at family dinners
me: talk less, smile more
me: don't let them know what you're against or what you're for
Amen
sheepfilms
Jules of Nature
cherry valley forever
macklin celebrini has autism

JVL
Monterey Bay Aquarium
todays bird
No title available
official daine visual archive
he wasn't even looking at me and he found me
𓃗

No title available
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Cosimo Galluzzi
No title available
Sweet Seals For You, Always

Kaledo Art

No title available

❣ Chile in a Photography ❣
Noah Kahan

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from Poland

seen from United States
seen from Russia
seen from Argentina
seen from United Arab Emirates

seen from United States

seen from Bangladesh
seen from United States

seen from Argentina
seen from Argentina

seen from Pakistan
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@mamontokania
at family dinners
me: talk less, smile more
me: don't let them know what you're against or what you're for
Amen
HBD, CDA ;) WYATB ;)) with perdana, Mis, Indria, Citra, and Yenni – View on Path.
Tentang mimpi
Tentang mimpi yang dulu selalu menyenangkan Tenang mimpi yang merasuk menjadi harapan Tentang mimpi yang menggebu dan kadang kadang tak ada logika Tentang mimpi yang menjadi rada takut khawatirmu Tentang mimpi yang telah kau lupakan hingga kau malas melakukanya Tentang mimpi yang tenggelam dalam hingar bingar dan kemacetan kota Tentang mimpi yg baru ku sadari betapa indahnya ia, sampai-sampai ku terbuai dan tak lagi ingin kembali ke dunia.
Menerka.
Menerka kamu dalam riuhku adalah kemahiran aku. Menggoda kamu hingga memunculkan kemungkinan-kemungkinan adalah kebanggan untuk ku. Terjebak, lalu mencoba melupakan tapi selalu terjebak pikiranku sendiri. Selalu. Perasaan itu ibarat gelombang ultrasonik, di film Submarine. Hanya anjing, kapal selam, dan kelelawar yang bisa menangkap dan mengartikannya. Padahal manusia mahluk ciptaan yang paling sempurna katanya. Mengartikan dan menangkap perasaan manusia lainya saja mereka tak mampu. Ya.. Manusia seperti aku ini hanya menerka perasaan mu. Mengira. Merasa jika kau juga punya rasa.
«One must imagine Sisyphus, happy»
japanese girl punk forever
the 5.6.7.8’s, shonen knife, mummy the peepshow, tsu shi ma mi re, 54 nude honeys
Why you so complicated, and I always ruin my feelings?
EKM
IBU, Buah Pir, dan perasaan yang bersembunyi.
Dulu, ibuku pernah bilang "perasaan itu ga bisa dibohongi. Perasaan itu hanya dibisa bersembunyi" Dahulu tau apa aku soal perasaan. Aku hanya tau rasa senang, sedih, marah, takut, dan mungkin sedikit muak. Tak pernah aku sangka bahwa perasaan itu bisa tak terdefinisikan. Semakin sering aku bertemu sinar mentari, semakin sering aku menemukan perasaan perasaan yang aku tak tahu namanya. Kata orang itu hal yang wajar. Perasaan yg tak terdefinisikan adalah sebuah anugrah bagi kita untuk memberikan artinya. Betapa Indah bila kita bisa berikan sendiri nama perasaan untuk diri kita. Ahh... rasanya saat ini aku ingin menamakan perasaanku dengan nama buah-buahan. Akan kunamakan perasaanku yang kadang gelisah, kadang takut, tapi ingin memiliki dengan nama buah Pir. Yaa seperti buah Pir, yang empuk, berbulir kasar dan berair, dan rasa yang tidak asam tidak manis. Yaaa seperti itu perasaan ini. Seperti buah Pir di supermarket yang sering bersembunyi di jaring-jaring berwarna pink agar terlihat indah, perasaan ini juga bersembunyi didalam kebohongan, pencitraan, besar kepala dan juga bersembunyi di dalam diam.
I’m getting worse and you don’t know…
(via darkwoundsrising)
Thought via Path
Ketika nanya online shop tidak menggunakan kata sapaan 'sist','beb', atau 'cyins' niscaya kamu gak akan dilayanin dengan ramah sama si ownernya. Jadi, gw udah beberapa kali nyobain nanya2 ke beberapa online shop ga pake kata sapaan, cuman awalnya kyk 'permisi, mau nanya2 harga barang di instagram bla bla bla' efeknya adalah gw ga di gubris sama sekali. Ada yg gubris tapi kayak dingin gitu jawabnya singkat2. Kayak ga niat jualan,, Giliran besok-besokanya gw nanyain pake kata sapaan 'sist' dan terkadang 'beb' serta dibumbui kata 'cyinss' wihhh langsung deh tuh online shop pada semangat balesnya, bahkan waktu gw ga beli dan cuma nanya2 doang malah gw dimarah2in, dibilang jangan hit and run, ngancem2 report spam,, gileee,, serem juga tuh kata sapaan itu,, bener-bener the power of 'sist' , 'beb', 'cyins'..ckckckckckck.. – Read on Path.
Sylvia Plath for the Signs
Aries: "It is so much safer not to feel than to let the world touch me."
Taurus: "Kiss me, and you will see how important I am."
Gemini: "I want to talk to everyone as deeply as I can. I want to be able to sleep in an open field, to travel west, to walk freely at night."
Cancer: "Can you understand? Someone, somewhere, can you understand me a little, love me a little?"
Leo: "Remember, remember, this is now, and now, and now. Live it, feel it, cling to it. I want to become acutely aware of all I have taken for granted."
Virgo: "Go out and do something. It isn't your room that's a prison, it's yourself."
Libra: "Please, I want so badly for the good things to happen."
Scorpio: "Please don't expect me to always be good and kind and loving. There are times when I will be cold and thoughtless and hard to understand."
Sagittarius: "I am afraid of getting older. I am afraid of getting married... Spare me from the relentless cage of routine and rote. I want to be free... I want, I want to think, to be omniscient.
Capricorn: "For all my despair, for all my ideals, for all that- I love life. But it is hard, and I have so much- so very much to learn."
Aquarius: "I took a deep breath and listened to the deep brag of my heart. I am, I am, I am."
Pisces: "I dream to much, work too little."
What I Fear Most, I Think,
“What I fear the most, I think, is the death of the imagination… If I sit still and don’t do anything, the world goes in beating like a slack drum, without meaning. We must be moving, working, making dreams to run toward; The poverty of life without dreams is too horrible to imagine.”- Sylvia Plath, “Cambridge Notes” (from notebooks, February 1956)
Beberapa hari lalu saya menginap di rumah seorang teman baik saya di daerah depok. Karena sudah lama gak bertemu, kami ngobrol-ngobrol hingga subuh. Kemudian saya lihat-lihat koleksi buku-buku miliknya dan menemukan buku short stories dari Sylvia Plath. Ketika saya membalikan buku itu, di bagian atas buku itu terdapat quotes yang membuat saya tersenyum dan hati saya seakan diberikan nafas yang baru. Entah kenapa, ketika membaca itu saya jadi ingat kegalauan saya akhir-akhir ini. Setelah mejadi pekerja di Jakarta, dengan segala permasalahan kehidupan yang baru, saya semakin hari semakin pesimis dengan hal-hal yang terjadi di sekitar saya.
Saya bekerja disebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap hari saya disuguhkan dengan fakta-fakta baru atau fakta yang lama tapi saya baru tau mengenai pelanggaran HAM. Belakangan ini Indonesia sedang goblok-gobloknya (emang dari dulu goblok sih). Indonesia baru aja mengeksekusi mati 6 terpidana mati karena kasus narkoba. Secara kemanusiaan itu sudah melanggar esensi hidup seseorang. Presiden yang katanya harapan rakyat itu tidak mampu berpihak pada kemanusiaan.
Selain masalah eksekusi mati, banyak lagi kebodohan yang dilakukan oleh pemerintahan di Indonesia. Contohnya adalah Ridwan kamil yang mengklaim bahwa kota Bandung adalah Kota Ramah HAM pertama di dunia. Sepertinya Ridwan Kamil ga pernah riset sebelumnya soal Kota Ramah HAM. Bagaimana mungkin sebuah kota yang menjadi tuan rumah dari Deklarasi Anti Syiah di Indonesia menjadi kota percontohan Kota Ramah HAM, kalau di Bandung sendiri belum membebaskan warganya dalam memeluk agama? Bagaimana mungkin sebuah kota yang menangkap 3 mahasiswa papua setelah mereka melakukan mimbar bebas yang mengkritik terkait pelaksanaan 60 Tahun Konfrensi Asia Afrika, bisa menjadi kota percontohan kota Ramah HAM bila Bandung belum bisa membeaskan warganya dalam menyuarakan pendapat?
Selain Bandung daerah lainya yang sedang dilanda konflik adalah di Pengunungan Kendeng, Rembang , Jawa tengah. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan bertemu dengan para ibu-ibu yang berjuang mempertahankan Tanah dan air mereka. Di kawasan mereka akan dibangun pabrik semen oleh Semen Indonesia yang merupakan salah satu BUMN. Saat berjuang, ibu-ibu itu mendapat kekerasan dari para aparat. Ibu-ibu ditendang, dipukuli, dan saat mereka berada di dalam tenda mereka dikepung aparat sehigga logistic kebutuhan para ibu tersebut tidak bisa diakses.
Hal-hal tersebut membuat saya semakin hari semakin muak saja dengan keadaan sekitar. Belum lagi kisruh perpolitikan yang terjadi di senayan dan di partai politik yang ada di Indonesia. Sebagai warga kelas menengah, selalu muncul kekhawatiran mengenai keadaan bangsa yang semakin aneh dan bodoh ini. Tapi selalu aja ada kebingungan , “terus gw bisa ngapain demi bangsa ini?”
Pertanyaan yang sederhana tapi butuh kekuatan tersendiri untuk menjawab itu. Ketakutan bahwa saya sebagai anak muda tidak bisa melakukan apa-apa membuat kegalauan masa muda sama semakin memuncak. Awalnya saya pikir ketakutan ini hanya dimiliki oleh saya sendiri, tapi ketika saya berbincang dengan teman-teman sebaya, ternyata mereka memiliki ketakutan yang sama. Orang-orang seumuran saya yang juga kelas menengah, terlalu banyak menunggu pilihan tanpa berani untuk menciptakan sebuah alternative dalam tindakan. Kita tidak bisa mengubah semua hal sendirian. Paling tidak kita merubah hal kecil di dekat kita atau melalukan sesuatu untuk orang-orang terdekat kita.
Saat ini ketakutan saya tersebut sepertinya bisa sedikit mengendur. Saya bersyukur berada di pekerjaan yang sesuai dengan passion saya. Memberikan pendidikan HAM kepada masyarakat dan juga pemerintah adalah pekerjaan saya saat ini. Setidaknya saya telah memilih untuk melakukan sesuatu. Ketakutan saya mungkin bisa mengendur terus-menerus hingga hilang bila saya terus berkerja dan berjuang dengan sebaik-baiknya dalam passion saya ini.
Lalu apa yang kamu pilih untuk menghentikan ketakutan kamu?
Siapa punya?
Keputusanku untuk melangkah keluar rumah di senja kala yang basah
Siapa punya?
Pilihanku memilih kemeja bergaris dan bukannya putih kaos polos
Siapa punya?
Maki teriakanku pada supir angkutan yang berhenti di simpang jalan,
menghalangi jalanku
Siapa punya?
Kecemasanku pada...
Jiliiiii, emesh.
Obrolan sehabis bimbingan
Dosen 1 (bukan dosen pembimbing) : ayoo kamu tetep semangat ngerjainyaaaa
Gw : saya selalu semangat ngerjain skripsi bu, cuman ini mental ajaaa...
Dosen 2 (dosen pembimbing *baca mas nur) : dia mah kesel bu, skripsinyaaa ga bisa Ke KIRI-KIRIan
Dosen 1&2 : hahahahahahahahaa...
Gw (berkata dalam hati ) : sialan nihhh mas nur menjebak gw supaya ga progressif. :(
Pembangunan apartemen. ANJING!!!!!
Purnama datang malam ini, disaat alat-alat berat seang membangun. Purnama bersinar terang layaknya perasaan Gadis belia yang sedang mencari cinta. Ia merekah. Alat-alat terus membangun. Membuat pusing kepala. Membuat sinar bulan purnama tak jadi terlalu indah. Alat-alat terus menerus membangun, tanpa peduli. "Hey, disebelah ada nenek yang sedang sakit keras, tolong hentikan sebentar," bisik Purnama pada alat-alat berat pembangun kekuatan kapitalisme. "Ahh,. Biar sajaa,, sudah tua sudah saatnya kembali ke Bumi!" Ucap alat-alat pembangun dengan ketusnya Alat-alat terus membangun, menghancurkan tanah, menghancurkam harapan manusia kecil dan tak berdaya. Terus membangun. Membangun. Terus membangun. "Hey! Hentikan! Caramu membangun tak tahu malu dan tak tahu diri. Sudah cukup tak boleh lagI membangun!!!" Purnama marah. Amarahnya mencuat bagi manusia manusia kecil dan tak berdaya. Alat-alat terus membangun dan tak sama sekali mendengar kata-kata sang purnama. Hingga akhirnya Purnama tak mau lagi datang. Ia minggat. Ia tak ingin sinarnya yang merekah ia berikan pada alat-alat yang membangun dengan egois. Purnawa tak pernah datang lagi. Di langit saat ini hanya ada awan gelap dan sedikit bintang. Malam semakin tak menarik lagi. Malam hanya milik alat-alat yang terus membangun. Membuat pusing kepala. Membuat sakit hati.
Mencapai kebahagiaan bukanlah perkara mudah. Kita harus menghargai peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin tak berarti untuk kita namun ternyata sangah mempengaruhi kita. Peka dan percaya diri serta terus berusaha adalah hal yang harus kita lakukam untuk Mencapai Kebahagiaan yang hakiki.
EKM
Tiba-tiba benak ini bertanya-tanya, bisa kah kita bicara kebenaran tanpa perlu menggunakan dasar-dasar ideologi. Menurutku, ideologi hanya mengkotak-kotakan manusia, dan merubah mereka sehingga mereka lupa akan diri mereka apa adanya. ideologi membuat manusia mengikuti patron-patron yang juga buatan manusia lain. manusia seakan tidak otentik dan tidak memiliki kemampuan untuk berfikir sendiri. bukankah manusia modern adalah manusia yang mandiri dan memiliki cara pandang yang lebih maju dari jaman purbakala. kalau kita masih membicarakan kebenaran menurut ideologi yang ada tidakah kita sama seperti manusia-manusia purbakala yang masih belum berpikir rasional?
Sekalipun ideologi itu menjunjung tinggi kebebasan, namun manusia yang menganut ideologi kebebasan itu pun harus mengikuti syarat-syarat dari sebuah ideologi. Syarat-syarat inilah yang membuat manusia sudah tidak lagi dapat otentik. semua me'logos'kan segalanya. kebenaran memiliki patron-patron yang terkadang tak cocok dengan keadaan lingkungan kehidupan manusia,lalu untuk apa sebenarnya berideologi untuk mencapai kebenaran yang sifatnya sangat relatif. kebenaran saya belum tentu sama dengan kebenaran kamu. membicarakan kebenaran saja terkadang kita mesti belajar hingga ke negeri seberang. Padahal, bukankah sesungguhnya kebenaran itu ada pada diri kita sendiri?