Tidak ada suara
Kau tahu, salah satu hal yang paling menyakitkan adalah ketika engkau sedang berpikir begitu dalam untuk tak ingin hidup. Sakit untuk menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi yang bisa kau ajak bicara.
Siapa yang mampu sekuat itu menanggung kehilangan. Sendiri.
Selalu berpura-pura bahwa hal itu bisa ia jalani. Ia baik-baik saja.
Tidak ada kata baik dalam hidupnya sejak itu.
Ia menangis hingga kepalanya begitu pusing. Ia tak ingin tidur karena tidur pun tak memberi kenyamanan. Tidur membawamu istirahat sejenak. Tapi esoknya, kau tetap dirimu yang sunyi. Suara pun tak ada. Isak tangis mu kau tutupi dengan punggung tangan rapuh itu.
Malam itu, dalam hujan deras yang membantunya meredam suara tangis. Ia merasakan bahwa, aku tidak ingin hidup seperti ini. Bisakah aku terlahir kembali dengan takdir yang lebih baik.
Bagaimana aku saja yang seperti mereka. Tak kehilangan siapapun diusianya 17 tahun.
Boleh tidak aku membicarakan kebahagiaanku bersama keluarga di depan mereka. Seperti yang mereka lakukan di depan ku.
“Hari ini aku pergi ke sini dengan Ayah.”
“Ibu ku membelikanku ini, padahal aku gak minta loh.”
“Kakakku emang yang terbaik.”
Itu, seperti itu. Tolong, bisa tidak?
bukan hanya “aku sayang mereka,” yang aku simpan hanya untuk diriku sendiri.
Aku hanya diam, ketika mereka tanpa rasa iba untuk memerhatikan perasaanku. Aku tau betul itu hak mereka untuk membagikan kebahagiaan. Tapi aku tak mau dengar. Kau pikir ini mudah? tidak ada kenyataan pahit yang mudah kau terima. Sebesar apapun usahamu untuk mengerti.
Bisa tidak aku menggenggam erat tangan sahabat-sahabatku saat ini, aku pinjam waktunya sebentar saja. Bukan untuk aku pamerkan, hanya untuk merasakan kembali rasanya bersyukur, mempunyai sahabat yang bisa kau ajak bicara.
Sesak dan tercekat.
Rapuh.

















