BERSERAH♥BAHAGIA (Part 6)
Inilah list resolusiku :
1. Lulus tepat waktu dengan IPK minimal 3,60.
2. Bekerja di sebuah perusahaan non bank (karena aku tidak suka terlalu diatur dan cukup malas berurusan dengan uang).
3. Memiliki usaha butik di Bandung.
4. Umroh dan traveling ke Turkey, Swiss, dan Jerman bersama keluarga besar.
5. Memiliki suami yang satu frekuensi, sholeh, setia, menyayangi keluargaku dan keluarganya juga menyayangiku. Bisa diterima di keluargaku dengan sangat terbuka dan bisa menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kami.
6. Ingin punya Villa di daerah Dago Atas dengan pemandangan pohon pinus di halaman belakang. Villa rumah kayu dengan 5 kamar tidur dan 3 kamar mandi.
7. Memiliki 3 anak.
8. Menjadi Atlet Memanah dan Berkuda.
9. Tinggal di Bandung yang dekat dengan lokasi latihan Memanah dan Berkuda.
10. Punya tujuan akhirat lebih spesifik lagi.
Sepuluh poin yang kutulis di buku journal ku yang saat itu aku beli bersama Mba Nisa dan Ami, beberapa sudah terealisasi. Tapi beberapa juga belum terealisasi bahkan sampai saat ini. Aku belum memiliki usaha butik, belum menjadi Atlet Memanah dan Berkuda, akupun belum memiliki rumah di daerah yang dekat dengan lokasi latihan Memanah dan Berkuda, serta masih banyak PR ku untuk membuat tujuan akhirat yang lebih spesifik lagi.
“Sayang, anak-anak cariin kamu tuh.”ucap suamiku sambil membelai rambutku yang cukup hangat karena cukup lama tersinari matahari.
“Sebentar yang, atau ajak anak-anak ke sini aja.”ucapku.
“Lagi apa sih? Oh, apa ini? Nulis journal lagi?”ucap suamiku.
“Iya, mau membuat resolusi lagi untuk kita dan masa depan kita yang.”ucapku.
Aku dan suamiku bertemu di perusahaan tempatku bekerja. Dulu dia adalah atasanku di kantor. Setelah 1 tahun bekerja, kami semakin dekat. Karena obrolan kami tidak pernah habis tentang berbagai macam hal, mulai dari hal penting sampai tidak penting. Bahkan disaat kami dalam diam saat bersama, itu sudah sangat cukup untuk kami berdua.
Cinta kami sempat terhalang karena peraturan perusahaan yang tidak mengizinkan pegawainya saling memiliki ikatan pernikahan, konsekuensinya salah satu dari kami harus keluar. Aku? Tentu tidak ingin keluar, karena berat untukku mencari pekerjaan lain. Karena aku memiliki tanggungan adikku yang masih bersekolah, orang tuaku sudah tidak ada.
Namun, Mas Surya tidak pernah mundur untuk memperjuangkan cinta kami. Dia selalu meyakinkanku lewat usahanya, salah satunya dia upgrade diri untuk belajar berbisnis. 3 tahun lamanya kami bersama, aku setia mendampinginya sampai dia yakin dengan keputusannya untuk menikahiku dan memilih meninggalkan pekerjaan yang sudah memberinya pengalaman yang sangat banyak juga penghasilannya yang terbilang besar. Dia lebih memilih beralih menjadi wirausaha.
“Uang bisa aku cari, tapi wanita seperti kamu tidak bisa aku dapatkan lagi dimana-mana. Tolong jangan pernah menyerah dengan hubungan kita.”ujar Mas Surya memohon kepadaku.
Hati wanita mana yang tidak terenyuh mendengar kalimat seperti itu. Mas Surya sangat menginginkanku, akupun memiliki keinginan yang sama. Mas Surya adalah salah satu orang yang jarang sekali membuat janji, tetap setiap dia berjanji, sampai akhir selalu dia tepati. Mas Surya adalah lelaki yang selalu bisa mengerti aku dan mendidik aku menjadi seseorang yang lebih baik lagi untuk diriku sendiri. Mas Surya adalah air dikala aku menjadi api, akupun juga bisa menjadi hal sebaliknya. Kami saling melengkapi dan saling menjadi langkah untuk satu sama lain.
Janji Mas Surya terpenuhi, 3 tahun dia menekuni dunia bisnis disela kesibukannya menjadi Manager di kantor kami. Ternyata dia sudah bisa masuk ke dunia bisnis, keuntungannya saat itu sudah melebihi penghasilan dia sebagai Manajer per bulannya. Omsetnya pun sudah bertambah beberapa kali lipat.
Villa ini, bukanlah Villa yang aku dapatkan dari hasil jerih payahku. Yah ada sih, beberapa perabotannya saja. Tapi Villa ini adalah Villa yang Mas Surya berikan di hari ulang tahunku 3 tahun yang lalu. Hahaha…
Yah terkadang dunia ini lucu teman-teman. Kalau kita peka dengan semua kejadian. Terkadang impian yang kita inginkan bisa saja tidak datang dari hasil jerih payah kita, bisa saja impian itu kita dapatkan melalui orang-orang di sekitar kita. Itulah kuasa Allah!
Aku tidak pernah menyesal pernah memperjuangkan impianku, walaupun belum semua tercapai. Tapi usahaku untuk memperjuangkan itu semua, berdampak pada diriku sekarang. Aku bisa mendidik anak-anakku dengan jauh lebih siap karena banyaknya pengalamanku mengikuti organisasi, aku tidak mudah lelah dengan tingkah laku anak-anak. Di himpunan aku pernah mengikut program mengajar selama 2 bulan untuk mengajar anak-anak TK, SD. Dulu aku mudah emosi dan lelah, tapi sekarang aku sangat menikmati tingkah lucu dan menggemaskan anak-anakku ini.
“Ibu, ini aa nya nakal.”ujak anak bungsuku.
“Sok atuh aa, jangan dijahili terus itu tetehnya.”
“Habis atuh da si ade mah lucu, gampang pisan marah. Hahaha..”
“Teteeeehhh, bukan ade lagi. Aku udah mau punya ade ih.”
“Iya lupa atuh teteh.”
Yah keributan sederhana seperti ini lah yang akan selalu aku rindukan suatu saat nanti, kelak setelah mereka dewasa nanti. Alhamdulillah, Allah izinkan aku untuk memberi checklist resolusiku di nomor 7. Inysaa Allah sebentar lagi anak ke 3 ku segera launching.
Kalau anak ke 3 ku sudah lahir, Insyaa Allah aku dan suami akan kembali rutin latihan memanah dan berkuda. Salah satu yang bisa mempersatukan kami dulu adalah diskusi tentang memanah dan berkuda. Kami berdua sangat tertarik memepelajari olahraga ini. Suamiku sudah lebih jago dari aku yang kemampuannya masih begitu-begitu saja karena kebanyakan takutnya. Hihi…
Setelah anakku yang ke 3 sudah cukup besar dan bisa dibawa naik pesawat, rencananya kami akan umroh bersama keluarga besar kami. Tidak hanya itu, keluarga Ami pun ikut, dan kebetulan sponsor keluarga besarku dan suami adalah travel umroh milik Ami.
Apa? Yup! Ami saat ini sudah memiliki usaha travel. Namanya pun sudah semakin terkenal dimana-mana. Banyak anak muda yang mengidolakan dia, karena dia tetap konsisten pada prinpsip berbisnisnya, yaitu menjadi solusi dari sebuah masalah. Hahaha…
“Thank you loh Mi, udah mau kasih subsidi buat keluargaku Umroh.”
“Loh, ya santai Put. Kamu juga udah bantu beberapa bisnisku loh! Ini kalau kamu udah lahiran, aku masih berminat ajakin kamu jadi partner bisnisku. Gimana?”
“Mau banget Mi… Lumayan banget sih cuannya kalau bisnis bareng sama kamu.”
“Aku mau mengembangkan usaha travel ku ini nggak cuman buat umroh aja, tapi pingin juga ke destinasi negara lainnya. Aku pingin gitu sebarin kuisioner buat target market kita, kira-kira mereka tuh mau liburan ke negara apa. Nah, negara yang paling banyak disebut, itulah yang nanti bakalan kita siapin paketannya. Tapi sebelum itu, kita harus survey langsung ke negaranya.”
“Hah? Serius? Kita itu maksudnya kamu sama aku?”
“Yaa kalau bisa sih jangan kita berdua, ajakin suami kita lah.”
“Mauuuu…”teriakku sambil memeluk Ami. “Ami aku pingin banget ke Turkey, Swiss sama Jerman. Semoga negara-negara itu bisa kita munculin di paket travel kamu yaaa suatu saat nanti.
“Turkey? Kenapa nggak balik dari Umroh aja kita ke Turkey?”
“Yah mana sempet Mi, aku si budak korporat bisa apa Mi. Jatah cutiku terbatas.”
“Ya makanya resign aja udah, ikutin jejak suami sama sahabatmu ini buat wirausaha.”
“Duh nggak deh, repot! Nanti siapa yang nemenin anak-anak di rumah? Mas Surya kan pasti masih wara-wiri, nggak bisa fokus ke anak-anak.”
“Iya juga sih. Oke deh, paket pertama yang bakalan kita survey ke Turkey yaa. Soalnya followers aku sekarang emang lagi lumayan rame ngomongin Turkey ini.”
“SERIUS?”kataku setengah berteriak, pertanda terkejut dan tidak percaya dengan yang Ami katakana.
“Iya serius!”ujar Ami berusaha meyakinkanku.
“Alhamdulillah, nggak sia-sia aku punya sahabat kayak kamu!”
“Udah fokus lahiran dulu ya! Baru habis itu atur-atur lagi deh jadwal cutimu. Sama pertimbangin juga buat resign.”
“Yeee maksa amat Bu Bos! Hahaha…”tawaku.
“Kamu tau nggak, kenapa aku kepikiran bikin bisnis travel ini?”
“Nggak tau.”
“Aku mau bantu wujudkan semua list resolusimu!”
“Kenapa?”
“Anggap aja, bentuk balasanku karena kamu udah mau donorin darahmu waktu aku lahiran. Kamu tuh udah nolongin nyawaku banget Put. Padahal kamu kan takut jarum suntik. Thank you ya!”
“Oh NO! Dengan senang hati aku kasih darahku buat kamu, aku lebih takut kamu kenapa-kenapa daripada jarum suntik.”


















