Menajalani hari-hari pascapandemik, rasanya begitu cepat. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Satu hal yang mungkin menjadi kegalauan adalah terkadang ada ketidaktuntasan yang berujung untuk menyalahkan diri. Akibat tidak menuntaskan, timbul kecenderungan untuk menyalahkan diri. Padahal, setiap manusia memiliki kapasitas dan pencapaian diri masing-masing.
Ada kecenderungan menjadi lupa, bahwa sebenarnya diri sendiri sudah berprogres. Berprogres sesuai dengan kadarnya masing-masing, dan yang pasti berangkat dari titik awal masing-masing. Hal ini terlupakan, sering melihat keluar, sehingga semakin menjadi-jadi untuk menyalahkan dan menghakimi diri sendiri.
Menepi sejenak, di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Perjalanan yang terkadang timpang, jika tak segera diseimbangkan akan tumbang, hancur berantakan. Kembali mengajak duduk bersama diri sendiri, mendengarkan, berdialog, menvalidasi segala hal yang dilalui. Dilakukan sampai ke titik untuk mengajak diri sendiri berjuang bersama. Sehingga tak ada lagi jarak antara 'aku dan diriku'.
Pesan dari guruku, "Ubahlah yang bisa diubah dan terimalah yang tidak bisa diubah."
Terima kasih diri sendiri, telah jalan sejauh ini💙
Tangis pecah siang tadi. Dari seorang lelaki yang selama ini, ia selalu tampak tegar. Kali ini aku melihat sisi lainnya. Ia yang menyembunyikan lembut hatinya di balik wajah tegas dan terkadang terlewat menjadi keras.
Terlalu lama ia menyimpan sendiri. Tak pernah ia membagikan pada orang lain, walau dengan teman dekatnya. Cukup menjalani hari bersama tanpa membagikan hal pribadinya. Walau ia sadari, tak mudah menjalani hari-harinya dengan membawa beban berat di pundaknya.
Tak ada lagi percaya pada orang lain. Ia terlampau dibuat kecewa, berulang kali oleh keluarga dan kawann-kawanya. Bercerita bukan lagi menjadi hal yang melegakan, tetapi kian menyiksa dirinya.
Tidak, ia tidak memerlukan dikasihani orang lain. Namun, hari ini tak mampu lagi ia menahannya sendiri. Hanya ditemani duduk bersama secangkir kopi, dan satu pertanyaan dari seorang yang baru ia temui di warung kopi itu, bendungan air matanya langsung ambrol. Tak dapat ia tahan lagi.
Sesak dadanya, tegang lehernya, ia terlampau lelah tapi tak pernah ia perhatikan.
Jika aku takut menyatakan apa yang kutakutkan, aku pernah mendapatkan hasil sebuah kerusakan. Sampai akhirnya aku tak bisa menyelamatkan diriku sendiri.
Memang mengalahkan ketakutan diri sendiri bukan suatu hal yang mudah, namun bukan berarti tidak bisa. Perlu komitmen dan konsistensi yang kuat untuk melatihnya, latihannya akan seumur hidup. Karena ketakutan akan terus naik tingkatannya, seiring bertambahnya usia.
Suatu hal yang wajar jika takut itu muncul, ia akan menjadi penggerak diri atau penghenti gerakan. Bahkan, kasih sayangpun bisa berubah wujud menjadi ketakutan, takut kehilangan. Takut kehilangan bisa mewujud jadi dua tindakan, tidak sama sekali menjalin hubungan kasih sayang atau makin menguatkan hubungan kasih sayang.
Semoga kuat menghadapi ketakutan yang hadir menjadi keberanian, ....
Mas Cakha, mengapa dirimu berusaha mendekatiku akhir-akhir ini? Apa tak ada pilihan lain untuk bersanding denganmu? Aku tak mampu jika harus bersanding denganmu. Lebih tepatnya, aku tak pantas untuk membersamaimu dalam perjalanan yang kamu tawarkan padaku. Tawaran yang kamu sampaikan melalui surat yang sengaja diselipkan pada buku yang kupinjam.
Sejujurnya, aku ada rasa padamu, Mas. Bukan tidak ada sama sekali seperti yang kusampaikan padamu waktu aku kembalikan buku yang kupinjam. Sengaja kusampaikan demikian, karena aku menyadari bahwa diriku masih belum siap untuk menuju jenjang yang serius. Aku tak mau memaksakan diriku untuk menjalani pernikahan yang tidak kusadari dengan nyata pengambilan keputusannya. Lebih tepatnya aku tak mau memasukkan lelaki dalam hidupku hanya untuk bermain-main saja. atau sekadar membahagiakan di kala sebelum menikah, tapi menjadi pribadi yang berbeda setelah ikatan suci itu terucap. Aku tak mau bermain-main dengan pernikahan.
Jika ditanya apakah aku tidak senang ketika Mas Cakha mengajakku menikah? Akan kujawab, aku senang ada lelaki baik sepertimu yang mau menjemputku untuk menemani perjalananmu. Tetapi, masa itu tidak tepat menurutku. Aku masih bertanya-tanya tentang apakah aku benar-benar membutuhkan menikah atau hanya keinginan seperti angin lalu saja? Aku benar-benar sedang berusaha untuk memahami lagi diriku. Tak hanya laki-laki yang bisa menyakiti perempuan, namun ada juga perempuan yang menyakiti laki-laki, dan aku tak mau termasuk di dalamnya. Mungkin tampak aneh didengar, namun itu nyata dalam pikiranku. Aku tak mau menyakiti lelaki dengan memaksakan menerima, ketika aku dalam kondisi tidak siap. Bagi orang lain pikiranku ini mungkin sangat aneh, tak akan pernah ada seorangpun yang benar-benar siap 100% dalam menuju pernikahan.
Aku menyadari sepenuhya, bahwa usiaku tidaklah muda lagi. Aku tidak seperti kebanyakan perempuan seusiaku yang sudah menjalani masa pernikahan, bahkan sudah memiliki anak. Aku tak mau mengambil keputusan karena faktor di luar diriku yang lebih dominan. Akan oleng perjalanan jika berlandaskan dari luar diri. Mereka yang mendorongku untuk segera menikahpun, tak akan mau tahu ketika pernikahanku akan tejadi suatu kejadian yang tidak diinginkan. Mereka hanya memberikan api panas, tanpa memberi tahu bagaimana mengontrol api itu, mengatur bahan bakar, dan cara mengecilkannya.
Saat itu, aku juga menyadari bahwa hubunganku dengan Sang Maha Cinta tidaklah baik-baik saja. Aku sering menjauh, melupakan kewajibanku, tetapi menuntut hakku. Aku yang abai dengan kewajibanku sendiri dan mengharap cepat mendapatkan cinta dari seorang lelaki yang baik. Sangatlah tidak pantas jika aku bersanding dengan Mas Cakha. Layaknya bumi dan langit. Ouh, aku jadi teringat dengan suatu kondisi yang lain. Kisahku dengan Mas Rendra. Ternyata seperti ini ya rasanya menginginkan seseorang tetapi diriku sendiri jauh level kualitasnya dengan orang tersebut. Akan mudah menjatuhkan harga diri sendiri. Padahal tak selayaknya aku menjatuhkan harga diriku sendiri.
Pasti ada hal baik yang kumiliki, pun kebaikan pada diri masih bisa terus untuk diusahakan. Tak bisa diusahakan sendirian dan tak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Namun tidak mustahil mencapai satu titik yang bisa mengantarkan diriku menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya ketika aku tidak memiliki relasi yang baik dengan Tuhanku, tetapi aku sudah menjalin relasi dengan ciptaanNya? Akan menggeser bahkan menghilangkan cintaku padaNya. Orang yang jatuh cinta akan kehilangan akal logisnya, bahkan data dan fakta bisa tidak dipercaya, kecuali pernyataan orang yang dicintainya. Sungguh, akan membuat diriku jauh lebih tidak tenang. Ternyata aku masih memiliki kesadaran untuk bertuhan dan memurnikan ketuhanan yang kumiliki.
17 01 22
Mas Cakha, kamu ternyata tidak menyerah untuk menjadikan aku teman berjuang dalam hidupmu. Kamu yang menemaniku berjuang untuk mencintai diri sendiri, membuang hal dan barang yang tidak diperlukan.
Tiba-tiba aku teringat sebuah lagu,
Aku mau makan kuingat kamu
Aku mau pergi kuingat kamu
Aku mau tidur juga kuingat kamu
Cintaa, mengapa kuharus jatuh cinta?
Aku benar-benar dimabuk cinta. Cinta yang masih seumur sepekan. Masih berkobar besar. Menghilangkan nalar rasionalku.
17 02 22
Aku senang bisa menikmati masa ini. Masa-masa kita bisa berjalan berdua dengan tidak ada lagi rasa was-was. Kita sudah sah, menjadi pasangan suami-istri. Aku tahu bahwa awal perjalanan ini belum ada apa-apanya. Masih panjang perjalanan kita menyusuri kehidupan bersama.
Aku dan kamu sudah bersepakat untuk tetap bersama dalam kondisi apapun. Mudah untuk disepakati, namun belum tentu mudah pula untuk diwujudkan dalam kehidupan nyata. Aku berangkat dari keluargaku dan segala pengalaman hidupku, sedang kamu berangkat dari keluargamu dan pengalaman hidupmu sendiri. Kalaupun ada persamaan selama masa perkenalan kita, itu memang ketidaksengajaan. Namun, perlu kita ingat bersama bahwa kita pasti memiliki perbedaan. Perbedaan yang juga sudah kita sepakati bersama, untuk saling menoleransi pada hal yang memang bisa ditoleransi. Dan mengambil keputusan bersama dengan tenang ketika ada kondisi yang tidak bisa toleransi. Harapanku, semoga tak ada kejadian yang tidak bisa aku toleransi, begitupun sebaliknya. Semoga ridhaNya selalu melingkupi perjalanan kita, aamiin.
Kita kembali melanjutkan perjalanan menyusuri kota malam hari. Malam di kota yang dingin, namun tidak lagi benar-benar terasa dingin. Ada dirimu yang akan menghangatkan hatiku, begitupun sebaliknya, aku akan menghangatkan hatimu. Satu tujuan, mengupayakan sesurga bersama.
Kututup bukuku, sambil kukatakan pada diriku sendiri, bahwa perjalanan sebagai penulis tidaklah mudah. Iya, penulis adalah cita-citaku. Cita-cita yang harus aku pendam. Merelakan diriku sendiri untuk menjadi seorang yang diinginkan orang tuaku.
Aku masih kesulitan membuka mata, ada lem yang kuat di antara kedua kelopak mataku. Tak bisa kupaksakan untuk terbuka. Psikolog memahami kondisiku yang kesulitan, dia memanggilku dan meminta untuk fokus mendengar suaranya. Tak mudah untuk kukerjapkan mataku, namun perlahan-lahan mataku bisa kubuka. Pertama kali yang kulakukan ketika membuka mataku adalah tersenyum. Senyuman yang begitu lebar, dibalas senyuman juga oleh psikologku.
“Luar biasa yaa, hari ini dirimu sudah berani melepas yang sepatutnya kamu lepas. Kerelaanmu sudah mulai membuahkan hasil. Senyuman di wajahmu sudah sangat jauh lebih lega daripada ketika pertemuan pertama kita. Tak ada sedikitpun senyuman pada wajahmu. Kondisi yang patut untuk disyukuri. Keberanianmu memutuskan untuk pergi ke profesional, menjadikan dirimu memiliki progres yang jauh lebih baik dan lebih cepat. Pencapaian yang wajib kamu apresiasi yaa.”
“Iya, Kak. Aku juga tidak menyangka bahwa langkah kecilku ini sudah membawaku menjadi lebih baik. Aku juga menyadari memang baru sedikit yang kuurai dan kubuang. Aku memiliki ruang untuk menumbuhkan kebahagiaan. Beda rasanya, Kak. Aku sendiri tidak menyangka akan bisa selega ini. Ini jauh dari bayanganku, Kak. Terima kasih atas kesediaan Kakak menemaniku yaa.”
“Berterima kasihlah pada dirimu sendiri juga ya. Sekian tahun kamu memberanikan diri, memupuk keberanian yang kebanyakan orang tidak peduli dan abai pada dirinya sendiri. Dirimu sudah mau meluangkan waktu untuk bisa hidup lebih tenang.”
“InsyaAllah, Kak. Kak, emb. Gimana ya, aku bingung untuk menyampaikannya. Akuuu-aku sepertinya belum siap untuk menjurnal tentang keluargaku.” Kutundukkan kepala, memegang pena dan mencoret-coret di jurnalku.
“Nggak apa-apa. Nggak semuanya harus selesai dengan sekali duduk. Bahkan sangat mustahil jika menuntaskannya malam ini. Energimu juga sudah terkuras kan? Takkan kubiarkan dirimu sampai tumbang dalam proses terapimu ini. Bukannya semakin sehat, nanti kamu menjadi sakit fisik pula.”
“Baik, Kak. Bener banget, badanku sudah sangat lelah rasanya. Lelah, namun lebih lega, Kak.” Ucapku sambil kembali memberikan senyuman.
“Kita cukupkan sesi hari ini ya.”
“Iya, Kak. Aku ingin segera istirahat.”
“Sebelum kita akhiri, apa pembelajaran yang bisa kamu ambil dari sesi ini?”
“Emb,” otakku rasanya kosong, tak ada kata-kata yang dengan spontan bisa kuucapkan.
“Apa kira-kira yang bisa kamu ambil?”
“Aku belajar menghargai pencapaian kecilku, Kak. Aku yang baru menguraikan sebagian kecil kerumitan di kepalaku saja, sudah memberikan dampak yang baik untuk diriku. Nggak usah jauh-jauh, Kak. Hal kecil yang kulakukan ini, insyaaAllah akan memberikan dampak lebih besar, aku yakin itu. Aku mau terbuka dengan Kakak, merupakan pencapaian yang sangaaaat besar menurutku, Kak. Melepaskan, tidak selamanya menyakitkan, Kak. hehehe. Melepaskan dan membuang hal tidak penting dalam hidupku, melegakan.”
“Semoga proses selanjutnya, kamu bisa menjalaninya yaa. Apa yang akan kamu lakukan setelah sesi ini?”
“Aku mau istirahat, Kak. Untuk aktivitas harian, aku akan belajar mengapresiasi mulai dari hal-hal kecil pencapaianku sendiri, Kak. Dan aku akan melanjutkan menjurnal.”
Aku tiba-tiba terpikirkan untuk mengklarifikasi tulisan jurnalku yang terakhir. Apakah aku sudah benar-benar tuntas untuk hal itu? Atau masih belum selesai dalam menguraikannya.
“Kak, boleh aku bertanya satu pertanyaan sebelum sesi ini berakhir?”
“Boleh dooong. Mau tanya apa?”
“Hehehe, apa boleh aku memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan Mas Rendra, Kak? Nggak hanya komunikasi sih sebenarnya, jika aku memutuskan untuk tidak mau bertemu dengan dia boleh kah?”
“Ouh sungguh sangat boleh dong. Kamu punya hak untuk terus menjaga kesehatan mentalmu. Jika salah satunya dengan tidak melakukan pertemuan dengan dia. Itu BOLEH BANGET. Nggak usah takut bersalah. Kesehatan mentalmu jauh lebih penting untuk dijaga. Toh dia tidak pernah berkomunikasi lagi denganmu kan? Kamu takut memutus hubungan silaturahim? Ingat, dia sudah berkeluarga dan dirimu juga akan menuju jenjang itu. Saat ini, fokuslah pada dirimu sendiri, itu bukan untuk memutus silaturahim. Jika dirimu terus memaksakan untuk bertemu dia, bukan relasi sehat yang terjadi, Justru akan bisa menjadi kondisi yang saling menyakiti. Atau sebenarnya dirimu ada rasa pada dia?”
“Beberapa hal yang Kakak sampaikan benar. Ada ketakutan dalam diriku. Namun,aku sudah tenang. Aku tak pernah sedikitpun ada niatan untuk memutus silaturahim. Aku lebih sayang diriku sendiri, maka aku berhak memilih prioritas yang bisa membuat diriku lebih sehat. Benar begitu Kak?”
“Iya, benar. Untuk pertanyaanku yang terakhir bagaimana?”
“TIDAK!!! TIDAK, KAK. AKU TIDAK MEMILIKI RASA SEDIKITPUN KE DIA.”
“Tenaaang, tenang. Tidak usah pakai nada tinggilah.”
“Maaf ya Kak. Ada orang lain yang sudah mengisi hatiku, Kak. Bukan dia.” Kataku, kemudian menutup mulut dengan telapak tangan kananku ketika menguap.
“Baiklah. Kita cukupkan sesi ini ya. Sehat-sehat dirimu, dijaga pola tidur dan makannya. Sampai jumpa di sesi berikutnya. Selamat malam.” Senyum manis terlihat di layarku dan menjadi penyemangat diriku.
Aku letakkan gawaiku di meja kerja, kemudian kuambil cangkir yang masih ada isinya setengah. Kuteguk perlahan, nikmat. Jauh lebih nikmat daripada tadi yang susah payah untuk kutelan.
***
Hari ini, kuputuskan untuk melanjutkan proses menjurnalku. Aku menyadari bahwa proses ini merupakan kebaikan untuk diriku sendiri. Tak ada yang bisa menjadikan lebih baik, selain kuasa Tuhan dengan upaya diri yang terus mengupayakan. Hari ini aku mau melanjutkan perjuanganku. Perjalanan panjang. Namun aku bosan jika harus kulakukan di kamarku saja. Sepertinya akan menyenangkan jika aku melakukan di taman bunga. Sekalian aku liburan, memberi asupan hijau pada mataku.
Aku mengambil jurnal, kumasukkan kedalam ransel bersamaan dengan alat tulis, minuman dan camilan. Tak lupa aku membawa payung, jaga-jaga ketika nanti cuaca terik atau sebaliknya, hujan. Aku memilih pergi ke taman bunga, karena aku sangat senang ketika melihatnya, dan mataku selalu berbinar jika melihat bunga, apalagi jika ada beragam jenis dan warna. Aku segera berangkat sendirian. Iya, sendiri. Aku masih menikmati masa-masa ini. Perjalanan sendiri yang akan menyenangkan. Perjalanannya memang tak jauh, namun aku akan menikmatinya tanpa gangguan dari suara gawai. Aku tidak benar-benar mematikan gawaiku, namun aku memutuskan untuk menyalakan mode senyap.
Aku keluar, menuju sepeda motor bututku. Kunci sepeda motor kumasukkan pada lubang kunci, kuputar perlahan hingga searah dengan tulisan on. Tombol stater kupencet perlahan, mesin langsung berderu. Walaupun sepeda motorku butut, namun tetap kurawat dengan sangat baik. Tak kubiarkan kendaraan kesayanganku sampai mati akibat kehabisan oli, tak ada dalam sejarahku sejauh ini. Sebelum kulajukan kendaraan, aku mengecek barang bawaanku lagi. Aku pastikan barang-barang yang kuperlukan tidak ada yang tertinggal. “Bismillah,” kuucapkan usai semua barang sudah terbawa, kuinjak porseneling, dan gas kutarik perlahan.
Jalanan hari ini tak terlalu padat, para karyawan sudah asik di kantor mereka masing-masing. Pemandangan anak-anak sekolah dasar berlarian di lapangan sekolahnya, sekilas nampak ketika melewati SD tempatku dulu sekolah. Tak banyak perubahan di gedung maupun lingkungannya, hanya pepohonan yang kian rindang dan tambahan pagar dengan warna oren menyala, kontras dengan warna bangunan. Tiba-tiba aku teringat masa SD yang sangat nyaman, tak perlu memikirkan banyak hal seperti saat ini. Bermain, lari-larian, jajan, dan sedikit porsi belajarnya. Sungguh jauh porsi belajar siswa SD pada zamanku dibandingkan dengan saat ini.
Kulajukan sepeda motorku menuju taman bunga, yang sudah lama tidak aku kunjungi. Wah iya ya, aku sudah lama tidak memberikan hiburan untuk mataku sendiri. Aku terlalu berfokus mencapai pencapaian di perusahaan, hingga terlewat melakukan kebiasaanku bersama orang tuaku, pergi ke taman bunga. Kebiasaan sejak aku kecil hingga aku dewasa, yang berakhir di tiga tahun lalu. Sudah, tak usah risau. Kali ini aku bisa pergi ke taman bunga walau sendirian. Terlalu asik pikiranku berkelana, 200 meter lagi aku akan sampai tujuan.
Tampak dua orang lelaki memakai rompi berwarna biru bertuliskan jukir, yang membantu pengunjung untuk memarkirkan kendaraan ketika datang dan membantu mengelurkan. Aku memilih parkir dekat pintu masuk, tak mau jalan terlalu jauh dan menghindari bingung ketika mencari. Tak langsung kusejajarkan dengan sepeda motor lain, hari ini aku sedang dalam mode malas untuk menata motor ketika parkir. Tidak hanya itu alasan sebenarnya, namun hanya ada satu tempat kosong yang sangat pres. Jika kupaksakan parkir sendiri, mungkin akan menyenggol dua kendaraan di kanan dan kiri. Aku turun dan mencabut kunci, tanpa mengunci setir.
Masuk area taman, aku langsung membidik salah satu pojok yang kosong. Aku jalan dengan santai, menikmati bunga-bunga yang bermekaran. Alhamdulillah, nikmat yang tiada bisa kuabaikan. Nikmat yang luar biasa. Aku mengeluarkan gawai, sesekali mengambil foto bunga, untuk kujadikan koleksiku pribadi. Koleksi foto, bukan tanaman bunga aslinya, hehehe.
Sudah puas mengambil beberapa foto, aku melanjutkan menuju tujuan awalku, menulis jurnal. Aku duduk di kursi dengan ornamen ukiran sederhana yang membuat nampak gagah. Sebenarnya kursi yang kududuki cukup untuk dua orang, tapi kali ini aku isi sendiri saja. Tidak sendiri, aku bersama diriku dan ranselku. Aku meletakkan ransel di bagian kursi yang kosong. Jurnal kukeluarkan bersama alat tulis dan sebotol kecil teh chamomile. Aku awali dengan minum teh.
Tegukan coklat yang kuisap dari cangkir kali ini, susah kutelan. Kian susah ketika aku makin memaksakan. Sepuluh detik, 15 detik, 20 detik, tetap tak tertelan. "Hai. Are you okay?" Psikolog akhirnya mulai menyadari ada hal tidak baik yang terjadi pada diriku.
"Ouh, ya. Ha-hai, Kak." Mengapa jawabanku menjadi terbata-bata? Nafas yang kuhirup juga semakin berat, tak bisa menarik nafas sedalam sebelum aku menyesap coklat.
"Tarik nafas dalaaam." Aku langsung mencoba menghirup udara, tetapi masih saja tak bisa kulakukan dengan optimal. Perlahan kuletakkan kembali cangkir di atas meja. Mata kupejamkan sejenak.
"Nggak apa-apa tarik nafas dulu, diatur supaya bisa lebih tenang. Pelan-pelan. Semakin lama membuat dirimu tenang dan jauh lebih tenang. Memang tak mudah untuk melepaskan dan mengurai kejadian di masa lalu. Kamu sudah mau berjuang sejauh ini, sangatlah bagus."
Aku berusaha menikmati setiap oksigen yang kuhirup dan memenuhi paru-paruku. Ada yang mengganjal di dada kiriku, entah apa itu. Otot di leherku masih menegang. Alis mataku serasa menyatu dan dahiku mengerut. Kali ini aku menghirup oksigen dengan lebih dalam, lebih banyak yang kumasukkan untuk memenuhi paru-paru. Kudengarkan detak jantungku.
"Semakin lama, membuat dirimu semakin tenang dan semakin menikmati setiap nafasmu. Kali ini, dirimu jauuuh lebih tenang. Coba bayangkan di hadapanmu ada dirimu yang masih kanak-kanak. Ajaklah dia bicara, katakan padanya, kita jalan bersama yaa, kita bergandengan tangan. Kita hadapi bersama, apapun yang akan terjadi di depan. Kita pasti punya kekurangan, namun ingat kita juga punya kelebihan. Ayo, kita fokus pada kelebihan kita yaa." Air mendesak ingin lolos dari pelupuk mataku. Aku mencoba menyampaikan ajakan lagi pada diriku di waktu kecil, seperti yang dituntun psikologku. Aku mengajak untuk benar-benar jalan bersama. Air mata tumpah, membasahi pipiku. Aku menyadari bahwa sudah lama aku berjauhan dengan diriku sendiri. Sudah lama aku tak mengajak bicara diriku sendiri. Aku abai dengan diriku sendiri.
"Coba letakkan tangan kananmu di pundak kiri. Perlahan-lahan, tepuklah pundak kirimu. Sambil katakan, terima kasih yaa sudah berjalan jauh. Terima kasih sudah menjalani hari-harimu dengan kuat sampai titik ini. Letakkan tangan kirimu di pundak kananmu. Tepuklah kedua pundakmu perlahan-lahan, sampaikan terima kasih pada dirimu sendiri."
Hening. Aku diizinkan berterima kasih pada diriku sendiri. Kedua tanganku menyentuh lembut pundak, kuusap perlahan. Sungguh kuat diriku menjalani hari-hari kemarin. Benar-benar tak kusangka, aku bisa berjalan sejauh ini.
Aku berbisik pada diriku sendiri, "nggak apa-apa jika masih terasa berat. Terima kasih diriku. Terima kasih sudah berjalan sejauh ini. Perjalanan berikutnya kita jalan bersama yaa." Walau masih tak sepenuhnya yakin, aku berusaha untuk mengajak diriku sendiri bersama menjalani hari yang entah akan seperti apa. Masih ada sesak di dada kiriku, namun ketegangan di leherku sudah mulai rileks, dahiku tak berkerut, sehingga alis mataku tak bertemu lagi.
"Nikmati setiap embusan nafasmu, izinkanlah emosi negatif keluar bersama nafasmu. Izinkanlah lepas, meninggalkan dirimu. Semakin lama dirimu semaaakin tenang dan rileks. Keluarkan segala emosi itu, ikhlaskan mereka meninggalkanmu, dan itu membuatmu menjadi tenang. Coba sentuh bagian mana yang masih sakit, tegang, atau serasa ada yang mengganjal."
Aku langsung menunjuk dadaku, masih sesak, walaupun sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin lebih plong lagi. Supaya aku bisa berjalan lebih jauh lagi. Aku sudah mengizinkan untuk melepas atau membuang barang yang memang seharusnya tidak kubawa dalam perjalanan hidup ini. Sudah cukup aku membawanya hingga usiaku saat ini, berat perjalananku, dan tak bisa berlari kencang.
Kali ini aku diminta untuk meletakkan telapak tangan kananku di dada yang masih terasa sesak dan ada yang mengganjal. Psikolog memintaku untuk menarik rasa sesak itu keluar melalui ujung tangan kiriku. Aku menarik membawa ke arah lengan tangan atas, kemudian turun ke lengan bawah, dan kubuang melalui jari-jemariku. Kulakukan berulang sesuai instruksi, hingga rasa itu benar tak kurasakan lagi.
"Selanjutnya, silakan kembali mengelus perlahan-lahan pundakmu dan peluk dengan erat. Peluk sehangat mungkin, sehingga dirimu merasa sangaaat disayang. Berikan senyuman terbaikmu untuk dirimu sendiri. Bentuk syukur atas segala nikmat yang telah kita terima dan menjadikan dirimu menjadi lebih tenang dan bahagia. Ucapkanlah terima kasih pada dirimu lagi bersama senyumanmu."
Kurasakan kedua ujung bibirku sangat mengembang, tertarik maksimal ke arah masing-masing. Tak kusangka aku bisa tersenyum selebar ini lagi. Aku menikmati senyuman tulus dari diriku sendiri, betapa indahnya, walaupun aku tak bisa melihat. Namun sangat terasa hingga ke dadaku, lapang. Kalau boleh berlama-lama aku sangat ingin terus seperti ini, sudah lama tak merasakan ketenangan dan lapangnya. Alhamdulillah.
"Bawalah rasa bahagia-tenang itu sampai membuka mata dan seterusnya. Bersiaplah, sebentar lagi akan membuka mata. Letakkan kembali tanganmu di meja. Tundukkan kepala. Tarik nafas yang dalaaaam, membuat dirimu tenang, embuskan melalui mulut, lakukan sebanyak tiga kali.
Sangat lelah ya kemarin? Sampai-sampai, aku tertidur pulas di tengah menulis jurnal. Tak apa, aku sudah mengusahakan yang terbaik kemarin, sudah menulis kan? Bukan tidak sama sekali. Terima kasih yaa :) Hangat hatiku mendengar ucapan terima kasih dari diriku sendiri. Hemb, senangnya hatiku. Walau kusadari masih ada sisi lain dari diriku yang menuntut diriku sendiri untuk menulis jurnal lebih panjang. "Kok baru sedikit sudah ketiduran sih. Kan jadinya belum tuntas untuk mengurai satu topik itu. Coba kalau nggak ketiduran, pasti sudah selesai".
Segera kutepis pikiran yang hampir menguasai diriku. Pikiran yang akan merusak prosesku atau bahkan bisa menghentikan, jika kubiarkan berlarut-larut. Aku memposisikan dudukku senyaman mungkin agar leluasa menulis lagi. Kali ini aku tak sendirian menguraikan kebisingan di kepala. Aku menulis jurnal bersama psikologku. Momen yang spesial, bisa ditemani walau secara daring dengan panggilan video.
Aku bersiap untuk memulai sesi sesuai jadwal yang sudah disepakati sebelumnya. Klik, menghubungkan. Tak perlu menunggu lama, panggilan video tersambung. Aku berjumpa lagi dengan psikologku. Saling sapa, menanyakan kabar, dan aku menyampaikan bahwa semalam aku ketiduran ketika sedang menjurnal, kuakhiri dengan tertawa. "Tidak apa-apa, Mbak. Memang tubuhmu sedang membutuhkan istirahat. Justru sangat perlu disyukuri bisa tidur dengan mudah kan Mbak? Tak perlu bersusah payah mengusahakan memejamkan mata dan tertidur pulas." Beliau menutup dengan senyuman dan memulai sesi.
Sesuai arahan beliau, aku diminta untuk menuntaskan jurnal semalam terlebih dahulu, jika sudah tuntas, baru aku melanjutkan pada hal lainnya.
Aku berpikiran demikian karena aku baru menyadari kalau Mas Rendra mengikuti akunku berulang kali, setelah Mas menikah. Ahahaha. Tega nian diriku tak menggubris ajakan untuk terhubung di media sosial. Namun tak apa, aku berhak atas akunku sendiri, jadi aku santai saja dan tetap tak mengikuti sampai kutuliskan jurnal ini. Ndak apa-apa, selama ini menjaga kewarasanku, akan tetap aku lanjutkan.
Mas Rendra, hari ini aku sudah tidak lagi menyimpan rasa marah dalam diriku. Aku ikhlaskan melepas emosi negatif yang menyelubungi hatiku selama ini, tepatnya usai pernyataan Mas yang menyakiti hatiku. Aku sudah mengikhlaskan itu. Mungkin Mas saat itu memang sedang tidak baik-baik saja, sehingga muncullah pernyataan tak mengenakkan, bahkan bisa jadi Mas Rendra tak menyadari hingga saat ini. Aku cukupkan mengurai perasaan dan segala hal yang pernah kupendam pasca tragedi itu. Aku sudah lega, Mas. InsyaaAllah sudah tidak ada lagi perasaan tidaak enak padaku, Mas.
Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Mas Rendra. Aku mendapatkan pembelajaran penting untuk diriku dan persiapan menuju jenjang pernikahan. Datang dengan cara yang baik, supaya tidak meninggalkan luka ketika harus pergi atau mudah diterima walau nanti ujungnya sama harus pergi. Dan mengakhirinya dengan cara yang baik.
Tragedi yang tragis, atau aku yang terlalu mendramatis. Kucukupkan sampai sini ya Mas Rendra. Semoga di lain kesempatan kita bisa berjumpa dengan suasana yang biasa-biasa saja, tanpa ada kecanggungan:))
"Aku sudah menyelesaikan jurnal yang Mas Rendra, Kak." Aku keceplosan memanggil Kak kepada psikologku. Tak apa, masih cocok menjadi kakakku.
"Baguus. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Lumayan,"
"Lumayan apa? Lega apa semakin ramai?"
"Lumayan lega, Kak. Aku sudah bisa menguraikan, bahkan hal yang tak ada dalam ingatan jangka pendekku, tiba-tiba muncul, Kak. Ternyata enak setelah kujalaninya. Ketawa-ketawa sendiri dengan kondisi yang sudah terjadi. Betapa aku yang polos saat itu terjadi. Bisa-bisanya aku demikian teganya juga. Tapi bukannya tega, namun aku tegas dengan pilihanku sendiri.
"Setelah ini mau nulis jurnal tentang apa?"
"Keluarga," jawabku spontan.
"Sudah siap untuk itu?"
"Emb, harus siap dong. Biar aku bisa lebih lega lagi."
"Kalau memang mau menuliskan tentang keluarga, saya titip pesan, kalau memang kamu merasa nafasmu menjadi sesak, ketika badanmu sampai bergetar atau kaku, tolong diakhiri ya." Psikologku tampak khawatir dengan pilihanku yang mau langsung menulis jurnal tentang keluarga. Beliau sudah paham bagaimana kondisiku hari ini, akhirnya mengizinkan aku walau berat.
"Iya, akan aku aku akhiri." Jawabku untuk menenangkan beliau yang jelas tampak ada kekhawatiran. Aku sendiri sedang meyakinkan diriku sendiri juga, kalau aku biarkan saja seperti kemarin-kemarin, tak akan pernah selesai aku mengurainya dan berlanjut ke tahapan berikutnya. Perjalanan panjang yang aku pilih untuk diriku sendiri.
"Aku mulai yaa, Kak" aku ingin segera memulai tahapan ini, supaya bisa mencapai titik lain dengan lebih cepat dari yang kita rencanakan bersama.
"Tunggu dulu, coba rehat sejenak. Minum terlebih dahulu. Bikin minuman apa hari ini?"
"Aku bikin coklat murni lagi hari ini. Rasa pahitnya enak, tidak sepahit perjalanan hidupku. Hahaha-haha," kuakhiri dengan tertawa, menertawakan kisah hidupku sendiri lebih tepatnya.
"Ya minumlah coklat itu dahulu, sebelum kamu mulai lagi. Rehat sejenak, hirup aroma coklat yang menguar." Akhirnya aku meletakkan penaku, menyesap coklat hangat, dengan hangat yang pas kali ini.
Aku tak bisa banyak memilih, malam ini aku harus tidur. Setelah sekian pekan aku hanya bisa tidur sekitar 3 jam saja. Sangat lelah tidak bisa tidur, apalagi bersama pikiranku yang sangat riuh. Malam ini semoga menjadi malam kedua yang menenangkan, rapalku dalam hati. Namun, sebelum tidur aku terlebih dahulu menulis jurnal. Segera kutarik kursi, duduk, dan kubuka kembali jurnal berwarna biru, salah warna kesukaanku yang menenangkan. Aku ditemani secangkir teh bunga chamomile yang dicampur madu.
Mas Rendra, ada hal lain yang terlewatkan di malam kemarin. Aku lupa menyampaikan terima kasih atas mudahnya dirimu menyerah. Aku juga baru ingat, bahwa Mas Rendra awalnya basa-basi bertanya padaku tentang rekomendasi buku. Aku yang seringkali menghabiskan waktu di depan laptop, mana sempat diriku membaca buku. Adanya, aku tertarik suatu judul buku, membeli buku, membaca sedikit, dan menumpuknya. Menumpuk buku yang kian tinggi menjadi menara ilmu yang tak terbaca. Jadilah aku merekomendasikan kawanku, Yudistia.
Yudistia satu-satunya orang yang pernah kukenal, bisa menamatkan buku ratusan halaman dalam sekali duduk. Bahkan, sehari bisa melahap minimal tiga buku dengan genre berbeda-beda. Jauuuh sekali dengan diriku yang satu buku bisa bertahun-tahun. Ada saja alasan yang kulontarkan setiap ada keinginan membaca buku, ajakan membaca bareng, bahkan ketika ada kemudahan sekalipun, aku sering menolaknya. Sungguh tak bersyukur diriku ini. Loh, kok jadi membahas diriku sendiri?
Okay, balik lagi ya. Mas Rendra, baru kusadari saat menuliskan ini, bahwa ternyata permintaanmu untuk memberi rekomendasi buku dariku. Itu adalah modus Mas Rendra untuk mendekatiku. Tapi langsung gagal, karena aku langsung merekomendasikan kawanku. Ahahahaha. Maafkan aku, Mas. Tak sengaja aku tertawa. Pun, tak apa lah, aku menertawakan kejadian itu. Toh sudah berlalu sekian tahun lalu. Kini Mas Rendra sudah berkeluarga, entah dengan wanita yang mana, aku tak tahu dan aku memang tak hadir dalam pernikahanmu Mas. Bukan tak mau hadir, namun memang aku tak diundang.
Memori ingatanku yang lain mulai ikut terbuka. Mungkin ini bener-bener menjadi yang terakhir. Mas Rendra berulang kali mengikuti akun instagramku, dengan akun berbeda-beda. Tetapi aku tidak mengikuti balik akun Mas Rendra. Entah apa alasan sebenarnya Mas Rendra melakukan hal itu. Tak habis pikir. Aku sekadar tahu saja. Atau tujuannya sama, dalam rangka menjerat dirku tuk masuk ke lubang hatimu. TAK BISA, Mas.
.... Bukan, bukan aku tak mau membersamaimu. Tetapi aku tak siap dengan konsekuensi jika aku harus menikah denganmu tiga bulan lagi. Aku tak berani menyatakan ini padamu, hanya bisa kusimpan sendiri. Aku takut, takut kehilangan diriku sendiri. Jika aku paksakan bersamamu. Aku tau bahwa dirimu baik, tak banyak tingkah, pola hidupmu baik, bahkan dirimu berusaha menyeimbangkan antara dunia dan akhiratmu.
Hal lain yang tak kuinginkan dalam pernikahanku adalah aku tak ingin menikah dengan keluargaku sendiri, di antara kita memang tak ada hubungan darah. Namun aku tak siap dekatnya dirimu dengan keluargaku. Aku tak siap jika di kemudian hari aku tak sesuai dengan yang kalian lihat. Aku tak siap dengan aku yang menjadi bahan omongan di keluargaku, seperti istri sepupuku. Aku bisa paham bahwa dia seperti demikian karena memang tak memiliki pengalaman untuk urusan hal rumah tangga. Sama dengan diriku, aku yang tak suka dengan urusan rumah tangga, terbiasa membutuhkan orang lain dalam mempermudah hidupku. Mungkin dirimu akan kaget dan menjadikan bahan perbincangan bersama keluargamu, sampai akhirnya terdengar oleh keluargaku. Aku tak siap dengan hal itu, benar-benar tidak siap. Selain yang kurasakan setelah perjalanan permohonanku padaNya, jawabannya memang TIDAK, kurasa aku yang memang sedang tidak siap, bahkan aku sedang tidak memikirkan tentang pernikahan.
Dirimu tiba-tiba datang dan memberi syarat, kalau menerima akan menikah di bulan Juli, aku mendengar kabar di bulan Maret akhir. Aku sedang tidak terikat janji maupun hubungan dengan siapapun, tak ada pula kedekatan dengan lelaki manapun. Benar-benar tak ada.
Aku mencoba mendengarkan diriku sendiri, jauh lebih dalam. Aku berusaha menyadari bahwa aku ingin menikah, alangkah lebih baiknya menikah dengan bersegera. Hadirmu yang tak pernah kukenal sebelumnya, sebenarnya cukup mengambil hatiku, tak ada celah keburukan yang sangat berseberangan dengan kriteriaku. Dirimu bahkan memenuhi semua kriteria yang pernah kutuliskan sebelumnya. Aku ingin langsung menolak dirimu, tetapi aku takut tak ada lagi lelaki yang mau mendekatiku untuk serius. Cukuplah ceritaku sebelumnya yang sudah dua kali berujung gagal menikah, lagi-lagi bukan murni karena sifat mereka. Tetapi karena sikap yang ditunjukkan tak sesuai dengan diriku.
Ya, sebelumnya ada dua lelaki datang di waktu yang hampir bersamaan, satu begitu memaksakan ingin segera melamarku, padahal baru kenal beberapa hari saja, Mas Sakti namanya. Kedua, Rendra yang baru bertemu, setelah terpisah sekitar 4 tahun denganku dan langsung 'menginjak' dirimu sendiri di hadapanku, merendahkan dirimu dengan majas-majas, yang secara tidak langsung juga meledek diriku dan keluargaku. "Aku layaknya pedagang asongan yang menanti dibukakannya pintu rumah mewah, akan kunanti meski dirimu dan keluargamu tak sedikitpun melirik diriku." Aih, seperti tahu sekali dirimu tentang keluargaku, secara tidak langsung dirimu memfitnah keluargaku.
Mas Rendra tidak sedikitpun keluargaku memiliki nilai untuk membedakan strata. Justru keluargaku sejauh ini terus berusaha bangkit, merintis usaha untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Mungkin yang Mas Rendra lihat adalah kekayaan berupa rumah dan kendaraan, tak sedikitpun Mas Rendra mengetahui bahwa aku dan keluargaku habis-habisan mendirikan usaha keluarga. Aku jadi teringat tentang pertemuan kita sembilan tahun lalu, Mas Rendra yang menjabat sebagai ketua OSIS, aku maki gara-gara Mas Rendra terlalu asik pacaran dengan salah satu ketua divisi. Hingga performa sebagai ketua OSIS begitu buruk di mata semua warga sekolah, dan hampir saja Mas Rendra akan diturunkan secara paksa.
Kedatangan Mas Rendra di bulan Februari, benar-benar membuatku jijik, Mas. Tiba-tiba chat dan memberikan penilaian padaku. "Mau mencari apa lagi, dek? Kuliah tinggal menunggu wisuda, kerja sudah dapat sebelum lulus. Sudah, perempuan tidak usah belajar tinggi-tinggi, cukup di rumah saja." Demi apa Mas Rendra melarang-larang diriku terus belajar, padahal baru mulai komunikasi.
Kuembuskan nafas perlahan, ada sesak ketika menuliskan bagian terakhir ini. Tanpa kusadati, ternyata tulisan jurnal harianku sudah mau masuk halaman ke empat. Aku sedang membiarkan suara diriku teralirkan begitu saja melalui tulisan. Tak apa tidak terstruktur dan tata bahasanya berantakan. Aku mengabaikan itu, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa mengurai yang kurasakan dan sering kuabaikan. Aku tidak mengizinkan diriku terbelenggu dengan hal yang sudah berlalu. Aku ingin berjalan dengan lebih tenang, mengeluarkan barang yang tak perlu kubawa, supaya jalanku bisa lebih jauh dan aku bisa menebar kebaikan dengan lebih luas.
Aku mengambil cangkir putih berisi coklat panas yang kini tak panas lagi. Aku sesap perlahan, menikmati pahitnya coklat murni tanpa tambahan gula. Kuhirup lebih dalam aroma coklat yang membuatku lebih tenang. Nafasku kini lebih lega, tak lagi sesak. Aku kembali melanjutkan menulis, ada ketenangan yang menyeruak di dada dan pikiranku, setelah menuangkan dalam tulisan. Memang nyata bahwa menulis itu bisa menjadi terapi untuk pemulihan, sesuai rekomendasi psikolog yang kutemui siang tadi.
Mas Rendra, aku melihat foto anakmu dari Kala yang membagikan di grup alumni. Aku bisa tersenyum melihat senyuman anakmu, Mas. Aku turut berbahagia karena setelah Mas Rendra menyatakan ingin menungguku tetapi tetap kutolak, ternyata Mas sudah menikah, bahkan punya anak. "Selamat ya, Mas. Semoga anaknya bisa menjadi anak shalih dan bermanfaat dalam kebaikan-kebenaran, aamiin." Tulisku dalam percakapan grup. Aku saat itu spontan menghitung jarak antara usai aku menolak dan waktu anakmu lahir, ternyata 9 bulan 20 hari. Berarti usai kutolak, Mas langsung mengajak wanita lain untuk menikah. Aku berdoa, semoga istri Mas Rendra tidak menjadi pelampiasan atas kecewamu padaku yang telah menolak. Pasti tidak nyaman dan akan ada kecanggungan antara kalian. Aduh, lagi-lagi aku menduga-duga, semoga hal itu tak terjadi. Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah, wa rahmah.
Mas Rendra, aku memang tidak menyatakan ini secara langsung padamu, Mas. Namun aku sangat berterima kasih atas hadirmu dalam hidupku, celaanmu melalui status di whatsapp kala itu, menjadikanku lebih kuat dan keputusanku tepat. Pun tak selayaknya Mas Rendra menjatuhkan harga diri untuk meraih simpatiku. Tak perlu menjatuhkan untuk mendapatkan, cukup menjadi diri sendiri yang terus memperbaiki. Saat ini aku lega dan lebih bahagia, tak ada lagi amarah dalam diriku. Terima kasih Mas Rendra.
Kuletakkan pena di samping jurnalku yang kubiarkan terbuka. Kaca mata kumasukkan kerumahnya. Cukup untuk hari ini. Perlahan aku melangkah menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci muka. Bersegera mengistirahatkan diri di hari ini.