sejak akses membuka Tumblr diblokir, saya memilih tidak membuat blog baru. entahlah, saat itu, energi saya untuk menulis sedang terkuras. kedua, saya merasa bahwa mungkin itu cara Allah untuk membuat saya “rehat” dari menulis di sini agar bisa mengumpulkan energi dengan menulis di commonplace, hanya untuk diri sendiri. ketiga, saya berharap suatu saat pemblokiran Tumblr dibuka kembali. dan yang keempat, yang paling utama, saya masih bisa menulis serampangan di twitter.
sejujurnya, twitter bagi saya adalah rumah menulis yang paling nyaman. mungkin alasan utamanya adalah, saya lebih senang membaca daripada melihat gambar. dulu, saya tidak bisa baca komik sampai kelas 2 SMP karena memang tidak pernah. kedua, ini mirip di tumblr sih, hampir tidak pernah saya merasa “dihakimi” di twitter.
saya tidak pernah serius-serius betul main instagram jadi tidak benar-benar tahu. tapi, berdasarkan yang saya baca, banyak yang menganggap bahwa instagram adalah media sosial yang paling toxic. pasalnya, di sana kita sering melihat kebahagiaan dan kesuksesan orang lain. lebih sering, kita membandingkannya dengan dapur diri kita. mungkin, karena alasan itu pula, saya tidak merasa srek untuk rajin main instagram.
akan tetapi, mengingat banyak sekali teman saya yang berada di sana, saya terpikir untuk mulai menulis di instagram saja: menulis caption dan igstory. saya membuat survei kecil di twitter, apakah menulis di instagram oke atau tidak. salah satu sahabat saya, memberi balasan yang paling mewakili perasaan saya. “nggak masalah sama teman yang menulis di instagram. tapi nggak bisa melihat diri sendiri melakukannya.”
survei itu berakhir dengan 51% tidak dan 49% ya. tipis sekali bedanya. hipotesis saya bahwa menulis di instagram itu aneh tidak terbukti sama sekali.
hari ini, saya ngobrol tentang twitter, instagram, tumblr, dan facebook dengan adik saya. kami jadi tertawa-tawa sendiri karena stereotipe yang sering kita terima akan sebuah pelantar. “anak twitter receh dan kismin” “anak instagram julid” “anak facebook hoaks” “anak tumblr depresi” dan lain-lain. ini yang kami dengar dari orang-orang.
padahal, kalau saya pikir-pikir lagi, media sosial itu sama seperti kata. dia netral sampai kita menggunakannya untuk sesuatu. seperti bahwa kata “anjing” itu netral, tetapi menjadi kasar jika dikeluarkan sambil memaki. jangankan anjing, rengginang pun bisa menjadi kasar. “dasar rengginang!”
jadi, kalau kita merasa ada media sosial yang toxic, mungkin yang perlu ditata adalah dengan siapa kita berinteraksi di sana.
selalu ada tombol unfollow, mute, block, report. selalu ada cara untuk menjaga diri kita dari hal-hal yang menurut kita tidak bermanfaat. kita nggak harus selalu berteman di media sosial dengan teman yang kita miliki di dunia nyata. nggak selalu. pun sebaliknya.
eh, tunggu. kalau kamu unfollow/block seseorang, sebetulnya kamu tuh bukan sedang membenci dia, kamu sedang menyayangi dirimu sendiri. berlaku sebaliknya. kalau kamu di-unfollow/di-block seseorang, nggak berarti dia benci kamu. dia sedang sayang dirinya sendiri kok. meskipun yah, mungkin dalam satu dan lain hal, kamu memang toxic.
media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian kita. maka, anggaplah media sosial sebagai sebuah kata yang netral sampai dipergunakan untuk sesuatu. tidak usah serius-serius amat, santai saja.
juga, anggaplah dirimu sendiri seperti sebuah kata yang netral. tentu, kamu ingin menjadi kata yang baik karena memiliki maksud yang baik, bukan? karena menyampaikan sesuatu itu dengan baik pula?