"Sesungguhnya Rezeki memburu hamba lebih banyak dari kejaran ajal kepadanya."
Adalah perempuan suci, lemah tak berdaya setelah mengemban amanah yang tak pernah diberi kepada siapapun sebelumnya. Hamil tanpa pernah tersentuh laki-laki atas perintah tuhannya.
Di perutnya ada bayi yang terkandung, terbawa hingga di tengah tengah gurun pasir nan tandus. Gersang, tak ada makanan mudah diraih. Ditambah lagi tubuh lemah yang terpaksa melangkah karena diusir dari tempat tinggalnya.
Dia adalah Maryam binti Imran, salah satu wanita paling suci di muka bumi. Sebagaimana insan yang pasti diuji, Dia (Maryam) harus pergi lalu melahirkan seorang diri. Tanpa siapapun menemani, kecuali Allah yang melindungi.
Setelah melahirkan, dengan keadaan lemah tak berdaya. Allah kirimkan rezekinya. Pohon Kurma tempatnya berteduh dari terik matahari, menyimpan buah yang cukup banyak untuk dimakan. Tapi apakah mungkin bisa diterima logika? Perempuan lemah, berdarah, habis melahirkan diminta untuk menggoyangkan Pohon kuat dan Kokoh seperti kurma?
Rasanya akal manusia tidak akan mampu menerimannya. Namun Algoritma Rezekinya bahwa Kurma itu miliknya, rezeki bagi dirinya dan buah hatinya. Digerakan segenap tenaga sisanya, lalu Allah runtuhkan buah buah kurma segar di hadapanya.
Belajar tentang rezeki, belajarlah dari cabang bayi di dalam perut. Tidak punya cukup upaya, tapi Allah senantiasa kirimkan rezekinya melalui sang Ibu.
Bahkan ketika lahirnya kedunia, hanya bermodal tangis agar terdengar kedua orang tuanya. Allah segera berikan Rezeki melalui ASI yang dititipkan pada Ibunya. Inilah Konsepnya, Inilah Algoritma Rezekinya. Allah yang mengatur semuannya.
Belajar Tentang Rezeki, liatlah burung-burung yang terbang bebas di pagi hari untuk mencari rezeki dalam rasa lapar. Lalu pulang di terbenamnnya matahari, dalam perasaan cukup kenyang dengan rezekinya.
Hari ini, banyak diantara kita yang Sibuk dengan Perihal rezeki. Hingga lupa diri kemana ia harus mencari. Padahal Algoritma Rezeki ada pada Tuhan yang mengaturnya. Yang menghendaki setiap hal bahkan pada setitik kecilpun yang tak lupa dari-Nya.
Maka benarlah Pesan Imam Al-Ghazali ;
"Boleh jadi kita tak tahu di mana rezekimu, tapi Rezekimu tahu dimana dirimu. Jika ia ada di langit, Allah akan perintahkannya tuk turun dan mencurahimu. Jika ia ada di bumi, Allah akan memintanya muncul dan menjumpaimu. Dan jika ia berada di lautan, makan Allah akan menitahkannya untuk menemuimu."