Menikah membuka pintu rejeki, ungkapan yang dulu ku yakini hingga akhirnya memutuskan menikah. Tulisan untuk orang-orang yang merasa khawatir tentang pernikahan. Aku pun dulu. Tapi pada akhirnya, aku memilih.
Haruskah mapan dulu baru menikah? Mungkin urusan menikah ini ada yang berada pada posisi tak punya pilihan. Tapi aku, mengapa tak memilih yang (telah) mapan? Aku, sudah mencoba menjadi se-strandar realistisnya orang-orang, tapi ternyata aku lebih memilih nyaman dari pada sekedar “aman”
Aku menikahi suamiku yang saat itu masih sekolah. Aku pun baru lulus. Hidup benar-benar hanya di gantungkan pada uang beasiswa yang jumlahnya sepertinya pas-pasan untuk tinggal di negara orang. Jika sebelum menikah, suami bisa share tempat tinggal dengan temannya, setelah menikah dia harus membayar tempat tinggal full ditambah harus membiayai hidup 2 orang. Dan ini akan berlangsung masih 4, 5 tahun lagi. Bagaimana jika punya anak. Dan setelah lulus kuliah, akan jadi apa? se-abu-abu itu. Tapi, suamiku saat itu tetap yakin untuk menikahiku. Yang akhirnya menjadi seyakin-yakinku, “aku yakin ingin menua bersamanya”
Setelah menikah akhirnya suami harus cari tempat tinggal lain. Hal tak terduganya, kebetulan ada teman yang akan lulus sehingga kami bisa menggantikan untuk menyewa tempat tersebut. Rumahnya lumayan lebih murah dan lumayan luas. Beruntungnya lagi, kami bisa menggunakan depositnya dulu. Hal ajaib lainnya, entah bagimana, suami akhirnya bisa memotong masa studinya. Bisa lulus sampai s2 saja, jadi setahun lagi bisa lulus, tanpa harus menunggu 4, 5 tahun lagi. Rejeki2 tak terduga stelah menikah. Aku menulis tulisan inipun, terinspirasi setelah kemarin suami mendapatkan tawaran kerja ke jepang dengan gaji yang sangat lumayan cukup. Padahal lulus masih 4 bulan lagi. Jadinya kami akan pindah ke Jepang awal tahun depan. InsyaAllah.
Tak ada yang mutlak abu-abu. Selalu berprasangka baik kepada Allah. Kadang tiba-tiba air mata menetes jika mulai mengingat-ngingat seberapa baiknya Allah selama hidup di dunia ini. Allah benar-benar maha baik, maka jadilah pula sebaik-baik makhluknya.
Tulisan ini semoga bisa jadi pengingat untuk selalu bersyukur. Ketika mungkin nanti kami berada di atas, kami tak lupa bahwa kami memulainya dari nol bersama. Atau ketika nanti kami diberikan cobaan, kami tidak lupa, seberapa banyak nikmat yang yang pernah Allah kasi. Allah sebaik-baik perencana, dan Dia tau apa yang terbaik untuk makhluknya.
~summer in busan. August 2019~