perempuan dan laki-laki ; dua hal yang (harusnya) setara
“Tadi toh digoda ka di kantor polisi. Di ajak-ajak bicara biasaji iya. Ditanyaji bilang mau apa ini mau melamar atau dilamar. Trus na anukanmi sidik jariku. Trus kotormi tanganku, na bilang disanako cuci kasih bersih ya, klo nda bersih nanti saya yg cucikan”
Kali ini saya akan beropini sedikit tentang hari perempuan internasional 8 Maret kemarin. Maaf kalau telat sehari, seharusnya tulisan ini diposting kemarin sih. Tapi karena kesibukan dan begadang akibat nonton bola jadinya baru bisa posting pagi ini. Internasional women’s day ini dirayakan tiap tahun ditanggal 8 Maret. Tujuan utamanya adalah memperjuangkan hak perempuan. Konon katanya tanggal ini dipilih karena dulu pernah ada seorang buruh wanita yang melakukan demonstrasi sendirian di tanggal ini demi melawan penindasan dan memperjuangkan hak nya sebagai buruh dan juga sebagai perempuan. Sisanya bisa kita googling sendiri. Google doodle pun turut merayakan peringatan ini kemarin. Yang ingin saya bahas kali ini lebih ke fenomena-fenomena yang terjadi disekitar kita yang berkaitan dengan ketidakadilan gender terhadap perempuan.
Di bagian awal tulisan saya di atas itu adalah potongan percakapan saya dengan seorang wanita yang ‘digoda’ saat sedang mengurus keperluan SKCK di kantor polisi. Mirisnya lagi, ia beranggapan bahwa itu adalah nasibnya seorang wanita dan walaupun tidak suka dia tentu tidak bisa marah karena sedang berurusan dengan para polisi tadi.
Atau mungkin seringkali kita mendengar cerita dari teman, sekitar, atau bahkan kita sendiri yang mengalami ketika jalan bersama pasangan kita dan tiba-tiba ada yang menggoda pasangan kita lalu berkata “sorry bro, saya kira bukan pacarta”. Loh, jadi kalau bukan pacar lantas wajar kalian perlakukan seperti itu?
Pelecehan verbal seperti itu atau bahkan guyonan-guyonan yang dianggap biasa oleh para kaum adam sesungguhnya sangat menyakitkan hati kaum hawa. Belum lagi dengan fenomena catcalling yang makin dianggap wajar bahkan oleh seorang anak SD. Akui saja sejak SD kita sudah terbiasa untuk bersiul, memanggil-manggil cewek sebaya atau bahkan lebih tua yang melintas di depan segerombolan teman laki-laki kita.
Ketidakadilan gender tidak berhenti sampai disitu. Bahkan korban pelecehan seksual ini pun seringkali disalahkan atas kejadian yang menimpa nya. Betapa mirisnya kita mendengar pendapat dari sebagian orang bahwa korban-korban pemerkosaan mungkin turut andil juga dalam pemerkosaan tersebut. “ya wajar lah dia di perkosa, pakaian nya saja yang mengundang”
Bagi kaum pria yang teredukasi dan kuat imannya, alih-alih berpikir untuk melecehkan, bahkan ketika datang wanita telanjang di dekatnya pasti tidak akan terjadi hal-hal buruk. Masalah nya bukan pada korban nya, tapi pada isi otak pelaku nya. Bagaimana pun tertutup nya pakaian korban kalau pikiran pria yang memang dasar nya kotor pasti akan terjadi pelecehan. Toh, di negara Timur Tengah yang punya budaya pakaian tertutup juga masih banyak terjadi pemerkosaan, kan? Maka dari itu stop menyalahkan pakaian wanita sebagai korban pemerkosaan. Tidak ada relasi sebab-akibat antara pakaian yang dikenakan perempuan dengan terjadinya pemerkosaan. Seperti menonton video porno, pakaian wanita itu tidak lebih sekedar pemicu bagi hasrat birahi laki-laki terhadap perempuan. Tidak selamanya faktor-faktor itu lah yang mutlak menyebabkan terjadi nya tindak pelecehan atau pemerkosaan.
Penyebab banyaknya kekerasan seksual itu terjadi bisa jadi karena moralitas. Namun moralitas adalah hal abstrak yang tidak dapat diukur dan didefinisikan pada seseorang. Pada sebagian kasus, kita melihat justru yang menjadi pelaku adalah pimpinan pesantren, guru, atau bahkan tokoh masyarakat yang notabene secara umum kita anggap sebagai pengontrol moralitas masyarakat.
Maka kekerasan seksual tepatnya terjadi karena adanya ketimpangan kuasa yang berdasar pada perbedaan gender akibat pengaruh budaya patriarki.
“Sistem sosial-budaya patriarkhi adalah sebuah system/Ideologi yang melegitimasi laki-laki sebagai pemegang otoritas dan superioritas, menguasai, kuat, pintar dan sebagainya. Dunia dibangun dengan cara berpikir, dalam dunia dan untuk kepentingan laki-laki. Keyakinan bahwa perempuan secara kodrat adalah makhluk yang lembut dan lemah, posisinya di bawah laki-laki, inferior, melayani hasrat seksual laki-laki dan sebagainya telah menempatkan perempuan seakan-akan sah untuk ditaklukkan dan diperlakukan secara seenak laki-laki, termasuk dengan cara-cara kekerasan” (Husain Muhammad pada Seminar Nasional : Kekerasan Seksual dalam konsep pluralitas di negara Indonesia)
Keyakinan bahwa laki-laki adalah superior, berkuasa atas wanita, kuat, dan menganggap pasangan perempuan sebagai sarana penyaluran hasrat seksual nya sungguh banyak mempengaruhi ruang-ruang sosial politik baik dalam domain privat maupun publik. Salah satu contoh yang banyak kita dengar adalah betapa tidak dihitungnya semua pekerjaan rumah tangga dibanding pekerjaan yang menghasilkan nafkah. Ideologi inilah yang memicu ketidakadilan terhadap perempuan dan pada akhirnya memicu kekerasan seksual
Lalu kenapa pria terus-menerus secara tidak sadar masih saja berperilaku patriarki? Hal itu tidak terlepas dari stereotip terhadap wanita yang juga secara tidak sadar menggerakkan ideologi berpikir. Alih-alih berhenti melecehkan wanita, para pria masih saja senang mengelompokkan wanita yang cenderung bersifat merendahkan atau negatif.
Jujur, saya pun tidak terlepas dari pengaruh stereotip. Pertama kali saya menginjakkan kaki di ibukota, saya kaget melihat begitu banyak nya wanita perokok disekitar saya. Wanita berjilbab pun banyak yang saya temui sebagai perokok aktif disini. Dan baru setelah banyak membaca artikel-artikel feminisme, saya sadar sudah melakukan dua steretotiping dalam waktu bersamaan. Saya menganggap wanita berjilbab haruslah wanita baik-baik. Dan saya menganggap wanita yang merokok adalah wanita yang “nakal”.
Stereotip memang kejam. Ia bekerja memukul rata tanpa pandang bulu. Wanita yang pulang malam dicap bukan wanita baik-baik, memakai cadar dianggap ekstrimis, wanita perokok dan bertato dianggap sebagai wanita bandel, dsb. Atau seorang wanita yang full-time di rumah mengurus pekerjaan rumah dikatakan sebagai ibu rumah tangga yang baik. Atau sebaliknya, wanita yang meniti karier dikatakan melalaikan keluarga atau mengambil-alih tugas sang suami.
Stereotip ini tidak terlepas dari pengaruh ideologi patriarki yang mengakar di masyarakat Indonesia sejak zaman kolonial. Silahkan baca wawancara Aquarini Priyatna dengan tirto.id tentang bagaimana stereotyping muncul terhadap kaum perempuan. Mba Aquarini memaparkan bahwa hakikat dari feminisme adalah sebuah gerakan atau ideologi yang melihat bahwa ada ketidakadilan atau ketimpangan dalam struktur budaya sosial manusia.
Dan akhirnya kita paham bahwa menghargai perempuan lebih dari sekedar tidak melecehkan perempuan secara langsung ataupun verbal. Ketidakadilan gender haruslah menjadi perhatian yang dalam bagi kaum pria. Kita harus sadar bahwa satu-satunya cara mengikis budaya patriarki adalah dengan banyak belajar tentang paham feminisme. Edukasi diri kita lebih dalam, bertindak nyata melalui hal-hal kecil seperti menegur teman yang memakai lelucon-lelucon seksis atau sekedar membagikan tautan tentang feminisme di sosial media. Karena sadar atau tidak, sosial media banyak berperan dalam membentuk stereotip negatif terhadap kaum perempuan.
Jadi buat kaum pria, berhenti bilang sayang pada wanita mu kalau sehari-hari kamu masih tidak (berusaha) terlepas dari budaya patriarki, menganggap dirimu superior dan berpikir bahwa kodrat mu, kodrat kita, kaum lelaki, selamanya tidak akan setara dengan kodrat wanita.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49:13)
Jadi, kita semua sama saja kan?
Selamat hari perempuan internasional.
Jatiwaringin, 8 Maret 2017