BULAN di atas kuburan. Kian mendekati lebaran. Kawanku yang Madura sudah bersiap pulang. Sitor sedang ngapain? “Memandang bulan dari dalam kuburan,” jawabnya pelan. “bocah dungu, sudahi lamunanmu, kau sedang ada di jalan! Mau kau menemaniku, memandang bulan dari dalam kuburan?”
Tetiba saja Mazda hitam ngebut mengasapi wajah rupawan. Debu beterbangan. Pria tua berjalan sendirian di tengah jalan. Memakai batik dengan kain mengkilap, bersandal swallow hijau, kopiah hitam. Kucing oranye sedang bertualang mencari makan. Di pinggir-pinggir Lapangan Karang. Mencari sisa-sisa makanan peninggalan. Mobil ambulan terparkir rapi di depan pintu masuk RSU Muhammadiyah. Ada bapak membonceng anak. Lengket di belakang, si bocah menggunakan helm hijau tua ojek onlen, sedang bapaknya tidak. Hampir botak, satu senti, beruban.
Jalanan lengang. Masuk gang sebelah pasar swalayan, tampak beberapa pemuda dan orang tua kampung sedang beronda. Mengenakan sarung, menepas angin dingin dari selatan. Tampak mereka saling bersenda-gurau tak karuan. Mungkin membicarakan apa guna kampas rem dan atau jalur mana paling berbahaya serta mana yang paling banyak kecelakan lalu lintasnya di sana. Si orang tua berkupluk cengengesan saja. Tak terlalu paham obrolan kawula muda.
Malam telah masuk sepertiga. Melewati pasar ibukota yang telah tua, beberapa lapak pedagang telah siap-sedia. Di muka pasar, berjalan pria tua berkopiah putih, bungkuk berpegang tongkat jati, membawa sebungkus nasi dalam kresek merah berani. Demi lintang selatan, kenapa malam ini ada banyak sekali pria tua yang tampak layu menyedihkan?
Di timur pasar, ada lagi pria paruh baya tampak menerawang jauh. Siul-siul. Bersandang kupluk dan sarung loreng coklat-putih mengabu. Entah sudah berapa lama tak direndam dengan deterjen. Dia berdiri, dengan jari-jari tangan kanan menyumpit sigaret utuh. Akan dipanggang menjadi abu. Walau demikian, tampangnya tak sepenyair itu. Dia menghangat di sebelah api unggun yang masih ragu. Redup-redup.
Setengah kilo darinya, angkringan terakhir di setapak ini masih bermandikan cahaya merkuri lampu neon. Berisikan makhluk pemuja bulan. Sepengamatanku, warung itu buka 24 jam penuh — mungkin tutup selepas Shubuh dan berlanjut di jam 11 sebelum luhur — jarang ada bangku tak berempu. Yang kutahu lagi, pelanggan tetapnya adalah para supir yang datang silih berganti bersama rombongan turis.
Ya, demi malam. Jalanan sudah lengang. Kokok ayam saling menyahut. Suara adzan kemudian membuntut. Sedang dua kucing peliharaan saling meong-meong ribut. Meminta makan dan lainnya pingin buang hajat. Ya tuhan pangeran! Kenapa pakannya sudah menipis dan lampu rumah mati? Padahal ini bukan di Betawi. Ada rokok yang tertinggal cukup panjang tergeletak mesra di asbak di atas meja buluk. Berengsek, makhluk penipu itu masih berteriak. Sekarang malah membujuk-rayu agar boleh masuk bilik.
Demi skrotum! Lemut-lemut ini memang jahanam. Mereka tak menempel di kulit, tapi beterbangan menggoda memutari badan. Jika saja ku punya obat nyamuk…. Eh, asap!? Oh ya, aku juga punya sebatang sigaret impor dari hasilku memalak kawan. Bermerk Camel dengan bungkus kuning elegan. Ia kubakar nyaman. Asapnya lesap terjerumus dalam lambe, sebagian mungkin telah masuk ke kerongkongan. Ku keluarkan senyap-perlahan. Teringat jadinya, berapa sigaret yang telah kuhabiskan sehari-semalam? Tak peduli. Aku sudah Ejakulasi dini. Apa yang kutakutkan lagi? Peduli setan! Semoga nanti bangun sebelum luhur, agar apa yang dikatakan dengan ‘produktivitas’ itu nyata asanya.
Suara azan pertama diikuti pidato seorang Jawa tua dalam speaker, “Empun jam tigo luwih tigangdoso menit, bla bla,”. Enggeh aing ngerti kalo udah jam sakmono, pakdeee.
Emm, nyanyian lemut sudah sepi-redam sepertinya.
Debu rokok kian panjang sebelum kuhantarkan pada lubang. Ia merebah lunglai dalam kaosku yang hitam. Sial. Kala tanganku sibuk mengibas-ngibas. Kala asap sudah membumbung tinggi habis, suara berengsek tersebut merengsek hadir kembali. Mendengung lirih. eeeuuunngggwww.
Kubakar sigaret lintingan hasil olahan tangan yang sebelumnya telah kutemukan. Mute. Hampir ku bertempik sorak.
Namun kuberitahu kamu sesuatu: kisah tak berdaya-guna ini punya twist ending macam begini: tiba-tiba saja keributan muncul dari rumah tetangga yang jaraknya sepelemparan biji ketumbar dariku. Bayi meraong-raong sedang merajuk. Sungguh mengganggu!
Maka, tetap kuberucap: selamat pagi, malam.[]
==========
Sebelumnya terbit di medium.com/@artji.ananta pada 6 Agustus 2019. Saya memakai nama pena tersebut karena alasan keamanan, dari apa yang terjadi pada tahun 2018. Lupakanlah. Saya posting di sini karena saya mengalami kesulitan mengakses akun di medium.com.
Sop daging kuda ini sudah menjadi adi sajian di bbrp sudut kota Dolok Sanggul.Awam tidak tahu kapan kira2 kuda mulai dijadikan bahan dasar daging untuk makanan populer di Tanah Batak ini...Mendiang Sitor Situmorang (1993), menyebut bahwa pada jaman Hindu ada istilah aswamedha atau upacara kebesaran korban kuda yg hanya diselenggarakan oleh raja diraja. Konon aswamedha ini pernah dilaksanakan oleh Singamangaraja dgn sebutan Hoda Debata (kuda dewata).Biasanya berupa kuda hitam atau hoda silintom yg setiap tapaknya menyebarkan kesuburan dan tolak balak thp semua bencana..Apakah ada relasi antara sop kuda dan hoda debata?...Pengorbanan dan Kenikmatan 'konon' bisa berujung sama ketika yg pertama mjd poros dari laku manusia, dan satunya diresapi dgn hati nurani. #kedaulatanpangan #hodadebata #kudahitam #panganlokal #sitorsitumorang #doloksanggul
Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta? - Bukankah udara penuh hampa ingin harga? Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini Tapi jangan sampai terbakar sekali ... Nukilan #puisi berjudul Dia dan Aku karya #SitorSitumorang
Kabar duka berembus di linimasa Twitter hari ini (21/12/2014). Tak lain adalah perihal meninggalnya sastrawan besar tanah air, Sitor Situmorang (lahir 2 Oktober 1924 di Tapanuli Utara, Sumut). Diwartakan oleh Tempo, Sitor yang juga piawai menulis esai, cerpen dan drama itu meninggal dunia di Belanda. Jenazahnya disemayamkan di kediaman istrinya, Barbara Brouwer, di daerah Apeldoorn, sebuah gemeente Belanda yang terletak di Provinsi Gelderland.
Kepingan terakhir dalam jajaran Sastrawan Angkatan '45 yang menghembuskan napas terkahir ini terkenal dengan gaya --jika Mohammad Yamin dengan sonetanya-- maka Sitor lebih jauh lagi, pantun. Tiga tokoh terakhir lain yang sebelumnya wafat di usia senja adalah; Asrul Sani (10 Juni 1927 – 11 Januari 2004), Mochtar Lubis (7 Maret 1922 – 2 Juli 2004), dan Pramoedya Ananta Toer(6 Februari 1925 – 30 April 2006).
Karya pertama dari mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) ini yang saya baca adalah puisi berjudul "Malam Lebaran" yang hanya berisi satu bait; bulan di atas kuburan. Meskipun miskin kata, puisi tersebut memiliki kekayaan simbol dan makna. Untuk mengenang Sitor Situmorang, akan saya tuliskan satu puisinya. Selamat jalan, si anak hilang.
Tatanan Pesan Bunda
Bila nanti ajalku tiba
kubur aku di tanah toba
di tanah pantai danau perkasa
terbujur di samping bunda
Bila nanti ajalku tiba
bungkah batu alam letakkan
pengganti nisan di pusara
tanpa ukiran tanpa hiasan
kecuali pesan maha suci
restu ibunda di tatah batu :
Si anak hilang telah kembali
Kujemput di pangkuanku
vogels in the maannacht, gevoed door de stilte drinkend van de alang-alang, daarom de geest daarom de palmvezel daarom de klei daarom de steen daarom de meer daarom de wind gevlochten koord mijn bruggetje naar gindse wereld.. #sitorsitumorang #book #literature #poetry #Dutch