Kali ini aku memutuskan dan memberanikan diri untuk mengunjungi museum itu lagi. Iya, ini bukan kali pertama aku mengunjunginya. Mungkin sudah ratusan kali? atau ribuan yaa?. Bisa dibilang, pintu museum ini akan terbuka diam-diam ketika aku merindu. Tak ada tiket masuk ataupun penjaga, karena Museum ini adalah milikku. Akulah penjaga dan pemiliknya... iya inilah Museum tentang diriku.
Biasanya aku tak pernah bawa siapapun, tapi karena ada kalian.. mau aku bawa masuk berkunjung tidak?
Kita buka dulu pintunya yaa,
Taraaa, inilah ruang pertamanya, didesain seperti lobby yang luas melingkar, dindingnya putih gading, jendela-jendelanya tinggi dan lengkap dengan iringan irama melodi yang menyenangkan. Coba deh lihat cahaya matahari sore yang masuk lewat jendelaku warnanya keemasan, cantik ya?
Kenapa? penasaran sama anak kecil itu ya?, iya itu diriku yang dulu. Sosok anak yang mudah sekali tertawa. Waktu itu senyumnya terlihat begitu tulus dan tanpa harus ada syarat.
Bahagianya sederhana, hanya dengan memeluknya, menatapnya, bertemu orang yang disayang atau berjalan ke sebuah tempat baru dia pasti tersenyum lebar. Dunia belum banyak mengecewakannya. Kadang aku dibuat rindu dengan senyumnya yang tengil itu....
Ini ruanganku yang penuh kaca, tiap kaca memantulkan bayangan yang bermacam-macam. representatif dari masaku yang berani memiliki banyak mimpi. Aku menggambarkannya dengan begitu yakin, seolah seluruh jalan menuju kesana sudah terbuka lebar.
Sampai sekarang kaca ini tidak pernah rusak, mereka hanya berdebu. Walaupun begitu, mereka tak menuduhku meninggalkan mereka, tak bertanya mengapa aku berhenti. Mereka diam di tempat, seakan memahami bahwa hidup kadang membawa seseorang terlalu jauh dari tujuan awalnya. Namun mereka tetap menghidupkan sisa harapan itu dan berpikir aku akan mencoba meraihnya kembali.
Kita ke ruangan selanjutnya ya.
Maaf ruangannya agak gelap...
Sempat lampunya dimatikan paksa waktu itu, tapi aku coba nyalakan lampu cadanganku walau tak seterang semula.
Ruangan ini dulu sering aku banggakan. Heran yaa karena cuma ada satu mantel disini?, mantel tua yang tergantung sendirian di tengah ruangan. Warnanya sudah sedikit pudar, tetapi jahitannya masih utuh. Di bagian dalamnya terdapat bekas lipatan, karena mantel itu dahulu sering dipakai. Mantelku ini simbol keberanian memilih, memulai, mencoba dan tak takut gagal. Akhir-akhir ini belum aku gunakan lagi.. Karena suatu ketika tiba-tiba mantel itu terlihat terlalu besar, terlalu berat, pantas dikenakan oleh seseorang yang lebih besar daripada diriku sekarang. Aku hampir pergi, sebelum melihat sebuah label kecil di bagian kerahnya. “Ukuran: masih sama”. Sepertinya aku menyusut..
Ini lorong yang cukup panjang. Jangan takut bila semakin dalam kita masuk ruangannya semakin sunyi. Namun justru kesunyian yang kita rasakan sekarang adalah tempat paling tenang yang kupunya.
Ini pintu favoritku, warnanya putih tapi kilaunya seperti emas, tinggi besar tapi sama sekali tak berat bila dibuka. Ketika dibuka kita seperti ada di luar ruangan, hanya ada awan putih dan langit berwarna biru, lalu di tengah terdapat sajadah yang selalu kubentangkan. Diantara awan dan langit yang kita lihat, banyak doa-doa bergantungan.
Bisa dibilang ini rumah tempatku pulang, walaupun aku pernah tak pulang dalam waktu yang lama anehnya ruangan ini tak berdebu, tak usang, tak rusak seperti ruangan-ruangan sebelumnya. Seolah ada yang menjaga dan selalu siap menerimaku pulang.
Disini juga ada kaca, 1 kaca yang cukup memantulkan bayangan untuk 1 orang saja. Aku sering menangis menatapnya...
Karena, Aku melihat jarak yang begitu jauh antara diriku sekarang dan diriku dahulu.
Aku menghitung mimpi yang kutunda, keberanian yang kulepaskan, tawa yang semakin jarang, serta doa-doa yang mulai terburu-buru dan hilang. Aku bertanya-tanya, bagaimana hidupku seandainya aku terus berjalan? Seandainya aku tidak berhenti? Seandainya aku tidak berubah?
Maaf aku sedikit menangis... tak seharusnya ya kalian melihat ini. Namun, aku juga manusia. Kawan, aku mengajakmu kemari bukan untuk melihat bagian lemah dariku.
Ada yang ingin aku sampaikan dari perjalanan Museum kita hari ini. Setelah aku mengunjunginya ribuan kali, akhirnya aku mulai tersadar.... bahwa ternyata mereka selalu menanti-nantiku untuk berkunjung kembali.
Bukan untuk memintaku kembali menjadi orang yang sama, tetapi untuk mengingatkan bahwa keceriaan, keberanian, mimpi, dan ketaatan itu pernah hidup di dalam diriku. Jika semuanya pernah tumbuh di sana, barangkali tanahnya belum benar-benar mati. Yang artinya, belum terlambat untuk memulai kembali.
Aku tidak harus menjadi diriku yang dahulu.
Aku hanya perlu menjadi diriku yang sekarang, yang masih mau belajar darinya, masih mau mencoba, dan masih ingat jalan pulang.
Aku harap, kamu juga berani menghidupkan Museummu. Kunjungilah sesekali, untuk sekedar mengenang dan melihat ternyata engkau begitu hebat. Karena telah sampai di titik ini.
Barangkali ini waktunya untuk merayakan betapa jauhnya kita berhasil melangkah, walaupun pada akhirnya tak semua berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Namun, kita berhasil berdiri di titik ini. Hebat yaaa?.
Alhamdulillah...Maha Baik Allah, yang telah mengizinkan dan menuntun kita menyusuri jalanan panjang yang tak mudah.
Kapan-kapan, gantian aku yang kamu ajak ke museummu yaa?