Sebagai alumni Institut Pertanian Bogor (IPB), agaknya kita punya beban lebih berat. Ya, aku selalu membayangkan universitas lain yg tidak melekatkan nama “pertanian” pada institusinya. Membayangkan mereka lebih awam dengan dunia pertanian daripada kita. Seperti banyak kasus-kasus yang kuperbincangkan dengan temanku yang non-pertanian dari universitas lain, mereka begitu heran mendengar isu-isu konversi lahan produktif, mafia pasar, petani yang selalu kalah dengan para pemodal, hama penyakit tanaman, harga jual yg sering jatuh, kebijakan yang kurang tepat sasaran, sampai masalah teknis pertanian. Hmmm…
Ketika di luar menggema dan bangga dengan sebutan “world class university” lalu aku menengok nasib petani-petani kita yang belum sejahtera, dan negara yang masih impor produk pertanian besar-besaran. Agaknya lucu.
Sepertinya belum mampu menyejahterakan petani di negeri sendiri tapi seakan sudah mendunia.
Inovasi-inovasi yang diciptakan para ahli itu, semestinya mampu meretas persoalan yg dihadapkan pada pertanian kita.
Begitu banyak publikasi ilmiah, kira-kira berapa persen yang sudah diterapkan di lapangan? dan dimanfaatkan untuk pengabdian pada masyarakat serta bumi pertiwi?
Ada yang bilang “pertanian bukan semata-mata tanggung jawab orang-orang IPB”. Iya memang, tapi “sudah wajib dan selayaknya” orang-orang di IPB peduli. Namun memang, aku masih menemukan teman-teman alumni yang masih “cuek” dengan isu-isu pertanian meskipun mereka lulusan pertanian.
Jika kita semua mau bekerja keras. Jika pemerintah mendukung dan mau memberdayakan lulusan pertanian untuk beramai-ramai mendampingi petani, menularkan ilmu, belajar bersama, mungkin pertanian kita bisa lebih maju. Iya jika saja ada dukungan sebesar itu.
Yuk kita terus belajar bersama, agar dunia pertanian tetap menarik. Pada awalnya ada yang bilang padaku “sarjana pertanian gak harus kotor-kotoran dan berlumpur kok, tapi bisa juga berdasi dan ber-hak tinggi”, tapi sekarang aku berpikir “sarjana pertanian harus mau kotor, menyentuh lumpur, dan bisa menanam”. Ya siapa lagi yang mau mempraktekan? Kalo tidak diawali dari kita sendiri.
Karena pada akhirnya jika teori tanpa praktek hanyalah retorika, jadi jangan enggan untuk terjun ke lapangan.
Aku inget kata-kata di ijazah, “Telah diberikan kepadamu gelar ‘sarjana pertanian’ dengan segala HAK dan KEWAJIBAN, yang melekat pada gelar tersebut” . Dalem banget. Asli.
Buat teman-teman ku sarjana pertanian yang kerja di luar bidang atau di perbankan, sah-sah saja, gak masalah. Tapi kalau kalian sudah sukses, pliss buat usaha di bidang pertanian ya.
Tetap genggam mimpi “memajukan pertanian”. Kita saling mendoakan. ^^