This Is Why I Need You
.
Gelap. Tiba-tiba langit makin menggelap. Tak ada satupun benda angkasa yang dapat terlihat dari bawah sini. Dan seperti yang gue duga, hujan tiba-tiba menggelgar turun malam ini. Angin badai mulai menggoyangkan pohon-pohon di sepanjang komplek depan kost-kostan. Benar-benar menyeramkan cuaca malam ini, untung gue udah pulang. Kebayang apa jadinya motor gue kalau dibawa hujan-hujan begini. Berubah jadi jetski langsung.
Cuaca yang paling tepat buat tidur selimutan. Buat kelon. Buat ena-ena bikin anak. Niatnya malam ini gue mau istirahat lantaran capek baru pulang kemping, tapi sekarang gue justru punya kerjaan lain. Ngurus anak orang.
Terdengar bunyi pintu yang dikunci dari dalam. Gue melirik diam-diam ke arah mbak Adele yang masih terpaku di sana. Tatapannya kosong. Gue takut dia kesambet setan hujan-hujan begini. Apa jadinya kalau dia kesurupan siluman ketumbar.
âDuduk dulu.â Perintah gue, dan dia sedikit tersentak dari lamunannya lalu mulai menggeser kursi meja komputer.
âJangan di situ, di kasur aja.â
Dia menoleh, lalu perlahan duduk di pinggir kasur dan menaruh tasnya di lantai. Gue pun begitu, menaruh tas ransel yang dari tadi gue bawa di pojokkan kamar, mengeluarkan pakaian-pakaian kotor sama peralatan mandi. Membiarkan dia duduk sendirian tanpa gue perhatiin sama sekali. Maklum, kebiasaan. Gue nggak suka kalau liat ada yang nggak rapih di kamar gue.
Gue buka lemari pakaian dan mengambil sekotak P3K lalu kemudian jongkok di depannya. Gue menatapnya, dan ia masih saja menatap kosong ke arah antah berantah. Tampak seperti pikirannya sedang ada di dunia lain, apa dia mengalami trauma ya? Sebagai anak psikologi, hal seperti ini sudah tentu jadi hal-hal yang harus gue perhatikan. Gue taruh kotak P3K itu di depannya,Â
âNih..â Kata gue seraya berdiri lalu mengambil anduk dan masuk ke kamar mandi ninggalin dia sendirian.
Hahahaha kalau cowok lain bakal so-so gentle ngebasuh lukanya dengan memasang wajah sok keren, gue mah beda. Itu sih urusan dia, apalagi di sini yang kuliah di fakultas Kedokteran kan dia, bukan gue. Gue sudah cukup baik ngasih fasilitas tempat bernaung, pun obat-obatan. Jadi segitu saja sudah cukup menurut gue.
Ada hal yang lebih penting yang harus gue kerjakan sekarang. Bersih-bersih badan setelah pulang dari gunung contohnya.
.
                             ===
.
Hujan bukannya berhenti malah makin deras. Sekarang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ketika gue keluar dari kamar mandi, gue melihat mbak Adele masih dalam posisi yang sama, tidak bergerak sama sekali. Bahkan gelas berisikan teh hangat yang gue kasih tetap ia genggam tak ia lepaskan. Juga kotak P3K masih dalam keadaan tertutup.
Gue berjalan melewatinya sambil masih mengeringkan rambut. Sumpah deh, ini orang kaya kesurupan. Serem juga kalau misal gue lagi main komputer terus tiba-tiba dia nerkam dari belakang kaya macan. Gue buka pintu kamer gue dan gue taruh anduk di gantungannya lalu menutup pintu itu lagi.
Gue lirik mbak Adele, dia masih diam di sana. Gue terdiam beberapa saat sebelum kemudian menghampirinya dan jongkok di depannya seperti semula. Gue menatapnya, dan ia masih menatap ke arah antah berantah. Sebelum kemudian selang 2 menit, matanya mulai bergerak dan perlahan menatap gue. Air matanya turun, bisa gue lihat itu jatuh di pipinya yang lebam. Membasahi luka yang tak kunjung kering. Ternyata dari tadi dia nangis toh, tapi nggak bersuara sama sekali.
Kami masih saling bertatapan meski gue tau tatapannya begitu kosong. Gue membuka kotak P3K, mengambil sedikit kapas dan menumpahkan alkohol ke atasnya. Gue kembali menatapnya yang masih saja menatap gue dengan tatapan itu. Gue sibahkan rambut-rambut yang menghalang di wajahnya dan menyangkutkannya di kedua telinga.
Kapas basah itu gue tempelkan pelan-pelan ke arah bibirnya yang lebam. Mungkin karena lukanya masih sedikit terbuka, ketika kapas ini menyentuh bibirnya, ia agak tersentak kaget dan kini pandangannya tak lagi kosong. Wajahnya mundur sedikit lantaran terkejut, namun gue tetap mencoba membersihkan luka-lukanya.
âAduh!â Tiba-tiba ia berbicara.
Gue melihatnya sebentar, lalu kembali mengarahkan kapas basah itu ke luka di bagian belakang pipinya. Namun bukannya diam, dia malah berontak dengan menjauhkan wajahnya lagi. Gue bete, gue menatap dia dengan tatapan kesal, dan ia membalas menatap gue dengan tatapan kesal juga. Gue ulangi sekali lagi menempelkan kapas basah itu, tapi dia kembali menjauhkan kepalanya.
Gue bete. Gue kesel. Gue mendengus keras lalu melemparkan kapas itu ke kotak P3K dan berdiri meninggalkannya. Dasar cewek nggak tau diuntung, udah baek gue mau ngobatin malah sok jual mahal. Nyesel deh gue, emang bener seharusnya dari awal gue nggak pernah ikut campur urusan orang. Ngerepotin aja.
Gue berjalan menuju meja komputer untuk main game sebelum tiba-tiba ada kata terlontar dari mulut mbak Adele.
âMaaf.â Katanya pelan.
Gue langsung berbalik dan melihatnya dengan tatapan jengkel. Pengen deh rasanya gue tidur di kamar Budi terus ninggalin ini cewek sendirian, tapi brengseknya gue nggak bisa. Entah kenapa. Gue kembali berjalan menghampirinya.
âDiem!â Kata gue sambil memasang wajah serius di depannya.
Gue ambil botol betadin dan menumpahkannya sedikit di atas kain kasa.Â
âIni sakit, tapi sebisa mungkin diem. Kalau bisa pingsan sekalian.â Kata gue kesel.
Gue pegang rahangnya dengan tangan kiri, dan otomatis pipinya keteken sama jari-jari gue, alhasil dia jadi sedikit manyun. Gue puter tangan gue ke kiri dan mukanya ikut ke kiri, lalu gue tempelkan kain kasa itu langsung ke arah lukanya yang terbuka. Tidak dengan pelan-pelan kaya di awal tadi.
Sontak mbak Adele kaget, dia langsung berontak karena kesakitan tapi nggak bisa ngapa-ngapain karena mukanya lagi gue pegang. Tenaganya yang mirip kaya tonggeret itu benar-benar tak berdaya di hadapan tangan gue. Mau protes pun tidak bisa karena mulutnya keteken sama pipi kiri kanannya. Dan bukannya berhenti, gue malah jadi makin gregetan karena dia berontak nggak karuan.
Gue ambil kapas yang ada alkoholnya tadi di kotak P3K lalu menempelkannya di luka barusan. Dan mbak Adele langsung ngejerit kesakitan. Hahahahaha sukurin..
âSAKIT TAU NGGAK?!â Kata dia sambil nempeleng tangan kanan gue yang saat itu sedang memegang kapas.
âKan udah gue bilang kalau itu bakal sakit.â
âYA NGGAK HARUS LANGSUNG GITU KAN?! PELAN-PELAN KAN BISA!!â Kini dia marah-marah. Dengan luka di bibir kaya gitu dia bisa marah-marah. Hebat. Ternyata gue cocok jadi dokter. Bisa bikin pasien langsung sembuh.
âLAGIAN HARUSNYA ALKOHOL DULU BARU BETADIN! KALAU GITU KAN BAHAYA!â Tambahnya lagi.
âYaudah kalau gitu kamu urus diri sendâŠâ
Trrrtt⊠TrrrttâŠ
Belum sempat gue merampungkan kalimat, HP mbak Adele yang ada di dalam tas bergetar. Kami berdua langsung melihat ke arah tas itu. Dengan gegas, mbak Adele mengambil HP tersebut, melihatnya sebentar, lalu kemudian melemparkannya ke atas kasur.
Gue melirik karena penasaran, dan di sana ada pacarnya lagi nelepon. Dering telepon itu cukup lama hingga pada akhirnya mati setelah didiamkan oleh kami berdua. Gue lihat ada tangis lagi turun dari matanya setelah melihat nama yang muncul di ponselnya tadi.
âKamu bawa baju ganti?â Gue mencoba membuka topik lain.
Dia tidak menjawab.
âKalau gitu, kebetulan di lemari gue ada bajâŠâ
Trrttt⊠TrrtttâŠ
Lagi-lagi ada dering telepon yang memotong perkataan gue. Dan itu adalah dering telepon dari orang yang sama. Kali ini lebih dari sekali telepon itu berdering. Bahkan hampir berkali-kali. Untuk kali ini gue tidak mengangkat telepon itu seperti waktu dulu di toko, karena gue rasa bakal bahaya banget kalau misal cowok gila itu tau pacarnya lagi ada sama gue. Bisa-bisa mbak Adele makin dihajar kalau gini caranya.
Namun lama-lama gue gondok juga, gue sambar HP-nya itu lalu mematikannya, gue ambil sebuah peniti yang ada di dalam kotak P3K untuk mengeluarkan SIMCARD dari ponsel gambar apel kegigit codot itu. Mbak Adele di sana hanya diam melihat semua yang sedang gue kerjakan.
Setelah SIMCARD-nya keluar, tanpa pikir panjang langsung gue patahin jadi dua dan melemparkannya ke tong sampah. Sontak Mbak Adele terkejut melihat tingkah laku arogan gue barusan, dia mau protes tapi keburu ketahan sama gue yang mengambil baju ganti di dalam lemari dan menaruh baju itu di pangkuannya.
âNggak usah banyak protes. Gue paling nggak suka kalau kasur gue ditidurin sama orang yang bajunya kotor. Sekarang sebisa mungkin lo harus ganti baju atau lebih baik mandi. Kalau bisa mandi junub sekalian! Gue tinggal dulu sebentar ke bawah. Awas aja kalau waktu gue balik lo belum ganti baju. Gue suruh tidur di kamar Budi nanti!â Kata gue sambil kemudian pergi menutup pintu dari luar meninggalkannya sendirian di kamer.
.
                              ===
.
Lima belas menit kemudian gue kembali dengan keadaan basah kuyup total. Mbak Adele kaget banget waktu melihat keadaan gue saat itu. Ada banyak tanya yang mau ia keluarkan tapi terhenti di mulutnya. Gue lihat dia sudah ganti baju, bagus deh setidaknya dia nurut sama perkataan gue.
Gue masuk ke dalam kamer dengan keadaan tidak memakai baju lantaran gue lepas di luar tadi karena takut mengotori lantai kamar. Gue merogoh kantong celana gue dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
âIni SIMCARD baru. Udah gue registrasi tadi di tukang pulsa. Dan inget!â Gue menatap galak ke arahnya, ia kaget, âAwas aja kalau sampai lo ngasih tau nomer baru ini ke cowok yang tadi. Gue sobek lubang idung lo! Ngerti?!â Sambung gue kasar sambil melempar SIMCARD itu ke atas kasur. Dan mbak Adele cuma angguk-angguk doang tanpa banyak protes.
Setelah semuanya sedikit tenang dan gue sudah ganti baju, tidak ada pembicaraan lagi di antara kami berdua malam itu. Gue duduk di meja komputer sambil online, sedangkan mbak Adele hanya duduk di sisi kasur sembari memainkan HP-nya. Sesekali gue memainkan gitar, lagu This is Why I Need You gue mainkan berulang-ulang lantaran gue suka sama petikannya.
Lebih dari sejam kami berdua sibuk dengan kehidupan masing-masing, sebelum tiba-tiba,
âRy.. An..â Panggil Mbak Adele yang terlihat awkward banget buat manggil gue pake nama itu.
âApa?â Jawab gue tanpa menengok dan masih asik gitaran di atas kursi komputer.
âAku laper.â Katanya lagi.
Gue menghela napas panjang lalu memberhentikan permainan gitar gue dan membuka laci meja komputer. Gue ambil satu buah popmie lalu melemparkannya ke atas kasur.
âAdanya cuma itu. Hujan-hujan begini nggak bisa pesen makanan. Air panasnya ambil di dispenser.â Kata gue, dan ia hanya melihat ke arah Popmie yang udah nyungsep di sisi kasur barusan.
âAbis makan tidur ya. Gue capek baru pulang dari gunung. Dan gue nggak bisa tidur kalau ada cahaya sama sekali. Jadi otomatis lampu kamer bakal gue matiin, termasuk lampu HP lo itu. Jangan dimainin atau gue marah.â Tukas gue ketus dan ia hanya diam saja.
.
                         ===
.
Paginya, gue full ada kelas dari pagi hingga malam. Jam 7 pagi gue sudah bangun dan Mbak Adele masih tidur munggungin gue menghadap tembok. Enggak, gue nggak tidur sekasur. Dia tidur di kasur dan gue tidur di lantai dengan alas sajadah doang. Udah kaya mayat aja ya Robb.
Gue males berurusan sama dia pagi-pagi gini, daripada ada drama dan minta yang macem-macem, baiknya gue tinggalkan notes aja di atas meja komputer,
âGue ada kuliah dari pagi sampe malem. Malemnya gue ada kerjaan sampai subuh. Kalau mau pulang, kunci kamernya terus taroh kuncinya di atas ventilasi atau kasiin ke Budi.â
Lalu kemudian gue tinggalin dia pergi ke kampus begitu saja. Tak ada yang menarik dengan kegiatan di kampus, gue baru beres kelas jam 9 malam. Gue sempatkan mampir dulu di Foodcourt kampus buat makan malem. Ditotal-total, jam 11 gue baru sampai di toko. Itu pun gue harus banyak neduh karena hujan besar masih mengguyur Bandung dari pagi tadi.
Pakaian gue semuanya basah kuyup dan terpaksa harus masuk ke toko lewat pintu belakang agar tidak mengotori daerah pelanggan.Â
âLoh, udah di sini dari kapan, Mas?â Tanya Jessica yang sedikit terkejut ketika membawa piring kotor ke belakang dan melihat ada gue di sana.
âBaru kok, Jess. Gila hujannya nggak pake otak. Masa dari pagi nggak beres-beres!â Gue ngedumel sendirian.
âHahahaha hujan kok disalahin.â
âJess, gimana kabar toko?â Tanya gue sambil mencari baju ganti di laci karyawan.
âAman. Karena sering hujan jadi belakangan ini toko selalu sepi mas. Apalagi menjelang bulan puasa yang sisa beberapa minggu doang. Semua pada tobat kali.â Jawabnya sambil mencuci piring.
âAda masalah ga selama gue pergi?â Tanya gue lagi.
âNope. Aman tentram pak boss!â Katanya, âTapi mas, pas bulan puasa toko libur kan?â
Gue angguk-angguk, âIya. Lo selama libur bakal ke mana?â
âHmm..â Jessica terlihat berpikir, âKe rumah nenek kayaknya, Mas. Aku nggak mau di rumah ah, nggak kondusif. Kalau mas sendiri? Tahun ini pulang?â Dia bertanya.
Ada hening sebentar, âEnggak kayaknya.â Jawab gue pelan.
Mendengar jawaban gue, Jessica langsung menghentikan aktifitas mencuci piringnya dan mendatangi gue. Dan tiba-tiba dia memeluk gue begitu aja.
âMas.. Ini udah tahun kedua mas nggak pulang loh..â Katanya sambil membenamkan kepalanya di dada gue, âSetidaknya telepon Ibu ya, Mas.â Kata Jessica.
Gue mengelus kepalanya, âiya, sebelum bulan puasa datang, nanti Mas telepon Ibu dulu kok.â Kata gue pelan.
Iya, ini sudah tahun kedua di mana gue nggak pulang kampung ke Cianjur. Entah, rasa-rasanya masih enggan buat gue balik ke tempat itu. Tahun lalu pun Ibu sempat memohon agar gue pulang, begitu juga Rara yang berkali-kali mendatangi gue dan memaksa gue agar pulang bersamanya kala Lebaran tiba. Tapi gue tetap menolak dengan alasan harus jaga kost karena Budi pulang kampung. Dan kayaknya tahun ini gue harus cari alasan lain lagi.
âBtw di depan masih banyak tamu?â Tanya gue sambil duduk di kursi.
âCuma satu, tapi lumayan pesennya banyak dari tadi sore.â
âOooh.. Yaudah deh kalau gitu, tutup aja bentar lagi. Percuma hujan-hujan begini nggak akan ada yang dateng lagi.â Kata gue sambil memijat kening.
âMas, aku pulang duluan boleh ya?â Kata Jessica tiba-tiba.
âLoh tumben? Lagian masih hujan, Jes.â Sanggah gue.
âAku dijemput mas pake mobil.â
âEH?! Sama siapa?!â
âini..â Dia mengacungkan jari kelingking.
âPacar?â
âBukan hahaha masih pdktan.â
âKok lu gak cerita sih sama gue?â
âHey Hellooooo yang jarang ke toko siapa yaaaaa tolong..â Kata dia sambil pake logat anak jkt48.
âHahaha yaudah, lagian kamu dah kerja banyak. Sisanya biar gue yang beresin nanti.â
âOke deh, cuss dulu yak, Mas..â Jessica langsung bergegas mengenakan jas hujan kecilnya, namun sebelum keluar pintu dia memanggil gue lagi, âMas!â Teriaknya.
âPaan?â Kata gue tanpa nengok.
âTamu terakhir nungguin elo dari tadi.â Ucapnya sebelum kemudian pintu ditutup begitu saja.
.
                           ===
.
Gue berjalan ke dalam Bar yang sudah tidak ada siapa-siapa lagi kecuali satu orang itu. Dan benar saja, di ujung sana, di tempat yang selalu saja sama di situ-situ aja, ada seonggok orang lagi tiduran dengan berbantalkan lengannya sendiri. Gue datangi dia diam-diam tanpa bersuara, di sekitarnya gue lihat ada beberapa gelas berceceran. Gue cium gelasnya satu persatu buat ngecek apa pesanan cewek ini.
Hmm.. Gin tonic segelas. Oke deh ini nggak seberapa. Gue ambil lagi gelas yang lain, gue colek lalu gue icipi. Buset ini kan Caol Ila, kok bisa-bisanya cewek beginian pesen minuman mahal, segelas kecil aja harganya 120rb rupiah. Gue cek gelas ketiga yang masih ada sisanya, rasanya manis, Rum coke. Campuran rum dan coca-cola. Dan yang terakhir yang paling ludes sampai gelasnya dalam posisi tengkurep gue yakin ini Tequilla Sunrise.Â
Mati dah gue, kemarin dia ngicipin Tequilla Sunrise dua gelas aja langsung hangover, ini gimana kalau minum sebanyak ini?! Apalagi Caol Ila, pasti ini cewek sembarangan asal pesen terus malah pilih pesen whisky yang satu itu. Aduh Jessica gimana sih, kok ya dibiarin dia pesen beginian.
Gue bereskan gelas-gelas itu lalu gue coba membangungkannya,
âHei.. Mbak Adele! Bangun.â Gue goyang-goyangin badannya.
âHei! Bangun!â Gue berkata lebih kencang dan dia masih tidak bangun juga.
Wah bahaya nih, jangan sampai ini cewek muntah di dalem toko. Males gue beresin muntahan orang yang abis minum, bau alkoholnya meningkat dan bikin mual.
âLIFANA!!â Gue goyangkan badannya, dan kali ini gue memanggil namanya untuk yang pertama kali.
Matanya mulai sedikit terbuka, sesekali matanya mengedip mencoba mencari fokus melihat ke arah gue yang ada di depannya. Perlahan ia mulai menguatkan diri untuk bangkit sebelum tiba-tiba gue melihat gelagat dia mau muntah. Sontak melihat hal itu gue langsung terkejut, gue loncati meja bar ini dan langsung menuntunnya ke luar agar muntah di luar. Lagian kebetulan sekarang lagi hujan jadi kalau dia muntah tidak akan meninggalkan jejak karena tersapu hujan.
Dan benar kata gue, dia muntah banyak sekali. Ya beginilah yang namanya kehidupan malam, kalian beli minuman dengan harga di atas 70 ribu, lalu kalian muntahkan lagi minuman itu setelahnya. Alkohol hanya akan menunda masalah kalian sehari doang, dah itu ketika kalian bangun besok pagi, kalian tetap harus membereskan masalah itu lagi.
Mendingan solad lah kemana-mana~ Subhanallah, jadi cerbung religi.
Gue bantu memijat belakang lehernya agar muntahannya keluar semua, cukup lama mbak Adele tertunduk di depan toko sebelum pada akhirnya muntahnya tidak keluar lagi. Dia masih dalam keadaan mabuk, sekarang dia tengah masuk dalam fase sobber, alias fase meracau seenak jidatnya sendiri. Fase sobber ini adalah fase paling jujur yang dipunyai manusia. Jarang ada manusia yang bisa bohong waktu dalam keadaan pasca mabuk. Maka dari itu, kalau kalian punya gebetan, buat mabuk aja dia, nanti dia bakal ngomong jujur sama elo tentang apa yang dia rasa.
âSudah?â Tanya gue sambil mengangkatnya agar bisa bangkit dan berdiri.
PLAK!!
Tiba-tiba pipi gue ditampar. Gue kaget. Ada apaan nih kok gue tiba-tiba ditampar dah?! Salah gue apaan?! Mbak Adele hanya menatap gue dengan mata sayunya, dia masih gontai, untuk berdiri saja terlihat tidak kuat.Â
âLeeeee paaaas siiiin!â Kata dia sambil oleng.
âUdah gue bilang, Lepasiiiiiiiiiiiiiin brengsek!â
Oke.. gue udah biasa dibilang brengsek sama orang mabok. Tapi melihat dia ngomong begitu rentah kenapa asa-rasanya lucu juga.
âNggak usah sok ganteng ya hihihihi..â
ââŠ.â
âNama apaan tuh Ryan! Jelek banget, huhu..â
ââŠ.â
âSEMUA INI GARA-GARA ELO, ANJING!!â
PLAK!! Pipi gue ditampar lagi, dan secara otomatis tangan gue tanpa sengaja melepaskan tubuhnya dan mbak Adele langsung oleng kebelakang sehingga dia terjatuh di bawah guyuran hujan. Kini bajunya basah semua.Â
Dia berusaha terbangun, dengan gontai dan pikiran yang masih dipenuhi alkohol, dia gontai lalu perlahan menatap ke arah langit malam.
âNGGAK ADIL!!! TUHAN NGGAK ADIL!!!â TIba-tiba dia teriak begitu kencang di bawah guyuran hujan. Dan gue hanya melihatnya dari teras toko.
âIni semua gara-gara elo, RYAN BRENGSEK!!! Liat ini! Liat muka gue!! Liat badan gue!! Kalau gue nggak pernah ketemu lo, gue nggak akan kaya gini RYAN!! LO BIKIN GUE BERANTAKAN!! TANGGUNG JAWAB LO BRENGSEK!!â
Tubuh mbak Adele yang memang sudah tak kuat berdiri itu kembali oleng dan langsung terjatuh dengan posisi duduk. Dia berkali-kali memukul tanah di depannya dan menunjuk ke arah gue.
âSEMUA COWOK EMANG ANJING!!! Lo pikir, lo pikir enak jadi gue hah?! Liat gue sekarang, LIAT GUE SEKARANG!! Setelah lo gunain, setelah lo pakai, lo buang gue gitu aja.â Dia makin meracau nggak jelas, âKuliah gue, nilai gue, reputasi gue, lo pikir gue nggak tau apa kalau mereka ngomongin gue di belakang?!â Tangisnya turun meski langsung terhapus oleh air hujan yang deras malam itu.
âLo.. Lo..â Dia nunjuk ke arah gue, âLO PIKIR GUE NGGAK PUNYA HATI, HAH?! LO PIKIR GUE NGGAK SAKIT HATI APA KALAU ORANG-ORANG BILANG GUE PEREK?! BRENGSEEEEEEEEEEEEEKKKK!!!!â
Tangan kanannya sesekali menggaruk area mukanya sendiri, seperti sedang membenci dirinya sendiri, âLo pikir nyokap bokap gue mau liat anaknya kotor seperti ini?!â
âGue.. Gue.. Gue juga mau hidup normal..â Tangisnya pecah malam itu. Di keheningan malam yang berisik oleh guyuran air hujan, tangisnya pecah dan tertelan keganasan malam.
âPerek, pelacur, lonte, cewek nakal, cewek pakai, jablay, silakan! Lo mau bilang gue apa juga silakan! Toh gue mati pun nggak akan ada orang yang peduli, kan?!?! Paling kalian bakal ketawa puas kalau gue mati!â Kini dia berusaha berdiri meski topangan kakinya tidak kuat sama sekali.
Gue mengambil payung dari belakang pintu toko lalu berjalan menghampirinya yang sedang berdiri sambil goyang-goyang mirip kaya zombie itu. Begitu gue sudah ada di depannya dan payung yang gue bawa menghalau rintik-rintik hujan di atas kepalanya, ia pelan-pelan menatap gue.
âR⊠Ry⊠RyaaannnnâŠâ Katanya parau, terlihat air matanya begitu gahar keluar dari kedua kelopak matanya. Jatuh di pipi, membasahi bibir.
Gue masih menatapnya.
Dia sesenggukkan, seperti sedang kehabisan udara. Wanita ini seperti ikan yang dipaksa hidup di daratan, tercekik oleh keadaan yang tak ia inginkan. Dipaksa bertahan di depan tertawaan semua orang.
Sambil masih mencoba berbicara dengan sesenggukkan, air matanya terus mengalir deras layaknya sedang berusaha membasuh segala masa lalu buruknya namun tetap saja itu tak bisa,
âRrr Ryaaan.â Kata-kata itu keluar lagi dari mulutnya.
âGue juga masih pengen hidup normal, Ryaaan..â Ucapnya sambil menangis kencang sekali.
Tangisnya memecah keramaian hujan. Seakan hujan mendadak sepi dan kini tangisnya adalah satu-satunya suara yang terdengar malam itu. Memaksa tangan gue yang sedari tadi terdiam secara pelan-pelan menarik tubuhnya dan membenamkan seluruh tubuh itu dalam peluk yang seerat-eratnya peluk. Tangisnya kembali pecah, dan gue mendekapnya erat. Kemeja yang sedang gue kenakan saat itu seakan menjadi sebuah saksi bisu basahnya hujan dan hangatnya air mata dari wanita yang sebenarnya tanpa semua orang ketehaui; masa depannya masih begitu suci. A woman with past still deserves to be loved.
âLo ke.. ke mana? Gue nu-nunggu lo dari sore, Yan.â Bisiknya pelan yang lalu kemudian terlelap hilang dan tak bersuara lagi.
Malam ini, Anehnya, Bandung terasa lebih hangat ketimbang biasanya.
.
.
.
.
                            Bersambung















