Ridha for @anokibuu !
seen from Singapore
seen from China
seen from Belgium
seen from Thailand
seen from Malaysia
seen from France
seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from Japan
seen from Canada

seen from United States

seen from Switzerland

seen from United States

seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from Israel
seen from United States
Ridha for @anokibuu !
Puncak ketenangan hati manusia adalah saat ia ridha dengan apa pun yang ditetapkan oleh Rabb-nya. Tidaklah ia melihat segala yang terjadi di hidupnya, kecuali dari sudut pandang yang penuh dengan prasangka baik. Fokusnya cuma satu; ridha Allah semata.
Rizqan Kareema
Today is my birthday!✨
If you have a little extra consider throwing me a tip or grab prints or stickers, if not, I'd just love my work getting shared!
Inprnt
Ko-fi
Di Antara Seribu Tafsir
Kita hanyalah sebuah bentuk yang diam, seperti sketsa bola di atas kertas putih.
Hening, utuh, dan apa adanya.
Namun, tangan-tangan manusia datang membawa bingkainya, membawa lensa kacamata mereka yang berbeda warna.
Ada yang melihatmu sebagai teko, lalu menuntutmu menuangkan air.
Ada yang melihatmu sebagai apel, lalu mengharapkan rasa manis.
Ada pula yang melihatmu sebagai benda tak berharga, lalu memalingkan muka.
Lelah, bukan?
Jika kau habiskan sisa usiamu untuk berteriak,
"Aku bukan teko! Aku bukan apel!"
Suaramu akan parau, namun kaca mata mereka takkan berubah. Sebab manusia menilai dari apa yang ada di kepala mereka, bukan dari apa yang ada di dalam hatimu.
Maka, biarkan mereka dengan tafsirnya. Tugasmu bukan meluruskan benang kusut di pikiran orang lain.
Simpan tenagamu.
Berpalinglah pada Dia yang menciptakan "bentuk" aslimu.
Sebab hanya di hadapan-Nya, kau tidak perlu menjelaskan siapa dirimu.
Dia Maha Tahu, bahkan sebelum kau berbisik.
p.s
Obat yang menenangkan hati (QS. Al-Isra: 84, QS. Al-Ma'idah: 54, QS. At-Taubah: 105, QS. Qaf: 16)
Credit video (Rido Dakwah)
@clichemistry
Tentang Rezeki
Kerap kali resah menjelma ombak, menghantam tepi hati yang rapuh menanti. Padahal langit telah menuliskan takaran, dan bumi sekadar panggung untuk menjemputnya.
Kita tahu, jalan terbentang bercabang-cabang: ada yang berlumur cahaya, ada yang beraroma luka. Tangan bisa memilih merenggut dengan doa, atau merampas dengan rakus tanpa rasa.
Namun hari ini, garis batas makin samar, suara uang lebih nyaring dari nurani. Lembaran kertas jadi dewa sembahan, sementara jiwa kehilangan rumahnya sendiri.
Rezeki seakan hanya angka di layar, padahal ia bisa menjelma teduh di dada. Seteguk air di kala haus, atau sepotong roti yang menyelamatkan hidup sederhana.
Maka semoga langkah kita, seperti benih yang ditanam di tanah yang subur karena ridha Allah. Tumbuh bukan sekadar banyak, tapi berbuah berkah yang menenangkan jiwa dan mengantar pulang kepada-Nya dengan lega.
Allah tidak pernah salah, dan Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan setiap peristiwa dalam kehidupan kita. Kewajiban pertama hati kita adalah ridha kepada takdir Allah.
Tidaklah seorang lelaki atau perempuan yang ridha kepada ketentuan Allah dalam hidupnya, melainkan keridhaan mereka itu akan mengantarkannya kepada kematian yang Husnul Khatimah.
Dalam rangka mengenang salah satu quotes favorit bertahun-tahun lalu. Ketika itu kagum sama tulisan si penulis karena sesuai dengan penggalan hadist yang pernah dipelajari "وارض بما قسم الله تكن أغنى الناس" (Ridha lah terhadap apa-apa yang Allah takdirkan maka kamu jadi manusia terkaya) dan semakin dewasa semakin bisa lihat betapa banyak manusia yang gagal atau bahkan mungkin nggak bisa memahami dan menjalankan konsep ini ~saya pun sebenernya juga masih perlu selalu belajar~. Tapi saya ga pernah bisa paham kenapa ada manusia nyuruh seekor penyu buat terbang, padahal sayap pun dia nggak punya, lebih parahnya lagi manusia itu pun nggak pernah hidup sebagai penyu. Andai saya jadi penyu saya akan bilang ke manusia itu "hai kamu manusia, coba kamu jadi kami hidup di dua dunia, menggendong tempurung kemana-mana berenang antar samudra sepanjang hidup dan pergi ke daratan sekadar untuk bertelur." Sebenernya pengen nulis panjang lebar tapi....
Yang baca tulisan ini bisa tolong isi titik-titik di bagian akhir tulisan
Karomah Sesungguhnya
Gus Baha' seringkali menegaskan pentingnya menerima takdir (yang memang termasuk rukun iman), entah takdir itu dirasa baik ataupun buruk. Sebagaimana akan banyak kebaikan yang hadir dari penerimaan terhadap takdir, kita juga melihat secara nyata bahwa mengingkari takdir menjadi sebab lain kesengsaraan hidup.
Sikap hasad (iri/dengki) misalnya menjadi representasi dari ketidakmampuan dalam memahami dan menerima takdir. Orang yang hasad merasa tidak senang ketika orang lain mendapatkan nikmat, bahkan sampai menginginkan nikmat itu hilang dari orang tersebut. Lalu, ia pun akhirnya tersiksa oleh sikap hasadnya sendiri.
Gus Baha pernah mencontohkan bahwa sekalipun bodoh itu tidaklah baik, tetapi menerima takdir sebagai orang bodoh tetaplah baik.
Salah satu hikmahnya adalah tidak hasad, tidak malu untuk belajar, dan tidak berusaha agar terlihat pintar.
Penerimaan terhadap apa yang mewujud dalam hidup, disertai kesadaran bahwa semua itu adalah kehendak Allah Ta'ala menjadi jalan menuju kemuliaan, sebagaimana ditegaskan Syeikh Yusri Al-Hasani bahwa "keridhaan dengan apa yang sudah ditakdirkan adalah karomah sesungguhnya".
Wallahua'lam