Kalau merasa belum cukup layak maka berusahalah melayak-kan diri. Kalau tinggal diam saja tidak melakukan apa-apa, sampai bumi terbelahpun tidak bakalan layak-layak adanya layang-layang.

@theartofmadeline
The Bright Sessions
Sade Olutola
taylor price
sheepfilms
untitled
No title available

tannertan36
Not today Justin
🩵 avery cochrane 🩵
Interview Vampire Daily
One Nice Bug Per Day
Sweet Seals For You, Always

shark vs the universe

No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
No title available

Product Placement
NASA
Mike Driver
seen from Netherlands
seen from France

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Kenya
seen from Brazil

seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Morocco

seen from United Kingdom
seen from Vietnam
seen from Brazil
seen from Mongolia

seen from United Kingdom

seen from Oman

seen from Germany
seen from Brazil

seen from Malaysia
@lingkarsenyum
Kalau merasa belum cukup layak maka berusahalah melayak-kan diri. Kalau tinggal diam saja tidak melakukan apa-apa, sampai bumi terbelahpun tidak bakalan layak-layak adanya layang-layang.
Teruntuk jiwa-jiwa yang sedang, lelah..
Untukmu yang selalu berusaha untuk berhenti mengeluh. Karena setiap kali kamu meminjam telinga, katanya lukamu tidak seberapa.
Untuk kamu yang selalu berusaha untuk berhenti bersandar kepada sesuatu yang rapuh. Karena setiap kali kamu pinjam sandaran, katanya tangismu tidak terlalu dalam.
Allaah uses broken things beautifully, broken clouds pour rain, broken soil sets as field, broken crop yield seeds, broken seeds give life to new plants. So when you feel you are broken, be rest assured that Allaah is planning to utilize you for something great.. fighting *pukpuk
Imam Shafi’i:
If you want to fix your heart, or would like to see improvement in your child or friend, or anyone for that matter, then direct them to places where the Qur’an is recited and direct them to be in the company of the Qur’an.
Allah will then cause them to become better, regardless of whether they want to or not!
Source: Hilyat al-Awliya’ (v. 9, p. 123)
Menguraikan Pinta.
Tidak. aku tidak akan lagi memenangkannmu. aku tidak akan lagi jatuh pada hal yang sama, untuk kesekian kalinya. aku, tidak ingin lagi berharap kepada selainNya. aku pernah menangis dengan begitu pilu, saat harapku patah. Sangat menyakitkan. Dan aku tidak akan mengulanginya kembali.
Biarlah Allaah yang menentukan harapku. Akan bersemi, ataupun tidak, aku tidak akan patah. Sebab aku paham, sekalipun tidak terjadi. KetetapanNya adalah yang terbaik. Dan aku tidak akan menyesalinya, sekalipun aku bersedih. Sedihpun tidak akan lama, sebab hidupku akan terus berlanjut. Sebagaimana mestinya.
Bila pada akhirnya aku menemukan muara impian itu, sesungguhnya itu atas karunia Allaah kepadaku. Sementara aku, tidak kuasa sedikitpun akan hal itu. aku bersyukur pada apa-apa yang terkadang aku merasa tertinggal dari manusia seusiaku. Sebab, aku selalu diselamatkanNya, meski dalam prosesnya seringkali aku marah kepadaNya. Mengapa begitu, mengapa tidak begini saja. Padahal ukuran manusia jelas berbeda.
Allaah, pada apa-apa yang kini sedang terjadi. Buatlah aku ridha atas setiap apapun yang Engkau tetapkan untuk ku. Buatlah aku selalu memahami bahwa kasih sayangMu begitu besar kepadaku. Melebihi kasih sayang Nabi Ya'qub 'alaihissalam kepada anaknya Nabi Yusuf 'alahissalam.
Jangan pernah tinggalkan dan biarkan aku berjalan sendiri tanpa Engkau beri petunjuk kepadaku. Sebab aku hanyalah manusia lemah yang setiap detik selalu membutuhkan pertolonganMu.
Tidak semua yang rusak itu harus kamu perbaiki, terkadang menggantinya dengan yang baru itu akan lebih baik untukmu. Kamu tahu, tidak semua gelas kaca yang pecah harus kembali direkatkan, sebab fungsinya pun tidak akan sebaik dulu.
Ada saatnya kita harus mengganti pilihan. Tidak apa-apa, hal yang wajar jika sesuatu yang tidak layak lagi diperjuangkan itu ditinggalkan.
@jndmmsyhd
Jika yang datang padamu adalah orang yang tidak pernah kamu doakan, bagaimana?
Terkadang Tuhan akan mengujimu dengan seseorang yang tidak kamu duga dan doakan lalu kemudian ia datang dan memintamu menjadi bagian dari hidupnya, memintamu untuk menjadi bagian dari perjalanan panjang yang pasti ada kerikil dan ombaknya.
Hal ini tidaklah mudah terlebih jika ternyata dalam hati dan doamu ada nama lain, juga tidak akan mudah untuk mereka yang berdoa sekian lama kemudian Allah berikan secara tiba-tiba.
Sikapilah ketetapan takdir ini dengan bijak, janganlah langsung menolak dan menerimanya. Berikanlah waktu untuk hati dan pikiranmu menimbang, berikan waktu kepada keluarga untuk memilah dan memberikan nasihat. Sebab terkadang keputusan yang terburu-buru itu akan mendatangkan penyesalan, pelan-pelan saja dan mintalah petunjuk pada Tuhanmu, sebab Ia yang memberikan soal maka Ia pula yang sebenarnya memiliki jawaban terbaiknya.
Pastikan saja penerimaanmu itu karena agamanya, tanggungjawabnya, kebaikan dan kejujuran dalam menjalani proses tanpa ada kecurangan dan kepura-puraan. Karena semua yang jujur akan mendatangkan ketenangan soal menjalani peran dan kehidupan. Jangan lupakan itu.
Untukmu yang hari ini masih menunggu, bersabarlah. Ia sedang berjalan menujumu, tutuplah dulu pintumu untuk orang-orang yang tidak pantas untuk masuk, dan bukalah pintumu kepada ia yang meminta izin dengan baik dan penuh keseriusan.
Dan untukmu yang hari ini dihadapkan oleh seseorang yang datang tapi tidak pernah kamu sebut dalam doa, pertimbangkanlah baik dan buruknya, perbanyak dan perdekat hubunganmu dengan-Nya yang Maha Tahu dan memegang jawabannya. Semoga Allah mudahkan.
Dariku yang pernah berada dipersimpangan jalan sepertimu.
@jndmmsyhd
(via jndmmsyhd)
Kualitas Ibu Menentukan Kualitas Anak
Bismillah..
Mau coba sedikit sharing yang agak panjang (?) dari hasil seminar online di chatroom Paltalk dan YM yang sudah lama berlangsung. Tema ini dibawakan oleh Ibu Dra. Wirianingsih yang akrab disapa dengan sapaan Ibu Wiwi. Kenal dong yah sama Ibu Wiwi, seorang ibu dengan 10 anak penghapal Qur'an. Selamat membaca :)
Dalam surat An Nisa’: 9, Allah mengingatkan agar orangtua tidak meninggalkan anak yang lemah di kemudian hari, baik itu lemah iman, lemah akal, lemah pikiran, lemah fisik, ataupun lemah mental. Hal ini jelas sangat berkaitan dengan peran ibu, karena anak melekat erat pada ibunya secara fisik, maupun secara psikis.
Diingatkan pula bahwa yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang adalah kualitas ayahnya karena kualitas ibu tidak dapat berdiri dengan sendirinya. Dia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini disebutkan oleh Allah dalam surat An Nisa’: 34 bahwa “Laki-laki itu adalah pemimpin kaum perempuan di dalam rumah tangga atau keluarga.” Jadi kaum laki-lakilah yang menduduki posisi sebagai decision maker yang akan menjadi penentu arah pembinaan keluarga.
Rasulullah saw juga mengingatkan kepada para sahabatnya bahwa “Carilah kalian tempat perhentian yang baik, karena darinya engkau akan mendapatkan keturunan yang baik pula.”
Hal ini dilakukan jauh sebelum menikah sehingga jika kita mau menentukan kualitas ibu juga harus dipertimbangkan kualitas dari laki-lakinya.
Dalam konteks ibu sebagai sebuah institusi. Kita sering mendengar kata “ibu negara”, jika kita mendapati ibu yang baik maka negara juga akan baik. Jika ibunya rusak maka negara juga akan rusak. Hal itu setidaknya dalam konteks bagaimana negara memperhatikan kaum wanita dengan sebaik-baiknya perlakuan. Sehingga mereka berhak mendapatkan pendidikan yang sebaik-baiknya, karena kelak mereka akan menjadi seorang ibu yang berkualitas, cerdas dan berdaya guna, serta bertakwa kepada Allah.
Kata kualitas yang telah disebut sebut di atas memiliki definisi. Definisi kualitas disini ada tiga. Definisi berkualitas dalam konteks ibu secara individu yang pertama yaitu konteks ibu sebagai hamba Allah. Hubungan kedekatannya dengan Allah akan mencerminkan kepribadiannya, kemudian akan terpancar dan menurun kepada anak-anaknya.
Definisi yang kedua adalah dalam konteks ilmu yang dimiliki. Dengan cara membedakan kata-kata pintar dan cerdas inilah, akan dipaparkan arti penting sisi keilmuan seorang ibu yang berkualitas. Pintar belum berarti cerdas namun cerdas sudah pasti pintar. Banyak lulusan S1, S2 dan S3 yang pintar tapi sayangnya mereka tidak cerdas. Dalam pengertian Rasulullah saw, cerdas yaitu orang yang membekali hidupnya dengan sebaik-baiknya kemudian ia bersiap-siap untuk menghadapi kematian. Hal ini menjadi berbeda jika dibandingkan dengan definisi cerdas yang dikemukakan oleh pakar pendidikan, yaitu kemampuan individu untuk mengambilkan suatu keputusan secara cepat dan tepat, dengan segala resikonya. Cerdas yang dimaksudkan di sini yaitu cerdas mengelola dirinya, mengatur waktunya dan cerdas menekan orang lain untuk menuntun mereka dalam kebaikan kemudian merajutnya menjadi sebuah kekuatan besar membangkitkan bangsa ini untuk mendapatkan ridha Allah.
Kemudian definisi ketiga adalah berkualitas dari sisi fisik yaitu sehat badannya. Jangan sampai potensinya besar tetapi sakit-sakitan. Hal ini tidak dapat dimanfaatkan oleh orang lain atau umat. Berkualitas dari sisi fisik akan menopang kualitas keimanan dan ilmu yang ada untuk dapat melakukan aktifitas-aktifitas beramal. Karya dari suatu pemikiran hanya akan dapat dibuktikan ketika beramal. Dan yang melakukan ini adalah jasad atau fisik.
Intinya, kualitas orang hidup sebagai seorang individu adalah bertakwa, cerdas, berakhlak dan berdaya guna.
Dari ketiga hal inilah maka dapat dikatakan bahwa kualitas ibu tidak dapat berdiri sendiri dalam konteks individu karena terkait dengan pemberdayaan dirinya di dalam keluarga. Hubungannya dengan anak, jelas di sini dapat dikatakan kualitas ibu menentukan kualitas anaknya. Jangan sampai masih ada perbedaan kualitas pendidikan anak laki-laki dengan anak perempuan dalam pengertian peningkatan pendidikan mereka dalam kategori takaran yang sama. Jika ingin melakukan perubahan besar terhadap kualitas anak perempuan atau kualitas ibunya, hal ini di mulai dengan dengan melakukan perubahan pada paradigma cara mendidik anak-anak di rumah. Terutama pada anak laki-laki karena ia nanti akan menjadi bapak atau suami. Bagaimana ia memperlakukan istrinya sehingga kelak istrinya dapat menjadi ibu yang berkualitas. Begitupun berlaku pada anaknya, bagaimana ia mendidik anak perempuannya, sehingga ia menjadi anak yang berkualitas. Hal ini jelas berjalan beriringan.
Dari berbagai kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an, sebagai contoh adalah bagaimana seorang ibunda Hajar yang berkualitas yang dipilih oleh seorang suami yang berkualitas seperti Nabiyullah Ibrahim. Kemudian melahirkan seorang anak yang berkualitas yaitu Nabiyullah Ismail, yang kemudian menurunkan Rasulullah SAW.
Sejarah Salafusshalih yang termasuk di dalam 30 tokoh-tokoh besar yang berkualitas juga karena mereka memiliki ibu-ibu yang berkualitas, yang dibarengi pula dengan bapak-bapak yang berkualitas sekelas imam Syafi’i misalnya. Beliau ditinggal wafat ayahnya usia 6 tahun, namun seluruh isi kepala ayahnya sudah diwariskan kepada ibunya, agar meneruskan pendidikan anaknya sehingga menjadi ulama besar yang kita kenal seperti sekarang ini dan mahzhabnya pun dipakai di Indonesia.
Hasan Al-Banna pun memiliki ayah dan ibu yang berkualitas. Bapaknya seorang ulama dan ibunya seorang yang cerdas. Jadilah ia seorang ulama besar, arsitek peradaban pada awal abad ke-20 yang telah mampu melakukan perubahan peradaban Islam yang ada sampai sekarang.
Jadi kesimpulannya, jika kita ingin menjadi ibu yang berkualitas, mulailah dengan mendekatkan diri kepada Allah, mohon petunjuknya ke jalan yang lurus. Dan hanya orang-orang yang diberi petunjuk ke jalan yang luruslah, yang senantiasa mengajak orang lain untuk bersikap lurus.
Ada satu pertanyaan menarik (menurut saya) yaitu pertanyaan mengenai peluang menjadi ibu yang berkualitas dengan disesuaikan permasalahan kesibukan ibu di luar rumah dari salah seorang peserta. Dalam pandangan Ibu Wiwi, bahwa tidak boleh dipisahkan antara kegiatan di luar rumah dengan pendidikan anak. Sebisa mungkin menyatukan keduanya. Karena sesungguhnya ketika seorang ibu sedang aktif di luar rumah, adalah salah satu cara mengajarkan kepada anak-anak bahwa hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Di sisi lain, seorang ibu jika bertemu dengan anaknya secara fisik, harus berkualitas pertemuannya dengan anaknya. Misalnya kapan anak menyetorkan hafalannya, kapan orang tua mengajarkan mereka memasak di rumah, kapan waktu untuk jalan-jalan bersama keluarga, kapan orang tua belajar dengan anak-anak. Jadi semua kegiatan tidak bisa dipisah-pisahkan.
Anak-anak pun akan memahami jika ibunya aktif di luar rumah adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri, sama dengan ketika anak-anak sedang beraktifitas di luar rumah. Karena orangtuanya pun beranggapan bahwa mereka beraktifitas di luar rumah untuk meningkatkan kualitas dirinya. Jadi mereka pun tidak merasa ditinggalkan oleh ibunya.
Sebaliknya tidak bisa dijamin pula, jika ibu tidak pergi ke mana-mana ia dapat menjadi ibu yang berkualitas. Banyak kecelakaan kecil yang terjadi, justru ketika ibu sedang berada di rumah. Hanya Allah-lah yang mampu menjaga anak-anak kita dengan baik. Kembali beliau mengingatkan bahwa yang sangat berpengaruh di sini adalah faktor kedekatan seorang ibu kepada Allah. Anak adalah titipan Allah maka jagalah hubungan kita dengan Allah. Maka Allah akan menjaga kita. Kebanyakan kesalahan yang ada adalah mengukur kualitas ibu dengan anak dari frekuensi pertemuannya. Namun standar ini menjadi lain jika memang seorang ibu, diberikan potensinya oleh Allah untuk beraktifitas di rumah saja.
Sederhananya jangan mendzalimi diri sendiri dan orang lain. Maksudnya di sini adalah dzalim jika ia bisa membawa ember 100 namun ia hanya membawa 10 ember, begitupun sebaliknya jika ia hanya bisa membawa 100 namun ia justru membawa 1000 ember.
Ada tips yang beliau berikan yaitu dengan cara maping waktu dengan merencanakan rentang waktu. Maping waktu berguna untuk melihat sebanyak apa interaksi ibu dengan anak. Ternyata seluruh kegiatan kita sesungguhnya lebih banyak bersama anak. Kemudian buat rentang waktu yang disesuaikan dengan umur Nabi Muhammad SAW, dibagi menjadi 3 rentang waktu yaitu 0-20 tahun yang sesuai dengan rentang umur yang telah diutarakan oleh imam Ali untuk membentuk kepribadian anak, 20-40 tahun di sini lah waktu untuk menimba ilmu atau wawasan sebanyak-banyaknya, 40-60 tahun adalah usia produktif yaitu usia di mana seseorang telah dapat memberikan kontribusi berbakti untuk umat atau kepentingan terbaik dakwah.
Intinya adalah jika ingin memanage suatu kegiatan dilihat dari sejauh mana kita melihat kualitas waktu kita.
Dari kegiatan ibu di luar rumah pertanyaan peserta selanjutnya beralih kepada tahapan-tahapan cara mendidik anak hingga bisa menghafal Qur’an dalam usia yang masih muda. Ibu pemilik 4 cahaya mata yang telah Hafidz Qur’an ini menjabarkan secara gamblang tentang tahapan-tahapan itu, yaitu tahapan memilih pasangan, kekompakan visi suami istri dalam membentuk keluarga Qur’ani, kemudian mencarikan lingkungan untuk anak yang juga dekat dengan Al Qur’an, yang terakhir adalah rajin ke toko buku.
Dengan rajin membawa anak-anak ke toko buku maka akan memperluas wawasan anak. Diharapkan dengan banyaknya mereka berinteraksi dengan dunia ilmu maka akan dapat memotivasi mereka dalam menghafal Qur’an. Ketika ingin memiliki keluarga Qur’ani maka seyogyanya harus mencari pasangan yang memiliki visi yang sama. Tentunya haruslah seseorang yang bertakwa. Kekompakan di dalam rumah bisa di mulai dari kedua orang tuanya, misalnya dengan senantiasa memutar murottal di rumah, di dalam rumah tidak ada gambar-gambar yang syubhat, makanan dijaga dari hal-hal yang haram dan syubhat, jika ingin mendengarkan musik, juga musik-musik yang Islami, yang dapat mendekatkan anak kepada Allah.
Sekian sharingnya, semoga bermanfaat.
❤️ : "Bisakah kita mulai semuanya dari awal? Masih bolehkah aku memperbaiki semua kisah kita? Maafkan aku."
💔 : "Tidak akan bisa sama lagi hati yang sudah kecewa."
Ada hal yang tak perlu disampaikan, hanya perlu disadari.
Kediri, 2017 - 2020
Dan kamu bukanlah orang yang dipilih untuk merubah dia, bisa jadi dia hadir dihidupmu hanya untuk membuat kamu belajar mengenai arti kesabaran mengenal karakter orang seperti dia, jadi jika sudah belajar, sebaiknya kamu beranjak pergi jangan terlalu lama berdiam diri diatas ‘buku’ itu, waktunya kamu menjalankan ilmu itu pada kehidupan yang lebih nyata untuk akhirat, sekali lagi bukan kamu yang dipilih untuk merubah dia, serahkan saja dia pada Allah.
Berkawan Luka
Kejadian-kejadian yang telah berlalu, barangkali pernah membuat kita bersedih, menyesal, bahkan terpuruk. Ketika langkah beranjak melupa, derap kaki begitu terseok-seok, sampai akhirnya, kita terbiasa berjalan sebagaimana mestinya.
Tak mudah rasanya, saat kaki berusaha bangkit, berdiri tegak, berjalan dan selalu tersenyum setiap harinya. Memang, kadangkala tak ada yang mengerti keadaan kita, saat luka seringkali menjadi teman perjalanan.
Kala itu, diri sendiri berkata, “Aku sangat senang, ketika aku berusaha membantu dan menyenangkan orang lain, supaya aku lupa, bahwa aku sedang terluka”. Sure, kekuatan diri bisa muncul dari pikiran dan tindakan positif kita.
Suatu hari nanti, ketaatan akan membawa kita pada titik ketenangan. Dimana rasa, logika, dan iman akan bersinergi membawa kita pada satu tujuan; apa yang seharusnya kita pegang sebagai landasan.
Teruslah berjalan, salinglah tolong menolong dan berbuat kebaikan, supaya hati tak kotor, membaik perlahan. Kita akan banyak berterimakasih pada Tuhan, tentang setiap takdir yang Ia gariskan. Sabar akan berbuah manis, lalu syukur kian menderai atas nikmat yang Ia limpahkan.
Malang, 16 September 2019 | Pena Imaji
Ketika Al Qur'an Menyinggung Tentang Cara Berjalan Seorang Perempuan (1)
Bismillaah,
Dalam salah satu video kajiannya, Ust. Nouman Ali Khan menyampaikan tentang bagaimana Allaah Ta’ala memberikan kita sebuah pelajaran universal dengan hanya menceritakan sebuah kisah melalaui Al Qur’an. Sebagai muslim kita tentu mempercayai bahwa Al Qur’an beserta kisah-kisah di dalamnya membawa petunjuk yang bersifat abadi hingga akhir zaman kelak.
Tentu ada banyak kisah yang terjadi dari sejak masa sebelum penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam sampai ke masa turunnya Al Qur’an secara bertahap kepada Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam. Ada banyak sekali kisah, tapi seperti yang kita ketahui -melalui Al Qur’an- tidak keseluruhan kisah itu diceritakan detail oleh Allaah. Hanya bagian-bagian penting dari kisah yang dipilihkan Nya yang berada di dalam Al Qur’an. Allaah Ta’ala sudah menyeleksinya dan hanya menampilkan bagian-bagian dari kisah yang relevan dan membawa petunjuk bagi kita, bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Maka kita tidak akan menemui kisah detail tentang kehidupan Nabi Ibrahim, Nabi Musa ‘alaihissalam dan kisah-kisah nabi yang lainnya dalam Al Qur’an.
Ini yang menarik, dalam beberapa bagian penting perjalanan kisah hidup Nabi Musa ‘alaihissalam yang disampaikan secara tersurat melalui Al Qur’an. Di awali dari ketika sang Ibu menghanyutkannya ke sungai, kisah kakak perempuannya yang menjadi perantara pertemuan kembali bayi Musa dengan Ibunya, kisah bayi Musa yang menarik jenggotnya Firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara. Termasuk kisah dia membunuh orang mesir, lalu dia lari ke Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allaah. Ada banyak sekali kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Bukan menjadi suatu hal yang mengherankan, mengingat Nabi Musa sendiri paling bayak disebutkan Allaah Ta’ala namanya di dalam kitab yang diturunkan kepada Muhammad Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wassalam ini.
Pada beberapa ayat, ada beberapa kisah yang Allaah Ta’ala deskripsikan cukup detail dalam Al Qur’an. Tentang bagaimana kejadian di hari akhir, Nabi Musa yang melarikan diri dan kembali ke Mesir hingga berdakwah kepada Fir’aun salah satunya. Semuanya adalah bagian yang sangat penting dan bernilai hikmah yang besar bagi kita tentunya. Itulah sebab mengapa Allaah sampaikan di dalam Al Qur’an. Namun di tengah-tengah kejadian penting dalam kisah hidup Nabi Musa ini, dalam ayat ke-25 surat Al Qashash, Allaah menyempatkan untuk menyebutkan sesuatu yang kelihatannya mungkin adalah detail yang remeh.
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, …” (QS. Al Qashash :25)
Bagaimana Allaah Ta’ala menjadikan bagian kisah ini penting sehingga Ia pilih dan kisahkan dalam salah satu ayat di kitab suci Nya? Ada apa dengan cara berjalan seorang wanita sehingga menjadikannya relevan dan bernilai petunjuk bagi umat manusia hingga hari kiamat?.
Levelnya manusia hanya terbatas pada usaha. Tidak perlu melebihkan rasa kecewa bila semua tak sesuai rencana. Karena pada akhirnya, ketetapan-Nya yang terbaik, bukan rencana kita.
El Isbat
Dilupakan
Matahari tidak pernah memintamu untuk menyambutnya dengan senyum indah kala ia terbit di pagi hari, ia juga tidak memintamu untuk segera bangun dari mimpimu dan menunggu saat-saat cahayanya mulai memanas. Namun matahari selalu memberikan yang terbaik untukmu, dari cahaya hangatnya hingga indahnya cahaya senja sore hari.
Bagimu yang kini sedang merasa ditinggalkan oleh mereka yang sering mengisi sebagian besar kehidupanmu, atau mungkin kamu yang sedang merasa terlupakan entah dari sahabat, keluarga, bahkan orang tercinta sekalipun, tetaplah memberikan yang terbaik bagi mereka yang sedang berteduh dibawah bayang-bayangmu. Mereka yang datang dan pergi tanpa pamit dan terima kasih, mengajarkanmu bahwa kebaikan itu tulus dan ikhlas. Karena kebaikan tidak selalu harus meminta imbalan dan balasan.
Karena akan tiba masanya, dia yang selalu kamu puja dan idamkan itu akan meninggalkanmu, yang terlihat setia dan selalu ada akan tiba masa rapuhnya dan meninggalkanmu. Besarkanlah hatimu, luaskan lagi dadamu untuk menerima dia yang datang dan pergi, silih berganti memang sudah menjadi tugas waktu untuk menjalankannya. Bersahabatlah dengan waktu, menggunakannya dengan sebaik-baik kenangan dan perbuatan, hingga saatnya kamu yang diberhentikan oleh sang pencipta waktu.
Mengeja pulang
@jndmmsyhd
Pahamilah, sehebat apapun ilmu seorang istri, sekaya apapun harta orang tua sang istri, sepintar apapun sang istri, tetap setelah ijab qobul surgamu berpindah ke suamimu. Maaf, walaupun suamimu tidak mempunyai gelar akademisi, tetap muliakanlah suamimu. Pintu surgamu sudah berpindah.
Teruntuk kamu yang akan menikah atau sudah menikah, balajar menjadi sakinah mawaddah warohmah itu bukan sebulan atau tahunan, tapi sampai kamu dan pasanganmu nanti salah satunya terpisah karena kematian, dan keduanya ridho atas takdir. Hingga terkumpulkannya kembali di surga. Ingat, menjadi baik dan berakhir baik itu tidak instan.
@jndmmsyhd
Lebih Baik Tidak Tahu
Orang lain tidak akan bisa tahu seberapa dalam apa yang ada didalam hati kita. Entah saat kita merasa sedih, bahagia, atau mungkin saat kita berada ditengah-tengah kebingungan. Yang aku tahu, mereka hanya bisa sebatas mengira-ngira.
Yang kamu rasakan pun, aku tidak pernah bisa tahu. Meski bisa saja aku bertanya diam-diam pada orang-orang terdekatmu. Tapi, untuk saat ini, aku rasa belum perlu.-
Sesekali aku membayangkan, bagaimana kalau seandainya orang lain bisa mengetahui apa yang kita simpan dalam-dalam, mengetahui apa yang kita jaga dengan rapat. Entah darimana dan apa pun caranya.
Mungkin pembicaraan dan canda tawa kita tidak akan mengalir seperti biasanya. Karena kamu sudah paham, kalau aku sedang mencoba menarik perhatian dengan membuatmu tertawa. Aku pun mungkin juga akan lebih hati-hati, bahkan hanya untuk memanggil sekalipun.
Ternyata benar kata orang-orang kebanyakan, adakalanya lebih baik kita tidak tahu, tidak perlu mencari tahu, bahkan tidak mau tahu untuk untuk hal-hal yang berhubungan erat dengan kita, untuk hal-hal yang cukup menyita waktu dalam pikiran.
Dengan ketidaktahuan kita, kita tetap bisa terus berbuat baik tanpa perlu terbebani pandangan orang lain. Dengan ketidaktahuan kita, kita bisa terus menebar senyum untuk mereka yang mungkin pada saat itu sedang tidak nyaman dengan kehadiran kita. Ketidaktahuan kita bisa saja membuat hal yang bisa lebih buruk menjadi lebih baik.
Lebih baik jika kita tidak tahu.
Lebih Baik Tidak Tahu - Danny Dzul Fikri
Untuk luka yang engkau sembunyikan dibalik senyumanmu, tetaplah tegar hati yang baik.
Segetir apapun hari yang engkau lalui, selelah apapun engkau memikul rasa sakitmu, tetaplah tegar hati yang baik.
Tidak semua akan berjalan seperti harapanmu.
Tidak semua akan sebaik keinginanmu.
Beberapa menyakitimu begitu dalam. Menorehkan perih yang teramat sangat.
Tak apa bila harus menangis, Tak apa engkau simpan semuanya sendiri. Mengadulah pada Rabb Yang Maha kuasa atasmu, yang mampu memberikan apa apa yang seharusnya engkau dapatkan.
Memintalah pada Allaah, kebaikan apapun yang ingin engkau pinta.
Memintalah pada Allaah untuk memberikannya kepadamu, atas apa yang luput dari harapmu.
Berdoalah dengan keyakinanmu bahwa Allaah akan mewujudkannya untukmu.
Hingga hilang rasa sakitmu. Hingga kembali tenang hatimu.
Tak apa ya bila kecewa berulang kali menyapamu. Tetaplah tegar hati yang baik. Sebab engkau bersama Allaah.
Allaah yang Maha kuasa atas segala sesuatu.
Tidakkah meyakini ini hatimu begitu tenang ? Jangan risaukan keadaanmu, Allaah akan membaikkan keadaanmu sayang.
Percayalah, yakinlah sepenuh hatimu.
Menuliskannya, @menyapamentari 🌻