TRILOGI UNTUK AKU ( Part 3)

seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Ukraine
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Netherlands
seen from China

seen from Belgium
seen from China

seen from Lebanon

seen from United States

seen from Belgium

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China

seen from Malaysia
TRILOGI UNTUK AKU ( Part 3)
“Selamat ya! aku ikut bahagia”
Yang dikasih ucapan tak menjawab justru malah bertanya
“Kamu tahu dari mana Ra? Aku mau cerita dan aku bakal jelasin semuanya tapi gak sekarang”
“Gak perlu, gak ada yang perlu dijelasin. Kabari aku kalau butuh bantuanku.”
Mati-matian aku menulis pesan itu berusaha untuk terlihat bahagia. Meski hatiku patah, sepatah-patahnya. Bukankah bisa saja aku tak menuliskan pesan apapun untuknya. Kenapa pula justru kata-kata itu yang muncul. Aku bisa saja memblokir nomornya menutup rapat-rapat semua tentang dia. Mengalihkan dengan berkesibukan dengan apapun. Agar bisa lupa begitu saja. Namun sayangnya, tidak aku lakukan.
BERSERAH♥BAHAGIA (Part 4)
Riuh suara mahasiswa meneriakkan jargon masing-masing himpunan terdengar jelas dari dalam pendopo gedung tempat wisuda. Kobaran semangat anak muda yang amat sangat terasa, membuat bulu kudukku berdiri setiap mendengarnya. Hentakan kaki, suara tepukan tangan mengiringi jargon mereka. Membuat kepalaku terkadang ikut bergerak menikmati setiap iramanya, tanpa sengaja beberapa jargon himpunan lain kuhapal di luar kepala.
“Himpunan Mahasiswa Manajemen!” teriak Ketua Himpunanku, memberi tanda bahwa kami harus segera bersiap. “Kobarkan semangat kalian! Siapa kita?” lanjutnya.
“HIMPUNAN MAHASISWA MANAJEMEN!”jawab seluruh anggota Himpunan Mahasiswa Manajemen.
Aku bersama teman-teman Paduan Suara Mahasiswa saat itu sedang mengadakan acara Gladi Resik untuk persiapan acara wisuda besok, begitupun teman-teman Himpunan Jurusan. Beberapa anggota Paduan Suara Mahasiswa termasuk aku adalah anggota aktif Himpunan Jurusan. Rugi sekali rasanya jika kami tidak berkontribusi untuk Himpunan Jurusan kami, teman-teman Jurusan sudah kuanggap sebagai salah satu teman-teman terdekatku.
Teman-teman Himpunan Jurusan sangat mendukung kami untuk mengembangkan Unit Kegiatan Mahasiswa, salah satunya adalah Paduan Suara Mahasiswa yang sedang kami pimpin ini. Bahkan beberapa kali kami mengadakan kegiatan lomba persaudaraan antar Himpunan, mulai dari lomba nyanyi, lomba vocal group, lomba futsal, lomba basket, lomba tenis meja, lomba catur, lomba dance, dan sebagainya. Semua keindahan persatuan itu, membuatku semakin suka berorganisasi.
Gladi Resik merupakan latihan final kami setelah 10 kali latihan, bahkan lebih. Karena kami mengadakan latihan mandiri tanpa pelatih kami. Dalam paduan suara, posisi microphone harus diatur sedemikian rupa, agar harmoni suara kami terdengar indah, kami juga mengatur posisi orang-orang yang bertugas sebagai choir. Menagapa harus diatur? Karena ketebalan suara setiap orang berbeda, ada yang tebal dan ada yang tipis. Ada yang power dan teknik suaranya stabil ada juga yang masih kurang. Para penyanyi yang memiliki kemampuan bernyanyi yang baik biasanya disimpan berdekatan dengan microphone, sedangkan yang terdengar masih kurang aman, disimpan agak berjauhan dari microphone. Pelatih kami sangat menghargai orang-orang yang mau belajar bernyanyi, makanya tidak semua anggota paduan suara yang ikut bernyanyi, pandai bernyanyi. “Yang penting kalian masih punya attitude punya sopan dan santun, masalah skill itu bisa dilatih.” Kata pelatihku, namanya Kak Bella.
Aku tidak ikut bernyanyi, tetapi Kak Bella mempercayaiku sebagai dirigen yaitu orang yang memimpin sebuah pertunjukkan musik melalui gerak isyarat. Aku belajar dari Kak Bella langsung! Dia pernah mendengarku bercanda dengan seniorku di Paduan Suara Mahasiswa saat itu, aku pernah bilang “Bang, nanti aku yang jadi konduktor ya!”
Ternyata Kak Bella mendengar percakapan yang sudah berlalu satu tahun lalu. Sekarang seniorku itu sedang duduk di bangkunya saat wisuda besok. Memandang bangku-bangku itu rasanya campur aduk. Aku selalu merasa masih membutuhkan bimbingan senior-seniorku ini, senior rasa kakak. Banyak sekali yang mereka berikan padaku, terutama pengalaman dan ilmu. Besok adalah salah satu momen melepaskan mereka sebagai mahasiswa. Mereka akan segera terbang bebas mencari peradaban masing-masing. Mungkin setelah dari kampus ini, banyak dari mereka yang akan bekerja di luar kota atau bahkan luar neger. Ada juga yang menikah atau berkeluarga, mengikuti suaminya kelak. Aku tidak pernah tau, kapan lagi kami bisa memiliki waktu untuk bersama seperti dulu. Termasuk Mba Nisa… Sudah lama sekali aku tidak melihatnya, aku rindu.
Hari wisuda telah tiba. Aku bersiap mandi setelah melaksanakan Sholat Subuh. Selesai mandi kukenakan pakaian istimewa sebagai dirigen pertamaku tampil di depan seribu mahasiswa. Rasanya campur aduk sekali, nervous iya, bersemangat iya, entahlah. Tapi saat GR kemarin kubayangkan pendopo semegah itu diisi ribuan orang, hah jantungku berdegup sangat kencang.
Dengan hati yang cukup ketar-ketir, aku mempercepat dandananku, karena kami harus tiba di pendopo pukul 06.00 WIB untuk berdo’a bersama, pemanasan vocal dan teknis paduan suara memasuki pendopo seperti apa. Ini adalah kali pertama aku memasuki pendopo di acara wisuda sebagai dirigen, aku harus berpenampilan rapih.
Aku mengenakan dress berwarna hitam, dipadu dengan hijab berwarna silver, menyesuaikan warna pakaian teman-teman choir. Agar penampilanku jauh lebih mencolok, aku padu padankan dengan syal berwarna silver. Oke, perfect!
Semua persiapan sudah kami lakukan, pukul 08.00 WIB kami sudah harus masuk ke dalam pendopo. Kami menunggu di pintu masuk, setelah dipersilahkan oleh protocol, kami bersama masuk ke dalam pendopo. Kak Bella yang saat itu berubah peran menjadi pianist sudah berada di dalam pendopo bersama dengan piano andalannya setiap tahun.
Saat memasuki pendopo seluruh wisudawan/wisudawati seperti melihat ke arah kami semua. Aku masuk terlebih dahulu, diikuti seluruh choir yang berbaris rapih di belakangku. Rasanya sangat melayang, aku sungguh nervous, dadaku sedikit sesak, takut mengecewakan. Tapi semua aku lawan dengan rasa percaya diriku karena kami sudah latihan dengan sangat baik.
Sejak kami memasuki pendopo hingga akhir acara kami duduk di hadapan wisudawan/wisudawati. Aku duduk di dekat Kak Bella. Selama acara berlangsung, selama kami tidak bertugas untuk bernyanyi, aku curi-curi pandang melirik ke arah Mba Nisa, begitupun Mba Nisa sesekali melihat ke arahku, terkadang hanya tersenyum, sesekali juga mengangkat alis, mencoba membuat tertawa satu sama lain. Sesekali Mba Nisa mengucapkan “Kamu cantik banget” kepadaku, namun tanpa ada suara. Aku bisa melihat dengan jelas isyarat dari mulut dan tangannya. Akupun membalas sambil tersipu malu “Makasih.” Tanpa bersuara.
Tibalah saatnya pengumuman wisudawan / wisudawati terbaik. Ternyata salah satu wisudawan / wisudawati terbaik yang dipanggil adalah Mba Nisa. Rasanya aku ingin teriak, luar biasa sekali! Dari ribuan wisudawan / wisudawati, satu nama saja yang beruntung untuk memberikan speech di depan dan itu adalah seseorang yang pernah sekamar denganku. Maasya Allah! Rasanya bangga sekali bisa menjadi salah satu orang yang bisa dekat dengannya saat itu. Mba Nisa pantas mendapatkan itu, aku adalah saksi bahwa dia sesungguh-sungguh itu dalam meraih setiap tujuan mulianya. Aku juga saksi, bahwa perjalanan yang dia tempuh tidak semudah itu. Rasanya ingin sekali menjadi seseorang yang luar biasa seperti Mba Nisa. Tapi entah kenapa, masih terlalu jauh dan ketinggian untukku saat ini.
Membeli Masa Depan.
Aku masih mengamati rak berisi kenangan itu, sejenak kuberpikir. Jika kenanganku bisa dijual, mana yang akan kujual? Apakah kenangan setahun lalu, saat aku pergi tamasya ke kota kembang, atau ketika aku melakukan pendakian di tengah malam, bagaimana dengan jalan-jalan ke taman es, sepertinya perjalanan dengan mobil jeep juga menarik, atau kenangan di mana kutemukan laki-laki yang kucintai bergandengan tangan dengan selingkuhannya?
Sayang sekali hanya bisa memilih salah satu, mari kita berkeliling lagi siapa tau toko Aca menjual obat lupa.
Aku suka di toko Aca, toko ini lebih banyak menjual keajaiban daripada makanan. Ya, walaupun aku hanya bisa melihat-lihat dan tak membelinya, pemilik toko tidak keberatan jika aku hanya melihat-lihat.
Dari ujung koridor makanan ringan Fugo berjalan ke arahku dengan terburu-buru, karena tidak seimbang tubuhnya menyenggol rak berisis aneka kripik. Isinya berhamburan keluar, aku sigap mengambi kripik-kriping yang terlempar.
"Fugo, hati-hati dong." Aku memperingatkan.
"Maaf," sesalnya, "Di sana ada setumpukan masa depan." Fugo menunjuk ke arah dia berasal.
"Tidak ada yang menjual masa depan Fugo." kataku sambil merapikan rak kripik.
"Ayo, lihat dulu." Ajaknya.
"Aku tahu toko ini menjual beberapa keajaiban, tapi tidak dengan masa depan Fugo."
Fugo, terlihat sedih dengan ucapanku. Aku hanya bicara yang sebenarnya, Fugo masih terlalu muda untuk mengerti.
Aku memeluk Fugo yang murung. "Kita pulang saja ya." Pada akhirnya aku mengajak Fugo pergi, karena sudah mau jam makan siang, kalau tak segera pulang maka kami tidak akan makan siang.
Fugo mengangguk setuju.
Sebelum pulang aku memberi makan Kobu, kucing yang ada di toko, sepotong tahu putih. Kobu menjilati sepatuku, aku menggendongnya sebentar, salah satu alasanku ke sini juga karena ada Kobu.
Pernah suatu hari aku bermain seharian bersama Kobu. Waktu itu aku tidak tahu apa yang harus kulakukan setelah berhenti bekerja, sepanjang hari aku hanya tidur. Makan pun 3 hari sekali, kalau tidak tidur kerjanku hanya menangis.
Kurang lebih selama 3 bulan aku berdiam diri di rumah, tidak keluar rumah sedikit pun, bahkan aku tidak pernah melihat sinar matahari waktu itu. Kelurgaku memaklumu jadi saudaraku akan datang setiap hari dan menaruh makanan di depan pintu.
Aku hampir menenggak racun, mengiris nadi, menggantungkan diri di langit-langit kamar. Tentu saja keluargaku tidak tahu. Siang dan malam seolah satuan waktu yang terbalik di hidupku. Aku melakukan percobaan itu saat orang-orang tertidur.
Hari-hari yang gelap dan mendung sudah aku lewati, aku kira aku akan mati. Tapi kalau aku mati maka aku akan menjadi mati yang sia-sia bukan? Padahal aku ingin sekali menelanjangi kekasihku dan juga selingkuhanya itu, mengulitinya, menyayat dagingnya, memotong tulang belulangnya lalu kuberikan pada anjing liar yang amat ganas, atau kubiarkan anjing liar itu mencabik tubuh mereka dan aku tidak perlu mengotori tanganku.
Ingin sekali aku melakukannya, melihat mereka menderita dan memohon kepadaku.
Jangan mengajariku tentang ikhlas dan rasa sabar, semuanya sudah direnggut tanpa ampun oleh orang-orang yang menyebut dirinya dermawan.
Orang-orang itu, memungutku bak seekor anjing, aku diberi makan, diberi tempat tinggal, lalu aku disuruh patuh dan menjaga harta benda mereka.
Untunglah aku kabur, waktu itu. Namun, sepertinya mereka memberiku obat lewat makanan jadi ketika aku kabur dan pulang aku merasakan sakit yang luar bisa dan tak dapat bicara, aku merasakan sakit kurang lebih selama satu bulan, lalu setelah itu aku tertidur dan jarang bangun.
Alasan aku ingin mati juga karena rasa sakit yang kurasakan begitu amat sangat, kurasa mati adalah pilihan terbaik.
Tapi saat aku hendak membeli racun di toko Aca, aku berubah pikiran. Waktu itu aku datang dan toko masih sepi, aku disambut oleh Kobu, kucing hitam berkalung bulu putih. Aku menyebutnya demikian.
Kobu menjilati kakiku, di mengeong, berputar-putar di kakiku. Pemiliknya datang dari arah dalam, memergokiku yang sedang menggendong Kobu.
"Wah, suara Kobu rupanya." ucapnya.
Aku menaruh Kobu di atas meja, aku hendak berlari, karena ini tidak ada dalam sekenarioku, aku ke sini untuk membeli racun, sebab orang-orang bilang semua ada di toko ini. Tapi kobu melompat dari atas meja ke arahku. Sontak aku kaget dan terjatuh.
Menurut pemilik toko yang bernama Qenny aku terjatuh dan tak sadarkan diri selama dua jam. Qenny mau menghubungi keluargaku tapi tak tahu, dan juga kata Qenny aku sepertinya sedang tidur bukan pingsan.
Qenny bilang setelah aku bangun aku bertanya seperti ini, "Apa ini akhirat?" tentu saja pertanyaanku mengundang gelak tawa Qenny. Dia menjelaskan apa yang terjadi padaku, dia juga mengajukan beberapa pertanyaan padaku.
Entah mengapa aku menangis, menngis di depan Qeeny, padahal aku hampir tidak pernah menangis di depan keluargaku, setelah kemalangan yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini.
Kata Qeeny, "Menangis saja tidak apa-apa, jika itu membuatmu merasa lebih baik, tidak perlu mendikte bahwa dirimu kuat, kita hanya manusia, dan manusia perlu menangis untuk menjadi lebih kuat ."
Hari itu aku menangis di tempat Qeeny, bahkan dia menutup tokonya agar aku bisa menangis sepuasnya. Entah mengapa aku menceritakan semuanya pada Qeeny. Tentang pengkhiantan kekasihku, tentang orang-orang dermawan, tempat kerjaku dan juga keluarga.
Qeeny menerimaku dengan tangan terbuka, dia menyuruhku untuk datang kapan pun aku mau dan juga Kobu, kata Qeeny semenjak dia lahir Kobu tidak pernah bersuara, makanya waktu aku datang dan Kobu bersuara Qeeny hamipr tidak percaya.
Jadi aku cukup sering datang ke toko Aca, walaupun jaraknya cukup jauh, tetapi di sini aku merasa dihargai. Salah satu hal yang hilang dari diriku.
Setelah aku menerima pengkhiantan dari mantan kekasihku itu aku kehilangan beberpa hal di hidupku. Aku jadi sesorang yang mudah marah lebih dari siapa pun, merasa sedih, merasa gagal, meras tidak berharga dan juga merasa tidak pantas.
Itu juga yang menyebabkan aku berhenti bekerja, dan mengurung diri di rumah. Waktu itu aku hanya ingin menghilang, menghilang entah kemana.
Namun, akhir-akhir ini karena aku sering datang ke sini, lambat laun semua kembali, meski tidak seperti dulu. Aku mulai tidur seperti orang-orang pada umumnya dan aku mengelola warung kecil di depan rumah.
Oh, iya Fugo adalah pelanggan setiaku, semenjak aku membuka warung dia terus datang, walaupun warung kututup dia akan tetap datang.
Aku bersyukur bisa bertemu dengan Qenny, Kobu dan juga Fugo. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan hidup lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sepertinya Tuhan ingin aku tetap hidup, setidaknya untuk diriku sendiri. Aku mulai dengan hal-hal sederhana yang bisa kulakukan, sperti tidur dengan cukup, makan dan minum dengan cukup dan pergi ke toko Aca, sesekali
Aku memasuki kelas berukuran 10x10 meter dengan tiga jendela kaca yang memenuhi sisi dinding bagian selatan. Hanya ada sebuah pintu masuk dengan lebar satu meter. Ruang kelas dengan dua papan tulis putih atau mereka menyebutnya whiteboard, papan tulis yang masih jarang aku temui di kampung halamanku. Ada 12 meja besar terbagi dalam tiga banjar dan empat baris. Meja dengan alas putih yang tentu lebih lebar, bahkan sangat lebar, daripada meja kayuku saat SMA dahulu. Meja dengan besi di bagian bawahnya dan kakinya terbuat dari pipa besi dua letter C yang saling membelakangi. Kalau diangkat sendirian, kukira mampu mengubah posisi tulang belakangku karena memang terlihat sudah sangat berat walau belum diangkat. Kursinya adalah kursi lipat dengan alas duduk dan sandaran berwarna hitam. Aku memilih duduk di pojok kiri depan, dekat jendela.
Suara riuh terdengar sepanjang waktu di kelas ini. Maklum, dari berduapuluh, hanya lima di antaranya perempuan. Lima belas orang laki-laki yang berlatar belakang smk teknik bangunan, ternyata mempunyai kebiasaan tak pernah diam, selalu ada saja bahasannya. Ya, lelaki dan perempuan ternyata sama saja, membutuhkan ruang untuk bercerita, sekalipun dia seorang introver.
"Pagi, kawan-kawan!" Suara riuh sekejap terlempar ke luar kelas. Hening, tak bersuara, ketika seorang dosen laki-laki memasuki ruang kelas kami. Seorang laki-laki dengan tinggi badan tidak lebih dari 160cm, berwajah kotak, di dahinya ada dua titik hitam, dan logatnya sepertinya bukan orang Jawa.
"Pagi, Paaak!" jawab kami semua setelah lima detik hening.
"Oke. Saya adalah kaprodi jurusan kalian," dosen tersebut langsung pada intinya, perkenalan, "nama saya Reynald Putra. Kalian bisa panggil saya Pak RP. Er Pe bukan rupiah ya! Tapi Reynald Putra." Sontak suara riuh itu kembali ke dalam kelas kami. Bapak Reynald Putra. Wajah yang juga terasa tidak asing. Tapi siapa?
"Selamat datang di Jurusan Manajemen Rekayasa konstruksi Teknik Sipil Kampus P. Semoga kalian betah sampai akhir. Kalian angkatan ke-3 dari program reguler Diploma IV ini," lanjutnya.
Teknik Sipil. Iya. Akhirnya aku ditakdirkan untuk memasuki dunia ketekniksipilan, bukan dunia kearsitekturan seperti yang pernah aku perjuangkan sebelumnya. Sebuah plotwist dalam hidupku.
****
Beberapa bulan lalu...
Siang yang terik, selepas pendaftaran SPMB, aku dan bapak sedang menunggu angkot di depan gerbang Kampus I. Bapak yang telah sempat tertidur saat menungguku seharian untuk daftar SPMB, membuka pembicaraan dengan menunjukkan sebuah brosur pendaftaran Diploma IV kampus P. Kampus yang tidak jauh dari kampus I berada.
"Ndug, kita mampir ke sini dulu ya! Lihat-lihat," ajak bapak memperlihatkan selembar brosur ukuran A4 dengan tiga lipatan. Pada brosur itu terpampang nyata tulisan PENDAFTARAN DIPLOMA IV KAMPUS P. Aku melihat tanggal pendaftarannya, hari ini adalah hari pertama. Sungguh, kampus ini benar-benar memanfaatkan momentum dengan baik. Memberikan opsi kedua bagi lulusan SMA SMK seperti kami agar tetap melanjutkan studi ketika pada akhirnya nanti kami tertolak di ujian SPMB. Dan bapak tidak melewatkan kesempatan sedikit pun untuk bisa menyekolahkan anaknya di kota M ini.
Aku menoleh dengan wajah datar dan tatapan tanda tidak setuju. Tapi sayang, aku tidak bisa beralasan dengan dalih permintaan bapak. Aku menghela nafas panjang dan tetap diam. Dan bapak tidak mempedulikan sinyal ketidakinginanku. Seperti sifat umum laki-laki, tidak peka.
Ketika bapak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kampus P, bapak sengaja tidak menyebrang jalan untuk mencari angkot dengan arah berlawanan. Bapak diam di sisi tempat kami turun pertama kali sebelum memasuki kampus I tadi. Aku hanya mengikuti beliau. Dan angkot warna biru muncul dari kejauhan. Bapak memberikan tanda berhenti dengan melambaikan tangan kirinya. Angkot biru itu ternyata juga mengangkut calon peserta SPMB lain yang baru datang di siang itu. Satu. Dua. Tiga. Empat. Banyak juga ya peminat SPMB tahun ini. Mereka berpenampilan sama sepertiku. Penampilan khas anak yang baru lulus SMA dan bukan warga asli kota M.
Angkot berjalan dengan kecepatan rendah, karena sepanjang perjalanan menuju kampus P, ternyata banyak calon penumpang yang menunggu angkot dengan kode yang kunaiki sekarang. Sampai-sampai, yang awalnya aku dan bapak bebas untuk duduk, menjadi harus lebih mengalah berada di dekat pintu angkot, karena memang tujuan kami semakin dekat. "Kiri!" teriak bapak kepada supir angkot. Angkot bergerak menepi. Setelah berhenti benar, kami turun.
Sebuah gerbang besar berada di depan kami sekarang. Ada sebuah baliho besar. Baliho dengan judul yang sama dengan brosur. Baliho tersebut dipampang di sisi kiri sebuah gerbang. Gerbang dengan tulisan SELAMAT DATANG DI KAMPUS B. Kampus B? Bukannya aku mau ke kampus P? Otakku langsung bertanya-tanya dan hatiku sudah dalam kondisi senggol bacok di bawah terik matahari siang dan kondisi cacing di perut sudah berteriak-teriak.
Aku mengikuti langkah bapak. Menyebrang di zebra cross menuju ke gerbang itu. Langsung mengambil sisi kanan jalan. Tidak ada pedestrian, kami jalan menepi berusaha agar tetap aman berjalan melawan arus kendaraan bermotor yang datang dari dalam kampus. Sisi kananku ada pagar besi setinggi satu meter. Pagar besi itu terpasang mulai dari pintu gerbang tadi. Berbeda dengan sisi kiri jalan, ia tidak memiliki pagar besi yang sama. Kami berjalan kurang lebih 500 sampai 600 meter kira-kira dari gerbang tadi. Sebuah pencapaian luar biasa untukku yang jarang sekali jalan kaki sejauh itu di siang bolong dengan kondisi lapar. Dan bapak sepertinya selalu punya energi untuk itu walau ia terlihat lelah sekali.
Pagar besi itu pun akhirnya berakhir di sebuah lapangan parkir yang cukup untuk lima mobil dan puluhan motor. Dari lapangan parkir itu aku melihat tulisan KANTOR PUSAT KAMPUS P di atas sebuah gedung berlantai dua. Oh, ternyata kampus P berada di dalam kampus B. Bapak terus berjalan menuju gedung itu. Aku, si anak penurut (atau anak penakut?) mengikuti bapak di belakang. Kami melewati pintu kaca yang memang sengaja dibuka. Tidak jauh dari pintu tersebut terdapat dua meja. Meja pendaftaran dan meja formulir. Di depan meja-meja itu ada puluhan kursi yang telah ditata.
Ada sebuah banner yang berdiri di setiap meja dengan isi yang berbeda. Satu banner berisikan visi dan misi kampus P. Satu banner lainnya berisikan pilihan program studi yang ditawarkan pada level Diploma IV. Paling atas Manajemen Rekayasa Konstruksi. Di bawahnya Teknik Mesin. Disusul dengan Kelistrikan. Lalu, Akuntansi. Terakhir, Administrasi Bisnis. Saat membeli formulir, kami diberitahu bahwa lulusan IPA SMA hanya bisa mengambil program studi dari jurusan teknik saja. Dan pilihanku hanya tiga saja, dua jurusan berlatar belakang IPA Fisika Listrik, satu lainnya IPA Fisika Mekanika. Itu yang ada di benakku.
"Ndug, kamu isi ya!" bapak menyerahkan formulir kosong itu kepadaku. Aku diajak untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Kursi lipat yang sepaket dengan meja putihnya. Aku masuk kampus ini? Ah...bapak! Segigih itu kah punya keinginan menyekolahkan putri satu-satunya di dunia laki-laki seperti teknik sipil ini? Apa ini? Aku nggak mau!!! Teriakku dalam hati yang membuat raut wajahku sedikit cemberut. Kecemberutan itu yang nantinya membuat kesan pertama pada dua manusia yang tengah mengamatiku dari jarak tiga meter.
****
"Sara Pramita," suara Pak RP memanggilku.
Aku lantas mengangkat tangan, "Iya, Pak! Hadir!"
"Ah... kamu yang datang bersama bapak waktu itu ya? Syukurlah wajah cemberutmu tidak kamu bawa di hari pertama kita. Selamat datang di Jurusan Manajemen Rekayasa Konstruksi Teknik Sipil Kampus P, ya mbak!" sebuah kalimat yang membuatku baru tersadar dan wajahku memerah. Ternyata dosen cantik itu dan Pak RP adalah dua orang yang sedang bertugas menjaga pendaftaran kampus P kala itu. Ingin rasanya aku melarikan diri sejenak, menghalau perasaan maluku. Tapi sayangnya, aku tetap bertahan di sana. Damn!
Bersambung...
Untuk Apa Juga Siapa (4)
Angkasa menganggukkan kepalanya tanda paham atas semua yang disampaikan Bundanya malam itu.
“Sudah hampir larut malam, yuk kita tidur khawatir besok salat subuhnya terlambat”, ucap Alesha menutupi pillow talks bersama anak kesayangannya malam itu.
Adzan subuh berkumandang, Alesha bergegas membangunkan suami dan anaknya untuk menunaikan salat subuh berjamaah di masjid . Ia tinggalkan dulu lap pel dipojok ruang tamu. Alesha memang terbiasa bangun dini hari, menyelesaikan urusan domestik rumah tangganya sebelum pergi bekerja. Cuci baju, cuci piring, masak untuk sarapan dan bekal, nyapu, ngepel rumah ditambah lagi menyiram beberapa tanaman sudah biasa ia lakukan setiap harinya seorang diri.
Udara di subuh hari tidak pernah mengecewakan, selalu menjadi semangat baru bagi Alesha menjalani hari ini. Sepulang suami dan anaknya dari masjid, Alesha langsung menyediakan air teh manis dan sedikit makanan ringan, ia pun kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.
“Bund!!!” panggil Andi - Suaminya sambil melangkahkan kaki menuju dapur.
Belum sempat Alesha menjawab panggilan suaminya itu, tapi sudah langsung berucap lagi, "Aku pinjam uang dulu buat bensin ya 200 ribu, soalnya sudah gak pegang uang.”
Alesha berbalik badan menghadap suaminya yang berada di samping pintu dapur. Tanpa kata namun tatapannya penuh tanya. Ia hanya menghela nafas panjang.
Rupanya helaan nafas Alesha terdengar jelas oleh Andi, “kenapa gak mau kasih pinjam suaminya?klo gak ridho gak usah!” ucap Andi dengan ketus sambil meninggalkan dapur.
Kali ini Alesha tidak mengejarnya, badannya seketika lemas, susah untuk bergerak.
10 menit berlalu Alesha sadar, suaminya akan mengungkit-ungkit kejadian ini jika ia tidak menurutinya.
“Ini Yah,” ucap Alesha dengan lembut dan berhati-hati sambil menyodorkan empat lembar uang pecahan Rp 50.000 pada suaminya yang sedang duduk di ruang tengah. Andi terlihat begitu serius menatap layar ponselnya.
“Gak perlu.” ditepisnya tangan Alesha yang memegang empat lembar uang Rp 50.000 itu sampai berhamburan.
Alesha tak kuasa, ia mematung disamping suaminya. Air matanya pun jatuh, tetes demi tetes.
“Yah, mau sampai kapan seperti ini terus,”ucap Alesha sambil terisak. Kali ini kesabarannya sudah terkikis habis.
Andi terkejut mendengar suara isak tangis istrinya tersebut. Tanggannya tetap memegang ponsel, namun kepalanya ia angkat, kini bukan lagi layar ponsel yang ia tatap dengan serius, tapi beralih menatap tajam ke arah Alesha.
“Kamu ini kenapa? Jangan mentang-mentang sekarang kamu kerja, punya penghasilan sendiri, jadi seenaknya sama suami?” gertak Andi yang tak mau kalah, ia sama sekali tak iba melihat istrinya menangis.
Alesha tidak menjawab hanya menangis sesenggukan, dalam hatinya membatin. “Salahkah aku semua ini? Aku tak bermaksud untuk melawan, atau semena-mena aku hanya ingin kita sama-sama terbuka. Sama-sama memberitahu apa yang masing-masing inginkan, bagaimana kondisi saat ini, dan apapun itu, bukan aku ingin tahu semua hal, aku hanya ingin kita terlibat sama-sama, masih ingatkah janji kita bersama dulu? Ini semua bukan soal uang saja, tapi masa depan keluarga ini.”
“Jawab!!! Jangan malah nangis!!” bentak Andi sambil melemparkan gelas disampingnya.
Pagi yang tenang pun berubah menjadi rusuh, porak poranda, suara bentakan juga lemparan gelas malang itu terdengar sampai kamar Angkasa. Angkasa terkejut, ia langsung berlari ke luar kamar. Hatinya ikut hancur saat dia dapati sang bunda sedang menangis sambil tertunduk, sedangkan ayahnya berdiri tegak bak seorang mandor yang menghardik buruhnya.
Angkasa tak berucap sepatah kata pun, ia berjalan ke luar rumah melewati pecahan kaca juga Ayah dan Bundanya yang tengah memanas tanpa pamit.
Alesha dan Andi pun terkejut, melihat tingkah anaknya itu. Alesha khawatir mau mengejar Angkasa, namun tiba-tiba tangannya ditarik, dipaksa untuk tetap tinggal.
“Angkasa Yah,,,Angkasa,,,” ucap Alesha memohon-mohon.
“Angkasa masih bocah, dia gak mungkin pergi jauh, dia cuman ketakutan. Kalau memang kamu seperti ini terus, sudah kamu resign saja dari tempat kerja.”
“Bukan itu masalahnya Yah,,,”
“Justru itu yang jadi penyebab semua masalah ini kan?”
“Ini hari terakhir kamu ke kantor, urus surat resignnya. Aku malas berdebat!” Andi menuju ke kamar mengambil tas langsung pergi meninggalkan Alesha begitu saja.
Batin Alesha kembali ingin berteriak, teriak sekencang-kencangnya. Namun ia sadar, “Angkasa….” pekiknya. Alesha setengah berlari ke luar rumah mencari Angkasa. Sudah berjalan sampai ke ujung gang, namun tak terlihat batang hidung anak kesayangannya itu.
Tak menyerah, ia terus berjalan, bertanya ke setiap orang yang ia temui, berhenti di setiap warung mempertanyakan hal yang sama.
“Mamah Angkasa,,, apakabar?” sapa Mamah Romi, orangtua dari temannya Angkasa.
“Eh, Mamah Romi Alhamdulillah kabar baik, Mamah Romi lihat Angkasa?” balas Alesha tanpa basa - basi yang ada di pikirannya saat itu hanya Angkasa.
“Oh tadi saya lihat dia menuju ke Masjid An Nur yang di ujung jalan besar itu. Ada apa Bu? Angkasa lagi mogok sekolah ya?”
“oh, baik….Makasih banyak ya” Alesha langsung berlalu tanpa menjawab pertanyaan itu.
Langkahnya semakin cepat menyusuri jalanan beraspal itu sambil mulutnya merapal doa-doa, berharap semoga Angkasa benar ada di tempat yang ditunjukkan Mamah Romi.
Bangunan kubah sederhana di ujung jalan sudah mulai terlihat. Alesha semakin mempercepat langkahnya. Saat tiba, hatinya seolah menjadi lapang, matanya mulai hangat dengan air, penuh haru saat melihat anak yang dicarinya sedang duduk bersimpuh menghadap kiblat di dalam masjid itu. Ia tengah mengadu pada Sang Pembuat skenario hidup.
Alesha mendekati pintu masuk masjid itu, ingin rasanya saat itu juga ia peluk jagoannya itu. Namun ia tak mau mengganggu anaknya yang sedang khusu mengadu pada-Nya. Langkah kakinya pun berputar menuju tempat wudhu wanita. Diputarnya keran air itu, lisannya sambil berbisik “bismillahirrahmanirrahiim”. Sejuk, menentramkan hati, itu yang dirasakan Alesha, mulai saat berkumur, membasuh wajah hingga mencuci kaki. Seluruh rangkaian wudhu ia laksanakan tanpa celah dengan tu’maninah. Benar kiranya saat hatimu sedang dipenuhi sesak atau amarah, berwudhu adalah solusi ampuh untuk menenangkan bukan hanya fisik tapi juga pikiran dan hati.
Selepas wudhu, Alesha pun berjalan menuju pintu masuk masjid. Pintu masjid itu pun dibuka hingga terdengar suara, Angkasa menoleh ke arah pintu, ia menatap bundanya. Alesha membalas tatapan anaknya dengan senyuman. Tak ada adegan lari-larian saling menghampiri, justru Angkasa kembali menunduk, seolah ingin melanjutkan aduannya, Alesha pun berjalan menuju lemari tempat penyimpanan mukena, sarung dan Al quran di pojok mesjid. Alesha melaksanakan salat sunnah dua rakaat. Keduanya pun tenggelam dalam peraduannya masing-masing.
Tak ada yang paling menenangkan, aman juga tak mengecewakan saat kita mengadu pada Dia Yang Maha Tau. Dia yang takkan menghakimi jika kita menangis sejadi-jadinya, Dia yang selalu punya waktu kapan pun kita mencari-Nya, Dia hadir sangat dekat bahkan lebih dekat dari apapun yang terdekat.
“Semoga Engkau beri kami petunjuk untuk menyelesaikan permasalahan ini, aku hanya hamba Mu yang lemah, yang tiada daya, tolong kami, duhai Sang Pemilik Alam Semesta.” Alesha mengakhir doanya, sambil mengusap air mata yang sedari tadi deras mengalir.
Bersambung...
Sakti
Tepat pukul delapan pagi, ia sudah berada di stasiun Purwokerto untuk mengantarkan Diandra pulang ke ibu kota, Jakarta. Merelakan bangun sebelum matahari terbit dan ayam berkokok demi sang kekasih tercintanya ini sampai tepat waktu dan tidak ketinggalan kereta. Walaupun semalam ia baru bisa memejamkan matanya jam tiga dini hari.
Dinginya udara di penginapan sangat menusuk ke tulang membuat ia tak bisa terlelap. Dari pada membuang waktu percuma ia manfaatkan untuk mengedit foto. Mungkin jika dipakai sambil bekerja rasa ngantuk itu akan muncul. Tetapi tidak muncul juga hingga pukul tiga dini hari. Dan ia sengaja menidurkan diri karna selepas mengantarkan kekasihnya, ia harus menuju kota lain. Ada yang membutuhkan jasa motretnya. Sakti termasuk orang yang sangat memanfaatkan cuti untuk dapat menambah penghasilan. Tidak akan isa sia-siakan kesempatan ini. Selain menambah portofolionya, iajuga menambahan jaringan pertemanan serta biaya akomodasi sudah pasti ditanggung kliennya. Travelling tapi tidak memakai uangnya sendiri menjadi salah hal yang membuatnya bahagia dan sangat menyenangkan.
" Semua sudah dicek Ndra? " ucap Sakti mengingatkan kekasihnya jangan sampai ada barang yang tertinggal karna jarak tempuh dari penginapan menuju stasiun memerlukan waktu sekitar satu sampai dua jam jika perjalanan lancar.
" Wait, ku cek dulu. " jawab Diandra cepat. Sambil bergumama sendiri Diandra mengecek lagi semua barang bawaannya dan tak lupa dokumen penting perjalanan. Tiket kereta api dan kartu tanpa penduduk. Duahal ini sangat pebting, jika tidak. Bagaimana bisa ia cek in dan menaiki kereta api nantinya.
" Siap sudah komplit semua. Tiket kamu ada di kamu nih. Tapi aku kasih sekarang aja ya karna kita beda tujuan di stasiun nanti. " ucap Diandra sambil menyerahkan tiket kereta api Sakti tujuan kota selanjutnya. Sakti menerima tiket itu dan memasukannya ke dalam dompetnya. Supaya lebih mudah pas cek ini nanti, ia taruh di dekat posisi ia menaruh kartu tanda penduduk.
Diandra
" Mas, aku masih ngantuk banget. Kegiatan kita cukup padet ya selama dua hari kemarin. "
" Iya, mukamu keliatan lelah banget. Masih mau tidur sebentar menuju stasiun? "
Dengan memasang wajah memelas dan memohon langsung di jawab " Iya mas, gpp ya? "
" Apa sih yang ngga boleh buat pujaan hati mas. " ledek Sakti.
Sakti
Semasa kecil Sakti termasuk anak yang cukup bahagia dengan kasih sayang dari orang tuanya sebelum di kemudian hari kedua orang tuanya memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing. Usia Sakti saat itu sembilan tahun dan hak asuh Sakti berada di tangan orang tua laki-laki, papanya. Sedangkan adik perempuan Sakti ikut orang tua perempuan, mamanya. Sejak saat itu pula, Sakti berjuang untuk tidak selalu diledek oleh teman-temannya karna postur tubuh Sakti yang kecil.
Ada perasaan iri kepada teman-temannya setiap moment bagi rapor tengah semester, hasil belajar. Teman-teman lainnya selalu dengan orang tua mereka komplit, ayah bunda. Sedangkan ia, jika terkadang papanya ada perjalanan bisnis. Sudah dipastikan yang akan mengambil rapornya ialah mba asisten rumah tangga atau pun supir papanya. Tidak usah bertanya tentang mamanya. Karna sejak perceraian dengan papanya, mamanya sudah memutuskan untuk pindah ke bagian benua lain untuk bekerja dan menetap di sana serta melebarkan sayap bisnisnya untuk lebih pesat dan semakin berkembang. Adik Sakti pun ikut bersama mamanya. Enak sekali, pikir Sakti. Tapi apa yang terjadi tidak seindah yang dilihat. Beberapa kali adiknya sering cerita via sambungan jarak jauh atau terkadang via video call bahwa sama saja, ia pun merasakan kesepian dan dituntut untuk hidup mandiri di negara asing. Serta tuntutan agar lancar berbahasa asing tersebut sehingga tidak mengalami diskriminasi sebagai orang asing atau pun turis yang hanya sedang berlibur semata. Semakin berkembang dengan pesatnya teknologi bisa merekatkan hubungan yang tadinya jauh makin dekat. Tapi ibarat pisau bermata dua. Perkembangan teknolgi pun bisa berdampak buruk seperti menjauhkan hubungan yang harusnya dekat.
Setiap kali papanya melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau bahkan luar negeri, sepulang sekolah Sakti selalu main di rumah temannya. Iya papanya mulai melebarkan sayap bisnisnya secara perlahan ke kancah international. Bukan untuk mengikuti jejak mantan istrinya terdahulu. Tetapi awalnya mereka berbisnis bersama, hanya saja karna ego dan kesalah pahaman. Mereka mutuskan untuk berpisah. Sudah tidak bisa berjalan bersama karna visi misinya tidak selaras lagi.
Tomo Hiro, namanya. Anak laki-laki pertama keturunan Jepang- Indonesia. Ayah Tomo berkebangsaan Jepang dan ibu Tomo orang Indonesia asli. Namun, karna gen fisik mengalir cukup kuat dari orang tua laki-laki, maka postur tubuh Tomo mengikuti kebanyakan orang Jepang. Berambut lurus, agak jabrik, berkulit putih serta bermata sipit.
Merasakan seperti punya rumah baru setiap kali Sakti berkunjung dan bermain bersama Tomo di rumahnya. Ibunya pun begitu hangat. Tomo merupakan anak tunggal, tidak memiliki kakak ataupun adik. Sehinggaibu Tomo pun sangat senang sekali Tomo ada teman bermain sepulang sekolah dengan Sakti. Bukan hanya bermain, di rumah Tomo pun Sakti sering menginap untuk mengerjakan tugas sekolah bersama.
" Selamat sore Ibu. Saya Wira orang tua kandung Sakti. Maaf apakah anak saya sedang berada di rumah ibu? " begitu chat yang masuk ke dalam telpon genggam ibu Tomo. Sebelumnya memang ibu Tomo yang secara suka rela memberikan nomornya ke Sakti untuk diberitahukan kepada papanya supaya tidak khawatir keberadaan Sakti dimana, sedang apa dan bersama siapa.
" Sore Pak Wira. Iya betul. Nak Saktu sedari pulang sekolah sudah di sini bermain bersama anak saya. Sekarang Sakti sedang makan pak. Ada yang ingin disampaikan ke Sakti pak? " balas ibu Tomo.
" Alhamdulillah, syukurlah kalo begitu bu. Maaf saya merepotkan karna Sakti sering bermain ke sana bu 🙏" emotikon tangan permohonan maaf menyertai chat ke ibu Tomo. Sebagai orang tua, papa Sakti ada perasaan bersalah cukup dalam atas perceraiannya. Seharusnya Sakti dan adiknya tidak menjadi korban kegoisan kedua orang tuanya.
" Tenang saja pak. Sakti aman dan nyaman bermain bersama Tomo di sini. " balasan terakhir dari ibu Tomo yang mebuat papa Sakti tersenyum getir.
Sakti terlalu larut melihat kebahagian keluarga kecil di depannya ketika hendak memasuki stasiun tujuan membuat hatinya seperti ditetesi perasan air lemon, perih.
Diandra
" Ndra, dompetku dimana ya? " Sakti panik melihat dompetnya tidak ada di tempat semula ia taruh. Bagaimana ia bisa cek in. Tiket dan kartu tanda penduduk ia taruh di dalam dompet itu.
" Hah, serius mas? Coba cari lagi. " ucap Diandra seolah tidak tahu dimana dompet Sakti. Padahal dompet itu sudah berada di tangan dirinya. Pas Sakti jalan menuju loket pemeriksaan dompetnya terjatuh. Diandra melihatnya dan langsung ia simpan. Tapi bukan Diandra namanya jika ia tidak jahil tethadap kekasihnya itu.
(Bersambung)
Aku Ingin Memiliki Sayap Part 4
Sudah 4 hari sejak tuan Priscot tidak bekerja di toko roti, aku sudah sedikit khawatir dengan kesehatan ia. Diusia hampir menyentuh 50 tahun beliau masih tetap semangat untuk bekerja. Aku membawakan makanan ke rumahnya, rumah tuan Priscot tidak jauh dari toko roti hanya berjarak 5 bangunan. Didalam rumah yang sangat rapi dan hangat aku melihat tuan Priscot duduk di depan tungku api sendirian dan sedang melihat foto pernikahan ditangannya. Seketika itu aku mulai menetekan air mata. Ternyata tuan Priscot sedang merindukan mendiang istrinya. Diusianya yang tidak muda lagi ia harus hidup seorang diri, sama sepertiku yang tidak memiliki siapapun didunia ini. Aku merasakan apa yang ia rasakan kesepian dan kerinduan bersatu disatu waktu. Aku ingin menyapa ia namun aku tak kuasa membendung air mata ini yang terus menerus menetes. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumahnya, dan berjalan ke danau dibelakang kamarku. Meneruskan menangis yang tadi sempat aku tahan, menangis tersedu-sedu sendirian di sisi danau, meluapkan semua emosi yang aku rasakan. Aku ingin menangis dengan puasnya, sesak rasanya dada ini. Hidup bertahun-tahun seorang diri tanpa siapa pun. Kesana kemari, diusir, ditolak, dicurangi semua sudah kulalui. Hidupku tidak ringan semua yang kulalui sangat berat dan aku merasa ingin menyerah. Aku membiarkan diriku menangis dengan keras disisi danau, beruntung saat itu danau sedang sepi tak ramai seperti biasanya. Aku ingin meringankan beban berat yang menyesakan dada ini, aku ingin meringankan beban yang aku pikul dengan cara menangis sejadi-jadinya. Aku merindukan seorang ibu yang akupun tak tau wajahnya seperti apa. Aku merindukan sosok seorang ayah yang perawakannya pun aku tak tau seperti apa. Pertanyaan yang selalu aku ingin tau jawabannya adalah kenapa aku terlahir didunia ini dan alasan kenapa aku dilahirkan? Apakah aku anak yang tidak diharapkan? Semua pertanyaan-pertanyaan itu yang mengganjal dihati. Kemanakah aku harus mencari jawaban? Apakah aku bisa mencari jawabannya. Pemikiran-pemikiran yang terbesit dalam hati bahwa seandainya aku adalah anak yang tidak diharapkan memenuhi otak ini. Sungguh, memikirkan itu saja membuatku sesak dan ketakutan. Namun, bila memang diri ini tidak diharapkan setidaknya aku sudah tahu jawabannya. Tapi faktanya sampai detik ini aku tak tahu jawabannya.
Aku terdiam dan terduduk di sisi danau, menenangkan diri dulu sehabis menangis. Mungkin mataku sembab sekarang dan aku tak mau ada orang yang melihat diriku menangis. Mungkin, aku akan memberikan waktu kembali untuk berharap jika suatu saat nanti aku bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan ini.
Aku memutuskan untuk kembali kerumah tuan Priscot. Tuan Priscot sedang duduk ditempat yang sama namun memegang benda yang berbeda. Sekarang ia sedang membaca sebuah buku. Aku berjalan mendekat padanya
“Tuan Priscot” Sapaku
“Oh hallo Lilac” Jawabnya tenang
“Bagaimana kabarmu hari ini?” Tanyaku
“Tumben sekali untuk saat ini sakitku agak lama, tubuhku masih kurang enak untuk diajak beraktifitas. Mungkin tubuhku menyuruhku untuk banyak beristirahat” Jawabnya
“Dari muka anda masih terlihat pucat tuan, beristirahatlah dengan cukup jangan khawatirkan toko roti. Semua aman terkendali” Ucapku
“Terimakasih Lilac, kalau tidak ada kamu mungkin toko roti itu tutup selama saya sakit. Terimakasih sudah berkenan bekerja dengan saya” Ucap tuan Priscot
“Tuan. Yang harus berterimakasih itu saya. Tuan sudah menyelamatkan hidup dan harapan saya. Kalau tidak ada anda mungkin saya tidak tahu nasib saya sekarang. Apakah saya masih terlantar di luar sana atau bagaimana pun saya tak tahu.” Ucapku
“Lilac, saya ingin berbicara serius denganmu hari ini. Hari ini tutuplah toko pukul 5 sore dan kamu kembali kesini. Saya menunggumu” Ucap tuan Priscot
“Baik tuan, ini ada sedikit makanan untukmu tuan” Ucapku sambal menyerahkan makananku padanya.
“Saya akan kembali lagi nanti sore kesini tuan, saya pamit untuk kembali ke toko.” Ucapku pamit dan berjalan keluar rumah tuan Priscot. Di perjalanan menuju toko roti pikiranku melayang ke pembicaraan tadi, apa yang ingin tuan Priscot bicarakan.
Aku kembali beraktifitas seperti biasa, banyak pelanggan yang datang seperti biasanya. Aku melayani dengan suka cita berharap roti-roti ini habis sebelum pukul 5 sore.
Pukul 5 sore tiba, aku bergegas menutup toko roti setelah membersihkan semuanya. Aku berjalan menuju rumah tuan Priscot, tuan Priscot sudah berada di ruang tamu sambal meminum teh hangat.
“Lilac ayoh duduk.” Pinta tuan Priscot ketika melihatku memasuki rumahnya. Aku langsung duduk berhadapan dengan tuan Priscot.
“Lilac ada hal penting yang harus saya sampaikan padamu mengenai toko roti” Ucap tuan Priscot.
Aku mendengarkan dengan seksama, dan mulai menerka nerka ada apa dengan toko roti itu? Apakah ada yang salah selama ini dengan toko rotinya, pikirku selama ini tidak ada masalah yang terjadi. Pelanggan bertambah banyak dan pembuatan roti sekarang ditambah berkali-kali lipat dari biasanya. Aku mulai overthinking dengan arah pembicaraan bersama tuan Priscot saat ini.
“Lilac, saya akan memberikan sebuah keputusan malam ini. Ini sudah saya pikirkan matang-matang. Kamu tahu saya tidak punya keluarga dan anak untuk mewariskan toko roti ini. Dan keputusan untuk masa depan roti ini saya sudah pikirkan itu. Saya akan membagi kepemilikan toko roti ini padamu pembagian itu 60:40, bagian 60 milik saya dan 40 milik kamu. Jadi dari keuntungan toko roti itu kamu memiliki 40% bagiannya.” Ucap tuan Priscot. Aku kaget dan tak mampu berkata.
“Lilac, aku sudah melihatmu bekerja saat membuat roti. Aku melihat bahwa kamu tidak hanya membuat roti biasa, namun saya tahu bahwa kamu membuat roti dengan hati. Kamu menaruh hati ditahap-tahap membuat roti. Perasaan seperti itu tidak dimiliki semua orang. Membawa jiwa masuk kedalam proses pembuatan roti itu tidak mudah dan saya melihat itu di diri kamu. Alasan itulah yang membuat saya mengambil keputusan ini. Keputusan ini bukan tanpa dasar, tau tidak bahwa saya menunggu kamu sudah lama. Menunggu seseorang yang pantas untuk mempertahankan toko roti ini setelah saya tiada nantinya dan I did it, I found you.” Ucap Panjang tuan Priscot
Aku masih mencerna semua perkataan tuan Priscot. Seseorang pekerjaan rendahan seperti aku ini apakah pantas mendapatkan kesempatan besar itu. Lagi-lagi aku merasa tidak pantas untuk kebaikan itu.
“Tuan, saya bingung mau berbicara seperti apa? Apakah anda yakin dengan keputusan itu. Bahkan anda baru mengenal saya kurang dari 2 tahun ini dan memberikan keputusan yang sangat besar seperti itu. Apakah tuan tidak takut bahwa saya bukan seseorang yang anda kenal selama ini?” Ucapku
“Lilac, saya sudah hidup bertahun-tahun lebih dulu dari kamu, banyak orang yang sudah saya temui di setengah abad saya hidup didunia ini. Saya tahu mana yang tulus dan tidak. Lilac saya harap kamu menerima keputusanku ini.” Ucap tuan Priscot.
Bersambung