2016, Mataku Masih sering Sembab, Selamat Tinggal
Hari ini bahkan kamu (keramaian) pun mencari(ku). Berpikir bahwa aku akan nyaman bersamamu. Ahh, kamu tidak salah, mungkin karena hari ini orang-orang akan nyaman denganmu dan cenderung mencarimu. Tapi tunggu, aku tak seperti mereka.
Bukan merajuk padamu. Hanya saja tahukah kamu, kesenyapan selalu lebih berpihak padaku. Kami tidak mencampakkanmu, kami hanya merasa nyaman satu sama lain. Sejauh hatiku coba memahaminya, dia (kesenyapan) tidak pernah sekalipun memaksaku tersenyum bila nyatanya air mataku sudah menggenang. Dia hanya membiarkanku menghujaninya dengan semua kesedihan yang kupunya. Dia bahagia, walaupun aku hanya datang padanya saat aku seorang diri.
Tahukah kamu? Selama ini aku tak mampu mencari selainmu, mungkin karena aku takut kehilangan orang-orang yang begitu bergantung pada keberadaanmu. Mungkin juga aku yang sudah terlalu lelah bergerak dalam diamku. Hanya saja, itu cukup mengganjal hati. Kamu selalu tampak lebih kuat, aku bahkan malu untuk mengeluh padamu. Aku ingin bersamamu, tapi haruskah aku memaksa senyumku merekah setiap hari? Bahagia walau pahit dalam dadaku? Menari walau hati terasa lemas?
Aku tidak mau semakin lama menyiksa diri. Aku punya beberapa pilihan yang setidaknya memberikan ruang pada hatiku untuk berteriak, untuk mengeluh, untuk merasa lemas, dan untuk segala sesuatu yang sulit dibagi bersamamu. Jangan marah, aku tetap memilihmu pada akhirnya, karena tidak ada satupun yang tidak mencintaimu. Aku hanya ingin sedikit menjauh darimu, memilih untuk terbelenggu dalam tenang.
Menurutku, malam ini akan sangat sukses bersamanya. Entahlah, aku sangat tidak sabar melewati malam ini bersamanya. Dada ini terasa luas seiring berjalannya waktu menuju padanya. Hati ini lebih bersemangat. Apa dia menantikanku? Apa dia masih tetap sama? Akankah dia siap melihat genangan pada kedua mata yang saat ini sudah mulai memerah? Aku benar-benar akan mempercayakan malamku padanya.
Dan sampailah aku pada malam ini. Duduk dalam diamku, mendengar beberapa musik “country” bersamanya. Didepanku tidak ada kopi, aku hanya ingin berdua, tidak mau diganggu oleh kopi yang aromanya sungguh sangat sulit kutolak. Aku diam, mencoba mengingat kilas balik kehidupanku, setidaknya satu tahun kebelakang. Dan saat inilah, dia sangat bisa kuandalkan.
Hidup akan tetap maju, dan mungkin dia (kesenyapan) akan menjadi pengisi hari-hariku saat lelah melalui segala hal didepan. Akan lebih banyak waktu kuhabiskan untuk merenungi apa yang sudah kulakukan dan apa yang akan membuatku tidak sia-sia ada disini.
Aku akan ingat, Keramaian bukan segalanya. Kesenyapan pun mencintaimu. Jadi, cobalah berbaur dengan keduanya tanpa membuat salah satunya cemburu.
Kamar sempit, 31 Desember 2016, 21.20 WITA