Lelaki ini saya panggil dengan sebutan bapak. Lelaki yang sudah menginjakkan usia lebih dari setengah abad dengan rahang tegasnya dan beberapa helai rambut yang sudah mulai memutih. Lelaki pertama yang menyentuh hati saya dan saya yakin setiap anak perempuan di muka bumi ini menjadikannya sebagai cinta pertama dalam hidupnya. Dia bukanlah seorang bangsawan ataupun konglomerat, sosoknya terlihat begitu sederhana, namun darinya saya banyak belajar tentang arti kehidupan. Tak ada untaian kata yang mampu menggambarkan betapa saya sangat mencintai dan menghormati dirinya, tak ada seorang pun yang mampu menggantikan sosoknya yang telah melekat dalam darah saya. Terbesit kenangan demi kenangan dalam fase kehidupan saya tentang dirinya. Kembali ke masa 6 tahun silam, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Masa dimana saya masih mencari jati diri saya, saya mulai berani membangun dan merencanakan masa depan saya, saya mampu meraih prestasi yang cukup membanggakan dan masa dimana saya mengalami kegagalan besar untuk pertama kalinya. Sosoknya selalu ada dalam setiap bagian dalam hidup saya. Dia tau setiap usaha yang telah saya jalani walau saat itu jarak memisahkan kami sekeluarga dengan dirinya, bisa dibilang bapak adalah motivasi terbesar saya kala itu. Mungkin saya berbeda dengan anak-anak lain yang akan meminta hadiah ketika mereka mampu menorehkan prestasi di bangku sekolahnya. Satu yang saya minta dari Tuhan, jikalau saya berhasil sekolah dengan baik, izinkan saya menghantarkan rasa bangga dalam diri kedua orang tua saya, bahkan cukup dengan sebuah kalimat "ini baru anak bapak" mampu membuat saya begitu bahagianya saat itu. Ya bahagia memang sesederhana itu bukan? Tak perlu kita pergi jauh untuk mencari arti bahagia, karena setiap perbuatan kita sendiri seharusnya dapat membuat diri kita sendiri dan orang di sekitar kita bahagia. Bapak bukanlah seorang yang pemarah, bisa dibilang seumur hidupnya dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar atau hujatan. Mungkin sudah menjadi tanda bagi kami sekeluarga jika bapak berdiam diri dan tidak banyak bicara menandakan bahwa dirinya sedang marah. Bapak adalah seorang yang jujur bahkan sangat jujur untuk ukuran orang yang memegang jabatan yang sama dengan dirinya. Bapak adalah sosok paling bijaksana yang pernah saya temui dalam hidup saya. Bahkan di dalam keterpurukan saya, bapak selalu mampu menjadi penopang yang membangkitkan saya kembali. Bapak itu ibarat cahaya di dalam kegelapan, yang membuat saya berusaha untuk menjadi seorang yang lebih baik setiap harinya. Dia lebih dari sekedar superhero, dia adalah nafas dalam hidup saya.