Jadilah engkau wanita shalihah yang mulia sebab ilmu dan iman dalam hatimu. Jangan menjadi muslimah yang biasa-biasa saja. Bukankah kau ingin melahirkan generasi-generasi terbaik untuk umat ini? Ketahuilah, semua bermula dari dirimu sendiri
occasionally subtle

pixel skylines

if i look back, i am lost
Peter Solarz

#extradirty
Stranger Things

oozey mess
official daine visual archive
EXPECTATIONS
we're not kids anymore.
🩵 avery cochrane 🩵
KIROKAZE

JVL
Cosmic Funnies

Origami Around
RMH

No title available
todays bird
h

roma★

seen from United States

seen from Germany

seen from Ireland

seen from Malaysia
seen from Singapore

seen from Brazil

seen from India
seen from United States
seen from United States

seen from Thailand

seen from Iraq
seen from France
seen from United Kingdom

seen from Brazil
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from India
seen from Costa Rica
@luthfianafa
Jadilah engkau wanita shalihah yang mulia sebab ilmu dan iman dalam hatimu. Jangan menjadi muslimah yang biasa-biasa saja. Bukankah kau ingin melahirkan generasi-generasi terbaik untuk umat ini? Ketahuilah, semua bermula dari dirimu sendiri
Dan semoga, setelah segala kegelisahan ini, hati kita menemukan ketenangan. Semoga jiwa-jiwa kita ditenangkan, dan semoga Allah, dalam waktu dekat, mengobati luka-luka kita.
Setelah badai kegelisahan yang menghempas hati dan jiwa, semoga janji ketenangan itu segera datang, memeluk setiap sudut yang lelah, dan menenangkan setiap detak yang penuh cemas.
Tersebab tak ada satu pun luka yang luput dari pandangan-Nya, tak ada satu pun air mata yang jatuh sia-sia, dan sesungguhnya, setelah semua ujian itu, Allah akan datang untuk menyembuhkan, memulihkan, dan menyempurnakan segala sesuatu yang pernah terasa hancur, hingga hati kembali utuh, jiwa kembali tenang, dan damai menjadi satu-satunya bahasa yang kita pahami.
Selamat menenangkan diri, insyaallah semua akan baik-baik saja.
@jndmmsyhd
Materi pembelajaran hidup, mencari ketenangan.
Menikah itu nambah masalah
Menuju lima tahun pernikahan, tau-tau sudah mau berempat. Begitu cepat sekali waktu berlalu.
Dulu sebelum menikah, ada begitu banyak sekali kekhawatiran sehingga bisa mikir beribu kali untuk memutuskan menikah.
Memang benar kata seorang kawan "menikah itu nambah masalah"
Tapi ketenangannya juga bertambah, keberkahannya bertambah, rasa syukurnya bertambah dan kebahagiaannya pun bertambah.
Kadang bingung, waktu masih sendiri keresahannya banyak banget. Kok setelah menikah engga tau mau meresahkan apa lagi.
Mikirnya makin sederhana; jalani, jalani, jalani. Udah cuma gitu aja.
Yang mencukupi Allah, kenapa jadi kita yang bingung.
Satu ditambah satu logika manusia jawabannya dua. Tapi matematikanya Allah, jawabannya tak terhingga.
Memang benar, banyak tidak masuk akalnya. Tau-tau ada, tau-tau cukup, tau-tau bisa, tau-tau mampu melewatinya.
Kalau ada yang bilang menikah itu melelahkan, iya memang engga salah. Betul melelahkan.
Tapi ketika sudah sampai di rumah, capeknya hilang dan lupa sama lelahnya.
Menikah itu menjalani kesadaran.
Sadar sama-sama saling membutuhkan. Sadar sama-sama punya kekurangan. Sadar sama-sama punya kesalahan.
Kuncinya, jangan keluar jalur.
Ibarat melakukan sebuah perjalanan. Jika suami itu sopir, fokus dan pegang kendali. Karena penumpang di belakang engga peduli ngantuknya kamu.
Mereka cuma mau tau sampai di tujuan. Melencengnya kamu sana sini, membahayakan mereka.
Kamu ke luar jalur, celaka mereka.
Begitupun penumpang, tetap tenang. Jangan melompat atau pindah kendaraan lain, karena ada kendaraan yang lebih bagus.
Karena percuma sopir sampai di tujuan sendiri.
Dan belum tentu juga dengan pindah kendaraan yang lebih bagus, bisa bikin kamu lebih cepat sampai di tujuanmu.
Iya kalau sampai, kalau malah tersesat?
Karena tujuannya dari menikah ya cuma satu, yaitu membawa pernikahanmu selamat.
—ibnufir
Materi pembelajaran hidup (pernikahan).
Setelah sekian lama.
Benar, setelah sekian lama tidak menulis di tumblr, kali ini dapat kesempatan untuk menulis lagi. Karena sedang mendapatkan jatah me-time dari Mas Suami (tidak ada yang meminta penjelasan, haha).
Minggu kemarin, sempat dapat pertanyaan dari teman dekat tentang "kenapa siap menikah, dan kenapa memilih untuk menikah, serta kenapa bisa memilih Masnya". Sebenernya, kadang pertanyaan itu tidak bisa punya jawaban yang pasti, mungkin ya. Setiap orang punya jawabannya masing-masing. Tapi aku punya jawabannya sendiri.
Aku menjawab, beberapa orang disaat akan menikah mereka sejujurnya tidak sepenuhnya siap, tetapi diyakinkan untuk siap. Keyakinan untuk siap didapat dari ketetapan hati dan bantuan Allah. Kami, sebagai hamba, tidak punya kuasa atas hati kami. Dan, jawabanku pun, aku sudah selesai dengan diriku sendiri. Aku punya batasan terhadap diriku sendiri, aku punya kesempatan untuk belajar beberapa hal, terutama belajar sakit hati dan belajar berharap kepada selain Allah, alias hamba-Nya. Di masa pendewasaan itu, aku beberapa kali bertemu seseorang, yang kadang membuat aku berharap, apakah orang ini apakah orang itu, tetapi setelah masa pengharapan yang tidak ada artinya akhirnya aku meyakinkan untuk diriku sendiri.
Setelah masa pendewasaan, aku bertemu calon Mas Suami. Ternyata, dia juga sudah dalam masa pendewasaan dan selesai terhadap dirinya, jadi dalam artian, kami saling menemukan. Kami samasama saling belajar, pun dalam masa pacaran sampai kami besok enam bulan menikah.
Umur pernikahan kami memang masih seumur jagung, masih banyak perjalanan panjang didepan, jadi yang aku jawabpun masih seumur anak yang baru mulai tahapan MPASI.
Tetapi disamping itu, pernikahan ternyata seru sekali, menyatukan dua kepala, dua kepribadian, dua keluarga dan lainnya. Seru sekali.
Ditutup dengan The Wolf yang satu menit lagi tutup.
Kebahagiaan dalam pernikahan itu kayak dialog. Harus dua arah. Artinya, gak cuma kamu yang harus membahagiakan pasanganmu tapi juga pasanganmu harus membahagiakanmu. Gak harus dengan cara yang sama, tapi masing-masing harus punya effort yang sama untuk cari tahu apa yang bikin pasangannya bahagia dan melakukannya sepenuh hati.
Materi pembelajaran hidup, setuju sekali.
Tentang hal ini, pada pembicaraan kami mempersiapkan pernikahan, kami membahas banyak hal. Pun sebelum kami memilih untuk melanjukan hubungan.
Salah satu alasan, dimana akhir aku berdoa untuk memilih Mas adalah, dia sangat mendukung tentang apa yang aku lakukan, dan terus untuk menyemangati. Terlebih dari itu, dia menyampaikan bahwa dia menginginkan aku bekerja dan meraih mimpi yang sudah aku rencanakan.
Terimakasih Mas, telah berusaha untuk selalu menyemangati, mendukungku dan tidak lupa untuk mendoakanku. Dan semoga apa apa yang aku impikan, dan aku rencanakan kamu ridhou nantinya.
Bismillah, semoga kamipun lulus dalam ujian sebelum pernikahan yang kami kadang terlena jika tidak menghadap kepadaNya. Aamiin.
Untuk segala rasa sesak yang ingin kau hindari dan membuatmu berlari untuk mencari distraksi, maka larilah kepada Allaah.
Larilah sekencang mungkin, dekati Allah rabbul alamin. Maka kau akan temukan bagaimana indahnya Allah perlahan menyembuhkan sesak yang semula memeluk hatimu begitu erat. Segala puji bagi Allah.
@terusberanjak
materi pembelajaran hidup
Butuh Allah
Semakin kesini, semakin kesana; semakin seharusnya kita butuh sama Allah
Akui saja kalau kita ini lemah tak berdaya, tak memiliki apapun, bahkan tak bisa berbuat banyak tanpa izin dan kuasanya Allah
Banyak hal di luar kemampuan kita yang terjadi, banyak hal tidak ideal di luar rencana kita yang hadir, menunjukkan satu hal; kita butuh Allah
Sebanyak-banyak kita baca teori perubahan, dicatat, lalu diterapkan, pasti ada satu masa dimana tidak semua bisa berjalan semulus yang dibayangkan
Seniat-niatnya kita, melakukan banyak hal, kebaikan yang bermanfaat, pasti ada satu masa dimana tidak semua bisa terjadi sesuai rencana
lalu, kita kecewa
kita marah, merasa lemah, dan berputus asa, seakan kita gagal, kita salah
tapi kita lupa satu hal; butuh Allah
Padahal ayatnya jelas "Allah tidak akan mengubah suatu kaum"
Mintalah izin kepada Allah, mintalah dimampukan oleh Allah, mintalah kekuatan kepada Allah, tunjukkan kalau kita butuh Allah
materi pembelajaran hidup yang kami berdua ambil, bermulamula dari mencoba untuk memperbaiki sholat, dan bentuk penghambaan kami.
Karena menikah adalah tentang mengubah kebiasaan.
Menikah bukan hanya menyoal menyatukan persepsi. Atau membangun komunikasi.
Bukan pula menyoal maklum-memaklumi. Atau menerima segalanya dengan besar hati.
Menikah adalah perihal nafkah lahir dan batin yang diberikan oleh suami kepada istri. Juga perihal pengabdian dan ketaatan dari istri untuk suami.
Menikah adalah tentang mengubah kebiasaan, mengatur waktu, merencanakan masa depan, mengolah finansial, pun mengambil peran dalam pengasuhan.
Jika segala urusan rumah diberikan sepenuhnya kepada istri, maka bukan penampakan baru lagi. Jika di kemudian hari kita mendapatkan para istri yang hidupnya penuh dengan tekanan, penuh dengan derai air mata, penuh pembangkangan dan penolakan.
Sebab mentalnya rusak, fisiknya lemah akibat dari pekerjaan rumah yang dianggap - oleh hampir keseluruhan manusia - adalah tanggung jawabnya.
Padahal rumah adalah tentang bersama. Pekerjaan yang melingkupi di dalamnya adalah tanggung jawab anggota keluarga.
Pun sama ketika seorang suami hanya memposisikan diri sebagai tulang punggung keluarga, sebagai sumber dana, sebagai pencari nafkah. Sehingga mindset yang tertata hanyalah menyoal uang. Untuk kemudian lahirlah sifat dan sikap yang menggurat luka di dalam diri sang istri.
Tidak ingin berperan dalam urusan rumah dan mendidik anak. Tidak ingin meringankan beban istri, tidak ingin berusaha lebih untuk menyenangkan hati istri.
Karena tidak selalu perihal uang yang membuat seorang istri bahagia.
Adakalanya pelukan hangat, bantuan mengurus rumah dan menjaga anak, waktu-waktu yang dihabiskan berdua, janji-janji yang ditunaikan, perasaan-perasaan yang dihargai; adalah bentuk bahagia yang lain.
Karena menikah adalah upaya mengubah kebiasaan. Mengubah semua hal-hal yang pernah dilakukan seorang diri, menjadi kebiasaan yang harus dilakukan berdua bersama pasangan.
Karena menikah adalah upaya memberikan lebih banyak waktu kepada keluarga. Menomorsatukan mereka, menjadi peka terhadap perasaannya.
Karena menikah adalah perihal saling; saling meringankan beban pekerjaan rumah; saling menghargai dalam setiap keputusan; saling menghormati dalam berbagai keadaan.
Karena menikah adalah tentang mengubah kebiasaan. Menjadi tahu dan paham bahwa begitu banyak kebiasaan yang mesti diubah jika telah hidup berkeluarga.
Bukan malah berlaku seenaknya hanya karena dia adalah kepala rumah tangga. Dan bukan pula bertingkah semaunya hanya karena dia adalah seorang wanita yang mesti dimuliakan oleh suaminya.
Karena sungguh, menikah adalan tentang kesadaran untuk mengubah kebiasaan.
Kesadaran untuk mau memahami bahwa sebaik-baik waktu yang dihabiskan seorang laki-laki adalah bersama keluarga dan istri.
Kesadaran untuk mau mengerti bahwa sebaik-baik ketaatan yang mesti dilakukan oleh seorang perempuan adalah ketaatan kepada suami.
06.13 a.m || 13 Juni 2023
Materi pembelajaran hidup.
Duduk menghadap dua kursi tempat kami berjumpa, tepat hampir setengah warsa yang lalu. Mengingat apa yang telah kami bicarakan untuk memulai sebuah perkenalan. Gelora bung karno dan starbucksnya. Selalu menjadi tempat pertemuan yang menghalau semua ingatan tentang keduanya dimasa lalu.
Dan, kami sekarang sudah di tahap ini. Tahap dimana perkenalan kita sudah berjalan kearah yang lebih serius. Pelanpelan, untuk berjalan dan belajar bersama. Memulai fase yang kemungkinan masalahnya akan lebih rumit, diantara dua orang, dua kepala dan dua keluarga.
Kami kadang bertanya, dan kadang kami juga takjub, bahwa kami sudah berjalan disini.
Sekarang, kami sedang benarbenar untuk belajar dan mengusahakan kearah jalan itu. Semoga, disemogakan ini, kami berjalan sesuai dengan jalan menuju yang benar. Semoga, memang jalan ini adalah jalan yang diridhoi, jalan yang memang ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa. Semoga.
Halo selamat sore, bagaimana hari ini? Apakah semua yang terjadi berjalan dengan baik? Bagaimana pengharapan-pengharapan yang dihaturkan pada saat matahari ini muncul diufuk timur? Bagaimana menjalani hari untuk sepertiga waktunya? Apakah berjalan dengan baik?
Semalam, menemukan dan teringat akan suatu doa, berikut doanya:
Doa ini benarbenar menampar, dan sebagai penghambaan yang dihaturkan disetiap saat. Sebagai bentuk untuk pasrah dalam segala aktivitas yang akan dilakukan, sedang berjalan dan telah dilakukakan.
Ya bagaimana, jika diartikan dan diresapi memang bentuknya meminta perlindungan kepada yang Maha Melindungi. Sama seperti Allah melindungi Nabi Muhammad didalam Surat Ad Dhuha ayat 6, 6. ukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu),
Lalu dilanjutkan dengan ayat 7 sampai 8.
7. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk,
8. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Padahal, jika dilihat ketiga ayat tersebut, Allah benarbenar sudah memberikan yang terbaik untu hambaNya, kenapa hamba masih sangat kufur dan syirik bahwa dia takut akan rezekinya tidak datang kepadanya?
Barangkali, salah satu hal berharga yang seseorang berikan kepada kita adalah waktu mereka...
Sehingga semakin dewasa aku semakin mengerti bahwa waktu dan tenaga adalah dua hal yang seiring bertambahnya usia kita, ia menjadi sesuatu yang semakin berharga dan juga semakin terbatas.
Oleh karenanya, aku berusaha untuk belajar memilah dengan baik kepada apa, dan kepada siapa saja dua hal tersebut aku gunakan, habiskan, dan juga korbankan.
Aku tak perlu menemui semua orang.
Aku tak perlu mengetahui kabar semua orang. Apa yang terjadi di hidup mereka, bagaimana keadaan mereka sekarang, dan aku juga tidak perlu tetap berusaha mempertahankan sebuah hubungan yang tidak membawaku ke mana-mana. Melepas beberapa orang dan juga kawan yang tidak berdampak apa-apa pada perkembangan hidupku ke depan ternyata sungguh melegakan dan membuatku tidak perlu repot menghabiskan waktu dan tenagaku yang semakin terbatas ini pada orang-orang yang tidak worth it.
Dan ternyata itu nggak papa. Karena semakin ke sini aku semakin belajar bahwa aku tidak perlu memedulikan semua orang, karena sebenarnya..., tak semua dari mereka pun benar-benar peduli padaku.
Melalui itu pula, aku juga perlahan belajar untuk lebih menghargai orang-orang yang telah bersedia mengorbankan waktu dan juga tenaga mereka untukku. Orang-orang yang bersedia berlelah-lelah untukku, orang-orang yang bersedia untuk kurepotkan akan urusan dan keperluanku, orang-orang yang bersedia meminjamkan telinga untuk semua keluh dan tangisku, orang-orang yang bersedia menjadi tempat aku berbagi akan banyak hal. Karena tidak semua orang bersedia akan hal itu.
Dewasa ini juga aku belajar bahwa menjadikan ketenangan batinku sebagai prioritas kebahagiaanku bukanlah sebagai sebuah bentuk keegoisan. Aku sayang orang yang aku sayang, tetapi itu bukan berarti menyayangi mereka berarti harus menyakiti diriku sendiri. Semua orang akan pergi, jika aku tak belajar untuk menjadikan diriku sendiri sebagai sebaik-baik teman untukku, lalu siapa lagi yang akan tetap tinggal bersamaku?
Aku belajar untuk lebih mengenali apa yang baik dan buruk untuk ketenangan hati dan kebahagiaanku ke depan, sehingga bisa lebih mudah memilih langkah apa yang aku jalani.
Ya Allah, aku mungkin belum berada pada keadaan di mana mimpi-mimpiku telah terwujud, tetapi setelah apa yang kulewati selama ini, aku bangga karena telah mampu mengambil banyak pelajaran dan juga memetik hikmah, yang berguna sebagai petunjuk langkah apa yang harus kupilih.
Dalam haru yang terus bertambah 27 April 2023
dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini, dapat kesempatan untuk kedatangan tamu. Beberapa kesempatan Ramadhan yang lalu, sepertinya tamu itu datang ketika ditengah Ramadhan. Tahun ini, Allah memberikan kesempatan itu.
Kesempatan yang seharusnya, samasama dimanfaatkan untuk ibadah kepada Allah. Masih bisa diberikan kesempatan untuk berdoa, Allah bukakan kesempatan itu sangat lebar. Masih juga diberikan kesempatan untuk berdzikir. Setiap saat setiap waktu, Allah selalu berikan kesempatan itu.
Tapi, kenapa hambaNya selalu merasa sempit waktunya? Padahal hambaNya sebenarnya punya banyak waktu. Bahkan, bisa punya waktu 25 jam sehari, yang di sela sela sibuknya bisa membaca Al-Quran, yang dikesempatan sempitnya bisa selalu berdzikir.
Dalam Surah Al-Israa ayat 41, dengan terjemahan sebagai berikut:
Dalam Al Qur’an pun, sudah tertuliskan, bahwa, sebenarnya manusia itu sudah selalu diingatkan berkalikali, sudah diberikan contoh, dan dijelaskan berkali terkait dengan peringatan, tapi nyatanya? Selalu lari, selalu menghalau apa yang seharusnya menjadi peringatan, masih saja berbuat syirik, entah itu syirik besar (masih sangat terlihat) hingga sampai syirik kecil dan samar.
Halo HambaNya, yang ingin selalu dikabulkan doanya, yang ingin selalu diberikan pertunjuk yang terbaik dari Yang Maha Kuasa, ada kalanya kembali untuk berhijrah itu tidak apa. Mari memperbaiki diri, dari sekarang, menuju ke ajal yang akan menjemput.
Tentang berserah diri.
Tulisan ini dimulai dari kalimat berikut:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
Yang menurut aku, dalam arti sangat dalam dan bermakna. Yaitu “tidak ada daya dan kekuatan, kecuali denganMu Ya Allah”
Kalimat paling berserah diri, diantara kalimat penghambaan lainnya. Menggantungkan segala sesuatu kepada Allah karena hamba tidak memiliki daya dan kekuatan apapun. Selanjutnya melihat QS. HUD ayat 56 yang artinya:
“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil).”
Jadi, kenapa kita masih harus ragu dan kufur?
halo, Luthfiana punya Allah, inget.
Husband Material
Beberapa hari ini, saya lagi senang-senangnya belajar tentang hal-hal yang berhubungan dengan parenting dan juga relationship seperti luka masa pengasuhan, tipe-tipe generasi dan cara memperlakukanya, hingga cara berkomunikasi hal-hal sensitif dengan pasangan. Sampe saya download aplikasi Teman Bumil loh haha (harusnya gak aneh sih. Justru laki-laki pun harusnya download ini juga kan untuk mendampingi istri kalau sudah saatnya). Ternyata banyak stereotipe dan stigma yang terjadi di masyarakat seperti lelaki itu gak rapih, tidak peka, tidak suka beres-beres rumah, dan hal-hal lainnya.
Semakin banyak baca hal seperti ini, saya jadi semakin tertantang untuk mencari tau sebenarnya sosok husbando (pasangannya Waifu) seperti apa yang sebenarnya ideal. Ia yang berkebalikan dengan stereotipe dan stigma kah? atau ada hal-hal lain yang lebih esensial. Nah ternyata, ada yang namanya Husband Material. Apaan tuh? Apakah dia yang materialistis? haha No! Begini katanya
"Carilah laki-laki yang menjadi Suami, bukan mencari Istri"
Husband Material adalah seseorang (laki-laki) yang memiliki kriteria/kredibilitas sebagai calon suami. Emang apa ciri-ciri seorang Husband Material ini?
Dia yang ada di saat kamu membutuhkan walaupun mungkin ngebuat dia berada di kondisi yang tidak nyaman.
Melibatkan kamu saat membuat keputusan besar maupun keputusan sederhana.
Bisa diajak komunikasi walaupun sudah tau kalau hal tertentu diobrolin bakal jadi ngebuat salah satu marah dan berantem. Ia yang percaya kalau komunikasi itu penting.
Kalau ada masalah, dia bakal nyari cara biar selesainya. Dia bakal berpikir lebih keras dan cerdas agar bisa jadi lebih baik lagi dan lagi.
Ia yang berpikir kalau hubungan ini bukan cuman tentang aku-aku dan kamu-kamu. Tapi bersama, aku dan kamu adalah tim.
Bukannya takut dimarahin, tapi kamu nyaman terbuka dan jujur ke dia karena dia sudah terlebih dahulu menyembuhkan luka masa lalunya.
Dia nge support kelebihan kamu dengan apa yang ia punya dan ga ngebuat kamu ngerasa jijik dengan kelemahan-kelemahan yang kamu punya baik fisik maupun non fisik.
Mungkin segitu yang saya dapet di salah satu postingan Instagram. Kalau temen-temen cari lagi di google, lebih banyak lagi hal-hal yang dibahas tentang Husband Material ini.
Dulu, saya fokus mencari sosok istri ideal dengan kriteria A, B, C. Yang intinya sangat-sangat ideal. Setelah membaca hal-hal seperti ini, sekarang saya sadar. Kalau saya terlalu fokus mencari istri ketimbang menjadi seorang suami itu sendiri. Kalau ada yang bilang jodohmu adalah cerminanmu. Maka sebelum mencari cermin yang baik, kita pun harus jadi cermin yang baik pula bukan?
Dah ah gitu dulu, kita bahas tentang hal-hal lain di tulisan selanjutnya. As usual, merci beaucoup and thanks for having a beautiful mind