Well said :’)
Cosimo Galluzzi

oozey mess
Stranger Things

Kiana Khansmith

JBB: An Artblog!

JVL
NASA
One Nice Bug Per Day

@theartofmadeline
Peter Solarz

shark vs the universe
Game of Thrones Daily
he wasn't even looking at me and he found me
Sade Olutola
h
will byers stan first human second
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
almost home
KIROKAZE

★
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Jamaica
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Algeria
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Finland
@litchinensis
Well said :’)
Jangan Hidup dengan Sampah
Kamu punya dompet kan?
Coba lihat isi dompetmu, temukan benda-benda yang sudah lama ada di sana tapi sebenarnya nyaris tidak pernah kamu gunakan.
Struk-struk, kartu-kartu, foto-foto, dll.
Ada? Buang.
Isi dompet hanya dengan hal-hal yang kamu perlukan, seperti uang tunai, kartu debit/kredit yang sering digunakan, kartu identitas—tentukan seselektif mungkin.
Sama seperti isi dompet, kalau diperhatikan, hidup kita juga banyak mengandung urusan-urusan yang sebenarnya kecil dan remeh, namun kita biarkan menggantung.
Urusan-urusan yang serba tidak tuntas. Serba tanggung. Kita pikir kita akan menyelesaikannya nanti, ketika ada pemicu dan kondisi tertentu yang lebih ideal. Tapi pemicu dan kondisi ideal itu tidak akan pernah datang.
Urusan-urusan itu menghantui setiap hari, menjadi beban pikiran. Namun karena kita terbiasa mengabaikannya—sama seperti mengabaikan benda-benda tak penting dalam dompet, kita jadi berpikir memang begitulah hidup. Tidak ada masalah dengan kehidupan seperti itu.
Akhirnya, secara keseluruhan kita menghidupi hidup yang suboptimal. Medioker. Ketika kamu mestinya bisa menghabiskan 8 jam waktumu untuk menajamkan keahlian—misalnya, waktu kamu menetes ke berbagai urusan kecil yang tidak pernah kamu tuntaskan. Si A menagih janji, Urusan B minta diperhatikan, Pekerjaan C tiba-tiba muncul kembali.
Ketika kamu mestinya bisa menjadi seseorang bernilai 10, sumber daya kamu bocor ke mana-mana sehingga kamu hanya menjadi seseorang bernilai 5.
Maka, saran saya, definisikan lagi kehidupan seperti apa yang kamu inginkan. Seperti apa kamu dalam kondisi bernilai 10. Eliminasi urusan-urusan yang tidak menjadikan kamu seorang bernilai 10. Tolak tawaran, mundur dari amanah, lunasi hutang, penuhi janji, tuntaskan urusan.
:)
*lalu saya yang lagi sering berperan antagonis ini, jadi ingat kemarin, saat menyaksikan seorang laki-laki yang menyampaikan materi di atas panggung,”Saya mendukung istri bekerja, asal ngga lebih hebat dari saya.” Saya tahu mungkin ia bercanda. Tapi buat saya pribadi, hal-hal tsb bukan termasuk hal yang membuat saya tertawa. Saya percaya, bahan guyonan juga menunjukkan preferensi dalam berpikir. Dalam pikir saya, pantas saja istilah “pelakor” lebih populer dibanding WIL/PIL. Nyatanya, istri masih dianggap subordinat suami.
Karena bertumbuh adalah hak setiap manusia, tidak berbatas gender.
*Yaa Allah segera kembalikan peran protagonis saya —-kaya pernah haha :p
Tuhanku, saat diriku yang berdosa ini menangis karena rinduku padaMu. Saat itu pula aku benci mengingat saat saat aku lupa padaMu. Saat itu pula aku benci bahwa rindu ini bisa saja hilang di sepanjang perjalanan. Aku ingin menghentikan waktu, hidup pada saat saat ini saja. Saat hatiku menangis karena begitu merindukanMu.
Sebagai pengingat di kala lupa (via alizetia)
You just go for it! Take it at your own pace and try your best to not be impatient with yourself! Your level and speed of growth might be faster/slower than someone else’s, so focus on your own path and let the journey take you to amazing places and opportunities! There’s obvs going to be obstacles in the way of what you want to do, but the greater the accomplishment requires even greater challenges, though the real question is if you’re willing to take the plunge and try anyways?
especially note for me and chawynsdaily.. bismillah.. biiznillah..
chawynsdaily-nya udah nonaktif :’(
Bersyukur Atas Pilihan
Hidup ini penuh dengan pengambilan keputusan, bahkan keputusanmu sejak membuka mata di awal hari. Apakah melanjutkan tidurmu atau beranjak dan bergegas mengambil wudhu untuk ibadah malammu.
Keputusanmu untuk memakai baju yang mana hari ini, keputusanmu untuk mandi dan sarapan jam berapa, keputusanmu untuk berangkat ke tempat kerja dengan sarana transportasi apa.
Semakin dewasa, keputusan-keputusan yang diambil tiap hari, semakin kompleks. Semakin banyak pilihan yang ada dan harus diambil satu saja. Selain juga, keputusan harus diambil saat itu seketika.
Untuk itulah, berdoa. Bismillah disetiap kali akan melakukan dan mengerjakan sesuatu.
Semakin tumbuh, keputusan yang diambil semakin rumit. Sebab semakin banyak keputusan yang bersifat permanen, sekali kamu mengambilnya. Itu menggema sepanjang sisa hidupmu. Tidak hanya sehari dua hari, melainkan selamanya.
Untuk itu, sedari sekarang. Perluaslah cara pandang kita, belajarlah lebih banyak, bertemulah dengan banyak orang. Sebab, nanti. Banyak diantara keputusan-keputusan kita tersebut, terlihat lebih jelas tatkala kita memiliki pengetahuan lebih banyak, memiliki orang-orang yang bisa kita ajak berdiskusi untuk merumuskan hal-hal yang sulit.
Lebih dari itu, mari kita bersyukur sebab kita masih memiliki pilihan, dan juga kita masih bisa mengambil keputusan itu sendiri.
Di sisi lain dunia ini, di sudut-sudut yang jarang kita acuhkan, Ada orang-orang seusia kita yang tidak memiliki pilihan yang leluasa, bahkan tidak memiliki pilihan sama sekali. Keputusan-keputusan dalam hidupnya tidak mampu ia ambil sendiri, jika tidak diambilkan oleh orang lain, keputusan itu diambil oleh keadaan.
Serumit, sepusing, semeresahkan apapun pilihan yang ada dan rumitnya mengambil keputusan. Bersyukurlah, karena kita masih memilikinya.
Rumah, 26 Januari 2017 | ©kurniawangunadi
Belum Saatnya Berhenti
Kalau kau menyerah sekarang, lantas siapa yang akan membungkam segala caci maki mereka nanti?
Siapa yang akan membuktikan bahwa cemoohan mereka itu salah? Siapa yang akan membuat mereka diam ketika mereka dengan bebas mengatakan bahwa kau bukanlah orang yang tepat dalam hal ini? Menyerah dan berhentilah hanya ketika kau sudah selesai. Bukan ketika sedang berjuang di tengah-tengah. Jika kau berhenti sekarang, maka itu mengartikan seluruh perkataan mereka yang merendahkanmu itu benar. Bahwa kau ini tidak bisa, kau itu payah, kau tak sanggup bertahan.
Selama kau nyaman di tempat ini, selama kau merasa bahagia di tiap pagi, tetaplah untuk terus berjuang sekuatnya. Jangan berhenti hanya karena hasilnya masih sedikit. Semua butuh waktu. Jangan hanya karena orang lain sudah lebih dulu ‘Besar’ maka kau jadi berkecil hati dan merasa apa yang kau kerjakan sekarang itu ‘Kecil’. Selama kau bahagia dengan apa yang kau kerjakan sekarang, percayalah suatu saat itu akan menjadi besar. Jika tidak besar bagi mereka, setidaknya itu besar bagi dirimu sendiri. Semua orang punya caranya masing-masing. Semua orang punya waktunya sendiri-sendiri.
maklum
Alkisah, ada perempuan yang kerap mengusik perasaan orang-orang di sekitarnya. Sebut saja, K. Ketidaknyamanan berjamaah timbul karena kebiasan K menyindir rekan-rekan kerjanya secara langsung. Rekan yang tengah mengambil cuti, kena sindir. Rekan yang makan siang di luar kantor tanpa mengajaknya, kena sindir. Rekan yang izin dari pekerjaan untuk alasan keluarga, juga kena sindir. Kita mengenal orang-orang sejenis K sebagai toxic person.
Dengan gangguan serupa, mungkin kita bisa dibuat berang dan menggerutu kepada orang-orang tak bersalah. Alhasil, “racun” yang mereka sebarkan telah kita tularkan tanpa sadar dalam bentuk perilaku buruk terhadap lingkungan. Tapi, pernahkah di satu waktu kita coba menyelami latar belakang dari para toxic person? Umumnya, akan kita temukan sesuatu yang menjadi musabab dari tabiat yang kadung mengakar pada orang-orang sejenis K.
Dari lingkaran terdekatnya, diperoleh kabar bahwa K yang tengah mengandung anak keduanya pernah memergoki suaminya serong dengan perempuan lain di luar rumah. Haduh. Hamil sewajarnya tanpa menghadapi persoalan saja akan memayahkan ibu manapun, lalu apa jadinya kalau sang suami ketahuan belangnya berkali-kali?
Kita sering mendengar kisah yang seolah mengandung hubungan sebab-akibat serupa di balik kehadiran toxic person. Di balik sosok yang galak, ada kisah tentang sepasang suami-istri yang tak kunjung dikaruniai anak hingga usia tuanya. Di balik sosok yang hobi nyinyir, ada kisah tentang masa lalu yang penuh dengan memori yang menyedihkan. Di balik sosok yang usil, ada kisah tentang masa kecil yang diisi pengalaman dijahili.
Kisah-kisah semacam itu membuat kita belajar memahami sebab yang menimbulkan akibat tertentu pada tabiat seseorang. Dengan menyelami sebab-musabab tersebut, kita akan dibuat lebih mudah memaklumi para pengusik perasaan dalam pergaulan sehari-hari. Nyatanya, dimanapun, akan selalu ada orang-orang dewasa yang bersikap menyebalkan untuk melampiaskan ketidaknyamanan pribadi. Sebetulnya, mereka amat layak dimaafkan dan dikasih(an)i.
Amat manusiawi ketika sebagian orang terbelit masalah dengan kerumitan yang beragam, ada ketidakberesan yang tercermin pada perilaku mereka. Bukankah kita pun kerap bersikap mendongkolkan ketika mengalami hari yang buruk? Bukankah kita pun ingin dimaklumi ketika berperilaku menjengkelkan karena alasan tertentu?
Jadi, tahanlah amarah sejenak ketika kita menjadi korban dari keserampangan para toxic person. Sayangi dirimu sendiri dengan menghemat energi dan menjauhkan diri dari perkara yang hanya perlu diabaikan. Cerdik cendekia telah meringkas hikmah dari peristiwa semacam ini lewat peribahasa, “anjing menggonggong, kafilah berlalu”. Andai kafilah harus memedulikan gonggongan dan menyerupai anjing, betapa banyak kesia-siaan yang terjadi.
Sindiran, gunjingan, cemoohan tak pernah memberi kita banyak nilai tambah kecuali lewat jeda atas pengabaian dan catatan kebaikan atas kemauan untuk memaafkan.
KEHIDUPAN YANG MEMBUAT IRI
Kehidupan macam apa yang membuatmu iri?
Yang dijalani oleh orang-orang kaya itu?
Yang dijalani oleh orang-orang populer itu?
Jika kau berpikir begitu, maka sama dengan diriku. Hingga tiba, kejadian sore tadi.
—
Sore tadi, aku menemani ibuku, bertemu dengan temannya, di sekretariat DKM Masjid salah satu kampus. Kebetulan ibuku memang aktif disana, jadi aku temani, bukan karena mau buang-buang waktu, tapi memang aku ingin jadi anak berbakti.
Di dalam ruangan, kami bertemu dengan sosok anak muda.
“Kang, apa kabar? Sehat”
Oiya, aku ingat. Ini adalah murid ibuku dulu, kebetulan, ibuku guru ngaji. Wajar kalau anak ini kenal, karena kami sering bertemu ketika ia belajar di rumah.
“Silahkan duduk” kami dipersilahkan duduk.
Dia pemuda yang baik hati. Tubuhnya tegas, tapi wajahnya lembut, penuh senyum. Usianya 2 tahun lebih muda dariku. Bukan orang kaya, dan bukan orang populer, biasa saja. Namun aa sungguh sopan, maklum, mungkin karena dulu dia murid ibuku.
Ibu dan pemuda itu banyak mengobrol, sedangkan saya banyak mendengarkan, sesekali memberi komentar.
Pemuda ini bercerita, minggu depan ia akan melangsungkan pernikahannya. Alhamdulillah.
“Alhamdulillah ya udah nikah lagi” Ucap ibuku
Tiba-tiba, ibu menghadapkan wajahnya padaku “Kamu tau, dia ini sungguh luar biasa. Dulu, di kampus, dia itu tinggalnya di masjid. Sering jadi muadzin, atau ngurus-ngurus mesjid. Alhamdulillah, sekarang kerja disini, karena dulu dia cinta banget sama masjid. Makannya, orang sini gak mau ngelepasin, jadi aja ditarik jadi karyawan disini”
Kamu tahu, apa yang membuatku iri? Bukanlah kehidupan orang kaya maupun populer, tapi Kehidupan pemuda ini.
Kehidupan Pemuda ini sungguh luar biasa. Karena kecintaannya pada ibadah, ia mendapatkan dunia. Sedang aku, karena kecintaanku pada dunia, aku meninggalkan ibadah. Itupun, dunia belum kudapat.
Kehidupan Pemuda ini sungguh luar biasa. Ia bukan orang kaya, biasa saja, tapi nampak penuh kebahagiaan. Sedang aku, mencoba untuk menjadi kaya, tapi aku tak merasakan kebahagiaan.
Kehidupan Pemuda ini sunggul luar biasa. Ia bukan orang populer, biasa saja, tapi setiap orang yang mengenalnya, merasa nyaman dengannya. Sedang aku, ingin jadi populer, tapi temanku sedikit, mungkin bisa dihitung jari.
Dulu, aku begitu iri dengan kehidupan orang yang parameternya urusan dunia, entah harta atau popularitas. Kini, semua berubah. Aku iri dengan pemuda ini, Ia tetap bisa menikmati dunia, tanpa meninggalkan urusan akhirat. Sedang aku, belum bisa menikmati keduanya.
Inilah kehidupan sesungguhnya, yang membuatku iri. Iri untuk menjadi yang terbaik, dalam melakukan kebaikan.
KEHIDUPAN YANG MEMBUAT IRI Bandung, 5 Januari 2018
Assalamualaikum. Bang, ketika diri merasa amat sangat tertinggal dan bahkan berjalan mundur. Apa yg baiknya dilakukan? Ane, depresi.
Waalaikumussalam wr wb,kamu sudah melakukan hal yang baik, berbagi dengan “orang lain” terkait apa yang kamu rasakan. hal lain yang bisa kamu lakukan selanjutnya adalah dengan berbagi dengan yang “bukan orang lain” terkait apa yang kamu rasakan. titik soal kita seringkali di situ, berbagi perasaan paling penting malah sulit kita lakukan dengan orang-orang terdekat yang bisa jadi lebih memahami konteks hidup kita bahkan bisa secara konkrit memberi bantuan “hari-hari” kepada kita.
merasa tertinggal ini soal apakah orang di sekelilingmu menginjak gas lebih dalam dibanding kamu, sementara kalau kamu merasa mundur itu soal bagaimana kamu melihat tujuan saja. kita coba ulas satu per satu ya.
membandingkan diri dengan orang lain kita lakukan karena kita tak punya ukuran objektif terkait perkembangan diri kita. membandingkan diri dengan orang lain tak selalu buruk, hanya saja jika tak berhati-hati bisa menimbulkan kekeliruan. karena yang seringkali kita lakukan adalah:“wah dia sudah terbang ke mana-mana, saya masih aja muter-muter di tanah sini aja”kamu lupa orang yang kamu lihat sudah terbang ke mana-mana adalah elang, sementara kamu adalah seekor cacing. saat kamu mengagumi elang yang melayang layang di atas sana, kamu lupa sudah berapa besar acre tanah yang telah kamu gemburkan sehingga tanaman yang hidup di sekitarmu jauh lebih subur dibanding tanaman di tempat lain.
bayangkan jika di depan sana adalah jurang, kamu tak akan menyesal kamu telah mundur.
oke, terakhir. saya kira kamu harus lebih banyak berlatih nyetir, jangan terlalu sering menginjek rem dan melihat spion samping dan cek baik-baik kamu sedang memakai mobil matik atau manual, jangan-jangan kamu sedang berada di gigi mundur, jadi saat kamu sudah menginjak gas sedalam mungkin, kamu ya mundur.
salam, tetap bahagia :)
RTM : Pasanganmu Kelak
Sebuah pembelajaran dalam setahun berumah tangga.
Dalam urusan pasangan hidup. Kita tentu punya berbagai macam keinginan atau gambaran, itu baru dari diri kita. Belum dari keluarga, dari orang tua, dari orang-orang sekitar, dan pandangan lain yang ikut memengaruhi setiap keputusan akhir; akan seperti apa.
Batas kita ada pada ikhtiar. Selebihnya, lebih banyak pada kemampuan kita untuk ikhlas menerima seperti apapun akhirnya. Karena akhir dari pencarian itu bukanlah tentang akhirnya kita bisa menemukan yang tepat, melainkan kita bisa menerima apa adanya dirinya.
Kriteria-kriteria yang kita buat hanya bisa mengantarkan kita pada harapan, selebihnya harapan-harapan itu hanya bisa digantungkan kepada Tuhan. Tidak kepada manusia. Sebab, tidak ada yang akan bisa memenuhi semua kriteria itu. Selagi manusia bertumbuh, selagi manusia punya potensi untuk berubah, entah dari baik menjadi buruk, ataupun sebaliknya. Sebab, urusan pasangan hidup bukanlah tentang apa yang ada saat ini dalam dirinya, melainkan potensinya diperjalanan panjang yang sudah menanti kita di depan. Melihatnya lebih jauh, melihatnya lebih luas. Melalui sudut pandang yang lebih bijak dan mendalam, melihat manusia sebagai sebuah potensi, bukan sebagai parameter tetap.
Orang yang hari ini baik, esok bisa menjadi jahat. Orang yang hari ini jahat, esok bisa menjadi baik. Begitulah manusia. Dan kemampuan kita untuk melihat potensi-potensi kebaikan yang besar pada seseorang haruslah kita asah. Kepekaan kita harus kita didik sejak dini, peka untuk membantu sesama, peka untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, empati.
Dan urusan pasangan hidup. Adalah urusan yang tidak seharusnya membuat kita resah. Kalau mau tahu, justru lebih meresahkan dan lebih sulit mencari mertua yang tepat dibandingkan mencari pasangan yang tepat. Kita akan berbakti pada orang tua baru, orang tua dari pasangan kita. Dan daya dukung serta daya didiknyalah yang bisa menguatkan cita-cita rumah tangga yang akan kita bina.
Esok atau lusa, saat barangkali kamu akan sampai dititik keresahan itu. Lihatlah dengan sudut pandang yang lebih luas. Lihatlah segala sesuatunya dengan ketelitian iman, bukan dengan hawa nafsu. Lihatlah bagaimana seseorang itu ditumbuhkan oleh orang tuanya, sebab bisa jadi jawabanmu bukan terletak pada diri seseorang itu, melainkan apa-apa dan siapa-siapa yang ada disekelilingnya.
Orang baik itu dilingkari oleh orang-orang baik.
Yogyakarta, 25 November 2017 | ©kurniawangunadi
Medan Juangmu
Krisis yang dialami oleh pemuda saat ini sangat berbeda dengan zamannya orang tua kita. Akses informasi yang begitu mudah kita dapatkan, banyak diantara kita yang tertekan karena merasa tidak menjadi apa-apa di waktu yang bersamaan, teman kita sudah sibuk dengan start-up nya, perjalananya, karirnya, karyanya, dan segala hal yang kita lihat dari unggahan mereka di linimasa.
Kita merasa tertantang tapi kita tahu, kita tidak memiliki keahlian di bidang itu. Kesukaan kita bukan di sana, dan kita semakin tertekan setelah kita melihat diri sendiri. Menjalani apa yang disukai ternyata belum membuat kita menjadi siapa-siapa. Apakah kita akan tetap mengikuti kata hati, atau beranjak mengikuti hal-hal terkini?
Saya kembali mengingat masa-masa sekitar 4 tahun yang lalu. Sewaktu saya masih kuliah. Di kelas besar, saya bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan yang lain. Perkara menggambar, saya kalah jauh secara keahlian. Perkara ide, masih juga tidak bisa menandingi kawan yang lain. Dan itu membuat ku sangat terpuruk. Saya bersaing di hal yang sama, dalam mata kuliah, dalam karya, dsb. Dan bertahun-tahun saya bersaing di hal itu, saya tidak pernah bisa mengalahkan teman saya yang lain. Bahkan dengan usaha terbaik yang bisa lakukan sekalipun, belum bisa.
Akhirnya, saya keluar dari medan persaingan itu. Saya menulis banyak sekali hal. Lepas dari kampus, teman saya berhasil masuk dan bekerja di perusahaan dan bidang yang dulu sangat saya inginkan dan saya berhasil melahirkan satu buku. Itu adalah perasaan “menang” pertama kali yang saya rasakan. Saya memilih medan persaingan yang berbeda, yang saya merasa bisa melakukannya. Dan menang itu bukan tentang saya bisa mengalahkan teman saya, tapi saya bisa memenangkan perasaan saya yang selama ini merasa terpuruk, merasa tidak beguna, merasa tidak bisa menjadi apa-apa, tidak memiliki kebanggan terhadap diri sendiri, dan perasaan inferior lainnya yang itu sangat sering dialami oleh pemuda difase Quarter Life Crisis.
Kini, sudah bertahun masa itu terlewati. Saya merasa tenang dan tenteram melihat bagaimana teman-teman saya kini meraih pencapaiannya masing-masing. Start-up nya yang tumbuh semakin besar, penghargaan yang ia terima, semuanya saya lihat di linimasanya. Saya tahu, medan juang kami berbeda. Saya tidak ingin bersaing untuk membuat hal yang serupa, tempat saya di sini, ruang sunyi -yang semakin nyaman kala hujan-, menulis berbagai macam perasaan yang tumbuh di hati manusia, merangkai-rangkai kejadian, menjadi tulisan-tulisan yang mengalir seperti sungai.
Bersaing dan berjuanglah di medan yang kita kuasai. Di ilmu yang kita tahu. Di tempat yang hati kita bisa merasa tentram. Di hal yang kita merasa Tuhan memudahkan jalan kita untuk beribadah kepadaNya.
Yogyakarta, 22 November 2017 | ©kurniawangunadi
Yang teman-teman saya tau, saya itu sombong karena nggak pernah mau diajak kumpul. Yang sebenarnya terjadi adalah rasa ketidakpercayaan diri saya yang begitu besar. Juga rasa seperti direndahkan karena kecacatan dan aib yang saya punya. Mungkin tidak sepenuhnya benar apa yang saya pikirkan. Tapi percayalah, orang yang kelihatan baik-baik saja seperti saya sesungguhnya menyimpan trauma dan rasa takut. Bahkan rasa takut itu seringkali muncul dalam mimpi saya.
This Moth’s weird inflatable butt has gone viral, but these “tentacles” have a real purpose
A video from Indonesia is making the rounds on social media, and it shows a bizarre sight—a moth with long, pulsing tentacles coming out of his backside.
Speculations ran wild—is the moth infected by a parasite that is emerging? Are we looking at some sort of huge, weird penis? Maybe the video is simply CGI. As it turns out, none of those are correct. This moth, called Creatonotos gangis, is inflating his scent glands.
The glands are called “coremata,” or “scent glands.”
(un) fair (?)
being rich is sometimes being unfair too
gue pernah bahas ini bareng temen gue gara-gara ada temen yang kuliah ke kampus idaman di UK dibiayain ortu. Meanwhile temen gue punya tiga adek yang harus disekolahin jadinya dia yang sebenernya punya cita-cita ambil master harus menunda keinginan dan kerja di BUMN demi biayain sekolah adek-adeknya.
“kalo kayak gini jadinya ga bersyukur sama gaji ya, Day (?)”
“gue belom ngomong ~XD”
kami sama-sama tertawa.
“Iya beraninya gue ngomong kayak gitu meanwhile orang lain pada pengen banget masuk tempat kerja gue hari ini. Beraninya gue ngomong kayak gitu pas di luar sana banyak anak terlantar sementara gue dikasih kesempatan buat berbakti ke orang tua dengan ngurusin adek-adek gue”
sementara di pembicaraan lain, ada temen gue (sebut saja si A). Dia nyeritain si B yang emang udah turunan profesor dari generasi mbah buyutnya dia ~XD terus si B ini jadi dosen di salah satu kampus bergengsi di Indonesia.
si A komentar tentang si B
“Iya sih. Si B anaknya profesor. Wajar kalo bisa masuk ke sana. Aku alhamdulillah, meskipun anak daerah tetep bisa jadi dosen di kampus ku”
“Wajar sih mbak, kamu alumni kampus tempat kamu ngajar” *gue ngomong dengan nada terusik sebenernya ~XD
temen gue diem.
gue tau kalo gue jahat banget ngomong gitu. Tapi entah kenapa perasaan gue terusik tiap denger komentar yang kayak gini. Kita nggak pernah tau seberapa keras si A bekerja hingga dia layak jadi dosen.
even gue sebenernya juga pernah iri lihat orang sukses di dunia teknologi yang orang tuanya emang sarjana elektro. Jadi si anak ini udah akrab sama barang elektronik sejak kecil. Meanwhile gue pas kecil masih panjat-panjat pohon jambu -_-
ini emang kelihatan unfair. Tapi lebih unfair lagi kalo kita dengan dangkal meremehkan ikhtiar orang lain hanya karena di atas kertas seolah dia punya modal yang lebih banyak dari kita.
toh andai posisi si A dan si B di tukar, belom tentu pencapaian mereka akan sama. Karena modal harta dan modal sosial (meskipun itu emang ngaruh banget), bagaimanapun sifatnya cuma katalis. Kalo pemiliknya berjiwa kerdil, ya tetep aja ga bisa maju.
Allah itu maha merekayasa takdir. Modal beda tapi level bisa sama karena Allah menyediakan jalan.
Unfair bagi gue adalah ketika kita berjuang dengan cara yang curang dan tikang-tikung orang.
Jadi selagi dia ga curang, ya oke-oke aja meskipun dia punya privelege dari modal sosialnya dan gue enggak.
Gue punya temen yang anak pejabat. Biasanya dimintain tolong buat nyebar proposal dana kalo ada kegiatan soalnya kalo yang nyebar anak-anak kayak gue, dapetnya lama banget. Tapi kalo yang nyebar dia, bisa cepet.
Mau iri sama yang kayak gitu? Gue sih enggak ~XD Toh kita ga pernah tahu secara utuh suka-dukanya jadi dia.
Gue inget dulu pas SMA, temen gue berbondong-bondong ambil les sementara bapak gue ga ngizinin gue ambil les. Pertama karena duitnya harus dihemat buat kuliah. Kedua, karena dulu fisik gue ringkih jadi ga boleh capek. Gue sempet ngomong ke Bapak:
“Temen-temen semuanya les. Aku nggak les. Ntar nilaiku jelek dong“
“Emang kalo mau nilainya bagus, harus les?“
“Kan butuh pelajaran tambahan“
“Pertama…dek, tempat lesnya jauh. Nanti kamu capek. Kedua, biaya lesnya mahal. Bisa dipake buat bayar kuliah kamu nanti. Kamu biasa belajar sendiri. Belajar sendiri aja“
gue belajar sendiri dan akhirnya lulus. Modal gue sama temen gue beda, bentuk usaha gue sama temen gue beda. Dan Alhamdulillah hasilnya sama.
jadi sejak bapak ga ngizinin gue les, gue dikasih buku soal bekas dari pasar blauran sampe tiga kardus. Gue dulu sampe hafal sama tipe-tipe soal unas dan spmb. Makanya pas TKD CPNS, nilai gue dulu bagus. Ngerjain Tes Intelegensia Umum ga pake mikir. Gue langsung telfon bapak dan bilang makasih banyak udah keras ngedidik sayah.
gitu tetep ada yang bilang:
“This is unfair. Otak lo udah cerdas dari sononya”
They don’t know kalo gue dulu ngerjain soal dari buku-buku sampe bukunya lecek. Tiap orang punya cerita perjuangan masing-masing.
gue, pas ngedaftar PENS itu ga kenal sama siapapun. Bukan alumni PENS dan ga pernah cumlaude, ditambah lagi gue cewek yang kalo di dunia teknik sering diragukan kemampuannya.
it doesn’t mean gue keren bisa masuk dan ngajar di sana.
Kalo bukan karena Allah yang gerakin hati gue buat daftar, kalo bukan karena Allah gerakin hati kaprodi gue buat say “Yes”,
*
temen gue alumni PENS dan masuk karena rekomendasi dosen senior. It doesn’t mean temen gue ga keren karena masuk lewat rekomendasi.
Temen gue dulunya anak robot yang terkenal punya endurance kuat dan otak yang encer. Soalnya buat menang lomba robot harus kerja hampir 24 jam dan otaknya dipake mikir terus.
*
In the end, we are just different. Dan ga semua yang different itu bisa seenak-enaknya kita sebut unfair
*
manusia suka bilang takdir ga adil hanya karena ruang berpikirnya nggak luas.
*
kalau kita menginginkan sesuatu, jalan satu-satunya berjuang dan menahan diri dari membanding-bandingkan takdir kita sama takdirnya orang lain
HABIS ITU APA?
Jawab dengan jujur dalam hitungan detik, apa visi hidupmu?
Pengusaha? Seniman? Pejabat? Atlet?
Beberapa minggu lalu, saya baru saja memahami, tentang betapa pentingnya menentukan visi hidup.
Kamu tau, visi hidup saya apa awalnya? Saya ingin menjadi penulis buku.
Namun, muncul pertanyaan baru. Jika saya sudah bisa menulis buku, lantas, habis itu apa?
Jika bicara visi, maka itu adalah “purpose"hidup, yang jika tercapai, maka selesai sudah perjalanan tersebut. Jika sudah tercapai, dan kita belum mati, habis itu apa?
Saya sedang merenungi, jika hari ini, kita sudah menjadi pengusaha paling kaya sedunia, menjadi musisi yang paling terkenal, menjadi atlet terbaik di dunia, menjadi paling top atas profesi yang anda inginkan, habis itu apa?
Kita harus membedakan, yang mana keinginan, dan yang mana visi hidup.
Ketika kecil, saya ingin jadi astronot. Ketika SMP, saya ingin jadi musisi. Ketika SMA, saya ingin jadi Artis. Ketika kuliah, saya ingin menjadi pengusaha.
Kini, saya paham. Hal-hal yang saya inginkan, bukanlah visi hidup, melainkan hanya sebuah keinginan untuk menjawab rasa penasaran. Saya ingin merasakan ke bulan, saya ingin merasakan manggung, saya ingin merasakan punya banyak uang, itu semua, bukanlah visi hidup.
Maka, dari situ, saya memahami, bahwa sebetulnya, visi hidup itu sesungguhnya takkan pernah bisa dicapai disaat kita hidup. Bagi saya, visi hidup manusia itu, hanyalah mendapat ridha dari Tuhannya.
Kenapa begitu? Simple, ketika kita berhasil mendapat ridha Tuhan, habis itu apa? Habis itu, kita bisa menikmati Syurga-Nya. Apakah ada yang lebih baik dari balasan tersebut? Yang saya percaya, tidak ada, itu lah balasan terbaik atas visi hidup seseorang.
Menjadi pengusaha, atlet, musisi, pengajar, entertainer, tak lain, itu hanyalah cara untuk mencapai visi hidup, itu hanyalah misi kecil untuk mencapai "purpose” hidup kita sesungguhnya
Maka, jangan sampai, misi-misi kecil kita, melupakan kewajiban-kewajiban kita, sehingga kita justru malah melupakan visi hidup kita.
Sekarang, silahkan baca kembali pertanyaan saya di awal tulisan ini. Masihkah jawabannya sama?
HABIS ITU APA? Mataram, 27 september 2017 (at Selong Lombok timur NTB)
Am I Left Behind?
Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.
Indikasinya begini:
• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.
• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.
• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.
• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.
• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.
Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?
Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.
Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”
Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.
Oke, sementara segitu dulu.
Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.
It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.
Confucius
Bismillah.