu jalani. Coba lihat bagaimana pola kehidupanmu selama ini. Bagaimana Tuhan mengingatkanmu, menyiapkanmu, dan juga memberitahumu selama ini melalui beragam pola. Apakah kamu berhasil menemukan polanya dan berhasil mengambil hikmahnya. Apakah kamu berhasil memahami gambaran besar mengapa polanya demikian? Semoga kita dimudahkan untuk memahami pola, sehingga tidak terjebak dalam pikiran sendiri, apalagi terjebak pada pola-pola yang buruk. (c)kurniawangunadi
Apakah Jika Itu Terjadi di Orang Lain, Pasti Akan Terjadi Juga di Hidupku?
Pernah tidak bertanya mendalam seperti ini, ke diri sendiri? Dalam beragam konteks.
Apakah jika pernikahan seseorang yang kita kenal itu tidak harmonis, nanti kalau kita menikah, pernikahan kita juga tidak harmonis?
Apakah jika seseorang berhasil dalam bisnisnya, jika kita meniru bisnisnya kita juga akan berhasil? dan banyak konteks lainnya.
Hidup orang lain, sangat mungkin untuk kita copy caranya, tapi kita tidak bisa nge-paste hasilnya sama persis. Cara berpikir pendek yang memicu keputusan-keputusan tidak relevan seringkali kita temukan di kejadian sehari-hari. Merasa bisa memastikan masa depan, sebuah hal yang sangat tidak masuk akal. Kita mengkhawatirkan hal-hal yang hanya ada di dalam pikiran kita sendiri. Dan itu, tidak nyata. Itu hanya ada di dalam pikiran kita.
Hal yang bisa kita siapkan adalah membekali diri dengan pengetahuan. Pengetahuan mampu membantu kita untuk membuat keputusan-keputusan penting yang memerlukan data. Kita membutuhkan iman yang kuat agar kita bisa beriman pada qada dan qadar dengan benar. Memahami hakikat bahwa tidak ada takdir yang buruk, semuanya terbaik dalam takaranNya. Sesuatu yang di luar kapasitas kita sebagai manusia.
Kalau kita bisa membaca skenario hidup kita dari awal hingga akhir. Sebuah buku tebal yang ada di genggaman kita, kalau kita baru membaca di halaman awal, mungkin kita akan bertanya-tanya, mengapa kita harus melewati segala macam cerita yang tidak menyenangkan. Dan kita diminta sabar untuk terus membaca hingga halaman-halaman berikutnya, hingga kita menyadari apa yang akan terjadi jika kita berhasil melewati itu.
Dan respon kita mungkin hanya, "Ohhh ternyata begini." "Oh ternyata biar seperti ini." dan segala bentuk macam penerimaan lain. Sayangnya kita tidak bisa mengintip sama sekali halaman-halaman berikutnya dari takdir hidup kita.
Apakah kamu masih takut dengan dirimu sendiri di masa yang akan datang? Apakah kamu takut untuk membuat keputusan-keputusan besar hanya karena melihat keputusan orang lain tidak seberhasil itu?
Bagaimana bisa kamu seterpengaruh itu?
Sementara itu tidak membawa kebaikan untuk hidupmu?
Makin dewasa, sadarkah kamu apa salah satu tempat yang paling ngeri?
The same place as last year. Kondisi yang itu-itu saja yang sama sejak tahun kemarin. Tapi aku ingin beri saran: jangan gunakan mata kepala melihat hal yang kau anggap sama.
Gunakan mata hati dan prasangka baik pada Allah. Mungkin kau sedang ditempa, disiapkan.
Berbaik sangkalah, sembari memantaskan diri. Sebentar lagi takdir terbaik-Nya akan datang.
Selasa, 17 September 2024
hati yang lembut
ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak menemukan jalan keluar, ibaratnya maju kena, mundur kena, ke kanan kena, ke kiri juga kena. maka jalan terbaik adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allaah. dengan cara apa? berdoa.
ketika yang kita hadapi adalah manusia yang diri kita tidak bisa merubahnya maka jalan terbaik adalah mendoakan kelembutan hatinya.
iya, meminta kelembutan hati.
hanya dengan sebuah pinta agar diberikan kelembutan hati untuk bisa menemukan hal-hal yang mungkin kita anggap nggak ada jalan keluar, dan berat. kita akan menemukan jalan keluar yang tidak pernah kita sangka-sangka.
kita minta sama Allaah agar diberikan kelembutan hati untuk kita dan untuk orang yang sedang kita hadapi. maka kita akan menemukan secercah harapan dari permasalahan yang mungkin tidak memiliki ujungnya.
dan memiliki hati yang lembut itu sungguh sebuah hal yang harus terus kita upayakan, bukan untuk menjadi lemah dan mudah ditindas. namun agar kita lebih peka dan bisa tahu bagaimana harus bersikap.
pada hati yang lembut kita lebih bisa menerima kebenaran meski itu pahit dan berat untuk kita terima. namun kita memahami bahwasanya kebenaran adalah hal mutlak yang harus kita pegang, maka kebenaran hanya akan datang kepada mereka yang memiliki hati yang lembut.
Allaah yang menggerakkan hati manusia, maka hanya dengan berdoa kepada Allaah hati manusia akan berubah dengan cara yang mungkin kita tidak akan pernah menyangkanya. jangan lelah menjadi pendoa,.
"ya Allaah, perbaikilah kami. perbaikilah hati kami, lembutkanlah hati kami untuk menerima kebenaran."
Setiap hidup akan bertamu pada rapuhannya
Belakangan setiap di perjalanan aku selalu memperhatikan bangunan-bangunan baru dan bangunan-bangunan hancur yang terlewati.
Bangunan yang tiga tahun lalu kokoh dan ramai, ada yang sudah berganti bangunan baru yang lebih megah ataupun malah jadi bangunan hancur dan terbengkalai.
Rasanya waktu cepat sekali berlalu dan dunia memang betul-betul seperti roda yang berputar.
Tahun kemarin satu merk berkuasa, tahun berikutnya merk itu hilang dan tergantikan merek baru yang lebih viral.
Jika pernah tinggal di satu kota, lalu kamu kembali sepuluh tahun kemudian. Barangkali kamu hanya akan hapal jalanannya tapi sulit mengenali tempatnya.
Karena semua sudah berganti, gedung-gedung tak lagi sama, suasanapun sudah jauh berubah.
Lalu ke mana perginya mereka-mereka yang gagal? Mereka yang gagal membangun mimpi, mereka yang gagal mempertahankan hidup?
Ke mana perginya mereka yang jatuh dan hanyut terbawa arus hidup dengan segala persaingan dan inovasi?
Mungkinkah sebetulnya mereka-mereka yang gagal ini sebetulnya tidak sedang pergi? Mungkinkah mereka sebetulnya hanya sedang ditunjukan pilihan lain yang lebih pas untuk dijalani.
Barangkali hidup ini memang selayaknya bangunan yang mudah runtuh dan terlalu rapuh untuk berdiri dalam keangkuhannya.
Bahawa hidup ini memang peralihan seperti siang malam, seperti berdiri dan jatuh, seperti sukses dan gagal, seperti bahagia dan sedih.
Kita tidak akan pernah tahu musim apa setelah ini.
Tugas kita, menjadi sebaik-baiknya peran atas apa yang dijalani tanpa merasa lebih hebat dan lebih baik dari siapapun.
Karena pada akhirnya, seperti gedung-gedung menjulang yang di bangun penuh mimpi yang suatu hari akan menemui kerapuhannya.
Jangan pernah bosan untuk merawat, selagi bangunan itu masih memberi ruang untuk kita berteduh.
—ibnufir
Ya Rabb, mohon gembirakan hati kami dengan setitik kasih sayang-Mu dalam memelihara sesuatu. Dengan kesempurnaan-Mu dalam mewarisi apa yang menjadi ketetapan terbaik-Mu. Sungguh tiada daya dan upaya tanpa Engkau yang memberi pertolongan. Dan hanya kepada-Mu jualah kami menyandarkan perlindungan. Dari daya yang tiada kuasa kami hadapi, dari kesukaran yang tiada mampu kami atasi. Dari kekurangan yang tiada mampu kami isi. Dan sungguh Kasih sayang-Mu menyempurnakan kekurangan itu semua.
@azurazie
Kelak, engkau akan paham, bahwa melibatkan Allah dalam setiap urusanmu, bukan hanya agar engkau segera mendapatkan apa yang engkau inginkan, melainkan agar engkau temukan ketenangan dalam setiap urusanmu.
Melibatkan Allaah memang tidak selalu kita segera temukan jawaban atas doa-doa kita, tapi jauh lebih penting dari itu, dengan melibatkan Allaah, selalu kita segera temukan ketenangan.