Yang memuntahkan setiap suapan pertamanya. Yang mencintainya melampaui rasa mualnya
Aku mengenalnya sebagai sosok yang tekun, namun di hadapan piring, ia termasuk pembangkang kecil.
Setiap kali duduk berhadapan di meja makan, kami tidak lagi sekadar makan. Aku sedang menyaksikan drama lama suapan pertama yang sudah kuhafal jeda dan titik komanya.
Aku sudah terbiasa menyediakan tisu di saat yang tepat tanpa perlu dia meminta. Aku sudah berhenti bertanya kenapa dan mulai belajar mencintai lubang hitam yang ada di tengah dadanya.
Bagiku, kebiasaan anehnya itu adalah puing-puing percakapan yang tidak sanggup ia bahasakan. Bentuk kejujuran bahwa tubuhnya tidak bisa berbohong sesempurna wajahnya.
Berkali-kali, ia bilang padaku, "Maaf, ya... Aku sudah lama harus menelan semua suapan kehidupan. Belum lagi kenangan yang terlalu besar untuk melewati celah sempit di dadaku, membuat segala hal baru terasa sesak. Seperti suapan pertama."
Aku bisa. Aku bisa saja mengeraskan rahang, menajamkan tatapan, dan menggunakan otoritas kasih sayangku untuk menuntutnya menjadi normal. Aku bisa memaksanya menelan setiap suapan pertamanya dengan ancaman kekecewaan di mataku.
Tapi perutnya sudah terlalu penuh dengan suapan paksaan dari hidup. Kalau kulakukan, aku hanya akan menambah satu lagi beban di celah sempit dadanya yang sudah sesak itu.
Jadi, berkali-kali pula kubilang padanya, "Tak apa. Aku sudah hafal setiap tarikan napasmu sebelum kau tersedak. Aku juga sudah tahu warna pucat yang akan menghias pipimu sebelum suapan itu menyentuh lidahmu. Pelan-pelan saja. Aku cukup sabar untuk duduk semeja, temanimu belajar menjinakkannya."










