Hari ke-4: Fragmen-fragmen Bapak (Fragmen 1)
Kerumunan orang menyemut berkumpul di sebuah bidang tanah yang cukup luas. Siang itu, yang hidup dan yang mati menjadi satu, saling beruluk salam dalam diam. Kuburan Panggung terlihat sangat ramai, didatangi puluhan -mungkin juga jumlahnya sampai seratus lebih- pelayat yang tengah mengantar seorang anak Adam ke tempat peristirahatannya setelah alam dunia, Tumpah ruah dari gerbang pemakaman sampai ke sebuah makam yang baru digali di dekat sebuah pohon.
Aku berdiri di dekat kerumunan di sisi jalan setapak menuju makam yang baru itu. Tanganku bersidekap, sementara dengung obrolan pelan orang-orang di sisi kiri dan kananku tak lagi terdengar jelas. Prosesi pemakaman masih berlangsung, beberapa meter saja di depanku
Satu-persatu orang-orang yang berdiri di dekat makam yang masih segar itu perlahan pergi, meninggalkan tak lebih dari kerabat-kerabat dekat si jenazah.
Pelan-pelan, aku melangkahkan berjalan makam itu. Menghindari puluhan penghuni yang sudah ada di sana terlebih dahulu, aku menghujamkan tapak-tapak kakiku di tepian-tepian kuburan
Telepon genggamku berbunyi, memecahkan konsentrasiku malam itu yang tengah menekuri lembaran-lembaran buku teks kuliah. Sebuah SMS masuk, tulisan “Bapak” berpendar terang di bawah gambar amplop berwarna kuning.
Sepedamu sudah terlalu tua. Bapak ganti ya. Mau sepeda Fixie?
(Saat itu, sepeda dengan hanya satu stelan roda gigi itu memang tengah naik daun.)
Enggak pak, sepeda biasa saja. Terima Kasih.
Sebenarnya, saat itu aku pikir tidak perlu juga mengganti sepedaku yang sudah nyaris lima tahun usianya itu. Toh aku memang tidak akan membawa sepeda ke rantau. Selain karena kontur tanahnya yang naik-turun terlalu berat untukku mengayuh sepeda, tempat aku tinggal di rantau tidak memiliki ruangan cukup besar untuk parkir, bahkan sekedar sebuah sepeda, karena letaknya yang menyempil di gang sempit diantara deretan rumah-rumah kos.
Tapi toh Bapak membelikanku juga. Sebuah sepeda baru berwarna merah-hitam, nyaris sama dengan cat sepedaku yang lama, berpindah kepemilikan dari toko sepeda milik pasangan Tionghoa yang terletak di Jl. Ahmad Yani Tegal ke rumahku. Kayuhannya nyaman, rangkanya kukuh, dan yang jelas tidak akan lagi berbunyi jegleg ketika aku harus mengalihkan dari roda gigi satu ke roda gigi lainnya.
Aku tak memintanya, tapi Bapak membelikannya. Selama bertahun-tahun, begitulah salah satu pola interaksi kami sebagai ayah dan anak. Diluar kebutuhan dasar kami, aku jarang sekali meminta sesuatu kepada Bapak selain yang benar-benar urgen (komputer, misalnya). Aku seringkali terlalu malu untuk sekedar berkata “Pak, saya pengen ini dan itu” tanpa harus menunduk ke bawah atau suara bergetar.
Ini yang membuat Bapak mungkin agak kesal juga. Beliau pernah berkata dengan nada sedikit marah kepadaku “Kamu kalau minta apa-apa bilang saja!” kata beliau suatu ketika. Mungkin sebagai seorang ayah beliau juga ingin anak lelaki satu-satunya ini sedikit bermanja-manja. Payahnya, aku memang terlalu pendiam kadang-kadang.
Tapi toh Bapak tetap membelikanku banyak hal tanpa aku memintanya. Waktu SD, beliau pernah mengkopikan satu set ensiklopedi anak terbitan Dorling Kindersley yang ada di sekolah tempat beliau mengajar. Pernah juga beliau pulang kerumah membawa tumpukan buku-buku tebal berwarna kuning yang berat.
“Ini dijual Rp. 5000 per kilo di tempat penjualan barang bekas,” kata beliau. Setelah aku buka, ternyata setumpuk majalah National Geographic edisi lama yang masih tertulis dalam bahasa aslinya. Aku senang sekali, meskipun bahasa Inggrisku saat itu masih belum begitu bagus, setidaknya aku bisa memahami satu-dua kata sambil menikmati gambar-gambarnya.
Ketika aku beranjak dewasa, Bapak sepertinya semakin concern dengan masalah penampilanku. Karena badanku yang besar dan agak sulit untuk mencari ukuran bajuku, beliau sering membelikanku baju-baju branded berukuran besar sisa ekspor yang dijual oleh salah satu teman beliau dengan harga miring. Beliau juga membelikanku replika jam tangan Rolex berwarna hitam, yang aku persilahkan Bapak saja yang memakainya karena aku lebih suka melihat jam lewat telepon genggamku.
Begitulah, aku jarang meminta, namun beliau sering memberi tanpa diminta. Untuk mengucapkan terima kasih pun suaraku tidak begitu keras saking malunya.
Oh iya, aku ingat. Salah satu momen di mana aku meminta sesuatu dari beliau terjadi menjelang Hari Raya Lebaran tahun 2011. Kala itu, Bapak baru saja mendapat sebuah sarung yang dibagikan oleh panitia haul peringatan kematian salah satu habib yang ada di kota kelahiranku. Sarungnya bagus, warnanya biru dengan garis-garis horizontal dan aksen-aksen yang elegan. Cocok dengan baju Lebaranku saat itu yang juga berwarna biru.
“Ini buat saya ya, Pak?” pintaku ketika itu. Beliau mengiyakan sambil tersenyum. Mungkin beliau menanti-nanti anak laki-laki bungsunya ini untuk benar-benar meminta sesuatu, dan itu terjadi di momen istimewa menjelang Hari Raya.
(bersambung ke fragmen 2)