Setelah wisuda, aku belum pernah bertemu dan mendengar kabar dari Mba Nisa lagi. Bahkan aku tanya Teh Rika salah satu sahabatnya pun, aku tidak mendapatkan info apapun tentang Mba Nisa. Aku khawatir sekali Mba Nisa sedang dalam masalah. 6 bulan lamanya aku kehilangan informasi orang yang aku sayangi itu.
Tapi ternyata Mba Nisa sedang focus dengan persiapannya untuk berkuliah di Turkey. Melanjutkan studynya dengan beasiswa dari negara. Salah satu kelemahan Mba Nisa saat itu adalah di bahasa asing yang menjadi salah satu syarat untuk bisa berkuliah di sana. Aku sangat paham sekali dan bertambah salut dengan Mba Nisa. Sungguh besar perjuangannya.
Mba Nisa sudah melangkah menuju tahap selanjutnya. Sedangkan aku masih di sini, masih mencari jati diri. Berbeda dengan sahabatku Ami, dia semakin giat dengan bisnisnya. Bahkan bisnisnya sudah berkembang. Judul skripsinya pun dia ambil dari kegiatan yang menjadi hobbynya, beruntungnya aku adalah dia memintaku untuk menjadi partner dalam pembuatan skripsinya.
Aku sempat minder sekali dan sempat membandingkan diriku dengan orang-orang terdekatku. Tapi kembali lagi aku teringat dengan kata-kata Mba Nisa, tidak masalah menjadi orang biasa. Yang terpenting adalah aku selalu berusaha menjadi seorang yang bermanfaat di sekitarku. Orang merasakan senang akan hadirnya diriku. Aku selalu berusaha melakukan apapun dengan penuh rasa tulus.
“Aku di kotamu, bisakah kita ketemu di taman seperti biasa?”
“Untuk apa? Jaga kesehatanmu saja.”
“Ra? Bisa kan ?”
Pesan darinya masuk. Di tengah kondisi terpurukku aku harus berjumpa dengannnya. Berusaha untuk bersikap seperti biasanya. Dan penampilkan bahwa aku baik-baik saja. Pura-pura macam apa ini. Dan bodohnya aku, mau saja menuruti maunya.
Dia sudah duduk kursi panjang di bawah pohon trembesi. Kursi besi panjang khas taman yang muat sampai tiga orang. Mengenakan jaket hitam seperti biasa. Bahkan tak usahlah aku melihat dari sisi depan. Dari belakang saja aku hafal di luar kepala kalau itu memang dia. Beberapa genangan air muncul di petak-petak paving. Aku membiarkan bagian gamisku basah. Sebelumnya memang kotaku baru diguyur hujan. maka pantas saja masih banyak genangan air.
Aku menyapanya.
“Duduk Ra! Kursinya nggak basah kok. Sudah aku lap.”
Aku hanya duduk, tanpa melihat wajahnya. Melempar pandanganku lurus ke depan kearah air mancur di tengah taman.
“Aku perlu menjelaskan ini, agar tak salah paham.”
“Siapa yang salah dan siapa yang paham? Sehingga tak perlu ada kejadian salah paham? Bukankah memang tidak ada yang perlu dijelaskan?” jawabku sambil menolehkan kepala kearahnya.
“Boleh aku ngomong?”pintanya
Aku hanya mengangguk.
“Tak ada alasan bagiku untuk menolaknya, dan aku yakin memilihnya. Maafin aku Ra.”
“Hey, kenapa seruis amat. Ya gak apa-apa kalau kamu emang udah yakin. Aku gak apa-apa. Kita kan masih bisa temenan, ya kan?”
“Kamu gak papa Ra? Yakin?”
“Enggak, emang enak kena prank! Selamat ya! Jadi suami yang baik, jadi ayah yang amanah kelak buat anak-anakmu. Eh siapa nama calonmu?”
“Kalila” jawabnya sambil memejamkan mata mengaminkan dalam hati atas doaku tadi.
“Bisa dateng kan Ra?”
“Aku usahain ya”
Kemudian dia berlalu dari pandanganku. Punggungnya menjauh dari penglihatanku. Dulu aku mengira punggung itu yang mau sama-sama berjuang. Membagi beban. Ternyata aku salah. Aku terduduk kembali di kursi besi tadi. Tertunduk lesu. Kutarik napas dalam-salam, kutahan-tahan agar bulir tak keluar. Semakin aku memintanya untuk tak keluar justru ia bebal, keluar dengan derasnya yang bahkan aku takk bisa untuk menahannya.
“Ra, bukankah tak apa dua orang saling memantaskan diri, berjarak kota tak menjalin hubungan seperti pacaran namun pada akhirnya memutuskan bersama?” katanya dua tahun lalu.
“Ha?” tanyaku polos
“Tak apa kan?”
“Iya,”
Aku mengira waktu itu dia sedang membicarakan aku dan dia, alku sudah terlanjur bahagia. meski kata-katanya terkesan tersirat, tapi aku yakin tanpa syarat. Dan, ternyata aku keliru. Harusnya aku bertanya memastikan. Tapi aku sudah tenggelam adalam asumsiku sendiri.
“Ini selain buku-buku untuk donasi, Al-Quran ini untukmu. Dan yang satu ini untuk Ibu” dia mengulurkan tangannya dengan pelan. Dua buah Al-Qur’an bersampul coklat. Yang satu seukuran kertas F4 yang satu ukuran seperempatnya. Katanya biar ringkas dibawa kemana-mana.
“Gak usah, aku ada beberapa. Ikutkan donasi aja di luar masih banyak lho yang belum punya, aku dan Ibu udah ada.”
“Terima aja Ra, atau aku kirimkan dari kantor aja, mau?”
“Gak perlu ih!”
“Makanya terima ya,”
Meskipun aku bersikeras menolak, namunkemudian menerima dengan kedua tanganku.
Sari pernah berkomentar ketika aku bercerita hal ini,
“Lagian udah tinggal diterima, apa susahnya. Perkara kamu mau kasihkan ke oranglain ya bukan lagi urusannya Raya!”
“Ih, bukan gitu kan aku udah bilang donasiin aja, dianya enggak mau. Apa bedanya dia ngasihin atau aku yang ngasihin kan sama aja! Dan amanahnya untuk dibaca bukan untuk dikasihkan ke orang ,Sari!”
“Tunggu, jangan-jangan….. itu mahar yang dicicil Ra!”
Kupukul lengan Sari dengan kerasnya.
“Sembarangan kalau ngomong, mana ada?”
“Aduuuh, keras banget Ra! Kira-kira dong! Ya kali Ra, tahun ini Al Quran, tahun depan alat sholatnya, ntar tinggal emas berliannya dibayar tuuunai, sahhh?”
Aku tersenyum getir mengingatnya. Kenangan-kenangan tentangnya muncul begitu saja, selayak slide yang ditampilkan di layar presentasi. Putri dari seorang pemilik yayasan amal. Lulusan Mesir. Pantas saja, kalau dia bilang “aku nggak bisa nolak Ra!” hanya itu penjelasannya, yang bahkan dia rela menempuh seratus dua puluh lima kilometer hanya untuk menyampaikan itu? Aku tak pernah paham. Dan tunggu, kamu tadi bilang apa? Temenan? Masih bisa temenan? Bukankah tak akan pernah ada hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa kecuali pernikahan. Tak pernah bisa dipercaya bahwa diantara mereka tidak ada perasaan apa-apa, jika tak kedua-duanya, bisa jadi salah satunya kan. Berawal dari nyaman, kasihan terus jadi cinta nanti. Sejak kapan ada pertemanan yang benar-benar tulus tanpa melibatkan perasaan antara laki-laki dengan perempuan.
Aku menengadah, berharap langit mau menurunkan sisa-sisa airnya. Agar airmataku tak kentara. Sayangnya langit tak berpihak kepadaku, sore itu justru mentari bersinar dengan cerahnya. Membuatku silau dengan cahayanya. Aku pun beranjak pergi dari kursi besi tadi, berjalan gontai berniat untuk pulang.
Di dalam angkot, aku membuka jendela lebar-lebar. Membiarkan wajahku tersapu angin. Memejamkan mata kembali. Menuntaskan tangisku. Tak ada yang keluar lagi. Perlahan kubuka. Awalnya buram kemudain jelas dan terang. Menakjubkan. Di timur sana, di sebelah selatan gunung kembang, gradasi mejikuhibiniu itu muncul. Jauh memang dari tempatku berada. Namun aku bisa melihatnya jelas. Apa semesta ini sedang menghiburku dengan pertunjukkan cahaya itu? Maha Baik Tuhan yang menciptakannya. Namun sayangnya, untuk tersenyum saja aku tak bisa. Sungguh, urusan perasaan sangat menyayat hati.
Aku masih kesulitan membuka mata, ada lem yang kuat di antara kedua kelopak mataku. Tak bisa kupaksakan untuk terbuka. Psikolog memahami kondisiku yang kesulitan, dia memanggilku dan meminta untuk fokus mendengar suaranya. Tak mudah untuk kukerjapkan mataku, namun perlahan-lahan mataku bisa kubuka. Pertama kali yang kulakukan ketika membuka mataku adalah tersenyum. Senyuman yang begitu lebar, dibalas senyuman juga oleh psikologku.
“Luar biasa yaa, hari ini dirimu sudah berani melepas yang sepatutnya kamu lepas. Kerelaanmu sudah mulai membuahkan hasil. Senyuman di wajahmu sudah sangat jauh lebih lega daripada ketika pertemuan pertama kita. Tak ada sedikitpun senyuman pada wajahmu. Kondisi yang patut untuk disyukuri. Keberanianmu memutuskan untuk pergi ke profesional, menjadikan dirimu memiliki progres yang jauh lebih baik dan lebih cepat. Pencapaian yang wajib kamu apresiasi yaa.”
“Iya, Kak. Aku juga tidak menyangka bahwa langkah kecilku ini sudah membawaku menjadi lebih baik. Aku juga menyadari memang baru sedikit yang kuurai dan kubuang. Aku memiliki ruang untuk menumbuhkan kebahagiaan. Beda rasanya, Kak. Aku sendiri tidak menyangka akan bisa selega ini. Ini jauh dari bayanganku, Kak. Terima kasih atas kesediaan Kakak menemaniku yaa.”
“Berterima kasihlah pada dirimu sendiri juga ya. Sekian tahun kamu memberanikan diri, memupuk keberanian yang kebanyakan orang tidak peduli dan abai pada dirinya sendiri. Dirimu sudah mau meluangkan waktu untuk bisa hidup lebih tenang.”
“InsyaAllah, Kak. Kak, emb. Gimana ya, aku bingung untuk menyampaikannya. Akuuu-aku sepertinya belum siap untuk menjurnal tentang keluargaku.” Kutundukkan kepala, memegang pena dan mencoret-coret di jurnalku.
“Nggak apa-apa. Nggak semuanya harus selesai dengan sekali duduk. Bahkan sangat mustahil jika menuntaskannya malam ini. Energimu juga sudah terkuras kan? Takkan kubiarkan dirimu sampai tumbang dalam proses terapimu ini. Bukannya semakin sehat, nanti kamu menjadi sakit fisik pula.”
“Baik, Kak. Bener banget, badanku sudah sangat lelah rasanya. Lelah, namun lebih lega, Kak.” Ucapku sambil kembali memberikan senyuman.
“Kita cukupkan sesi hari ini ya.”
“Iya, Kak. Aku ingin segera istirahat.”
“Sebelum kita akhiri, apa pembelajaran yang bisa kamu ambil dari sesi ini?”
“Emb,” otakku rasanya kosong, tak ada kata-kata yang dengan spontan bisa kuucapkan.
“Apa kira-kira yang bisa kamu ambil?”
“Aku belajar menghargai pencapaian kecilku, Kak. Aku yang baru menguraikan sebagian kecil kerumitan di kepalaku saja, sudah memberikan dampak yang baik untuk diriku. Nggak usah jauh-jauh, Kak. Hal kecil yang kulakukan ini, insyaaAllah akan memberikan dampak lebih besar, aku yakin itu. Aku mau terbuka dengan Kakak, merupakan pencapaian yang sangaaaat besar menurutku, Kak. Melepaskan, tidak selamanya menyakitkan, Kak. hehehe. Melepaskan dan membuang hal tidak penting dalam hidupku, melegakan.”
“Semoga proses selanjutnya, kamu bisa menjalaninya yaa. Apa yang akan kamu lakukan setelah sesi ini?”
“Aku mau istirahat, Kak. Untuk aktivitas harian, aku akan belajar mengapresiasi mulai dari hal-hal kecil pencapaianku sendiri, Kak. Dan aku akan melanjutkan menjurnal.”
Aku tiba-tiba terpikirkan untuk mengklarifikasi tulisan jurnalku yang terakhir. Apakah aku sudah benar-benar tuntas untuk hal itu? Atau masih belum selesai dalam menguraikannya.
“Kak, boleh aku bertanya satu pertanyaan sebelum sesi ini berakhir?”
“Boleh dooong. Mau tanya apa?”
“Hehehe, apa boleh aku memutuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan Mas Rendra, Kak? Nggak hanya komunikasi sih sebenarnya, jika aku memutuskan untuk tidak mau bertemu dengan dia boleh kah?”
“Ouh sungguh sangat boleh dong. Kamu punya hak untuk terus menjaga kesehatan mentalmu. Jika salah satunya dengan tidak melakukan pertemuan dengan dia. Itu BOLEH BANGET. Nggak usah takut bersalah. Kesehatan mentalmu jauh lebih penting untuk dijaga. Toh dia tidak pernah berkomunikasi lagi denganmu kan? Kamu takut memutus hubungan silaturahim? Ingat, dia sudah berkeluarga dan dirimu juga akan menuju jenjang itu. Saat ini, fokuslah pada dirimu sendiri, itu bukan untuk memutus silaturahim. Jika dirimu terus memaksakan untuk bertemu dia, bukan relasi sehat yang terjadi, Justru akan bisa menjadi kondisi yang saling menyakiti. Atau sebenarnya dirimu ada rasa pada dia?”
“Beberapa hal yang Kakak sampaikan benar. Ada ketakutan dalam diriku. Namun,aku sudah tenang. Aku tak pernah sedikitpun ada niatan untuk memutus silaturahim. Aku lebih sayang diriku sendiri, maka aku berhak memilih prioritas yang bisa membuat diriku lebih sehat. Benar begitu Kak?”
“Iya, benar. Untuk pertanyaanku yang terakhir bagaimana?”
“TIDAK!!! TIDAK, KAK. AKU TIDAK MEMILIKI RASA SEDIKITPUN KE DIA.”
“Tenaaang, tenang. Tidak usah pakai nada tinggilah.”
“Maaf ya Kak. Ada orang lain yang sudah mengisi hatiku, Kak. Bukan dia.” Kataku, kemudian menutup mulut dengan telapak tangan kananku ketika menguap.
“Baiklah. Kita cukupkan sesi ini ya. Sehat-sehat dirimu, dijaga pola tidur dan makannya. Sampai jumpa di sesi berikutnya. Selamat malam.” Senyum manis terlihat di layarku dan menjadi penyemangat diriku.
Aku letakkan gawaiku di meja kerja, kemudian kuambil cangkir yang masih ada isinya setengah. Kuteguk perlahan, nikmat. Jauh lebih nikmat daripada tadi yang susah payah untuk kutelan.
***
Hari ini, kuputuskan untuk melanjutkan proses menjurnalku. Aku menyadari bahwa proses ini merupakan kebaikan untuk diriku sendiri. Tak ada yang bisa menjadikan lebih baik, selain kuasa Tuhan dengan upaya diri yang terus mengupayakan. Hari ini aku mau melanjutkan perjuanganku. Perjalanan panjang. Namun aku bosan jika harus kulakukan di kamarku saja. Sepertinya akan menyenangkan jika aku melakukan di taman bunga. Sekalian aku liburan, memberi asupan hijau pada mataku.
Aku mengambil jurnal, kumasukkan kedalam ransel bersamaan dengan alat tulis, minuman dan camilan. Tak lupa aku membawa payung, jaga-jaga ketika nanti cuaca terik atau sebaliknya, hujan. Aku memilih pergi ke taman bunga, karena aku sangat senang ketika melihatnya, dan mataku selalu berbinar jika melihat bunga, apalagi jika ada beragam jenis dan warna. Aku segera berangkat sendirian. Iya, sendiri. Aku masih menikmati masa-masa ini. Perjalanan sendiri yang akan menyenangkan. Perjalanannya memang tak jauh, namun aku akan menikmatinya tanpa gangguan dari suara gawai. Aku tidak benar-benar mematikan gawaiku, namun aku memutuskan untuk menyalakan mode senyap.
Aku keluar, menuju sepeda motor bututku. Kunci sepeda motor kumasukkan pada lubang kunci, kuputar perlahan hingga searah dengan tulisan on. Tombol stater kupencet perlahan, mesin langsung berderu. Walaupun sepeda motorku butut, namun tetap kurawat dengan sangat baik. Tak kubiarkan kendaraan kesayanganku sampai mati akibat kehabisan oli, tak ada dalam sejarahku sejauh ini. Sebelum kulajukan kendaraan, aku mengecek barang bawaanku lagi. Aku pastikan barang-barang yang kuperlukan tidak ada yang tertinggal. “Bismillah,” kuucapkan usai semua barang sudah terbawa, kuinjak porseneling, dan gas kutarik perlahan.
Jalanan hari ini tak terlalu padat, para karyawan sudah asik di kantor mereka masing-masing. Pemandangan anak-anak sekolah dasar berlarian di lapangan sekolahnya, sekilas nampak ketika melewati SD tempatku dulu sekolah. Tak banyak perubahan di gedung maupun lingkungannya, hanya pepohonan yang kian rindang dan tambahan pagar dengan warna oren menyala, kontras dengan warna bangunan. Tiba-tiba aku teringat masa SD yang sangat nyaman, tak perlu memikirkan banyak hal seperti saat ini. Bermain, lari-larian, jajan, dan sedikit porsi belajarnya. Sungguh jauh porsi belajar siswa SD pada zamanku dibandingkan dengan saat ini.
Kulajukan sepeda motorku menuju taman bunga, yang sudah lama tidak aku kunjungi. Wah iya ya, aku sudah lama tidak memberikan hiburan untuk mataku sendiri. Aku terlalu berfokus mencapai pencapaian di perusahaan, hingga terlewat melakukan kebiasaanku bersama orang tuaku, pergi ke taman bunga. Kebiasaan sejak aku kecil hingga aku dewasa, yang berakhir di tiga tahun lalu. Sudah, tak usah risau. Kali ini aku bisa pergi ke taman bunga walau sendirian. Terlalu asik pikiranku berkelana, 200 meter lagi aku akan sampai tujuan.
Tampak dua orang lelaki memakai rompi berwarna biru bertuliskan jukir, yang membantu pengunjung untuk memarkirkan kendaraan ketika datang dan membantu mengelurkan. Aku memilih parkir dekat pintu masuk, tak mau jalan terlalu jauh dan menghindari bingung ketika mencari. Tak langsung kusejajarkan dengan sepeda motor lain, hari ini aku sedang dalam mode malas untuk menata motor ketika parkir. Tidak hanya itu alasan sebenarnya, namun hanya ada satu tempat kosong yang sangat pres. Jika kupaksakan parkir sendiri, mungkin akan menyenggol dua kendaraan di kanan dan kiri. Aku turun dan mencabut kunci, tanpa mengunci setir.
Masuk area taman, aku langsung membidik salah satu pojok yang kosong. Aku jalan dengan santai, menikmati bunga-bunga yang bermekaran. Alhamdulillah, nikmat yang tiada bisa kuabaikan. Nikmat yang luar biasa. Aku mengeluarkan gawai, sesekali mengambil foto bunga, untuk kujadikan koleksiku pribadi. Koleksi foto, bukan tanaman bunga aslinya, hehehe.
Sudah puas mengambil beberapa foto, aku melanjutkan menuju tujuan awalku, menulis jurnal. Aku duduk di kursi dengan ornamen ukiran sederhana yang membuat nampak gagah. Sebenarnya kursi yang kududuki cukup untuk dua orang, tapi kali ini aku isi sendiri saja. Tidak sendiri, aku bersama diriku dan ranselku. Aku meletakkan ransel di bagian kursi yang kosong. Jurnal kukeluarkan bersama alat tulis dan sebotol kecil teh chamomile. Aku awali dengan minum teh.
Aku dan Fugo sampai ke rumah jam 1 siang, aku mulai menyiangi sayuran yang tadi kubeli di pasar. Hari ini aku hendak memask sup toge dengan tahu.
Aku membersihkan toge, memotong tahu, mengupas bawang putih, daun bawang dan menyiapkan bahan lainnya. Setelah itu kucuci semua sayur dan juga tahu, kunyalakan api, wajan kutaruh di sana, menumis bawang putih, menuangkan air setelah bawang harum, menunggu air mendidih, kumasukan tahu dan bahan lainnya. Sup pun sudah siap.
"Fugo makan siang sudah siap." aku memanggil Fugo yang sedang asik dengan burung bapak.
"Iya, aku datang."
"Fugo cuci tanganmu dulu."
Fugo mencuci tangannya di wastafel dekat kamar mandi, dia menuangkan sabun setetes, menggosokan kedua tanganya, membersihkan sela-sela jari, menggosok semua kuku lalu membilasnya sampai tak ada lagi busa di tangan.
Makan siang kami cukup hikmat, hanya ada suara sendok dan piring yang beradu, tidak ada sepatah kata pun keluar dari kami, Fugo mengunyah makannannya sebanyak 32 kali. Aku iseng menghitungnya, karena aku sudah selesai makan dari tadi sementara Fugo baru makan seperempat isi piringnya.
"Enak makanannya?" tanyaku.
"Lumayan," jawabnya.
"Apa kamu selalu mengunyah makananmu sebanyak 32 kali?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak, hanya saja bukankah itu terlalu lama."
"Aku hanya sedang menikmati waktu aku makan, menikmati waktu makan dengan khusyuk tanpa memikirkan apa pun." jelasnya panjang.
Aku melong mendengar penjelasannya, makan dengan khusyuk katanya. Bukankah yang penting makanan yang kita makan bergizi dan lezat ya?
"Coba kau ingat-ingat kapan terakhir kalinya kamu maka dengan tenang?" kali ini Fugo bertanya padaku.
"Aku tidak ingat, mungkin saat aku masih kecil."
"Umur berapa?" tanyanya lagi.
"Delapan mungkin atau sepuluh, bisa jadi duabelas."
"Itulah makanya akhir-akhir ini kamu sering murung dan tak bersemangat."
"Apa hubunganya?"
"Tidak kah kau berpikir semua ini akibat dari dirimu yang tidak bisa hidup di masa kini?"
Dahiku berkerut mendengar perkataan Fugo yang sama sekali tak kumengerti.
"Maksudku, kau selalu mengaitkan semua yang terjadi dengan masalalumu, terutama mantanmu yang kelewatan kurang ajar itu, aku tahu saat di lorong kenangan kamu masih memutar ingatan itu di kepalamu."
"Hah?"
"Jangan mengelak. Aku tahu itu sangat menyakitkan untukmu, tapi bisakah kamu hidup di waktu sekarang?"
"Waktu sekarang maksudmu?"
"Iya, hiduplah di waktu sekarang. Toh, kamu sudah terbebas darinya. Kamu hanya perlu menikmati makananmu, memanfaatkan waktumu sebaik mungkin dan lagi kamu itu berharga walaupun kamu pernah dicampakan, orang seperti dia memang tidak pantas memeilikimu."
"Fugo, kalau sudah selesai makan pulang ya, aku mau istirhat." Aku bergegas ke kamarku tidak ingin memperlihatkan air mataku menetes.
Kulihat dari balik jendela setelah Fugo selesai makan dia pulang dengan ekspresi dan langkah yang sama. Punggunya perlahan menjauh dari muka rumahku.
Aku tidak menyangkal memang yang diucapkan Fugo benar, aku juga tidak tahu sampaikan terus begini. Sekelebat ingatan membuatku menjadi hilang percaya diri lagi, kalau saja kemarin aku tidak berpapasan dengan rekan kerjaku dulu. Mungkin aku tidak akan teringat dengan peristiwa itu lagi.
Bagaimana ini? Aku mulai panik jari-jariku terus bergerak seperti tengah merapal mantra, aku tidak bisa tidur malam beberapa hari ini karena panik.
Bener apa kata Fugo aku tidak hidup di waktu kini, aku terus-terusan berusahan kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua, padahal itu tidak akan bisa kulakukan.
Setiap hari aku hanya berandai-andai. Andai saja waktu itu … andai saja aku melanjutkan kulih … andai saja aku pergi terlebih dahulu … aku terus berandai-andai sampai lupa memanfaatkan waktu dengan baik.
Entah apa yang akan terjadi kedepannya aku tak pernah berpikir bahwa aku juga punya kesempatan memperbaiki, tentu saja bukan masalalu tapi masa kini untuk masa depan.
Tapi aku tidak tahu memulai semua itu dari mana? Kata Fugo aku bisa memulainya dengan makan penuh rasa khitmad. Baiklah akan kucoba. Kalau aku gagal bagaimana?
Jujur saja aku masih tidak bisa menerima kalau nanti aku gagal. Dan juga bagamana bisa makan dengan khidmat bisa membuat seseorang hidup di masa kini?
Fugo. Sebenarnya Fugo itu siapa walaupun sembilan bulan ini dia sering datang ke rumahku. Aku belum begitu mengenalnya terutama asal usulnya, kakak permpuannya pun belum pernah aku lihat. Apa mungkin sebenarnya Fugo tidak punya kakak peempuan, yang orang-orang bicarakan mungkin bukan kakak permpuannya.
Semakin kutelaah lagi, Fugo bukanlah bocah pada umumnya, terlebih dia suka membawa palu kemana-mana. Apa mungkin sebenarnya Fugo keterbelakangan mental?
Tapi terkadang ucapannya ada benarnya juga, ya walaupun dia terlihat aneh, mungkin karena aku belum begitu mengenal Fugo jadi anak itu terkesan aneh.
Sebaiknya nanti kutanyakan saja pada Fugo mungkin dia akan membantu kalau pun tidak aku bisa bertanya pada Qenny.
Sebaiknya aku segera beristirahat sudah malam. Aku mencoba memejamkan mataku. Menarik selimutku yang hangat.
Namaun, detak jam dingding di kamarku terus terdengar aku tidak bisa tidur, suaranya begitu mengganggu. Aku memutuskan untuk keluar hendak mengambil minum, tenggorokanku juga agak sedikit kering.
Aku membuka kamar, lampu ruang tamu dan ruang tengah sudah dimatikan, tentu saja sudah dimatikan ini sudah jam sebelas malam. Di rumah ini hanya aku yang masih terjaga.
Aku mengambil gelas di dapur, membuka keran galon di ruang makan mengisi gelas sampai penuh, aku tidak meminumnya. Nanti saja di kamar. Ah, aku juga lapar, mungkin di kulkas ada makanan.
Aku berjalan dari ruang makan ke ruang tengah, kubuka kulas dan hanya ada sayur mayur dan mie instan. Aku lapar, tapi makan mie instan di tengah malam bukanlah pilihan yang tepat. Lagi pula akhir-akhir ini berat badanku bertambah dan sepertinya tidak berkurang.
Dulu berat badanku pernah menyentuh angka 49kg dengan tinggi 150cm baru kali itu aku merasa berat badanku ideal, tapi 3 bulan terakhir berat badanku naik menjadi 60kg, sangat cepat bukan naiknya.
Aku menutup kembali kulasa dan membalikan badan menuju kamarku, tak lupa kubawa juga gelas berisi air. Sesampainya di kamar aku memeinumnya beberapa teguk. Karena tak juga mengantuk aku memutuskan untuk membaca buku.
Buku kumpulan puisi bersampul hitam menjadi pilihanku, buku ini ditulis oleh seorang laki-laki berkaca mata. Bukunya tidak tebal hanya berkisar 150an halaman buku yang bisa dibaca hanya sekali duduk.
Buku ini dibagi menjadi 7 bagian, diakhir bagian biasanya ada pengingat, bunyi awalnya begini; Hari ke- terus berlanjut sampai hari ke-tujuh dan satu-satunya yang kuingat adalah pengingat di hari ke-tujuh; Pelan-pelan Tuhan pun, tidak menciptakan alam semesta ini dalam satu hari.
Bisa-bisanya Diandra menjalankan ide jahilnya di saat genting seperti ini. Akan ku balas nanti, batin Sakti. Dalam suatu hubungan butuh sedikit bumbu karna kalau terlalu lurus tanpa ada konflik bisa jadi bosan. Terkadang yang orang lain lihat dari hubungan asmara antara Sakti dan Diandra memang yang manis-manis saja. Iya karna buat apa mereka memamerkan kesedihan kepada khalayak ramai, yang ada bukannya pertolongan yang mereka dapat tetapi bisa jadi hinaan yang mereka terima. Sakti ini seolah sudah khatam dan kebal terhadap celaan dari kerabat dekat serta lingkungan sekitarnya.
Semasa sekolah sebagai anak laki-laki yang memliki postur tubuh kurang tinggi seperti anak laki-laki lainnya kerap kali jadi bahan becandaan teman sekolahnya. Belum lagi kulit Sakti yang eksotis. Beranjak dari masa remaja ke dewasa tubuh Sakti pun mengalami perubahan kembali. Dari yang tadinya berpostur kurang tinggi dan kecil sekarang mulai berisi. Hampir masuk ke kategori gemuk dan tetap saja jadi bahan becandaan teman-teman sekolahnya. Konon katanya anak laki-laki akan bertambah tinggi setelah dikhitan begitupun dengan Sakti. Transformasinya sedikit lebih baik perihal tinggi badannya.
" Eh, awas ada gajah lewat! "
" Ah, bukan gajah dia mah kuda nil. Liat aja kulitnya dan badannya yang besar itu. "
Sakti pun tak acuh terhadap perkataan kawan-kawannya itu. Ia tetap berjalan melewati korridor kampus seolah kawannya itu patung dan ia tak pernah mendengar apapun penilaian negatif terhadap dirinya.
Diandra
Masa lalunya tidak seperti remaja perempuan pada umumnya yang selalu dihujani kasih sayang berlimpah dari orang tua laki-laki, bapak ia menyebutnya. Sedari kecil ia harus bersekolah dengan dana dari beasiswa. Nilai rapor sekolahnya harus dipertahankan dan ia selalu menjadi juara kelas semasa sekolahnya. Kedua orang tuanya memang tidak berpisah tapi setiap hari ia serasa tinggal sendiri tanpa punya orang tua yang sangat sayang kepadanya. Bapaknya sibuk bekerja hingga pulang larut malam. Ibunya pun sibuk mengurus kegiatan organisasi di luar rumah sampai mereka bertiga pun tidak ada waktu untuk sekadar ngobrol menghangatkan keluarga apalagi makan bersamanya. Semua anggota keluarganya sibuk dengan dunianya sendiri. Hal ini menyebabkan Diandra dituntut untuk mandiri sedari dini. Di saat anak-anak lain selalu diantar jemput anggota keluarganya, sedangkan ia selalu jalan sendiri. Atau dengan mba jika mba asistennya rumah tangga tidak sibuk.
" Nah, ini baru anak bapak. " ucap bapaknya bangga hanya pada saat menlihat nilai hasil belajarnya tanpa mau peduli dengan bagaimana ia belajar dan selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya. Diandra sudah hapal betul perkataan bapaknya itu yang selalu diulang tiap tahun ataupun pertengahan semester.
Sampai suatu ketika, ia melihat bahwa bapaknya sedang berjalan bersama oerempuan lain yang bukan ibu kandungnya. Merekabergandengan tangan cukup mesra di area umum. Sejak kapan bapak seperti itu, batin Diandra. Dan sejak saat itu beberapa nilai ulangan mata pelajarannya menurun. Ia memikirkan tingkah laku bepaka di belakang ibunya. Dalambenaknya apakah ibu sudah mengetahui hal tersebut? Kalau pun belum apakah harus disimpan sendiri saja atau tetap disampaikan kepada ibu. Tapi bagaimana caranya? Diandra bingung dan terbukti saat pembagian nilai rapor tengah semester hasilnya cukup mengecewakan kedua orang tuanya. Katna sudah tidak kuat menahan semuanya sendiri. Akhirnyaia berkata jujur tentang apa yang telah ia lihat dan bagaimana perasaannya memendamkan kejadian selama itu. Dari kejadian itu orang tuanya sadar bahwa mereka sudah punya anak yang harus mendapatkan perhatian lebih serta menjalankan peran orang tua sebagaimana mestinya. Ibunya pun jujur bahwa sebenarnya selama ini ia belum siap untuk memiliki anak, merawat, membesarkan serta mendidik sebagai buah hati amanah dari Tuhan. Di awal pernikahan ibu sudah diskusi panjang dengan bapak dan mereka pun sudah sepakat untuk menunda memiliki momongan sampai mereka siap. Karna memang mereka menikah di usia muda dan sedang meniti karir. Tapi tuntutan dari kedua keluarga besar yang memkasa mereka untuk menjalankan program bayi tabung.
Ketika Diandra terlahir ke dunia, ibunya mengalami baby blues dan post partum depresion. Banyak orang mengira baby blues dan post partum depresion ialah dua hal yang sama ternyata berbeda. Ibunya mengalami perubahan emosi yang naik turun dan sangat mencemaskan kondisi dirinya setelah melahirnya serta ada ketakutan terhadap anaknya. Ditambah timbul gejala post partum yaitu gampang marah, cepat lelah dan hingga hampir ingin mengakhiri hidupnya setelah melahirkan. Beruntungnya kedua keluarga besarnya langsung mengetahui hal tersebut sehingga ibu cepat mendapatkan pertolongan.
Sakti
" Kamu yakin sama aku? Keputusan ini sudah kamu pikirkan matang-matang? " Diandra masih kaget, tak percaya bahwa dirinya dilamar Sakti di stasiun di saat ia akan pulang ke Jakarta.
" Inshaallah aku yakin Ndra bahkan dari awal aku ketemu sama kamu. Bagaimana kamu ngehandle anak murid kamu saat itu. " balas Sakti
" Tunggu, anak murid? Maksud kamu pas aku lagi field trip itu kamu ada di situ? "
" Iya ada aku di situ. Kamu lupa kalo kita papasan di toilet pas kamu menemani kedua anak murid kembar kamu mau buang air kecil? "
" Hah? Masa sih? Kog bisa? "
" Ya bisa Ndra. Namanya juga takdir. Siapa yang bisa mengubah takbir kalau Allah sudah berkata 'Terjadi maka terjadilah' ? "
" Yaa, ya tapi masa lalu aku dan latar belakang keluargaku. Kamu siap nerimanya? "
" Siap Ndra. Inshaallah aku siap. Butuh berapa kali lagi aku bilang siap untuk menyakinkan kamu? "
" Ini serius kan? Ka kamu ngga lagi ngerjain aku balik pas tadi dompet kamu jatuh kan? " terbata-bata Diandra menjawab, serasa lagi mimpi.
" Ndra, plis. Apa aku ini ada tampang bohong? Kamu juga tau masa lalu aku. Aku udah cerita dan kamu tau itu. Sampe aku ngga mau ketemu siapapun. Aku difitnah. "
Diandra tersipu malu. " Ini di depan orang banyak beginj kalo ngelamar aku trus ngajak nikah? "
" Ya mau gimana Ndra? Udah settingan pabriknya aku gini" jawab Sakti dengan muka datar. "Kamu mau cara yang romantis kaya di film-film gitu? Atau siapa aktor favorit kamu di drama korea itu siapa namanya? " lanjutnya.
" Haha,. Kamu ini ih nyebelin banget! Iya ngga gitu juga kali. "
" Ya terus. Gimana? "
" Iya. "
" Iya apa ni maksudnya gimana? Jelasin dong. "
" Iya aku mau jadi istri kamu." jawab Diandra sedikit kesal karna mau gimanapun cetakan Sakti ya memang begitu berpikir selalu logis dan jarang romantis.
" Alhamdulillah. Sini aku peluk dulu"
" Ih apaan sik, ngga ada peluk peluk di tempat umum gini. "
Terdengar suara pengumuman kereta api tujuan Jakarta yang akan Diandra naiki segera tiba di stasiun.
Apa yang kita sukai belum tentu baik untuk kita. Begitu pun sebaliknya, apa yang tidak kita sukai juga belum tentu buruk buat kita. Semua berdasarkan pandangan Sang Khaliq, pemilik skenario kehidupan kita yang tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena Dia melihat bagaimana proses kita bertumbuh, bukan apa hasil yang kita dapatkan. Dia Maha Mengetahui sifat manusia yang akan oleng ketika berada di atas tanpa usaha keras. Dia juga Maha Mengetahui bahwa surga yang didapatkan tanpa effort hanya akan menumbuhkan ujub di dalam hati.
Mendung menggelayuti langit pagi. Angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya. Matahari enggan menampakkan wajahnya, padahal ini sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku yang sedang sarapan di warteg Bu Joko mendengar bunyi gawai berdering. Dering gawai yang baru kuubah membuatku tak sadar bahwa itu adalah telepon di gawaiku. Sampai seorang pengunjung lain berkata, "Mbak, hapenya bunyi." Aku yang sedikit melamun, sontak kaget dengan tepukan bahu yang diberikan pengunjung itu. Langsung aku memeriksa gawaiku yang kutaruh di saku tas bagian dalam. Aku buka resleting tasku, lalu kuraih gawai menggunakan tangan kiri. Aku keluarkan gawai itu dan kulihat ada 20 panggilan masuk dan semuanya dari bapak. Ada hal penting apakah hingga sebanyak ini? Ketika ku akan menelepon balik, bapakku telah menelepon kembali.
"Assalamu'alaikum, pak!" jawabku setelah ku pencet tombol hijau pada gawai Nokiaku.
"Wa'alaikumsalam. Ndug. Kamu bisa pulang sekarang nggak?" tanya bapak dengan nada tak seperti biasa.
"Ada apa, pak?" tanyaku curiga.
"Kamu pulang sekarang ya. Nanti bapak jemput di terminal. Bisa ya?" desak bapak. Mendengar suara bapak yang tak biasa, pasti ada sesuatu yang urgent yang ingin disampaikan langsung. Suapan terakhirku ku selesaikan, kuteguk setengah gelas teh hangat yang tersisa. Aku langsung berjalan kembali ke kos yang hanya berjarak 20 meter, untuk menukar isi tasku. Lalu, aku teringat Aji, ketua kelasku.
"Ji. Aji. Halo!"
"Assalamu'alaikum, Bro!" jawab Aji di seberang sana. Terdengar sangat ramai sekali.
"Wa'alaikumsalam. Aku nggak masuk hari ini, Ji. Minta tolong buatin surat ijin, dong!" jawabku sedikit lagi sampai depan gerbang kosku.
"Kenapa, bos?"
"Nggak tau, Ji. Bapakku nyuruh pulang sepagi ini. Ini aku otewe berangkat ke terminal." Aku membuka pintu depan rumah kosku.
"Ada yang anterin ke terminal?"
"Naik angkot, Ji. Hahaha." Aku sudah berada di dalam kamar kosku yang selisih satu kamar dengan pintu depan rumah kos.
"Tunggu di depan kosmu. Ini aku otewe kampus. Tak anterin dulu kamu ke terminal. Kampus terminal butuh sejam kalau naik angkot. Biar cepet kamu dapat bis. Jam tujuh kurang seperempat ada jadwal bis ke arah kotamu."
"Wah...thankyou, Ji." Aku menutup telepon, lalu mengeluarkan buku-buku di dalam tasku dan menggantinya dengan beberapa helai pakaian yang akan aku tukar dengan pakaian yang di rumah. Pakaian yang telah kupersiapkan jauh hari sebelum jadwal pulang kampungku datang, yang ternyata datang lebih cepat dua minggu. Tidak lupa aku memasukkan amplop berisi simpanan uang khusus pulang kampung.
Hapeku bergetar. Ada pesan masuk. Dari Aji, Bro, aku udah di depan kosmu. Salah satu hal yang aku syukuri masuk di kampus ini, solidaritas antar teman yang sangat tinggi. Walau kami baru kenal setahun sejak OSPEK berlangsung, tetapi jiwa saling tolong menolong mereka nggak main-main.
Waktu menunjukkan pukul 06.15, artinya ada 30 menit lagi waktu yang tersisa untuk mengejar keberangkatan pertama bis menuju ke kotaku. Dengan kecepatan tinggi, Aji mengendarai sepedanya membelah keramaian kota M di jam sibuknya, jam anak sekolah berangkat. Sepeda Aji meliuk-liuk dengan lihai. Tanganku berpegangan pada besi di bagian belakang jok motor. Tasku aku bawa menghadap depan, membatasi tubuhku dengan punggung Aji. Aku mengikuti irama meliuknya motor Aji dan hanya bisa berdoa agar selamat sampai tujuan.
Sampai di pertigaan lampu merah, aku melihat bis dengan jurusan kotaku dari kejauhan. Aji juga melihatnya. Sat set sat set, Aji yang berada di sisi tengah depan, langsung melajukan motornya lurus, tidak jadi belok kanan menuju terminal. Aji menurunkan aku di depan sebuah toko dengan halaman yang cukup lebar. Di sana adalah tempat paling tepat untuk bisa naik di bis yang kami lihat tadi.
"Thankyou, Ji. Jangan lupa bikinin aku surat ya! Aku sudah kapok kompen di waktu liburan. Hahaha." Pesan terakhirku pada Aji sebelum naik bis.
"Beres. Hati-hati ya, Bro! Salam buat keluarga. Kabari kalau ada apa-apa," Aji melambaikan tangan padaku yang telah duduk di bagian belakang dan dekat jendela.
****
Dua ratus meter mendekati rumah. Aku melihat banyak kerumunan di depan rumahku. Hampir seluruh perempuan yang di sana memakai penutup kepala, walau tidak bisa dianggap sebagai kerudung syar'i. Sedangkan para laki-laki memakai kopyah dan sebagiannya memakai seragam yang sama dengan yang dipakai mama di hari itu. Ada apakah gerangan? Bapak yang sedari tadi bersamaku juga tidak banyak bicara seperti biasanya.
Aku mendekatkan mulutku pada telinga bapak, agar bapak yang memakai helm mendengarku, "Pak, kenapa banyak kerumunan orang di sana?" tanyaku sambil menunjuk arah keramaian itu. Bapak diam seribu bahasa.
Kami berhenti di depan rumah tetangga kami, Pak Pardi, karena di depan rumah sudah tidak ada ruang lagi untuk sekadar memarkir motor. Aku turun dari motor dan bapak memarkir motor di halaman rumah Pak Pardi. Tak lama, bapak menepuk pundakku dan berkata lirih, "Ndug, ikhlaskan mama, ya. Sekarang berikan penghormatan terakhir kamu untuk mama. Setelah itu, kita melaksanakan kewajiban kita sebagai keluarga inti mama untuk memakamkannya. Segalanya telah siap. Semua hanya menunggu kamu."
IDeg! Mendengar kata per kata yang bapak ucapkan membuatku tak mampu membalas sepatah kata pun. Mengangguk pun aku tak sanggup. Bapak membantuku melepaskan tas ransel yang kubawa dan bapak titipkan di rumah Pak Pardi. Bapak memegang tanganku dan menuntunku ke rumah. Menembus kerumunan manusia pelayat. Dari pagar aku melihat seseorang telah terbaring di atas dipan. Berbaju putih hingga menutupi mata kaki dan berkerudung putih. Yang tertinggal hanya wajah cantiknya yang tersenyum, seperti bahagia kedatangan malaikat maut. Tanganku dilepaskan bapak ketika selesai melihat mamaku. Gantian bulikku sekarang, menuntunku untuk mengambil wudhu agar aku segera menyolatkan mama.
Dalam sholat mayyit, aku hanya merapalkan doa. Hatiku terasa beku dan kaku. Melihat keramaian, aku ingin segera bersembunyi. Tetapi itu hal yang mustahil. Mama akan segera dimakamkan. Aku melihat sekeliling, di mana Adun? Kenapa aku tak melihatnya? Bapak dan bulik pun tidak bercerita apapun. Selang berapa menit, aku mendengar sebuah jeritan dari kamar. Jeritan Adun. Aku langsung berlari menuju suara itu berasal. Kamarku. Aku segera membuka kamarku. Benar, Adun di sana, dijaga oleh Bu Pardi. Melihatku membuka pintu, Adun langsung menghambur ke arahku. Menangis sejadi-jadinya sambil menunjuk ke arah mama. Aku dekap Adun, meredakan tangisnya yang pecah. Aku bisikan sesuatu, "Dek, mama udah selesai tugas menemani kita. Saatny mama pulang. Adun di sini sama Mbak Ita ya." Lima menit ia masih menangis. Lama kelamaan suaranya melirih. Lelah. Lalu tertidur. Aku gendong dia.
Adun. Adek laki-lakiku yang mempunyai selisih umur 10 tahun denganku. Usianya baru delapan tahun. Ia paling dekat dengan mama. Meninggalnya mama sungguh mengguncang dirinya, pun mengguncangku.
"Ndug...," bapak membuka kamarku yang memilih menemani Adun tidur di dalam kamar.
"Iya, Pak?" jawabku mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk.
"Ndug. Maafkan bapak ya," Bapak duduk di sampingku sambil mengelus-elus kaki Adun, "maafkan tidak bisa terus terang tentang sakitnya mama. Mama terus menghalangi bapak untuk memberitahumu. Katanya supaya kamu tenang di perantauan sana dan menjalani perkuliahan dengan baik...
"Ini titipan terakhir mama buat kamu. Baca di saat kamu siap ya, ndug!" Bapak menyerahkan sepucuk surat bersampul biru kepadaku, mengusap rambutku, lalu beranjak keluar kamar. Memberikan ruang untukku. Aku melihat surat itu lama sekali. Ada tulisan indah mama di sampul itu. Aku hela nafas panjang, mencoba menyiapkan diri membacanya.
Maafkan, mama ya. Di saat surat ini dibaca mbak Ita, mama sudah lulus dari dunia ini. Mama ridho kepada mbak Ita. Semoga mbak Ita ridho terhadap mama ya.
Lewat surat ini, mama mau minta maaf, ya Sayang. Maafkan mama yang belum bisa membela kamu di hadapan bapak untuk pilihan jurusan yang kamu inginkan. Mama merasakan apa yang kamu rasakan saat itu, walau mbak Ita nggak pernah terus terang sama mama. Mbak masuk kampus P dengan perasaan sedikit terpaksa, dan merelakan jurusan impian mbak. Doa mama, semoga mbak Ita betah dan tetap semangat sampai akhir ya! Mama yakin mbak Ita mampu melewatinya dan akan mempunyai impian yang lebih besar lagi nantinya. Hwaiting!
Dadaku sesak. Aku tak sanggup melanjutkannya. Aku lipat surat itu, aku masukkan kembali ke dalam amplop, dan aku menaruhnya di atas meja belajarku. Lalu, banjirlah air mata yang tertahan sejak siang tadi. Aku ambil bantal dan kuteriak sekencang mungkin di bawah bantal. Antara perasaan menyesal atas keputusan masa lalu atau menyesal tak pernah bercerita seleluasa itu pada mama.
“Menjalani misi kemanusiaan sembari menyusun sebuah karya tulisan adalah sebuah upaya penyempurnaan diri yang dia niatkan untuk meraih ridho Tuhan.”
Desember 2022. Tiga bulan sudah Kirana berada di tanah Papua. Dia baru saja sampai dari perjalanan sejauh 3 kilometer dengan berjalan kaki untuk mengajar di satu-satunya Sekolah Dasar yang terletak di Kampung Waouma, Kabupaten Jayawijaya. Dia tinggal di rumah warga yang merupakan kepala suku bersama satu pengajar muda lainnya. Setiap daerah tertinggal yang menjadi fokus gerakan Indonesia Mengajar di tahun 2022, ditempati oleh dua orang pengajar muda. Kirana yang sudah sangat lelah segera bersih-bersih dan merebahkan diri di atas kasurnya. Sementara temannya Kafka masih membantu warga untuk memastikan listrik malam hari nanti akan tetap bisa menyala.
Suasana sore ini memang cocok sekali untuk masuk ke alam mimpi, tapi nyatanya Kirana tidak bisa melakukannya bahkan hanya untuk sekedar menutup kedua matanya sendiri. Pikirannya selalu kembali ke momen perdebatannya dengan Hisyam yang untuk pertama dan terakhir kalinya terjadi. Hisyam bahkan tidak sampai menanyakan bagaimana perasaannya setelah Kirana pulang ke rumah seorang diri. Dia terlalu defensif terhadap keinginannya sehingga menjadi sosok yang sangat berbeda dengan yang Kirana kenali. Bahkan sampai sekarang mereka belum lagi menjalin komunikasi. Ini yang Kirana tidak sukai. Bukan ingin memutuskan hubungan dengan Hisyam tanpa konfirmasi. Tapi yang Kirana tahu dari Mba Farida, Hisyam langsung kembali ke Jakarta pada dini hari. Dia seakan terburu-buru pergi dan tidak juga sekalipun menghubungi.
Pernah sekali Kirana yang menghubungi Hisyam untuk pamit sehari sebelum keberangkatannya ke Papua. Tapi pesan itu hanya dibaca. Tak ada satupun pesan balasan yang didapatkannya. Mba Farida yang turut mengantarkan Kirana juga merasa heran karena Hisyam tidak memberikan kabar apa-apa. Namun Mba Farida juga segan untuk bertanya apa yang terjadi diantara keduanya.
Terlepas dari apa yang terjadi antara dia dengan Hisyam, Kirana tetap bersyukur karena bisa mulai menyadari bentuk kesuksesan seperti apa yang dia inginkan. Mulai memahami keahlian dan batas kemampuan. Menjalani misi kemanusiaan sembari menyusun sebuah karya tulisan adalah sebuah upaya penyempurnaan diri yang dia niatkan untuk meraih ridho Tuhan.
“Kirana, kamu tidur?” Suara Kafka tiba-tiba terdengar dari balik pintu.
Kirana tak menjawabnya. Tapi langsung beranjak dan mendekatinya.
“Ada apa, Ka?”
“Oh, gapapa. Kalau kamu gaada agenda apa-apa, aku mau ajak jalan sore sebentar aja.”
“Boleh. Aku sebenarnya cape. Tapi dibawa tidur juga susah banget deh.”
Kafka tertawa sesaat sembari menimpali. “Kamu itu kan susah tidur karena selalu ada pikiran-pikiran diotakmu yang jalan dan menghantui.”
Belum sampai Kirana menanggapi, “Aku tau bagaimana kamu meskipun kita baru kenal 3 bulan terakhir ini.”
Butuh waktu sekitar 20 menit dengan berjalan kaki untuk sampai pada tempat mereka biasa menikmati senja. Mereka pun duduk di atas kulit pisang sambil menikmati pemandangan gunung Jayawijaya. Pada waktu sore kebanyakan masyarakat kampung Waouma memang terbiasa bahu membahu untuk memastikan listrik di malam hari bisa menyala. Selesai dari sana, mereka baru ke rumah masing-masing untuk berbenah dan mempersiapkan makan malam bersama keluarga. Sehingga waktu seperti ini adalah waktu yang tepat untuk Kirana dan Kafka mencuri waktu dari aktivitas bersama warga.
“Jadi apa yang mengganggu pikiranmu sekarang? Soal tulisan? Bukankah risetmu sudah sampai pada kesimpulan? Cerita kamu juga udah kelar. Motif awal kamu kesini sudah tercapai hanya dalam waktu 3 bulan.”
Kafka ini memang sudah tahu latar belakang awal Kirana mau menjadi pengajar muda. Dia bahkan banyak membantu riset Kirana dengan turut menggali informasi dari warga. Dia memang bukan tipe yang bisa diajak berdiskusi banyak topik selama mereka ngobrol berdua. Tapi Kafka selalu ada dan siaga untuk membantu Kirana. Bahkan tanpa Kirana yang meminta.
“Bukan soal itu Ka.” Kirana tersenyum kecut sambil menengadahkan kepala.
“Hisyam?” Tebak Kafka.
Kirana hanya bergumam. Entah mengapa sulit sekali melupakan sosok Hisyam. Oh, bahkan Kirana tidak berniat untuk melupakannya. Kirana hanya menyayangkan hubungan mereka saat ini yang bahkan sudah tidak pernah saling bertegur sapa. Kehadiran pria itu selama dua tahun di hidup Kirana, ternyata memberikan dampak yang begitu besar ketika Kirana kehilangan sosoknya. Kirana merindukannya. Sosok yang selalu melemparkan banyak topik padanya dan tidak pernah bosan mendengar celotehannya. Apakah mereka harus berjarak dulu hingga Kirana bisa menyadari bahwa Hisyam memang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya?
“Kalau memang rindu ya di chat Kirana. Iseng aja nanya kabarnya bagaimana. Dia juga pasti merasakan hal yang sama. Kalian hanya terlalu gengsi untuk memulai kembali percakapan yang tiba-tiba terputus begitu saja.”
“Haruskah aku coba?” Dalam hati Kirana bertanya.
“Mumpung sinyal bagus chat sekarang aja.” Kafka terus saja berkomentar seakan gemas dengan Kirana yang sudah tiga bulan menggelisahkan hal yang sama, tapi tak kunjung berbuat juga. Kafka bisa melihatnya dari gelagat Kirana yang terus saja melihat layar handphone nya setiap kali mereka sedang jalan bersama dari satu tempat ke tempat lainnya. Kirana juga seringkali tiba-tiba terlarut dalam lamunannya sampai tidak menghiraukan sekitarnya. Hingga suatu hari akhirnya Kirana menceritakan kisahnya dengan Hisyam kepada Kafka, disertai dengan cerita pertemuan terakhir mereka.
Kirana pun membuka aplikasi whatsapp nya. Benar apa kata Kafka. Kalau sudah malam di Waouma, sinyal akan semakin susah untuk didapatkannya.
Setelah sekian bulan tidak berani menghubungi Hisyam, dia putuskan untuk setidaknya menanyakan kabar.
Kirana Zoeya
Hai, Syam. Kamu apa kabar?
Baru saja Kirana menekan tombol kirim dan menutup aplikasinya, tiba-tiba suara keributan dan teriakan terdengar dari arah belakang mereka.
Ternyata perang antar suku pecah di kampung Wouma, yang sebenarnya melibatkan warga kampung sebelah dari Kabupaten Nduga dan Kabupaten Lanny Jaya. Aksi saling serang menggunakan alat perang tradisional berupa panah, parang, dan batu bermula saat warga Nduga bergerak dari arah Ilekma menuju Wouma. Padahal kampung Waouma sendiri tergolong dalam wilayah yang terbebas dari perang antar warga.
“Kirana! Ayo lari Kiranaaa!.” Kafka refleks menarik tangan Kirana dengan kuat sembari berlari menuju rumah kepala suku yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari tempat mereka menantikan senja.
Kirana berlari tergopoh-gopoh dengan jantung yang berdetak luar biasa. Dia sekuat mungkin berlari tapi langkahnya begitu kesulitan mengikuti langkah besar dari Kafka. Belum sampai sekian meter menjauhkan diri dari pusat bentrok antar warga, pegangan tangan mereka terlepas begitu saja. Kirana terjatuh ke bawah dan tanpa diduga, sebuah panah menancap tepat dipunggung kirinya, menembus hingga anak panah itu terlihat di bagian dada kirinya.
“Kiranaaaa!!!” Kafka menjerit melihat cipratan darah dari dada Kirana, bersamaan dengan suara handphone Kirana yang jatuh dari tangannya. Layarnya menyala menampilkan sebuah notifikasi pesan dari seseorang yang baru saja dia tanya kabarnya.
Mendengar semua keputusan tuan Priscot tadi membuatku berpikir apakah ini cara Tuhan untuk menunjukkan jalan hidupku kedepannya. Dengan mendapatkan 40% bagian toko roti itu berarti aku hampir memiliki sepenuhnya toko roti ini. Perasaanku tidak karuan, disamping diriku tidak percaya diri dan juga teringat kalimat terakhir tuan Priscot.
“Lilac, saya sudah tidak tahu mau mewariskan toko roti ini kepada siapa. Tidak ada yang saya percayai selain dirimu untuk menangani toko roti ini. Lilac kamu tahukan kalau usiaku tidak muda lagi dan saat ini saya mulai merasa bahwa badan ini tidak fit seperti sediakala. Toko roti ini adalah mimpi istri saya dan saya ingin mempertahankan toko roti ini meskipun saya sudah tiada kelak.” Ucap tuan Priscot yang membuat diriku menerima semua keputusannya.
Aku memang suka roti dan aku sangat jatuh cinta ketika membuat roti. Melihat roti proofing dengan sangat sempurna ada kebahagiaan tersendiri untukku. Memang salah satu cita-citaku adalah membuka toko pastry. Tapi tidak secepat ini, niatku adalah aku menabung terlebih dahulu dan membuka toko pastry dengan tabunganku ketika cukup. Dan sekarang Tuhan mempercepat mimpi itu. Namun, aku merasa sedih karena kalimat terakhir tuan Priscot. Aku tahu hidup dan mati seseorang itu ada ditangan Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan meninggalkan dunia yang fana ini. Aku harap tuan Priscot akan baik-baik saja, karena beliau sudah kuanggap sebagai orang tuaku sendiri. Aku tidak tahu apa jadinya aku jika suatu saat aku ditinggal pergi tuan Priscot. Semoga Tuhan tidak membiarkan aku seorang diri lagi. Aku mohon Tuhan.
Semenjak keputusan itu dibuat, tuan Priscot membiarkan diriku untuk berinovasi sendiri dalam membuat roti-roti meskipun masih dalam bimbingan beliau.
“Lilac, saya ingin kamu mengeluarkan semua kemampuan kamu dalam dunia pastry. Saya tahu kamu punya kemampuan itu. Saya izinkan kamu untuk berinovasi dalam pembuatan roti, silahkan kamu mau membuat roti seperti apa yang terpenting citra toko ini tidak memudar dan justru harus meningkat” Ucap tuan Priscot.
Dalam seminggu aku sudah membuat 10 roti baru dan roti-rotiku habis terjual. Aku begitu bersemangat sekarang. Karena ini passionku aku bekerja dengan sepenuh hati. Selain membuat roti aku juga mencoba membuat beraneka ragam cake itupun sudah atas persetujuan dari tuan Priscot. Aku masih belum berani untuk mengambil keputusan sendiri meskipun tuan Priscot sudah mempercayakan semuanya kepadaku. Sejauh ini Tuan Priscot menyetujui semua ide aku untuk berinovasi di roti dan cake. Tuan Proscot berpesan untuk tetap menjaga citra baik toko roti ini meskipun mengikuti perkembangan jaman. Karena tuan Priscot sadar bahwa jika ia selalu membuat roti yang sama berpuluh-puluh tahun akan tergeser juga oleh jaman. Mempertahankan sesuatu itu sangat tidak mudah lebih berat dibandingkan saat memperjuangkannya, maka dari itu harus hati-hati dalam mengambil keputusan terutama mengambil keputusan besar.
Satu hal yang aku pelajari dari tuan Priscot adalah kejujuran dan kebaikan ia selama ini, meskipun banyak yang mencurangi ia, namun tuan Priscot tidak berniatan untuk membalas dendam.
“Banyak orang yang berbuat jahat, saya tidak balas untuk apa membalas kejahatan mereka, hanya membuang-buang waktu saja. Biarkan alam dan semesta ini yang membalas perlakuan mereka padaku” Ucap tuan Priscot saat menceritakan perjalanannya merekrut pegawai. Teringat penawaran tuan Priscot padaku disaat hari pertama kami bertemu, tuan Priscot di curangi pegawainya yang sudah menggelapkan semua dana hasil laba toko roti ini dan tuan Priscot hanya mengusirnya saja tidak berniat untuk memenjarakannya.
Karena di toko roti ini sekarang menyediakan cake juga, para pelanggan semakin banyak yang berdatangan. Dan tuan Priscot memutuskan untuk merekrut pegawai baru
“Lilac, sepertinya kita sekarang membutuhkan pegawai baru.” Ucap tuan Priscot selepas makan siang
“Benar juga tuan, sepertinya kita butuh bala bantuan sekarang. Toko semakin ramai dan kita berdua kemampuannya terbatas” Balasku
“Sepertinya saya membutuhkan laki-laki untuk jadi pegawai baru, sekarang tenaga saya sudah tak sekuat dulu. Jadi perlu laki-laki muda yang membantu operasional di toko ini” Ucap tuan Priscot
Benar, sebelumnya bila membutuhkan tenaga laki-laki aku hanya tinggal meminta tolong tuan Priscot namun karena belakangan ini kesehatannya terganggu sepertinya ide tuan Priscot bisa untuk dieksekusi.
“Apakah ada ide untuk mencari kemana tuan?” Tanyaku
“Aku memiliki kenalan seseorang mungkin usianya sama denganmu Lilac, ia anak dari temanku. Sekarang ia sedang berada di kota ini sebelumnya dia hidup jauh diperantauan” Jawab tuan Priscot
“Apakah sudah menghubungi dianya tuan?” Tanyaku lagi
“Aku sudah berbicara lewat telephone dan mungkin ia akan datang di akhir minggu ini. Tapi aku tidak tau apakah dia bersedia untuk bekerja dengan kita disini atau tidak. Mungkin nanti di akhir minggu kita obrolkan dengan dia” Ucap tuan Priscot
“Baik tuan, saya menunggu intruksi saja” Ucapku
Semakin kesini toko roti semakin ramai pelanggan berdatangan dan memang kita harus menyiapkan scale up nya. Karena tidak mungkin semua pelanggan yang datang ditampung di toko yang ukurannya kecil seperti ini.
Hari sabtu pukul 6 sore orang yang kami tunggu datang juga. Laki-laki berperawakan tinggi berada dihadapanku. Namanya Wiliam, umur kami berdua hanya terpaut 2 tahun saja dengan ia yang lebih tua.
“Hallo Wiliam, sudah lama tidak berjumpa” Sapa tuan Priscot kepada William
“Hallo paman senang bertemu dengan anda sekarang” Jawab William
“Oh yah kenalkan ini Lilac partnerku di toko dan Lilac ini William lelaki yang saya ceritakan kemarin” Ucap tuan Priscot sambal memperkanal aku dan William
“Hallo, Aku Lilac” Sapaku singkat
“Oh hallo Lilac, senang bertemu denganmu. Aku sudah banyak mendengar ceritamu dari tuan Priscot yang sudah membantu dalam mengelola toko rotinya, panggal saja aku Wili” Ucap Wiliam
Aku mengangguk tanda setuju. Tuan Priscot langsung membuka obrolan mengenai bersedia atau tidaknya Wili bergabung dengan toko roti kami. Kami bertiga berbicara untuk mencari jalan tengahnya dan kami berdua berharap Wili menerima penawaran dari tuan Priscot. Dari Attitude dan karakternya Wili sangat sopan dan dewasa cocok untuk bisa diajak bekerja sama dalam melayani pelanggan di toko dan juga tidak lupa Wili sangatlah pintar dari cara berbicara dengan tuan Priscot aku yakin dia bukan orang sembarangan. Tutur kata dan gesture yang bagus membuat Wili mudah dalam menarik orang lain.