Gak nyangka, udah 10 tahun punya akun tumblr.

izzy's playlists!
sheepfilms

titsay

shark vs the universe
Peter Solarz
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available

No title available

roma★
🪼
Cosimo Galluzzi

⁂
Lint Roller? I Barely Know Her
taylor price
One Nice Bug Per Day

tannertan36
cherry valley forever
YOU ARE THE REASON
Sweet Seals For You, Always
Keni

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@minicornettoo
Gak nyangka, udah 10 tahun punya akun tumblr.
Jadi panitia penyelenggaraan Pemilu tingkat Kecamatan itu rasanya seperti healing. Rasanya seperti menemukan diriku yang dulu. Karena menjadi panitia penyelenggara pemilu itu harus selalu bertemu dengan banyak orang, yang ga kenal jadi kenal, yang ga tahu jadi tahu, dan yang udah tahu jadi semakin tahu. Awalnya rasanya kaya cape banget. Tapi lama-kelamaan bisa juga berinteraksi dengan banyak orang. Bahkan sekarang aku mulai merasa menemukan kebahagiaan saat bersama banyak orang. Sungguh sangat menyenangkan bisa mengisi ulang energi kebahagiaan saat bersama orang banyak.
Yang berani "hard conversation" biasanya hubungan akan lebih "easy". Yang cuma berani "easy conversation" biasanya akan lebih "hard"
Nemu quote ini di quora
---
In my opinion, ini berlaku untuk berbagai jenis hubungan; pertemanan, rumah tangga, orangtua-anak, bertetangga dll.
Makin kita menghindari hard conversation, makin renggang hubungannya. Makin menjauh. Nggak connect.
Namanya berinteraksi dgn manusia lain, pasti ada gesekan/konflik. Ya itu seninya.
Nah yang membedakan adalah... ketika ada konflik, ada jenis orang yg menghindar, ada yg menghadapi.
Menghindar sekilas memang terlihat sebagai solusi. Atau bahkan terlihat sebagai sikap yang positif karena terkesan sabar dan nggak mau memicu keributan. Tapi itu jangka pendek. Dan justru membahayakan hubungan. Karena jika dibiarkan, cepat atau lambat akan menjadi bom waktu.
Mengurai dan menghadapinya; lebih tepatnya mengkomunikasikannya adalah solusi jangka panjang. Memang nggak enak. Memang capek. Memang menguras emosi. Tapi setelah itu, perasaan jadi lebih lega. Dan terpenting: jadi sama2 tahu apa yang diinginkan dan dibutuhkan satu sama lain. Jadi bukan juga hard conversation tidak berujung macem debat kusir ya.
Well, ....this part of life is probably hard and tiring.
But we have no other choice except: face and accept it.
Until this struggle become easier.. Lighter... And give back to us in form of stronger and healthier relation.
Memang ada beberapa orang yang sulit buat mengungkapkan apa yang dirasakannya, sulit buat membuat keputusan. Bahkan hanya sekedar bilang “iya” atau “tidak”.
Tapi orang yang kaya gitu tuh sebenernya sadar ngga sih, kalau ada orang lain yang nungguin dia untuk membuat keputusan. Atau sebenernya malah lebih bodoh orang yang nungguin, karena pakai konsep gini “lah, udah tau orangnya kaya gitu, masih aja ditungguin”.
Yok bisa yok 2023.
2023 kayane gaweane mundak okeh, duite mundak okeh, mundak bahagia bab opo wae.
Aku ga mau yaaa kalau kangen sendirian.
Tak fatekahi bendino ki ben suk aku ra kecewa ben gampang ngeculke nek cen udu dalane. Utowo yoo ben dikei gampang nek cen dalane. Yo intine ben aku ki isoh ikhlas karo dalane gusti Allah.
Mbuh bab opo wae kui.
Ki aku wes muni kesalkesel ning nyatane yo jeh isoh mlaku. Aku ki kadang cen sok embuh. Aku sok wedi ro awakku dewe. Kadang isoh sadar nek wes digawe kecewa. Ning saiki aku wes kesel eh ngrasakke kecewa ki. Makane tak fatekahi ben isoh teteg atiku. Jan. Wes yahmene.
kangen banget berbagi cerita 😭
Bingung sama diri sendiri, sebenarnya apa yang dirasakan? Kalau dipikir² nih semakin tua sepertinya aku semakin bodddddoooohhh aja deh. Ngenes ngenessss.
Astaghfirulloh.
Gimanapun harus tetap khusnudzon.
Refleksi
Beberapa waktu yang lalu, sekolahku diakreditasi oleh BAN-PNF. Akreditasi kali ini menilai pembelajaran yang dilaksanakan sehari-hari. Asesor tidak menilai administasi apalagi sarana prasarana. Menyenangkan sekali. Jika akreditasi masih dilaksanakan menggunakan borang-borang seperti jaman dahulu, aku yakin sekolahku akan mendapat nilai C. Karena sebenarnya sekolahku jauuuh dari kata layak. Hahaha. Doakan, semoga tahun besok mendapat bantuan ratusan juta untuk membangun sekolah dan memperbaiki sarpras.
Saat pelaksanaan visitasi akreditasi kemarin aku tidak terlalu fokus dan menurutku agak gagal. Jauh dari ekspektasi yang aku bayangkan wkwk. Kegiatanku projek membuat sungai di luar kelas, dan alhamdulillahnya hari itu hujan. Kegiatan tidak berjalan sesuai harapanku tentunya. Anak-anak berkegiatan di teras Perpustakaan. Alamdulillah anak-anakku berhasil membuat perangkap ikan, not bad. Hebat banget mereka.
Saat wawancara, aku agak miss menjawab pertanyaan dari asesor. Dan itu yang membuatku menyesal sampai sekarang. Ya Allah, pikirku..kenapa aku mementingkan sebuah nilai, padahal yang penting adalah prosesnya setiap hari yang aku jalani. Tapi ya nggak munafik kalau au juga pengen nilai yang bagus dong.
Aku juga merasa usahaku kurang. Lah, padahal kan aku lembur setiap hari juga. Tapi aku akui kemarin2 tuh hatiku sedang kotor-kotornya. Karena kemarin aku berharap banyak orang yang membantuku, karena kemarin aku sudah membantu mereka. Aku pamrih. Iya. Aku akui aku pamrih. Entah kenapa, aku sedang membutuhkan support dari banyak orang, tapi saat aku membutuhkan mereka..........mereka nggak ada.
Benar memang kata Gus Baha. Salah satu cara untuk bahagia adalah dengan memiliki pikiran bahwa kita ini nggak penting buat orang lain.
“Kebaikan yang kamu lakukan kemarin-kemarin itu belum tentu kembali ke kamu dengan kebaikan yang sama. Jadi ya nggakpapa” Kata temanku.
Hah. Astaghfirulloh.
Emang sebelum menjalani hal yang penting tuh kita harus memiliki hati dan pikiran yang bersih dulu, biar dilancarkan segalanya. Biar berkah barokah.
Maafkan Nana, Ya Allah.
Yah, Allah tahu apa yang terbaik buat aku. Allah tahu kemampuanku.
Tapi sama aja aku masih kesal dan agak kecewa. Hhahaha.
Kemarin juga kata asesornya, aku keren dan bagus dalam pembelajaran, dalam merrencanakan. Tapi aku akui, aku terkadang lupa bahwa karakter anak itu nomer satu. Tanpa teguran ini mungkin aku masih akan melakukan pembelajaran yang sama untuk anak-anak. Aku sudah memberikan kebebsan anak-anak dalam bermain. Tapi aku masih lupa bahwa membentuk karakter anak itu yang paling penting pertama dan utama. Astaghfirulloh.
Lalu, aku kemana saja selama ini? Kok aku bisa lupa kaya gini sih?
Apa jangan-jangan aku melakukan semua ini cuma biar dipuji orang aja? bukan murni buat mencerdaskan anak bangsa? Aku sedang bertanya-tanya kepada diriku sendiri.
Ada hal yang aku lupa juga.
“Lakukan apa yang kamu tulis dan tulislah apa yang kamu lakukan”
NAH!!
Semoga ya, Na..setelah ini kamu bisa membawa lembagamu ke arah yang lebih baik lagi. Jangan melakukan sesuatu hanya karena biar terlihat keren di hadapan orang lain. Jangan melakukan sesuatu cuma biar dipuji dan malu kalau nggak kelihatan bagus.
Ingat ya, Na..Akhlak itu di atas ilmu.
Selalu merefleksi diri, Na. Jangan malu kalau terlihat belum bagus. Jangan terlalu kecewa sama diri sendiri. Allah lebih tau apa yang terbaik buat kamu, jadinya kamu dibeli pembelajaran seperti ini.
WAKAKAKAK!
Kepergian akan dibuat lupa oleh kesibukan, dan nanti sesekali akan diingatkan oleh kesepian.
DDF
kesibukan hanyalah distraksi.
Pengen nek gek pas ngeneki ono uwong sek isoh tak sambati fufufu fafifu wlewlewle.
Aku ki mau wes mikir meh nulis opo, ningan pas buka tumblr kok lali.
Ya kalau emang yang terbaik, jangan dibuat galau dan gelisah dong ya allah. Huhuhu
Tuhan kok diatur.
Kalau lagi ngerasa hidup ini ngenes banget, aku trs dengerin Ar Rahman. Biar ngerasain kalau Allah tuh sayang sama aku. wkwkw. Meskipun ngenes tapi tetep disayang sama Allah. Ish ish ish
Saking seringnya tersakiti lama-lama jadi merasa bahwa diri ini ngga worth it buat siapa-siapa.
Emangnya iya, aku ngga ada pantes-pantesnya?
Emangnya iya kalau terlalu banyak kekurangan akan sulit diterima?
Aku ngga bisa apa-apa. Ngga becus ngapa-ngapain. Emangnya aku terlihat seperti itu?
Sejauh ini cuma murid-muridku sih yang bisa menerima aku seapaadanya. Tanpa menuntut apapun. Aku juga pengen diterima sama orang dewasa, sama seperti murid-muridku menerimaku seapaadanya.
Aku lagi sedih banget, btw :(