Ternyata aku sadar, tidak ada rumah untuk tempat ku pulang. Dan lebih tenang saat aku berada jauh dari asal ku yang jelas hanya aku sendiri.
No title available
sheepfilms
Three Goblin Art
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home
cherry valley forever
Cosimo Galluzzi
h
official daine visual archive

JVL
No title available
Not today Justin
hello vonnie
Claire Keane
todays bird
$LAYYYTER
Mike Driver
Cosmic Funnies
Monterey Bay Aquarium
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
seen from United States
seen from United States

seen from Kazakhstan
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Azerbaijan
seen from Austria
seen from Argentina

seen from China
seen from Iraq

seen from United Kingdom
@manusiasendirian
Ternyata aku sadar, tidak ada rumah untuk tempat ku pulang. Dan lebih tenang saat aku berada jauh dari asal ku yang jelas hanya aku sendiri.
Hi manusia sendirian, bagaimana harinya? Apa sudah sesuai dengan yang kamu inginkan? Atau malah semakin jauh dari apa yang selama ini kamu bayangkan? Sebelumnya aku mau mengucapkan selamat bertambah usia kita tepat hari ini semoga kamu selalu mendapatkan kebahagian yang bisa menutupi semua kekecewaan yang selama ini kamu simpan sendiri. Kita bertumbuh, seperti layaknya rumput yang terus tinggi meski terus dipotong oleh manusia lainnya. Kita tetap tumbuh bahkan bisa lebih sempurna dari sebelumnya.
Oh iya satu hal ingin aku sampaikan, teruntuk kita jangan ada lagi larut dalam hal menyakitkan masalalu, meskipun kita tidak akan pernah utuh lagi seperti dahulu tapi setidaknya kita bisa menerima ketidak utuhan itu agar kita bisa merasakan apa itu kebahagiaan.
Happy birhtday to manusia sendirian.
I don't know how to feel someone love me
Hanya Butuh Didengar
Ketika seseorang sedang dirundung masalah, kemudian memilihmu untuk bercerita, hal pertama yang harus kamu lakukan hanyalah diam dan dengarkan. Tahan dirimu untuk bergegas memberinya nasihat. Sebab, sebenernya mereka tahu apa yang harus diperbuat, tapi karena suasana hati dan pikirannya sedang tidak baik, maka keadaannya menjadi tidak stabil untuk mengambil keputusan.
Yang kamu perlu lakukan hanyalah mendengar, biarkan dia mentransfer seluruh energi negatifnya ke kamu, dengan cara membuka ruang dan kesempatan seluas mungkin untuknya mengungkapkan. Memaksakan keadaan agar mereka menerima keadaan, seperti "semua akan baik-baik saja", atau "Tetap semangat! Kamu pasti bisa!" seakan-akan mengabaikan perasaannya.
Seolah perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkannya tidak penting bagi lawan bicaranya. Alih-alih bermaksud untuk menolongnya justru kamu malah menambah 'masalah' baru baginya (ia merasa lemah karena anggapan remeh lawan bicara), bahkan lebih buruk dari itu, dapat menggangu psikis bahkan kejiwaannya.
Intinya adalah cukup diam dan dengarkan, itu yang mereka butuhkan. Itu cara terbaik bersimpati. Berikan pertanyaan seperti, "pasti berat ya berada di posisi mu saat ini", atau "wajar jika kamu marah atau kecewa terhadapnya", berikan pertanyaan atau ungkapan pancingan yang tujuannya agar ia mau mengungkapkan seluruh isi hatinya. Biarkan energi negatifnya habis tersalurkan kepadamu.
Berarti nasihat tidak perlu?
Tetap perlu, cuman balik ke konsep awal bahwa terkadang orang yang bermasalah tahu apa yang seharusnya dilakukan. Akan tetapi karena keadaannya sedang tidak baik, otak dan hatinya tidak mampu mengolah rumusan solusi terhadap masalah yang dihadapinya.
Dengan membuatnya menjadi lebih tenang, karena seluruh energi negatifnya tersalurkan habis, dengan begitu terkadang solusi akan muncul dengan sendirinya. Jika hal tersebut tidak berlaku, baru kita boleh menawarkan nasihat atau solusi terhadapnya.
"Jadilah alasan bahagia bahkan alasan orang lain memilih melanjutkan hidup, walau sebatas meminjamkan kedua telingamu untuknya."
Didengar itu sebuah kebahagian yang sangat nyata dan langsung terasa, tanpa interupsi dan bantahan apalagi perbandingan serta main gedge.
Kau Menang
Lucu, kadang aku ingin menulis agar seseorang membacanya, namun kadang lainnya aku menulis karena menyakini seseorang tak akan membacanya. Dan ini aku tulis dengan anggapan kau tak akan pernah membacanya.
Apa yang lebih pekat dari malam, mungkin adalah darah yang mengental di dadaku. Ia amarah yang tak mampu dituangkan dalam bentuk apapun, sebab terlalu racun jika ia kujadikan kata-kata untuk memujamu.
Adalah kau aliran yang memiliki muara satu namun beribu hulu. Aku jadi pecundang yang menghakimi wanita lain yang memoles bibir merah merona untuk atensimu yang begitu luas.
Seharusnya kau yang kudakwa bersalah bukan. Tapi kita apa?
Kaki yang berlari sendiri, mencari validasi sana sini, bertemu di berisiknya kata-kata, menitisnya sebagai pedang untuk saling menebas.
Aku suka dengan kelihaianmu memantik amarah, sedang kau senang melihatku yang ingin meledak menahan murka. Kita beradu dengan argumentasi dan emosi, seolah mudah sekali mengatasinya hanya dengan seulas senyum tiga jari.
Pada rongga dadaku, jauh sebelum bertemu kau, ada penyakit yang mengakar. Semacam pongah yang mudah melenggang saat merasa tak diinginkan. Sebab percaya, di tempat lain aku diinginkan dengan sedemikian rupa.
Lalu kau hadir seolah ingin menguji, sampai dibatas mana aku akan mendambamu. Kau menjadi seperti kebanyakan adam yang kutemui, penuh penguasaan dan dominasi.
Sayang, aku tak pernah tertarik berkompetisi.
Bukankah lebih baik mati dalam rindu dariada berlutut kepada hal yang tak tentu?
Entah kau mau berlabuh di mana kau ingin, menetap di mana kau nyaman, atau pada akhirnya berpindah lagi ke lain pelukan, merah di dadaku lebih baik menggumpal daripada luruh hanya untuk mengakui kenyataan; kau menang keparat, aku jatuh cinta.
Aku lelah,
Sangat lelah, isi kepala yang tidak dapat sunyi, pikiran yang selalu berjalan jauh tanpa ada batas, hati yang selalu sakit dengan hal yang ada dipikiran. Lelah sangat lelah. Bagaimana? Apa? Siapa? Mana?. Aku menyerah. Sumpah aku menyerah.
Biasa, membiasa, dan akhirnya terbiasa.
Capek lama" gini.
Trauma itu sulit sekali untuk dihilangkan. Lelah, seolah -olah akan terjadi seperti waktu itu lagi. Bukan tidak percaya dengan kata" 'tidak semua orang sama' tapi yang dibenak ku ' semua orang punya kesempatan untuk berbuat sama'.
Bahagia hari ini semoga terus aku rasakan. Tanpa kepalsuan senyum dan tawa lagi.
Mungkin jika takdir kematian ku bisa ditentukan sendiri. Aku ingin mati saat aku merasa sangat bahagia hari ini, agar aku pergi dengan perasaan bahagia.
Terlalu lelah ternyata akhir" ini kepala dan tubuh.
Saat tertidur pun tubuh tetap bekerja merespon apa yang ada di kepala.
Terlalu banyak yang terlintas dikepala, sulit sekali untuk meraih ketenangan isi kepala.
Ingat kepala mu tidak sebesar dunia jadi jangan tampung semua dan disimpan. Begitulah ucapku pada diri sendiri
Tidurlah, apa yang kau paksakan lagi untuk terus bertanggang di tengah keheningan malam?, riuh mana lagi yang mau kau dengar, tak letihkah kau bergumam dengan isi kepala yang tidak ada hentinya.
Lihat, tubuhmu semakin hilang daging yang padat sekarang menjadi kulit di balut tulang saja, yang awalnya berat dibawa melangkah, sekarang anginpun bisa dengan mudah menjatuhkan mu.
Apa lagi yang kau takutkan, apa lagi yang mengganggu mu, apa lagi??? Tak berterima kasih kah kau kepada tubuh dan roh yang ada pada tubuh mu saat ini? Ia yang selalu berusaha untuk terbaik agar kau tetap terus bisa bergerak, hargailah mereka. Tidurlah sekarang nikmati istirahat mu sebelum esok akan membantai mu lagi.
Riuh isi kepala ini sungguh tak bisa dikendalikan, terlalu bising sampai tak tau harus mana yg didengarkan.
Aku terlalu memaksa untuk diriku sendiri.
Menulisku terlalu lama berhenti, hingga aku tidak tahu harus memulai menulis dari mana. Benar ya semakin lama tidak membiasakan semakin hilang kebiasaan.