“Sebab nasib peradaban berada di tangan para ibu.” (Superb Mother)
Note ini adalah resume seminar pendidikan anak bersama Ibu Septi Peni Wulandari, founder Institut Ibu Profesional. Seminar ini diselenggarakan oleh Muslimah Center Undip di Masjid Kampus Undip pada hari Sabtu, 11 Januari 2014. Selamat menyimak, semoga bermanfaat ya. :)
Keteladanan berbicara lebih keras daripada sekedar kata-kata. Kalo ga salah sih gitu ya bunyi kutipan dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum Salsabiela Rais. Ternyata, begitulah seharusnya pola pendidikan untuk anak-anak. Mengutamakan gerakan yang benar daripada sekedar kata-kata.
Prolog yang disampaikan Ibu Septi Peni Wulandari dalam seminar parentingnya kali ini menjelaskan bahwa ada tiga poin kunci melejitkan potensi anak. Pertama, berupa gerakan atau praktik nyata, bukan sekedar kata-kata. Sebab anak-anak akan lebih banyak meniru daripada mendengarkan. Kedua, hadapilah anak-anak dengan senyuman dan wajah ceria. Pastikan bahwa seorang ibu harus dalam kondisi good mood saat akan berhadapan langsung dengan anak-anak. Jika mood sedang tidak baik, maka menghindarlah dari anak-anak sementara waktu, kemudian kembalilah kepada mereka dalam kondisi yang sudah kembali ceria. Dan ketiga, menjiwai kejiwaan anak-anak. Sebab anak-anak membutuhkan teman bermain yang membuat mereka merasa nyaman.
Di awal materi, beliau pun sempat bercerita sedikit soal proses pernikahannya. Kala itu, sang suami melamar beliau dengan kata-kata,
“Saya ingin nantinya anak-anak saya dididik oleh ibunya, bukan oleh orang lain, sekalipun itu kakek atau neneknya sendiri.”
Nah, gegara “ditembak” pake kalimat itu, Bu Septi rela ga bekerja, padahal saat itu SK PNS beliau sudah turun. Yap, kita tau sendiri gimana perjuangannya mendapatkan SK PNS. Dan pastilah bukan keputusan yang mudah saat beliau lebih memilih menjadi ibu rumah tangga. Tapi tekad beliau terlanjur membaja. Beliau memilih mengabdikan diri menjadi pegawai rumah tangga. Wuwuwu, keren dan so sweet bangetlah. Heuheu.
Dor! Hayo, jangan mupeng! Yang penting, persiapan diri aja dulu. :p
Lanjut ya, Temans. Kalo ngobrolin topik pernikahan, bisa kesasar jauh ini nanti isi artikelnya. :D
Di Indonesia, ternyata ibu rumah tangga masih dianggap sebelah mata. Karena label IRT berarti wanita yang ga punya pekerjaan, alias pengangguran. Oleh sebab itu, “karir” sebagai IRT di Indonesia bukan karir yang prestisius, sehingga masih banyak disepelekan.
Nah, ada tips nih dari Bu Septi. Beliau menyampaikan bahwa menjadi IRT bukanlah pekerjaan mudah, meskipun orang-orang masih memandangnya sebelah mata. Bisa dibilang, IRT adalah sebuah profesi yang membutuhkan profesionalitas seorang perempuan dalam mengabdikan dirinya bagi keluarga. Seorang wanita yang memutuskan menjadi IRT harus ada rasa bangga dulu dengan profesinya, sebab hal itulah yang nanti akan membantunya “berkarir” dengan lebih enjoy, tanpa merasa tertekan.
Seven to Seven (7 to 7), Apa Artinya?
Tips dari Bu Septi biar IRT menghargai karirnya sebagai IRT adalah 7 to 7. Maksudnya, menanggalkan baju daster dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam. Masih belum ngeh ya? Hihi. Jadi gini, Dear. Seorang IRT seharusnya memposisikan dirinya selayaknya wanita karir yang bekerja di kantor. Bedanya, kantor ibu rumah tangga adalah di dalam rumahnya sendiri. Jadi, selayaknya bekerja di kantor, tetaplah berpakaian rapi dan menarik meskipun di dalam rumah sendiri, karena rumah adalah kantor kita nantinya. Kemudian, mungkin perlu juga nih seorang IRT punya kartu nama dengan mencantumkan posisi pekerjaannya sebagai Manajer. Yap, manajer rumah tangga, alias ibu rumah tangga. Tujuannya, biar mindset kita terbiasa bahwa menjadi IRT adalah karir yang prestisius. :)
Membangun Komitmen: Belajar Seumur Hidup
Sebuah keluarga yang masing-masing anggota keluarga memiliki latar belakang pendidikan tinggi seharusnya membangun komitmen di awal perjalanan rumah tangganya. Komitmen itu adalah dengan menanggalkan titel pendidikan anggota keluarga. Bangunlah kesadaran antar anggota keluarga bahwa titel suami/istri/anak yang sesungguhnya adalah almarhum/almarhumah. Jadi, bersiaplah belajar di universitas kehidupan, sebab sekolah formal pun bagian dari siklus kehidupan. Komitmen seperti ini akan membantu anggota keluarga untuk membangun kesadaran bahwa belajar adalah aktivitas seumur hidup, bukan semata-mata lulus, wisuda, mendapat gelar kesarjanaan, kemudian merasa selesailah kewajiban belajar mereka.
Empat Tahapan Menjadi Ibu Profesional
Institut Ibu Profesional yang diprakarsai oleh Ibu Septi Peni Wulandari ini meringkaskan sedikitnya empat kurikulum utama untuk menjadi seorang Ibu Profesional, yaitu:
Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:
Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:
Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:
Kompetensi keahlian pada poin ini adalah:
“Sebenarnya bukan orang tua yang mendidik anak, tetapi anaklah yang secara tidak langsung mendidik orang tuanya.”
Beliau sempat mengurai sedikit pengalamannya saat menemukan bakat dan minat anak-anaknya. Setiap anak memiliki bakat, hobi, dan kesukaan masing-masing. Tugas orang tua adalah mengoptimalkan potensi itu agar mereka menjadi ahli di bidang yang mereka gemari. Beliau juga menceritakan kisah anak sulungnya yang berhasil melanjutkan studi di luar negeri (Singapura) pada usia 15 tahun tanpa ijazah pendidikan di Indonesia. Dan putrinya tersebut juga berhasil membiayai sendiri kebutuhan hidupnya selama tinggal di negeri orang. Semua itu berbekal ilmu kemandirian yang diajarkan sang bunda.
“Merangsang anak untuk dapat hidup mandiri di usia 16 tahun adalah dengan ‘mendoktrin’ mereka sejak usia 0 – 12 tahun dengan kisah-kisah para sahabat Nabi yang berhasil berkarya di usia muda.”
Setidaknya ada empat hal dasar yang dipelajari anak, yaitu:
Intellectual curiousity atau rasa ingin tahu
Creative imagination atau kemampuan berimajinasi yang tinggi
Art of discovery and invention atau kemampuan untuk menemukan dan atau menciptakan sesuatu yang baru
Noble attitudes atau akhlak yang mulia
Memaknai aktivitas sehari-hari
Mengerjakan “proyek” tertentu
Nyantrik atau belajar langsung pada orang/ahlinya (dilakukan saat usia anak > 9 tahun)
Tips Mengetahui Potensi Anak
Usia 0 – 8 tahun pola belajar anak adalah bermain (bermain sambil belajar)
Usia 9 – 12 tahun pola belajar anak adalah kegiatan non pelajaran
Usia 12 – 15 tahun mulai memfokuskan belajar pada kegiatan yang ia suka
Pada usia 16 tahun, bantu anak mengembangkan hobi/minat/bakatnya dan rangsang kemandiriannya untuk dapat menghasilkan income dengan hobinya tersebut
Pentingnya Manajemen Waktu Ibu Rumah Tangga
Seorang IRT harus berlatih memanajemen waktu, yaitu dengan membagi waktunya untuk ketiga hal di bawah ini:
Waktu untuk meningkatkan potensi diri
Waktu untuk mengurus keluarga
Waktu untuk diri sendiri (refreshing)
Menjadi ibu rumah tangga harus dijalani dengan tulus dan penuh rasa bahagia, tetapi bagaimana dengan wanita yang hidup underpressure, misalnya karena ditelantarkan suaminya?
“Percayalah, bahwa wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik pula. Begitupun sebaliknya. Jadi, jika kita wanita baik-baik, tetapi suami kita ternyata tidak, maka boleh jadi Allah menguji kebaikan kita dengan kesabaran menghadapinya. Kebaikan dari Allah itu bisa berupa anugerah maupun ujian.”
Testimoni setelah mengikuti seminar: Wow banget! Saya jadi malu sama diri sendiri. Ngerasa belum apa-apa banget untuk menjadi seorang ibu profesional. Soalnya ternyata menjadi seorang ibu itu ga gampang, apalagi ibu profesional. Suerlah!
Kuncinya tiga: Belajar, belajar, belajar. Semoga nantinya kita dimampukan menjadi ibu profesional ya. Aamiin. Semangat para calon ibu! :)