Opposite
I am all ears for you
Your tiredness
Gloomy days
Confusions
Unsure
Bad luck
Just not today
no ears for me
opposite.

★
sheepfilms
almost home
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
ojovivo
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
we're not kids anymore.
TVSTRANGERTHINGS
No title available

Janaina Medeiros
dirt enthusiast
art blog(derogatory)

JVL

No title available
Keni
Not today Justin
Show & Tell
Lint Roller? I Barely Know Her
wallacepolsom

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Norway
seen from Czechia
seen from United States
seen from Syria
seen from Russia

seen from Malaysia
@manikmata
Opposite
I am all ears for you
Your tiredness
Gloomy days
Confusions
Unsure
Bad luck
Just not today
no ears for me
opposite.
Makan dengan tenang
Bagaimana rasanya ketika akhirnya tau ada yang kau rindukan, yang sebelumnya sulit kau temukan?
Masa bertanya-tanya. Ada yang kurang, tapi apa? Ada yang tidak terpenuhi, tapi apa?
Jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri, mencari tau sendiri. Kemudian menemukan sesuatu yang kurindukan:
Berjalan dengan tenang, makan dengan tenang.
Di depanku, 2 biji ayam McD yang sangat kecil, dan potongan telur dengan porsi setengah. Porsi yang aneh sekalipun untuk anak kecil.
Namun nikmat, karena setelah sekian lama aku bisa makan dengan tenang. Tanpa diburu-buru pulang, tanpa ditanya habis ini kemana, tanpa diingatkan kemaleman, tanpa perlu mengingat toko berikutnya tutup jam berapa, mampir beli apa.
Makan dengan tenang, berjam-jam.
Sadly, You’ve Read my Poetry
Badly, that’s changed you and shuffle off.
--
Warung Makan
Aku keluar ke warung makan depan. Mencari penghidupan atas kesepian. Membeli kudapan-kudapan kekinian agar tergelar penerimaan.
Di perjalanan, aku dihadang anjing. Menggongongi keterpurukan yang aku jinjing. Mulutnya menyalak tetapi matanya mengelak.
Jalanan ramai orang-orang lalu lalang. Mereka sudah tidak saling menyapa, bahasa yang ia tau hanyalah teguran klakson-klakson , minta minggir jangan menjadi penghalang.
Sampai di sana, warung tutup. Ia lelah menjual penghidupan untuk orang lain. Kini ia yang kesepian.
Katakan!
Kata-katamu tidak bisa aku hapus. Dahanam tak melindap. Aliran sungai keracak tanpa ujung. Fragmen yang menjeratku berkali-kali.
Akar tak beraturan seperti urat kapilaris menjamahi setiap inci daging dalam tubuhku. Membisikan kata-katamu yang berkaru. Menjadi gema di dinding dingin batu.
Tak akan pernah meluntur suatu yang kuharap akan hancur. Biar kimpal gendang telinga, asal aku tak mendengar suara. Kujauhkan segala sarana demi kehadiranmu tak terasa.
Akal tak berulah, tenang tak berkilah. Campur baur manah tanpa olah. seandainya bisa kupilah mana lemah mana tabah.
Katakan bahwa semua yang kudengar itu fana. Angin ribut yang hanya halusinasi belaka. Tusukan-tusukan yang menjerat minda, melukai dada itu tak ada.
Antar aku ke kenyataan dunia yang katanya penuh cinta. Manusia-manusia mahardika. Surga yang kau bilang selalu ada.
Nalam ini tak akan putus disangkal waktu. Waktu yang orang bilang menyembuhkan. Bagiku menumbuhkan : dendam.
Amatir
sungguh kesedihanku amat amatir
ingin bergejolak seperti Chairil atau Jokpin
tapi berakhir di etalase eskrim
air mata menjadi karya
atau setidaknya chanelling medium, kata mbak-mbak psikologia
kemarahanku juga ingusan
bir dan bar masih ingat balasan tuhan
bunuh diri masih punya angsuran
syirik dan kriminal masih takut tekanan sosial
yasudah, biar makanan menvalidasi seluruh perasaan
asam garam tetap manis oleh gula dalam donat
kugigit dengan legit, nikmatnya sungguh selangit
meski air mata tetap menjengit
Selamat Pagi!
Kecantikan itu ketika kau membuka mata, Dengan lihai berkedip seperti tarian lembayung, Menggantung di atap-atap langit.
Maka kuucapkan
“Selamat Pagi!”
Meski ngantuk kau coba tersenyum, menyalakan matahari:
“Pagi!”
Suara burung berkicau
“Mau kopi atau tea?”
Tubuhmu meliuk, angin bergerak halus beranjak, mengecup keningku dan pergi ke kamar mandi.
“apa aja”
Lalu sepi. Suara redam oleh waktu. Tubuh lenyap oleh ruang. Kehangatan masih menyeruak, tapi rasa takut kehilangan tak pernah jengah menatap dari balik jendela.
Bad Prayer 4
Beritahu aku ketika karma sudah datang mengetuk pintu.
Sampaikan padanya, aku yang menyemai doa-doa.
Bad Prayer 3
Suatu hari alam akan membalikkan badan
Tanggul-tanggul yang tinggi itu tidak lagi mampu menyembunyikan kekhawatiran yang melekat di balik namamu.
Lantai semen tetap akan menjadi tanah yang gembur, rumahmu tenggelam bersama dengan kepercayaan diri yang terlalu tinggi.
Genting akan rontok, seberapapun kau tinggikan. Rumah porak poranda, seberapa seringpun engkau meronda.
Kau kumpulkan Tuhan dari segala agama. Berharap jadi tameng akalmu yang bopeng.
Engkau tau suatu saat akan tenggelam. Tapi ogah belajar berenang.
Bad Prayer 2
Tuhan yang baik
terima doaku untuk memeluk abu
yang keluar dari amarah yang meletus
di dada ketulusan yang tergerus
Bad Prayer
Dalam setiap musim
doa buruk tertanam
di antara dua makam
menguburmu
yang kabur dengan diam
Pintu
Kau melihatku seperti pintu yang terbuka.
Ruangan-ruangan nyaman yang lepas dari beban.
Kau tidur menggelayutkan kaki dan menyenandungkan nada, angin berkibas-kibas seperti berdoa.
Di atas kepalamu burung-burung. Kelopak yang tak hinggap mencari ketenangan.
Aku membereskan diri. Karena di setiap sudut, kesedihan itu ku kunci.
Agar kau tak melihatnya.
Menyusur Hutan
Aku mendengar.
Kau mendengar.
Langkah kaki.
Hembusan angin.
Kesunyian merambat.
Hutan-hutan gelap.
Berjalan ke lembah.
Semakin asing bau udara.
Dan lumut.
Daun busuk.
Tak tampak jalan di belakang.
Habis perbekalan.
Tetap melangkah.
Semakin malam.
Cicit burung.
Jangkerik.
Binatang tak dikenal.
Gesekan dahan.
Dingin.
Lamat lamat gelap.
Takut.
Takutkah?
Menyelami dirimu.
Diriku.
Dan masa lalu.
Resilien
Dia masih ingin merasakan cinta.
Yang putih, biru.
Memendarkan cahaya dari bilik matanya yang kemilau.
Tali temali ia jalin pelan - pelan, sambil menunggu air mata surut dan kapal tongkang merapat ke bibir pantai yang sunyi. Dermaga yang telah aus kelelahan dipukul ombak dan badan kapal.
Ia diam-diam telah menyiapkan seluruh alibi jika burung-burung di ujung pohon kelapa itu jahil menanyai kabar atau kapan menyelesaikan kesedihan.
"Ini bukan patah hati"
Aroma laut menguar. Jari jemarinya masih mengular, diantara tali-tali yang melilit isi kepalanya. Sedang perasaanya masih seteguh karang.
Bibir menyungging, membentang kepasrahan kepada matahari yang muncul tenggelam.
"Ini bukan patah hati"
Buih ombak membasahi kainnya. Dingin yang gentar menembus kulit, atau memang indranya mati rasa?
"Aku masih ingin merasakan cinta",
Katanya. Senyum merentang kepada matahari.
"Dengan orang yang sama"
Awan-awan menindihnya.
"Ini bukan patah hati"
Geming.
.
.
.
Tapi ia telah melupakanmu.
Takut
Yang tegar tetap melingkar di ufuk cahayamu, permata.
Hiruk pikuk hari ini melelahkan seluruh penglihatan dan air mata.
Orang-orang tua merenung tentang kejadian 63.
Ombak menyapu pengunungan, menghampar lahan.
Langit tersaruk-saruk melukiskan bayangan yang lebih nyata di hadapanmu.
Menengadahlah.
Porak poranda akan selesai.
Semua rencana akan usai.
Perjalanan ini panjang, maka mari istirahat dulu.
Cahaya ini akan tetap tegar mengamatimu.
Besok kita lanjutkan lagi,
Besok kita awali lagi.
Semoga Tuhan tak akan bercanda lagi.
Bali, Nov 28, 2017.
Tabir
Kebahagiaan yang kau tampakkan, tampak seperti kepedihan yang tak tau muara.
Bersimbah ruah dalam senyummu. Mencair linangan kelopak matamu.
Yang kau sembunyikan di balik bibir tak membuat ia terselimut tabir.
Aku yang lebih lama mengenalmu daripada teman sebangkumu, merasakan getir.
Suara
Tak ada musik yang ingin aku dengarkan malam ini.
Dinding yang dingin rasanya telah cukup menyajikan cerita kenangan yang berisik.
Aku ingin sholat di ketinggian tempat, hingga yang kudengar hanya angin.
Dan suara jantungku sendiri.
Yang ingin lepas dari keramaian. Namun takut kesepian.