Seseorang yang (Masih) dalam Ingatan #1
“Kamu pulang?”,
Kalimat penuh keterkejutan itulah yang pertama kali kudengar darinya. Seorang lelaki berkaca mata yang saat ini duduk di kursi rotan teras rumahku bersama Bapak. Bapak memang sengaja memanggilnya ke rumah untuk melakukan kawin suntik pada sapi yang dipelihara Bapak. Ya, lelaki itu adalah seorang dokter hewan yang cukup terkenal di desaku karena memang hanya dia dokter hewan yang ada.
“Iya, ada cuti tiga hari dari perusahaan,” jawabku sambil meletakkan teh panas dan setoples rengginang yang baru saja digoreng Ibu ke meja tempat mereka bercengkerama.
“Nah, ayo diminum dulu nak Rahman. Udara dingin begini pancen paling cocok ya ngeteh panas. Monggo diminum…”Bapak mempersilahkannya menikmati teh yang baru saja kubuat.
“I..iya, Pak. Matur suwun..” jawabnya sopan dan mengambil teh yang baru saja aku letakkan di meja. Saat aku akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Bapak memanggilku
“Lho Nduk, sini dulu to! Temani nak Rahman ngeteh dulu, ya. Bapak mau ngasih pakan sapi, tadi kelupaan belum dipakani,” perintah Bapak tak bisa dibantah. Sambil beranjak dari duduknya, Bapak menyuruh aku untuk duduk di kursi yang baru saja dia tinggalkan dan menggantikannya menemani lelaki yang saat ini sedang kesulitan meminum tehnya karena masih panas.
“Nak Rahman, Bapak tinggal dulu ya.. Terima kasih banyak lho ya, sudah menyempatkan pagi-pagi begini datang ke rumah,” ucap Bapak padanya
“Iya Pak, sami-sami. Itu sudah menjadi tugas saya. Kalau waktunya kelewat kan bisa gagal bunting sapinya,”
“Waah kalau kelewat, bisa gagal dong Bapak dapat pedet lagi. Semoga yang tadi jadi ya, Nak. Yo wes, kalau gitu Bapak pergi dulu ya,” pamit Bapak dan akhirnya berjalan pergi meninggalkan kami berdua.
Canggung. Awkward. Dan kenapa jantung ini berisik sekali?
“E… kamu apa kabar, Ra? Udah lama ya kita ngga ketemu, hehe” dia mencoba mencairkan suasana
“Aku baik,Man. Kamu gimana? Kayaknya udah banyak nih pasiennya,” aku mencoba menetralkan kegugupanku. Bahkan setelah hampir tiga tahun tak bertemu, aku masih saja gugup jika berhadapan dengannya. Aku tidak tahu rasa apa yang semacam ini.
“Aku juga baik. Alhamdulillah, di sini ilmuku berguna, Ra. Bisa menolong tetangga-tetangga sekitar yang membutuhkan. Bagaimana rasanya kerja di kota besar, Ra? Aku kok membayangkannya aja udah sumpek yaa,hehe”
“Hmmm sebenarnya ngga semenakutkan itu kok, Man. Kebetulan aku dapat tim kerja yang supportif, lokasi kantorku juga bukan di tengah kota jadi ngga terlalu macet,”
“Oh ya, syukurlah kalau gitu. Pantesan kamu betah banget ya Ra di sana”
“Iya, Man.. Apalagi aku udah lama banget pengen merantau.”
“Eh cerita dong, selama di sana kamu dapat pengalaman apa aja, Ra?’
Dan mengalirlah ceritaku. Tentang awal mula aku sampai Bandung, muter-muter dianter Gojek mencari alamat kosan, cerita hari pertama aku masuk kantor, tentang rasa sedih dan rindu rumah yang kadang datang tiba-tiba, dan cerita lain yang terucap begitu saja hingga aku lupa gugup yang awal tadi terasa. Rahman mendengarkanku dengan sangat baik. Sesekali ia bertanya, menimpali, dan tertawa. Untuk yang terakhir, sungguh aku serasa ingin menghentikan waktu sejenak untuk terus melihatnya. Tapi, tunggu. Kenapa rasanya nyaman dan tiada beban saat aku bicara padanya? Berbeda sekali dengan dua setengah tahun lalu. Saat terakhir kali kami bertemu memang tidak dalam keadaan baik-baik saja, namun hari ini kenapa semua kenangan itu menguap begitu saja? Dan sejak kapan aku banyak bicara saat bersamanya? Bahkan tertawa bersama?
“Ra, kamu masih ingat ngga sama Tanti?” tanyanya tiba-tiba
“Tanti teman sekelas kita?” Oh ya, aku dan Rahman dulu satu kelas saat sekolah dasar. Kami sekolah di SD Negeri yang letaknya tidak jauh dari kantor kelurahan. Rumah kami beda dusun tetapi masih dalam kelurahan yang sama. Setelah lulus SD Rahman disekolahkan di SMP dan SMA yang ada di kota kabupaten, sedangkan aku masih bersekolah di SMP dan SMA yang dekat dengan rumah. Saat kuliah pun kami mengambil jurusan di kampus yang berbeda. Dia mengambil jurusan Kedokteran Hewan di Universitas Luar Provinsi, sedangkan aku mengambil jurusan Psikologi di salah satu Universitas besar di Kota kami. Itulah sebabnya kami hanya dekat saat masa kecil kami dan beberapa tahun yang lalu, sebelum peristiwa tak mengenakkan itu terjadi.
“ Iya… Dia juga baru pulang, lho. Awalnya dia tinggal di Bogar sama suaminya, tapi sekarang dia akan menetap di sini sama keluarganya.”
“Iya kah? Kenapa pindah?” tanyaku
“ Orang tuanya yang di sini sakit, Ra. Makanya dia pindah agar bisa ngurus orang tuanya juga. Kalau ada waktu mau ngga ikut aku buat ketemu dia?” tawarnya
“ Bolehlah, kebetulan aku di rumah juga lumayan lama dan ngga ada kegiatan nih,”
“Mayraaaa..” tiba-tiba terdengar suara Ibu dari dalam rumah yang memanggilku.
“Iya, Bu…” jawabku agak berteriak takut Ibu tidak mendengar. Namun saat aku mau beranjak dari dudukku, ternyata Ibu sudah lebih dulu keluar dari dalam rumah dan menuju teras tempat kami berbincang.
“Owalah, ada Nak Rahman.. Ibu kira sudah pulang tadi,”,sapa Ibu yang kudengar bukan seperti sapaan yang wajar. Lebih ke arah sindiran? Entahlah. Semenjak kejadian beberapa tahun lalu memang Ibu agak berbeda sikapnya ke Rahman. Lain halnya dengan Bapak yang masih biasa saja, bahkan cenderung lebih baik ke Rahman. Mungkin karena Rahman banyak membantu menyehatkan sapi-sapi kebanggaan Bapak. Aku hanya menduga saja.
“Eh.. I..iya, Bu.. Maaf jika saya mengganggu waktu Mayra..” jawab Rahman sambil menggaruk lehernya yang kukira tidak gatal.
“Ngga papa, Nak. Tadinya Ibu mau minta tolong Mayra buat beli sabun cuci piring ke warung, tapi kalau masih ada tamu yo wes Ibu saja yang pergi sambil sekalian beli bawang. Monggo dilanjutkan saja ngobrolnya,” Ibu kemudian berjalan meninggalkan kami
Suasana yang tadinya cair jadi membeku. Kami saling diam.
“Ra, maaf yaa… Gara-gara aku ngajakin ngobrol kamu jadi ngga bisa bantu Ibumu” Ia merasa bersalah
“Ngga papa, Man. Ibu ngga masalah kok”
Dia diam agak lama. Aku juga. Mungkin sudah terlalu banyak topik yang kami bahas hingga aku tak tahu harus bicara apa lagi dengannya.
“Ra,”
“Hmm?”
“Apa besok kita masih bisa bertemu lagi?”
Perlukah aku menjawabnya?
-Bersambung-













