Yusron Fuadi, Director of Tengkorak Film - From Zero To Hero Kalau kamu ingin bikin film panjang yang bisa menghentikan kamu cuma kamu sendiri Beberapa pekan lalu saya berkesempatan mendatangi JAFF ke-12 di Jogja. Sebuah perhelatan festival film paling berpengaruh bagi perfilman Indonesia. Hadir saat itu seorang sineas muda yang filmnya juga tayang dalam perhelatan tersebut. Teman saya itu bernama Yusron Fuadi, sutradara dari film berjudul Tengkorak. Filmnya lolos seleksi perhelatan JAFF, bahkan masuk dalam Special Gala Screening. Sebuah program khusus yang dibuat oleh pihak JAFF untuk mengapresiasi film Indonesia yang menjadi sorotan utama tahun ini. Hanya ada 2 film yang masuk dalam Special Gala Screening, Tengkorak dan Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran (Carousel Never Stop Turning) karya Ismael Basbeth. Malam itu saya berkesempatan berbincang dengan Pria yang juga dosen UGM yang kerap dipanggil Mas Yos ini, berikut penggalan obrolan penuh kelakar kami; Saya (S): Mas... Yusron Fuadi (YF): heh koe entuk tiketku ora? (eh kamu dapat tiketku tidak?) S: wah gak dapat e.... Mas, film mas masuk JAFF kali ini bahkan masuk dalam special screening juga, tanggapan mas? YF: apa ya.... bahwa film saya itu bukan tipe film (untuk ditayangkan di) JAFF gitu. Pada saat pendaftaran itu berdoa aja, semoga masuk. Jadi sak studio (seluruh studio) termasuk kru-kru ku yang masih muda-muda itu langsung "yeaaaah" waktu film ku dinyatakan lolos seleksi. "Iki tenan ora iki (ini bener apa gak)" "wah iki hoak iki (ah jangan-jangan Hoax aja)" bahkan aku sampai ngecek, kan dapat surat gitu, iki tenanan ora (ini beneran ga sih), soalnya filmku bukan film tematik atau film dengan tema-tema penting gitu. Lalu aku telpon panitianya "ow ya masuk mas". Ya lumayan lah buat batu loncatan gitu. S: tapi dengar-dengar, koreksi kalau saya salah, filmnya mas ini cukup ditunggu-tunggu sama penikmat film YF: ya kalau ditunggu-tunggunya ya ga tahu. Serius aku ga tahu. Aku ngeceknya dimana aku ga tahu (tertawa). Cuma saat online ticketing itu beberapa jam langsung habis. Terutama yang hari pertama. Beberapa hari kemudian pemutaran hari kedua juga habis. S: lalu tanggapan mas? YF: Surealis. Absurd. Ga percaya (tertawa) S: lho koq (tertawa) YF: karena producerku kan masih kecil-kecil ya masih 22 tahun mereka pada panik, ayo gimana caranya nanti kita cari penonton, yang online itu ada yang beli, eh ujung-ujungnya mereka sendiri ga kebagian. Sedih sekaligus aku senengnya bukan main. I'm happy for them. Karena ini bukan film ku saja, ini filmnya 'umat', filmnya orang banyak. S: filmnya rame-rame... YF: Ya filmnya rame-rame. Collective Happiness nya itu lho yang arrrrghhh (menjerit tertawa) S: apa harapannya kedepannya mas? YF: semoga dengan ini aku jadi punya 'bahan bakar' untuk tayang di XXI. Dah itu aja (tersenyum) S: apakah sejauh ini ada kesulitan untuk tayang disana? YF: belum ada sih. Cuman sejauh ini aku belum cukup pede. Tapi melihat respon kemarin (penjualan tiket online) aku jadi agak pede untuk nawarin ke XXI. Entah endingnya kayak gimana. S: berarti masih ada harapan untuk tayang kesana? YF: ada. Aku pingin nawarin film ini ke XXI dan jaringan bioskop regular (tertawa terbahak-bahak). Karena dirimu kan tahu produksinya... S: ya... ya... YF: bahkan tak ada orang perfilman, godfather sekalipun di belakangku (support finansial). Pure our Blood and sweat. S: dan dengan tekad yang kuat begitu YF: ya dengan tekad yang kuat. S: bisa tolong diceritakan sedikit saja filmnya tentang apa, produksinya bagaimana? YF: ini film genre fiksi ilmiah masih agak sedikit di garap di tanah air, premise nya sendiri apa yang terjadi pada umat manusia dan masyarakat, jika kita menemukan fosil kerangka manusia setinggi 2km. Ini bukan film horor. Ini bukan film monster. Tapi aku mengangkat kekacauan seperti apa saat para akademisi tak punya jawabannya. Saat Kyai-kyai juga tak punya jawabannya begitu. S: Premis nya cukup dalam ternyata ya... YF: sebetulnya... iya. Semoga sih filmnya juga cukup dalam (tertawa). S: Produksinya sendiri bagaimana mas apakah ada kendala? YF: aku mulai komit (berkomitmen) menggarap film ini, shooting film ini, tahun pertama itu biayanya cuma dari gaji dosenku 1,8 juta. Perbulan. S: serius mas? Wow... YF: aku Shooting kalau aku punya uang. That's it. Setahun pertama itu. "70% adegan dalam film ini nanti jadinya seperti apa ya mas Yusron?". (Aku jawab) "Ora reti (Ya ga tau)" (sambil tertawa). Cuma memasuki tahun ke 2 menarik beberapa orang yang teracuni dengan semangat kami. Orang-orang penting. Dekan yang "koe ki gawe opo to Yus? Kurang gawean banget (kamu ini sedang buat apa sih Yus? Koq seperti kurang kerjaan sekali)" jadi ya melihat sepak terjang sekaligus kami yang terlunta-lunta dalam membuat film tapi terbukti bahwa tim kami itu tidak terhentikan. Meskipun kru-kru nya hanya dibayar nasi pecel lele (tertawa). S: serius mas hanya pecel lele? (Tertawa) YF: serius (tertawa). Kami tetap jalan. Shooting, edit, shooting, edit. Kalau kamu ga shooting itu berarti kami ga punya uang. S: kalau kita ngomongin soal Budget, kalau mas BW (BW Purbanegara film Ziarah) Budget ditangani dengan membuat dan menjual Merchandise. Kalau Mas yusron sendiri bagaimana? YF: kalau budget tahun pertama benar-benar dari gajiku sebagai dosen, kadang dapat penelitian tak arahkan seputar visual efek atau animasi untuk film itu. Ya lumayan lah dapat 1 scene agak mahalan dikit gitu (tertawa), sementara 70% adegan lain piye ngono (gimana gitu). Tapi setelah kita dibantu oleh pak Dekan Vokasi UGM, kita dikenalkan sama orang-orang yang bersedia ngasih sumbangan untuk membantu kami menyelesaikan film ini. Endingnya budget itu buat bikin set, bikin properti. Karena hanya karena film ini indipenden dan tak ada orang besar di belakang bukan berarti saya nge-cut (memotong) Production Value. Saya ingin film tetap jalan. Kalau pun kita mau shooting di puncak gunung merapi kita akan shooting di puncak gunung merapi. Kalau kita ingin shooting yang menggambarkan Jogja sepi sementara kita ga bisa nyetop jalan kita akan Shooting pada Idul Fitri jam 6 pagi. S: mas ini JAFF ke-12. Bagaimana Mas memandang festival film ini? YF: sebetulnya film pertama ku, film pendek yang judulnya Pendekar Kesepian juga diputer disini. Filmku itu somehow bukan film festival atau film kompetisi. "Yusron film mu terlalu aneh untuk ikut kompetisi sron" (tertawa sambil menirukan), ya terima saja. S: melihat animo malam ini dan JAFF kali ini mas? YF: sebetulnya aku ini orang jogja dan aku harus bekerja di kapal selama 3 tahun sejak 2012 aku kayak orang ga tahu apa-apa gitu lho. Kalau kamu liat disini, aku tuh kayak orang hilang. Aku cuma kenal dia (menunjuk seorang teman). Jadi ya. Seingatku JAFF itu selalu rame sih sudah seperti Jogja punya Artjog itu kan sudah dapat audience nya. Ga usah bingung screening itu nanti ada yg nonton apa ndak. Kalau animonya wes oye (udah bagus). S: ini kalau kita bicara soal film dan JAFF... YF: wah aku ki pingin koe nonton film ku e... S: pasti sebisa mungkin saya nonton. Nonton paling depan ga apa deh (tertawa). Tapi kalau melihat Film, dan sineas muda, apa pesan buat mereka? YF: ini versiku ya, langsung ke film panjang aja ya karena aku sudah mengalami itu, sineas muda itu takut membuat film panjang sebelum nyantrik (dibantu) nama besar, sebelum ada dana besar di belakangnya, Itu gak benar. Kalau kamu ingin bikin film panjang yang bisa menghentikan kamu cuma kamu sendiri. That's it. Bikin film panjang itu cuma butuh dengkul, sama hati, sama kepala. Wes (sudah). Sama teman-teman. Dan jalan. Nanti kalau kamu liat filmku ini bukan film murah lho tapi kayak mahal. Asal otaknya jalan sih... S: dan semua elemen dimaksimalkan... YF: ya dan bersabar. Persistance gitu lho. 3 tahun e. Shooting pertama itu oktober 2014. Shooting terakhir 3 minggu yang lalu (tertawa) S: tapi mas masih berkeyakinan bahwa film ini tetap jalan dan jadi begitu ya YF: ya karena aku dikelilingi anak-anak muda yang mereka ga tahu apa-apa tentang film. "Berarti nanti kita pakai dslr atau handycam gitu ya mas ya?" (Dijawab) "sing penting koe ngewangi aku sik wae (yang penting kamu bantuin aku dulu saja)". Mereka itu kayak anak-anak yang masih polos tapi energinya ga habis-habis dan itu nyalur banget ke aku yang sudah tua. Film ini shooting 127 hari, dan mayoritas mereka ikut selama itu, that's mean... mereka ikut selama lebih dari 100 hari dan tak dibayar. Mencurahkan cinta dan air mata wes (tersenyum). Begitulah Yusron Fuadi sineas muda yang angkat nama lewat film terbarunya berjudul Tengkorak. Filmnya kemudian diganjar 2 kali full theater saat di tayangkan dalam program Special Gala Screening, bahkan meski tiketnya habis terjual para penonton setia mengantri mengular hingga keluar bioskop demi rela duduk lesehan dalam theater. Pada hari screening pertama Yusron secara pribadi ke pada saya mengungkapkan bahwa filmnya lolos seleksi festival film Cinequest di Sillicon Valley San Francisco Amerika Serikat awal tahun depan. Sebuah perhelatan festival film besar di negara tersebut. Ini lah bukti kegigihan Yusron Fuadi yang memulai filmnya dari cita-cita, tekad, dan situasi budget filming yang minim, dan kecintaan akan Star Wars saga film favoritnya. Semoga Tengkorak berjaya di Cinequest dan dapat mengharumkan nama Indonesia dan perfilman tanah air. View on Path










