Sepenggal Cerita Dari Sisi Lain Jakarta
Bagi sebagian orang, merasakan pengalaman berbeda di jakarta mungkin tak lagi menjadi cerita. namun bagi sepenggal manusia lain, dapat melihat jakarta dari sudut pandang yang berbeda, menghirup udara dari sudut kota yang tak sama, atau bercengkrama dengan penduduk yang tak serupa, masih dapat menjadi kisah yang berharga untuk dijadikan cerita.
Hal itu yang saya rasakan ketika mengikuti perjalanan menjelajahi sudut2 daerah pasar baru pada akhir april 2019. Bersama teman-teman lain yang mengikuti jelajah kota bersepeda dengan Other Side Exeprience, saya tau benar melalui kekaguman peserta lain yang terlihat berbinar ketika menyaksikan hal-hal yang begitu baru bagi mereka. Kekaguman yang saya lihat itu serupa dengan apa yang selalu saya cari selama ini. Bukan pertama kali saya mengitari sudut-sudut gang di jakarta, tak hanya satu kali saya bertemu dan mengenal orang-orang baru hanya karena sebuah kata 'permisi.'
Sudah cukup lama semenjak terakhir saya sengaja keluar untuk melangkahkan kaki di pelosok jakarta. Sepeda adalah hal yang menarik saya kembali, dan tentunya jauh lebih tidak melahkan dibanding perjalan dengan kaki yang biasa saya lakukan. Untungnya, meski saya tidak memiliki sepeda, tim Other Side Experience menyediakan penyewaan sepeda.
Seluruh peserta bertemu di meeting point sebelum jam 7 pagi, semua persiapan seperti briefing dan perkenalan dilakukan dengan singkat dan padat. Meski terlihat begitu klise, perkenalan yang dilakukan di awal ternyata menjadi oase yang berebeda ditengah perjalanan nantinya. Setiap nama, latar belakang, dan kebiasaan peserta diingat betul oleh pemandu. Disisi lain perkenalan yang awalnya terlihat klise ternyata menjadi jembatan yang nyata bagi peserta yang sebelumnya tak saling mengenal.
Peserta diajak mengelilingi daerah di sekitar pasar baru, yang sedikit berebeda adalah jalur-jalur yang dilalui sedikit meminggir Dari jalur yang biasa digunakan. Sebagian besar tempat yang dikunjungi merupakan bangunan-bangunan yang menyimpan cerita, Masjid Istiqlal, gereja katedral. Tak hanya melihat dari luar para peserta juga diajak masuk untuk melihat kedalam dan berbagi cerita. Yang menarik adalah, para pemandu dapat mengantarkan cerita yang cukup sebagai esensi untuk dapat menjadi cerita baru bagi para peserta. Silaban, Art Deco, dan Rumah Jengki, adalah hal-hal yang benar-benar tak saya duga dapat muncul pad trip tersebut. ‘They Know Their Thing’ dan Hal ini bisa saya aminkan dengan pendidikan Sejarah dan Teori Arsitektur yang tengah saya emban.
Beberapa tempat juga turut memberikan segelimang cerita baru bagi peserta. Bagi saya yang memang menyukai street photography, beberapa titik begitu menggugah untuk diabadikan. Namun, Yang membekas betul di hati saya adalah ketika kami diizankan untuk masuk ke Kuil Hare Krishna, sebuah tempat peribadatan salah satu kepercayaan hindu. Para peserta dapat turut menyaksikan jalannya ritual, dan disambut dengan sangat hangat oleh para pengurus kuil tersebut.
Sesungguhnya masih banyak cerita yang terjadi dan dapat disampaikan, namun apalah arti kata dibanding mata. Apa yang dapat saya tuliskan disini hanya menjadi setumpuk pujian yang datang dari kekaguman saya akan bagaimana sebuah gedung tua dapat menjadi tujuan wisata, bagaimana sebuah objek dapat menjadi lebih hidup dari apa adanya, bagaimana peghargaan dapat tersampaikan melalui bentuk yang berbeda-beda. Perjalanan ini menjadi pengalaman berharga, dan wajah-wajah penuh kagum itu menjadi daya tarik bagi saya untuk kembali turun kejalan bersama mereka.







