Steal Someone's Heart
I can't remember the last time I had butterflies flying in my stomach, maybe a long time ago. Terakhir saya memiliki hubungan serius dengan seorang wanita adalah 2 atau 3 tahun yang lalu dan berakhir kandas. Sebuah pengkhianatan tidak bisa saya toleri, apalagi orang yang saya sayang merusak kepercayaan yang saya beri. Kalaupun memang sudah tidak mau bersama dengan saya, katakan saja yang sejujurnya, toh, saya tidak akan memaksa. Karena saya tidak mau menjalin suatu hubungan dengan keterpaksaan dari salah satu pihak.
Saya kembali fokus pada ombak yang sedang bergulung di belakang sana, menyiapkan posisi untuk menaklukan kembali gulungan ombak tersebut. Sudah 3 hari saya berada di Pulau Dewata karena urusan pekerjaan dan hari ini saya memutuskan untuk extend hari karena sudah lumayan penat merasakan hiruk pikuk ibukota. Papan surfing yang saya naiki dengan mulus mengikuti gerakan ombak yang lumayan tinggi dan menepi dengan sempurna di sisi pantai. Karena sudah cukup lama bermain surfing, saya memutuskan untuk kembali ke pantai dan berencana menikmati matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Sambil menenteng satu cup ice americano dan papan surfing, saya berjalan menyusuri pantai yang tidak terlalu ramai ini untuk menentukan tempat berisitrahat sembari menyaksikan sunset.
Tuhan sepertinya ingin memberikan saya kejutan. Saya bertemu kembali dengan Abigail, wanita yang menyita perhatian saya saat acara seminar dulu. Sebelumnya saya tidak sempat untuk mencari tau lagi tentang wanita tersebut, namun Tuhan ternyata punya jalan lain untuk saya mempertemukan kembali dengan wanita itu. And Surprisingly, she accepted my invitation for dinner. Saya cukup senang mengetahui bahwa malam ini saya akan menghabiskan waktu makan malam dengan wanita yang mencuri perhatian saya.
"Ini beneran gak apa - apa makan steak?" Saya berjalan bersisian dengannya menyusuri pantai
Dia tertawa, "Kamu udah nanyain ini dua kali, nanti kalau nanya lagi saya kasih piring cantik loh!" Candanya
"Saya beneran bosen makan seafood jadi gak apa - apa kita sekarang makan steak aja." Sambungnya lagi
"Alright, saya mau mandi dan ganti baju dulu ya sebelum kita makan malam gak enak habis main air laut kalau gak mandi." Ujar saya kepada wanita yang sedang memainkan pasir dengan kakinya itu
Dia menganggukan kepala, "Silahkan Mas, saya juga kayaknya mau ganti baju dulu."
"Kamu nginep dimana, Bi?"
Dia menunjuk hotel yang tidak jauh dari pantai yang sedang kami susuri ini. "Disitu, Mas, biar deket kalau pengen ke pantai."
Saya terkejut menemukan fakta berikutnya yang membuat saya senang bahwa hotel yang saya inapi sama dengan hotel yang wanita ini tempati. "Abi, saya juga nginep di hotel itu."
"Hahh?! wahh kebetulan banget sih ini, Mas." Sahutnya dengan wajah kebingungan tapi justru membuatnya makin lucu
Makan malam kali ini menjadi lebih seru karena suara Abigail yang asyik mengomentari rasa daging wagyu a5 yang baru saja dia cicipi itu. Saya gak nyangka wanita dihadapan saya ini adalah sosok dengan wawasan yang luas bahkan disaat saya membicarakan tentang otomotif dia dengan luwesnya menanggapi cerita saya. Tuhan, kalau kayak gini saya jadi makin suka sama perempuan dihadapan saya ini.
Selesai menghabiskan semua makanan, Abi meminta segelas wine untuk menemani obrolan kita berdua yang saya tebak mungkin masih akan berlangsung lama.
"Jadi, sebenarnya kamu ini kabur ke Bali, Bi?" Tanya saya setelah mendengar ceritanya tentang masalah yang sedang dia hadapi.
Jujur saya kaget juga denger Abi tiba - tiba dengan santainya menceritakan masalah yang membuat dia lari dari Ibukota. Apa karena pengaruh wine yang membuat dia menjadi lebih relax? atau memang dia butuh teman curhat. Saya gak tahu.
Abi terlihat mengangguk, "Saya pusing banget diem terus di Jakarta, mana setiap minggu saya diteror sama ibu saya lagi."
"Mas, kamu mau gak pura - pura jadi pacar saya? sampai saya kenalin ke orang tua saya, terus gak lama nanti saya bilang aja kita putus karena gak cocok." Sambungnya lagi yang membuat saya tersedak dan meringis karena tersedak cairan alhokol yang sedang saya minum.
Wanita ajaib. Pikir saya setelah berhasil meredakan batuk dan keterkejutan saya.
"Kamu mabuk, Abi. Sebaiknya kita sekarang pulang, ayo, saya antar kamu sampai ke depan kamarmu." Balas saya
Saya memang menyukai perempuan disamping saya ini, yang sekarang sedang berjalan sedikit terhuyung menandakan bahwa dia sedikit mabuk. Namun, saya tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Saya tidak mau main - main dengan suatu hubungan, sudah bukan umur saya untuk terlibat dengan suatu drama dan kebohongan. Lagipula, saya juga gak yakin dengan apa yang Abigail inginkan karena wanita itu tidak sepenuhnya sadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Mas, permintaan saya serius. Kamu gak mau nolong saya? nanti saya bantu ngomong ke Pak Dirut biar perusahaan kamu bisa masuk bursa klien kami lagi. Ya ya yaaa?" Ucap Abi setelah sampai di depan hotel yang kami tempati.
God, wanita ini benar - benar!
"Saya gak perlu bantuan kamu, Abi, untuk masuk ke bursa klien perusahaan kalian."
Abigail berdecak dengan mulut mencebik, bikin saya penasaran apa rasanya bibir wanita yang sedang berusaha merayu saya ini. Oke, Jo mari bersihkan pikiran kotormu itu!
"Kamu jahat! saya males ketemu kamu lagi!" Serunya sambil menghentakan kaki lalu berjalan terhuyung ke arah lift
Saya buru - buru mengejar dia dan membantunya untuk berdiri dengan benar. "Kamu mabuk, Abi, Besok kita bicarakan lagi tentang semua ini. Deal?" Tawar saya
"Deal." Sahutnya terdiam cukup lama dengan mata tertutup. Padahal sebelumnya dia mengatakan malas bertemu saya.
Saya tersenyum seraya merapihkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. "Kamar kamu lantai berapa, Abi?"
"508"
Setelah dia menyebutkan nomor kamarnya saya langsung mengarahkan jari menekan tombol angka 5 di lift untuk mengantarkan wanita itu sampai depan kamarnya. Saya bertanggung jawab mengantarkan wanita ini sampai kamar hotelnya dengan selamat. Namun, saya tidak pernah menyangka bahwa niat baik saya itu malah membawa saya kedalam sebuah hubungan yang tidak saya sangka sebelumnya.












