Pileuleuyan
X: “Sen, mau internsip dimana?”
Y: “Maumere!”
Setiap ditanya begitu, selalu semangat jawab Maumere. Sedih? Nggak. Malah excited, ga sabar buat cepet-cepet pemilihan wahana, bisa dapet wahana sesuai dengan keinginan ga ya. Sahabat-sahabat yang tau kemungkinan ga bakal ketemu lagi dalam waktu setahun (atau mungkin lebih) mendadak mellow begitu tau saya memilih internsip di Maumere. Padahal yang akan pilih dan berangkat ke Maumere aja biasa aja.
Sampailah di hari pemilihan wahana internsip. Setelah bingung mau pilih di warnet mana, akhirnya salah seorang teman dengan baik hati memberikan seat warnet yang sudah dia booking, konon katanya warnet paling kenceng se Bandung Raya. Satu jam sebelum pemilihan, sudah stand by di warnet. Ga sendiri ternyata, banyak teman-teman yang juga mau pilih wahana internsip hari itu. Semua sudah siap di depan komputer masing-masing, dengan muka tegang dan mulut yang melafalkan doa-doa demi masa depan mereka. Pukul 9.00 WIB, pemilihan wahana yang dilakukan secara online itu pun dimulai. Suasana semakin tegang ketika layar komputer menunjukkan bahwa server down. Damn! Karena kuota setiap wahana terbatas, sedangkan peserta seluruh Indonesia berjumlah ribuan, tentu waktu satu detik sangat berharga. Segala usaha dilakukan termasuk meminta bantuan teman yang online di kota lain karena takut tidak kebagian wahana yang diinginkan.
Setelah hampir 1 jam server down, akhirnya beberapa komputer bisa mengakses website pemilihan wahana. Tanpa pikir panjang, saya langsung masuk dan mencari wahana pilihan saya, RSUD T. C. Hillers Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Ketika proses pencarian, sempat lama loading, saya kira wahana Maumere sudah habis, jadi saya berniat untuk langsung mencari wahana Waingapu. Ternyata ketika saya akan mengetikkan kata Waingau, pilihan wahana Maumere masih ada. Langsung saja saya klik pilih. Halaman website pun berubah. Sekarang layar komputer menampilkan lembar pakta integritas, yang menandakan bahwa saya diterima di pilihan wahana saya. Yes! Refleks berteriak saking senangnya.
Tapi, kebahagiaan itu hanya beberapa menit menetap. Sekarang, saya benar-benar akan pergi meninggalkan Bandung untuk waktu yang tidak sebentar. Meninggalkan keluarga, meninggalkan teman, meninggalkan rutinitas, meninggalkan kota bersama kenangan didalamnya. Seketika hati saya menjadi sendu. Apa bisa tahun depan saya kembali lagi ke Bandung? Apa saya tahan untuk tidak pulang selama satu tahun?
Akhirnya saya putuskan untuk “berpamitan” dengan Bandung. Berpamitan dengan teman. Berpamitan dengan makanan. Berpamitan dengan jajanan. Berpamitan dengan setiap sudut kota yang sarat akan kenangan sejak pertama kali tinggal di kota ini 10 tahun yang lalu. Saya pun membuat wish list tempat yang ingin dikunjungi, makanan yang ingin di makan, dan kegiatan yang ingin saya lakukan sebelum saya pergi. Belum pernah saya sesedih ini meninggalkan Bandung. Bahkan cuma berjalan melewati jalan yang sering saya lalui ketika masih SMA saja saya terharu.
Belum lagi pamitan dengan teman-teman yang sudah sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing. Sulit sekali menyamakan jadwal untuk sekedar bertemu mengucap salam perpisahan. Karena masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, dan agenda ke Semarang yang tidak bisa dilewatkan, alhasil saya tidak bisa bertemu dengan semua teman-teman saya untuk berpamitan secara langsung. Termasuk pamitan sama Sam dan Eka. Sedih. Banget.
Bersyukur masih sempat bertemu dengan teman-teman, walaupun hanya sedetik. Setiap waktu yang dilalui bersama benar-benar terasa berharga. Karena kita tidak tahu lagi kapan bisa bertemu kembali. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup saya. Dan sekarang, dengan berat hati saya harus mengucapkan “sampai jumpa kawan!”
Dan hal terberat lainnya adalah harus pindah meninggalkan kota yang sudah 10 tahun ditinggali. Berat sekali rasanya. Seperti kata Pidi Baiq, “Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis, Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.”
Hayu batur hayu batur urang kumpul sarerea Hayu batur hayu batur urang sosonoan heula Pileuleuyan pileuleuyan sapu nyere pegat simpay Pileuleuyan pileuleuyan paturay patepang deui Amit mundur amit mundur amit ka jalma nu rea Amit mundur amit mundur da kuring arek ngumbara












