21 Maret
Aku selalu ingin menangis setiap kali aku mengingat dan merindukan momen-momen sederhana aku dan kamu.
Itu tidak spesial untukmu, tapi begitu spesial untukku.
Tiap kali aku menangis, aku selalu memikirkan betapa berharganya waktu. Waktu tetap berjalan dan tak mungkin kembali. Aku tidak mungkin kembali menuju 21 Maret satu tahun lalu. Sekarang aku di sini, tetap menjadi orang lain bagimu walaupun waktu telah berjalan satu tahun lamanya.
Mungkin Tuhan tidak ingin membuatku terlalu sedih, dengan menghadirkan kamu tepat berdiri di sampingku. Dan itu hanya kita, dengan jarak tak lebih dari satu lengan.
Sebelumnya, kamu datang ke dalam mimpiku. Itu sudah lebih dari cukup, walaupun aku masih terheran-heran.
Aku masih tidak menyangka. Yang tadi itu kamu.
Aku mengapresiasi diriku sendiri, untuk tetap diam meskipun “sepertinya” saat tadi itu Tuhan memberikan aku kesempatan untuk bicara padamu.
Aku bersyukur pada diriku sendiri karena aku bisa mengontrol semuanya. Walaupun rasanya aku sangat ingin memanggilmu. Memanggil namamu saja, menyapamu seperti aku menyapa yang lain.
Tapi aku tetap bungkam. Menunggu pesananku selesai dan aku bisa pergi.
Yang membuat itu begitu menyenangkan adalah bahwa aku tak punya banyak waktu untuk berdiri di sampingmu tepat seperti tadi. Begitu dekat.











