Labuha: Menjadi Guru Sehari
Berhadapan dengan anak-anak, bukanlah hal yang baru bagi saya. Sebagai seorang dokter, hampir setiap hari saya menangani pasien anak-anak dengan berbagai problema kesehatannya, baik di puskesmas maupun rumah sakit. Ditambah lagi, sejak saya masih menjadi mahasiswa kedokteran, sudah beberapa kali terlibat dalam kegiatan sosial yang sasarannya adalah anak-anak, misalnya sunatan massal, penyuluhan kesehatan tentang pola hidup bersih dan sehat untuk anak-anak, dan masih banyak lagi. Usia anak-anak ini juga beragam dari mulai prasekolah hingga remaja. Menyisipkan muatan edukasi dalam praktik sehari-hari saya juga bukanlah hal yang asing. Sebagai bagian dari tatalaksana pasien, saya selalu memberikan penjelasan tentang bagaimana mencegah penyakit muncul kembali, mengonsumsi obat yang baik, dan menjelaskan secara sederhana tentang penyakitnya. Sehingga bisa dibilang, semestinya, tidak banyak kesulitan yang akan saya temui jika ‘sekedar’ mengajar anak-anak.
Adalah Kelas Inspirasi yang berhasil mengubah pandangan saya tentang guru di Indonesia. Program yang awalnya diinisiasi oleh Pengajar Muda (PM) dari Indonesia Mengajar ini adalah yang kedua kalinya diadakan di Halmahera Selatan. Inisiatif positif ini langsung disambut baik oleh banyak kalangan profesional dan juga aktivis lokal yang menaruh perhatian pada pendidikan anak-anak, terutama tingkat SD. Sehingga tahun ini, perhelatan yang mengusung semangat “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” , cukup menarik banyak relawan yang tergabung menjadi panitia, inspirator, dan dokumentator. Inspirator inilah yang datang ke SD-SD di desa yang jauh dari ibukota kabupaten (bahkan ada yang jaraknya 3 jam melalui jalur laut) untuk menjadi guru sehari, mengajarkan tentang profesi yang mereka geluti supaya siswa tidak hanya tahu bahwa pekerjaan itu hanya guru, bidan, nelayan, dan petani saja dan anak-anak pun menjadi semakin semangat belajar untuk mengejar cita-citanya.
Tim relawan berangkat ke Torosubang :)
Desa Torosubang dihuni oleh suku Bajo yang terkenal pandai menaklukan laut dan tinggal di atasnya.
Disambut oleh anak-anak yang sudah berbaris rapi
Beberapa hari menjelang hari-H Kelas Inspirasi, saya cukup bingung tentang metode yang harus saya lakukan untuk mengajarkan anak-anak tentang profesi dokter. Selama ini yang anak-anak tahu, dokter adalah ‘tukang suntik’ dan sulit membedakannya dengan mantri, perawat, atau bidan. Oleh karena itu, saya mengeluarkan kemampuan imajinasi terbaik saya (yang mana sudah jarang saya gunakan) dan menempatkan diri saya sebagai anak-anak. Kira-kira, jika saya masih anak-anak, hal apa yang akan saya suka untuk pelajari. Jadilah saya membuat alat peraga organ-organ dalam tubuh manusia dengan penjelasan tertulis di baliknya, supaya bisa disusun oleh anak-anak. Saya berharap potongan-potongan kertas ini bisa menjelaskan tentang apa yang yang dilakukan oleh dokter.
Pada hari kegiatan berlangsung, saya mengajar tiga kelas, yaitu kelas 5,6, dan yang terakhir kelas 1 yang digabung dengan kelas 2 di SDN Torosubang, sekitar 20 menit jalur laut dari kota Labuha, ibukota Kabupaten Halmahera Selatan. Memasuki ruangan kelas untuk pertama kalinya, saya cukup grogi. Begitu saya masuk, ketua kelas langsung menyiapkan seisi kelas dan memberi salam untuk saya. Saya menjawab salam dengan perasaan senang sekaligus berdebar-debar. Seisi kelas yang jumlahnya kurang dari 20 siswa, semua memandang ke arah saya dengan mata yang berbinar-binar. Saya cukup nervous mendapatkan tatapan seperti itu. Akhirnya saya mencairkan suasana dengan cara membuka sesi dengan nyanyian. Kemudian kelas pun berjalan dengan lancar, meskipun ada saja satu-dua anak yang ketika saya sedang menjelaskan, dia malah tidur-tiduran di lantai atau diam saja di pojokan kelas. Butuh usaha lebih untuk membuat anak-anak seperti itu tertarik pada kita.
Berperan menjadi dokter-pasien di depan kelas :)
Suasana yang sangat berbeda saya rasakan ketika mengajar kelas kecil, yaitu kelas 1 dan 2. Semua anak berlarian kesana-kemari, berteriak satu sama lain, saling pukul, menarik-narik baju saya untuk mencari perhatian, naik-naik ke atas meja untuk memandang hujan di luar kelas, dan masih banyak lagi. Metode yang saya gunakan untuk kelas kecil ini cukup sederhana. Alih-alih menjelaskan dengan potongan-potongan organ tubuh dari kertas, saya hanya mengajak anak-anak belajar cuci tangan dengan nyanyian, bercerita tentang kuman di tangan yang bisa menyebabkan diare, dan bermain dokter-dokteran. Meski sudah berusaha untuk semenarik mungkin, anak-anak ini nampak sulit memusatkan perhatiannya. Sedikit-sedikit,”Bu, bu saya mau nyanyi bu!”, “Bu, bu si X itu suka bolos, bu” dan celotehan-celotehan lainnya yang tidak relevan dengan topik yang sedang saya bicarakan di depan kelas. Kondisi ini lantas membuat saya harus berteriak-teriak hingga suara habis dan kepala pusing tujuh keliling!
Ternyata, kesulitan yang saya alami ini juga dialami oleh bapak tentara, polisi, dan inspirator lain yang juga mengajar di sekolah tersebut. Bahkan cerita unik lainnya dari inspirator lain, banyak anak-anak yang tidak tahu bahwa ibukota Indonesia adalah Jakarta, dan presiden kita adalah Jokowi. Wawasan mereka sangat kurang dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka yang berada di kota-kota besar. Jarang mereka mendapatkan asupan buku-buku cerita layaknya anak-anak di kota yang sudah maju. Guru-guru sering kebingungan saat mengajar anak-anak karena terbatasnya fasilitas dan terbatasnya tenaga pengajar. Sekolah saya kebetulan adalah sekolah yang kondisinya sudah cukup baik, jika dibandingkan sekolah di desa lain yang dimana bisa dalam satu hari sama sekali tidak ada guru yang datang. Hal ini mengakibatkan ilmu dan kecerdasan anak kurang. Lulusan SD pun banyak yang belum lancar membaca dan menulis.
Saya bersama murid kelas 5 yang antusias mengetahui organ-organ yang mereka pegang :)
Tantangan dalam pendidikan anak ini sangat berat jika membayangkan ini hanya dibebankan kepada guru. Bisa dibayangkan kesulitan yang saya alami selama sehari itu dihadapi oleh guru selama bertahun-tahun! Dari mulai mempersiapkan pelajaran (lesson plan), aktualisasinya, hingga evaluasi kegiatan belajar-mengajar yang membutuhkan kreativitas. Tentu sangat menguras tenaga. Belum lagi kesejahteraan guru di desa masih banyak yang belum terjamin, sehingga mereka harus menyambung hidup dari pekerjaan lain seperti menjadi tukang bangunan, berkebun, berdagang, dan lain-lain. Semestinya orang tua, komunitas, kepala desa, hingga bupati harus ikut turun tangan untuk pendidikan ini. Bukan hanya merumuskan kebijakan tanpa melihat realita di lapangan. Kadang apa yang diperlihatkan oleh orang-orang di sekitar anak, di rumah, di lingkungannya tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh guru. Misal, orang tua kerap langsung memukul anak bila salah, padahal di sekolah guru mengajarkan kepada anak untuk tidak saling pukul dan menyelesaikan permasalahan dengan baik. Hal-hal kontradiktif inilah yang harus dihindari dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak-anak belajar hal yang baik. Jelaslah bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab kita yang terdidik, setidaknya dengan memberikan teladan kepada mereka.
Pak Tentara mengajarkan membuat burung-burungan
Semoga ini hanyalah awalan kami berkontribusi untuk pendidikan
Oleh karena itu, di hari guru ini saya ingin menyampaikan kekaguman dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua guru di pelosok negeri ini yang masih berikhtiar mengajar anak-anak di sekolah dengan tulus. Merekalah agen perubahan bangsa. Dan percayalah kawan, menjadi guru bukanlah hal yang mudah.