Adalah aku, tanaman yang kau tolak tumbuh di atas tanahmu. Mati-matian mencoba, tetap saja menuai kegagalan. Hadirku memang tak kau harapkan. Sebab itu, mati-matian kau pun menolak. Getir. Aku patah sebelum tumbuh di bentalamu. — @hujanrinduu
Awalnya aku mencintaimu sebanyak air hujan yang turun pagi ini, sebanyak bintang-bintang di langit dan sebanyak air yang mengalir di bumi. Namun kau buat dua pilihan, terus berjalan bersama dengan duri-duri yang menusuk tajam atau harus melompat ke jurang untuk menyelamatkan diri. Sulit. Hancur lebur perasaan ini. Namun, aku putuskan melompat ke jurang. Berharap di kemudian hari, kita menemukan bahagia masing-masing. — @mainurhasanah_ri
Aku kira, aku rumah tempat kau pulang dari lelahnya bertualang. Ternyata, hanya sebatas mengisi waktu luang. Aku kira kau sungguh, ternyata hanya sebatas singgah. Kasihan jiwa! Hanya mengira-ngira lalu menuai luka. — @sesejukangin
Jangan lagi, sayang! Aku tak ingin mengulang. Sebab kecewaku yang lalu masih terngiang-ngiang. Kamu tidak lebih dari manusia yang sengaja membuat kegaduhan lewat patah yang melibatkan asmara kedua manusia. Pergilah! Aku tak ingin kembali patah. — @alvianalisti
Hei, kamu! Kita itu hampir, ya —hampir saling mencintai dan hampir saling membersamai. Namun, kita memilih saling menyakiti, saling mematahkan lalu menghilang dengan pasti. — @dalarisa
Takdir dan waktu tidak hanya akan datang padamu secara tidak sengaja. Peristiwa seperti keajaiban dibuat dari keinginan yang kita pilih. Menyerah tanpa keraguan, mungkin keputusan yang tepat. Akan aku lupakan kamu dalam benak hingga ujung sisa usia. Kamu terlalu serakah hingga hati rekah buatku patah. — @rsnbee
Nyawa belum sepenuhnya direnggut. Karenanya, terima kasih patah! Kini ia berkesempatan untuk tumbuh. Sedang akarnya kian menancapkan petuah, dicabut pun masih tertinggal buah pikirnya. Tenang saja, patah mustahil membunuhnya. Karenanya, diciptakan benih akal yang abadi, saat dormansi kalbunya bersemayam dalam spektrum aksara semesta. Bukankah hidup tentang bertumbuh? Sebab ia akan mati dalam niscaya, bukan lantaran tak berdaya. — @jejaktanpajeda
Sesaat aku hilang arah. Gelap. Hanya ada gema suaraku yang terdengar. Bertanya-tanya di mana semua yang selama ini aku bangun. Mengapa hampa yang hanya hadir? Perlahan kegelapan ini mendapat cahaya remang. Hanya saja, diri ini terlalu sulit mencerna, menerka apa yang aku indra itu nyata atau hanya fatamorgana. — @radiotulisan
Kebersamaan kita kemarin masih sangat membekas manis-manisnya. Ada banyak sekali kesamaan di antara kita berdua yang membuat kita merasa cocok tepat. Keheningan malam adalah saksinya. Tapi sayang, kita terpisah karena soal perjodohan orang tua. — @nadilahzahra
Barangkali, patah hati itu seperti pisau tajam yang melukai jemari tangan saat dirimu tak berhati-hati ketika menggunakan. Karenanya, jaga baik-baik hatimu, ya, sayang! — @gadisperiang
Sebuah babak dalam jatuh cinta lalu patah. Masih aku ingat tentang perasaan itu. Jatuh cinta, terasa indah dan sempurna. Lalu patah datang. Seperti bunga yang tak lagi mekar, kehilangan warnanya. Seperti kupu-kupu yang sayapnya patah, tersesat di jalan bercabang. Rumah tak lagi jadi tempat untuk kembali. Tersesat. Terjebak dalam satu waktu. Menjerit. Dan aku sadar efek dari jatuh cinta adalah patah hati. — @ein_law
Patah, terima kasih telah hadir dalam berbagai rentetan kisah yang sudah kutelan pahitnya sendiri. Kini aku semakin mengerti, bahwa kau perlu ada untuk membantuku tumbuh dengan lebih baik. — @kaktusits
Patah, terdengar menyakitkan. Hati, sesuatu yang harus dijaga. Patah hati, beri tahu aku bagaimana cara menjaganya agar tidak tersakiti. — @de__ay
Sebab kutahu, pulangmu bukan untukku. Palingmu adalah padanya. Pernah aku percaya menjadi bintang pada malammu. Namun seperti bintang pada malam, aku bukan satu-satunya. Kucoba menjadi matahari, tapi kau malah berteduh. Ternyata kita di bumi yang sama, dengan hati yang berbeda. Kini aku ingin mengembang, lupa, akar pun aku tak punya. — @sekarriizka
Dan aku kembali patah, hatiku luluh lantah, dikecewakan oleh harapan sendiri yang tak berkesudah. — @irapurwitas
Hubungan denganku saja belum usai, namun kau sudah mencari pengganti. Dengan mudah kau membuka hati untuk orang baru dan dengan sulitnya diriku menutup hati untukmu. — @yuppypo
Kukira kayu, ternyata bambu. Kukira sungguh, ternyata kau hanya singgah. Kau suguh senyuman, ternyata hanya sebatas teman. Kau umbar janji, ternyata hanya untuk menyenangkan hati. - @tuanpoetry
Aku babak belur dalam dekapmu. Namun, aku hancur saat melepaskanmu. Cinta memang sialan! Tapi kepadamu, akulah yang rela jadi budak kebodohan. — @nonaabuabu
Hampir sewindu menunggu kamu. Namun, itu hanyalah semu. Dulu kita sedekat nadi, sekarang beribu-ribu jengkal kamu telah pergi. Cerita kita belum usai, tapi semua berhenti hanya sampai di sini. — @n_nazilaaa
Habis sudah waktu dan ini bukan lagi tentang harapan. Ini sebuah pengakuan. Kilas balik memori semakin menyiksa. Semua berlalu begitu saja, menuai harap, memetik luka. Aku pinta sudahi semua. Muak dan lelah bertahan pada ranting harapan jika pada kenyataannya dipatahkan. Buat apa mencoba lagi? Pergilah. — @desyumi
Patah terlalu patah. Isak yang menyesakkan ini biarlah mereda. Sudah cukup semua, sudah. Kau tahu memahat jiwa yang patah adalah pekerjaan yang tak mudah. — @liash
Pelan-pelan, jeritan isak menahan sesak itu sepertinya sudah harus berhenti. Sebab renggang memberi arti, kita harus pergi. — @pilauakara