Rupa Hidup dan Sahabatnya #perenungan
Hidup itu seperti seorang teman. Kadang ia datang dengan wajah murung dan penuh luka. Di lain waktu ia bisa datang dengan wajah bercahaya penuh semangat dan kebahagiaan.
Saat ia datang dengan wajah murungnya, ia tak butuh penghakiman kita. Tak perlu kita mencacinya karena derita atau kesalahan yang mungkin tengah dialaminya. Apalagi jika kita tak mau tahu apa yang terjadi padanya. Terima saja ia apa adanya. Ajaklah duduk bersama, mungkin juga dengarkan ia bercerita. Tak perlu juga menyela, cukup nikmati saja alur ceritanya. Jadilah teman yang baik untuk Hidup kita.
Di waktu yang lain, mungkin Hidup datang dengan riang gembira. Tak perlu iri kepadanya. Ia hanya sedang menikmati musim lain dalam perjalanannya. Turutlah berbahagia bersamanya. Temani ia bertukar cerita dan rasa syukurnya. Ucapkan selamat dan nikmati meski itu tak akan lama. Bahagia di Hidup memang selalu hanya sementara.
Hidup juga sering kali tak menunjukan rupa apa-apa. Tampak tak sedih, tak juga bahagia. Ini yang berbahaya. Karena di masa-masa ini sebenarnya Hidup tengah berada di medan pertempurannya. Bisa saja kalah, atau berujung kemenangan.
Di masa Hidup tampak biasa-biasa saja, seakan tiada apa-apa, biasanya hatinya menjadi tempat badai bergelora. Ini adalah masa pertempurannya dengan diri sendiri. Antara gengsi dan kejujuran hati.
Ketika Hidup tengah menjadi tenang-tenang saja. Bisa saja, ternyata Hidup sedang menghindari banyak hal. Menutupi sesuatu. Mengingkari bahagia maupun derita. Bukannya menghadapinya.
Itulah Hidup, ia bagai seorang teman atau sahabat yang selalu hadir kepada kita dalam segala keadaannya. Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi juga ada sahabat yang lebih karib dari seorang saudara.
Kita bisa menentukan peran terhadap Hidup ini. Juga dapat mengukur, Hidup sekarang sedang datang dalam rupa apa? Sedih, senang, atau biasa saja seakan tak ada apa-apa. Tentukanlah sikap kita.
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
Lantas, mau menjadi teman seperti apa kita bagi Hidup kita sendiri?
 Sebuah perenungan.
Matheus Aribowo
9 Januari 2018













