Selamat malam, ada waktu luang kan?
Coba keluar sebentar, jangan lupa pakai jaket anda. Udara malam seperti ini dingin, apalagi selepas hujan. Di kota anda juga turun hujan tadi sore kan?
Anggap saya di samping anda, memandang jauh ke luar. Bayangkan apa yang saya tulis di paragraf selanjutnya sebagai apa yang saya katakan. Anda masih ingat bagaimana suara saya kan?
—
Saya sedikit lelah hari ini. Oh ya, beberapa hari lalu ikan koki saya mati satu ekor. Ikannya masih kecil sih, harga dua ribuan. Lalu saya bingung bagaimana mengurusinya: dikubur atau dibiarkan. Namun akhirnya saya kubur, tanpa saya kafani dan saya sholatkan. Hehehe
Tidak lucu ya? Maaf, setelah lama tak membagi cerita saya dengan anda, saya menjadi kurang mengerti bagaimana selera humor anda saat ini. Saya rasa, anda yang sekarang pasti berbeda dengan anda yang pertama kali saya kenal dulu. Saya rasa, detak detik telah mengubah banyak hal. Termasuk pola pikir, ketertarikan dan selera anda.
Terlebih dari itu, saya hanya ingin menyampaikan lagi bahwa saya menyesali hari itu. Satu kesalahan yang membuat anda menjauh, yang sampai saat ini saya tak pernah mengetahui apa itu. Saya paham, anda tak akan sudi lagi meluangkan waktu untuk menjelaskan masalah itu pada saya. Anda tak akan sudi lagi meluangkan waktu mendengarkan penjelasan dan pembelaan saya yang bertele-tele. Namun saya memohon dengan sangat supaya anda berkenan untuk mendengar dan menerima permohonan maaf saya, saya memohon maaf atas apapun kesalahan saya waktu itu dengan setulus-tulusnya, sedalam-dalamnya.
Sengaja saya tulis saya-anda di sini. Karena seperti dalam puisi Elysia, bahwasanya aku-kamu terlalu dekat untuk kita yang terlanjur asing.
Oh ya, satu alasan lagi mengapa saya menulis dengan anda-saya dan bukan aku-kamu. Saya ingin kita menjadi benar-benar asing. Agar kita bisa mengenal lagi, mengulangi semua masa ondah itu lagi dan mungkin saya bisa menghindari melakukan kesalahan seperti dulu lagi.
Mustahil ya?
Iya, saya tahu. :)














