Melihat Keunikan Rumah Adat Banjar, Kalimantan Selatan
Kali ini aku berkesempatan menyambangi Rumah Adat Banjar yang telah menjadi cagar budaya selama 10 tahun. Rumah ini berlokasi di Jalan Martapura Lama, Desa Teluk Selong, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di lokasi ini, ada 2 tipe Rumah Adat Banjar, yakni tipe Bubungan Tinggi dan Gajah Baliku. Aku akan mengulas sedikit tentang rumah tipe Bubungan Tinggi yang menjadi maskot dari rumah tradisional Banjar karena paling terkenal di antara jenis lainnya.
Sekitar pukul 16.00 WITA aku dan rombongan dari Arcana Foundation tiba di lokasi. Cuaca kala itu kurang bersahabat, gerimis tipis dan mendung menghiasi langit Banjar. Oleh karena itu, aku tidak mendapatkan potret tampak depan rumah ini dengan pencahayaan yang baik. Jalan setapak menuju rumah cukup licin dan basah tergenang air hujan, sehingga kami harus berhati-hati untuk melangkah.
Ada sesuatu yang menarik perhatianku kala menyusuri jembatan menuju rumah ini. Salah satunya simbol patung buah nanas yang ada di sepanjang jalan. Menurut sumber, nanas memang biasanya dijadikan penghias birai jembatan. Hal ini melambangkan manusia yang bersih dari karat hati dan iri dengki. Sehingga diharapkan ketika sampai di rumah ini kelak hati sudah menjadi bersih.
Akses menuju Rumah Adat Banjar Teluk Selong
(Simbol patung buah nanas melambangkan manusia yang bersih dari karat hati dan iri dengki)
(Tampak depan Rumah Adat Banjar Teluk Selong tipe Bubungan Tinggi)
Meskipun telah menjadi cagar budaya, rumah ini masih dihuni oleh pemiliknya, Ibu Fauziah (60). Ia merupakan generasi keturunan ke-4 dari pendiri Rumah Adat Banjar ini. Menurut sejarah, rumah ini didirikan oleh H. M. Arif dan istrinya Hj. Fatimah pada tahun 1811. Walau telah berusia ratusan tahun, menurutku rumah ini masih kokoh dan nyaman untuk dihuni.
Bentuk rumah ini merupakan rumah panggung dan berbahan dasar kayu ulin. Interior rumah ini masih tampak tradisional, ukiran-ukirannya pun juga masih bagus. Konon menurut cerita, rumah dengan banyak ornamen ini menandakan bahwa sang pemilik rumah merupakan orang kaya atau bangsawan. Ya, memang Rumah Adat Banjar tipe Bubungan Tinggi ini dulunya terkenal karena dihuni oleh para raja.
(Sebagian besar bahan dasar Rumah Adat Banjar terbuat dari kayu ulin)
(Ukiran dengan motif bunga menghiasi pagar depan Rumah Adat Banjar Teluk Selong)
(Motif ukiran Rumah Adat Banjar Teluk Selong)
Memasuki rumah ini, kita akan menemukan ruang cukup besar yang disebut dengan Panampik Basar. Dari sana kita bisa melihat dinding besar menjulang tinggi yang dihiasi motif ukiran kaligrafi, menandakan bahwa Islam telah memasuki kebudayaan masyarakat Banjar saat itu. Beberapa bingkai foto juga tampak menghiasi dinding di sebelah kanan dan kiri ruang tersebut.
(Dinding besar dan menjulang tinggi dihiasi motif kaligrafi)
(Motif kaligrafi menunjukkan bahwa Islam telah memasuki kebudayaan masyarakat Banjar)
(Bingkai foto para pengunjung menghiasi dinding Rumah Adat Banjar Teluk Selong)
Jendela pada Rumah Adat Banjar ini terbilang unik. Jumlah jeruji pada jendela biasanya berupa angka ganjil antara 3, 5, dan 7. Ganjil ini bilangan sakral bagi masyarakat Banjar dan berhubungan dengan keesaan Tuhan. Jika berjumlah 5, hal ini melambangkan jumlah rukun pada agama Islam.
(Jumlah jeruji jendela Rumah Adat Banjar dengan bilangan ganjil)
Dibalik dinding dengan motif ukiran kaligrafi, kita akan memasuki sebuah ruang bernama Panampik Dalam atau Palidangan. Ruang tersebut diapit oleh kamar tidur (Anjung) di kanan dan kiri. Di sana terdapat tempat tidur lengkap dengan kelambunya yang tampak cantik. Di bagian lain ruangan ini, ada beberapa lemari tua, mesin jahit dan beberapa pajangan tua peninggalan H. M. Arif.
(Lemari dan tempat tidur lengkap dengan kelambunya yang cantik menghiasi kamar tidur)
Oke, kelupaan banget minta tirainya buat dibuka, mungkin akan terlihat lebih cantik, haha.
(Mesin jahit tua yang biasa digunakan pemilik rumah)
(Beberapa pajangan tua peninggalan H. M. Arif, pendiri Rumah Adat Banjar Teluk Selong)
Untuk penjelasan mengenai bangunannya, atap Bubungan Tinggi terletak di antara atap Pisang Sasikat yang menutupi kedua buah Anjung. Sebelah depan atap Bubungan Tinggi disebut atap Sindang Langit, sedangkan di belakang atap Bubungan Tinggi disebut atap Hambin Awan.
Kalau kita cermati, ruangan demi ruangan di rumah ini memiliki perbedaan ketinggian lantai. Perbedaan tersebut menunjukkan fungsi ruang yang berbeda pula. Atap di bagian depan rendah karena menyambut tamu (ruang publik), lalu areal privat paling tinggi seperti kamar tidur, kemudian tempat memasak atau dapur yang terletak di belakang rumah dibuat kembali rendah.
(Dari samping luar rumah terlihat perbedaan ketinggian lantai di tiap ruangnya)
Saat ini, Ibu Fauziah tinggal bersama kedua anaknya. Menjahit dan mendampingi para wisatawan yang berkunjung ke rumahnya merupakan kebiasaannya sehari-hari. Mereka sangat ramah kepada para pengunjung, sehingga siapa saja bebas berkunjung dan melihat-lihat seperti apa Rumah Adat Banjar ini.
(Menjahit dan mendampingi para wisatawan yang berkunjung ke rumahnya merupakan kebiasaan sehari-hari Ibu Fauziah)
Bagi yang menyukai wisata budaya di Kalimantan Selatan, aku rasa tempat ini menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi.
Mari cintai dan lestarikan warisan budaya arsitektur nusantara!